
Mata Eni langsung berbinar melihat kartu itu. Kartu milik Tania yang dianggapnya sakti. Karena bisa untuk membayar apapun.
Ya jelas saja. Tono sudah mengisinya dengan saldo yang banyak. Cukuplah untuk menginap satu bulan di hotel berbintang.
"Kartu ATM siapa itu?" tanya Widya.
Setahu Widya, Tania tak punya kartu ATM seperti itu. Kecuali Danu. Itupun hampir tak pernah digunakan karena isinya limit.
"Punya Tania, Bude," jawab Tania. Meskipun itu sebenarnya milik Tono, tapi sudah diberikan untuknya. Dan tadi Tania sudah mengecek isinya.
"Cukup buat bayar?" tanya Widya lagi. Ada kekhawatiran kalau isinya tak cukup buat bayar sewa kamar.
"Cukup, Bude. Kita mau menginap berapa malam?" Bukannya Tania menantang, tapi dia akan langsung membayarnya biar mereka tak ragu.
Widya menatap Eni dan Danu. Bagaimanapun mereka berdua juga harus mengambil keputusan.
"Dua malam saja. Bisa?" tanya Danu ragu.
Tania mengangguk.
"Mbak Lintang, antar Tania memesannya ya?" pinta Tania.
Dengan ragu, Lintang pun mengangguk.
Setahu Lintang, Tania yang belum setahun lulus SMA belum bekerja. Dia pun jadi ikut ragu.
Tania menggamit tangan Lintang. Dan mereka menuju ke meja resepsionis.
"Hallo, Mbak Yana. Maaf, nih. Dua kamar yang tadi aku mau pesan, dicancel aja ya? Adikku ini mau ganti kamar lain aja," ucap Lintang pada Yana, resepsionis hotel yang juga sudah dikenalnya.
"Oh iya, Lintang. Enggak apa-apa. Belum aku reservasikan juga, kok," sahut Yana.
Lalu Yana menatap ke arah Tania. Wanita muda yang barusan disebutkan Lintang sebagai adiknya.
Yana yang selalu berpenampilan modis dan tahu mode, menelisik sekilas penampilan Tania.
Sederhana tapi barang-barang yang dikenakan Tania bukan barang murahan.
Hampir sama dengan Lintang, yang selalu bergaya high class, meski kadang harus tekor.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Yana profesional.
Sebenarnya Yana tak terlalu cocok dengan Lintang. Bahkan mereka pernah punya masalah besar.
Tapi saat di tempat kerja, mereka berusaha bersikap profesional. Tak membawa-bawa masalah pribadi mereka.
Setelah Lintang menjelaskan semuanya, Tania mengangguk mengerti dan memesan dua deluxe room.
Lintang sempat terperanjat. Darimana Tania mendapatkan uang untuk membayar sewa kamar mewah itu. Dua pula.
Tapi Lintang tak mau banyak bertanya dulu. Dia tak mau kalau Yana meremehkannya.
Bahkan Lintang bersikap seolah keluarganya adalah orang-orang mampu yang kaya raya.
Meskipun penampilan mereka, terutama Eni terlihat norak dan ndeso. Tidak elegan sama sekali, seperti layaknya orang kota yang kaya raya.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan pembayarannya untuk dua malam, Yana memberikan kartu akses masuk ke kamar.
Tania sempat kebingungan. Tapi Lintang segera menarik tangan Tania untuk menjauh dari meja resepsionis.
Lintang tahu kalau Tania pasti belum paham cara menggunakannya. Dan Lintang tak mau Yana jadi tahu kalau ternyata keluarganya katrok.
"Ayo Lintang antar ke kamarnya. Kalian pasti capek," ajak Lintang.
Mereka mengangguk dan berjalan mengikuti Lintang yang sudah lebih dulu di depan.
"Udah dapat kamarnya, Tania?" tanya Eni yang berjalan bersisihan dengan Tania.
"Udah, Bi. Udah Tania bayar juga. Dua malam," jawab Tania.
"Tono yang memberikanmu kartu itu?" tebak Widya.
"Iya, Bude. Udah lama, kok. Waktu Tania masih tinggal di sana," jawab Tania.
"Ooh. Ya baguslah. Artinya Tono masih menafkahi kamu," sahut Widya.
Lintang yang mendengarnya, menoleh ke belakang. Tapi dia belum bisa bertanya apa-apa. Karena mereka sudah sampai di depan lift. Dan di sana ada beberapa orang juga yang mau naik ke lift.
Di dalam lift, mereka tak ada yang membuka suara. Eni pun masih terkesima dengan lift yang sangat bersih dan wangi.
Eni pernah naik lift di sebuah mall kecil di kotanya. Hanya lift biasa, yang malah terkesan seperti masuk ke sebuah kotak raksasa.
Kamar yang dipesan Tania ada di lantai paling atas. Dan mereka pun, sampailah di lantai sepuluh gedung hotel berbintang yang cukup terkenal itu.
Lintang terus berjalan menyusuri lorong setelah keluar dari lift. Lalu berhenti di depan sebuah kamar.
"Ini kamarnya," ucap Lintang.
"Mana kartunya tadi?" Lintang meminta kartu akses masuk kamarnya pada Tania.
Tania menyerahkan dua-duanya pada Lintang. Tapi Lintang hanya mengambilnya salah satu. Sesuai nomor kamar yang akan dibukanya.
"Begini cara membuka pintunya." Lintang mengajari mereka caranya.
Klik.
Pintu kamar terbuka lebar. Dan Lintang segera menyalakan lampu kamar juga AC.
"Wouw....!" Mata mereka berempat langsung terbelalak melihat kemewahan kamar yang dipesan Tania.
Lintang tersenyum menatapnya, lalu masuk ke dalam. Mereka berempat mengikuti dari belakang.
"Gimana? Baguskan?" tanya Lintang.
"Bagus banget, Mbak Lintang," jawab Eni. Lalu dia berjalan-jalan sendiri mengelilingi kamar yang sangat luas.
"Pak. Ini mah luasnya seperti rumah kita," ucap Eni dengan senyuman lebar.
Tania pun ikut tersenyum. Bukan karena senang bisa menginap di kamar deluxe, tapi senang melihat Eni bahagia.
"Siapa yang mau tidur di kamar ini?" tanya Lintang.
__ADS_1
"Terserah. Bibi mau tidur di kamar yang mana?" tanya Tania pada Eni.
Tania yang merasa berhutang budi pada Eni, benar-benar ingin membahagiakannya. Dan Tania berjanji akan menuruti apapun keinginan Eni, meski menggunakan uang dari Tono.
"Kamar yang satunya sama seperti ini?" tanya Eni.
"Iya, Bi. Sama persis. Lintang antar ke sana mau?"
Eni langsung mengangguk. Lalu Lintang meminta satu kartu aksesnya lagi pada Tania.
"Bude, kita di kamar ini aja, ya," ucap Tania pada Widya.
"Terserah kamu, Tania. Bude nurut aja," sahut Widya. Bagi Widya yang sudah capek, di kamar manapun sama saja. Yang penting bisa istirahat.
"Ayo, Pak," Eni menarik tangan Danu.
"Bawa sekalian tasnya, Paman. Biar Tania sama ibu di kamar ini," ucap Lintang. Dia juga kasihan melihat Widya yang terlihat kecapekan.
Danu mengangguk, lalu membawa tas koper Eni dan berjalan keluar menuju kamar satunya.
Sampai di kamar satunya pun, Eni kembali terkagum-kagum.
"Paman, kalau mau bikin kopi, di sini." Lintang menunjukan meja tempat minuman.
Danu dan Eni ikut mendekat.
"Begini caranya." Lintang juga mengajarkan caranya memanaskan airnya.
"Wah, hebat sekali!" puji Danu.
"Iya, Paman. Kalau mau minum air putih, ini yang ditekan." Lintang kembali menunjukan tombol-tombolnya.
"Enggak ada makanannya?" tanya Eni dengan lugu.
"Enggak, Bi. Bibi lapar?" tanya Lintang.
"Belum sih. Tadi kita sudah makan di rest area ya, Pak," sahut Eni.
Danu mengangguk. Meski perutnya kembali terasa lapar.
"Kalian masih punya makanan? Kalau habis, nanti Lintang bawakan makanan," tanya Lintang.
"Masih kok, Mbak. Bibi masih punya camilan," jawab Eni.
"Oke. Berarti aman. Nanti malam aja kita keluar cari makan di luar," ucap Lintang.
Eni mengangguk. Lagi pula Eni juga sedang mengurangi makan. Jadi tak masalah.
"Di kamar ini, Paman enggak boleh merokok," ucap Lintang, saat melihat Danu mengeluarkan rokoknya.
"Apa?" mata Danu membelalak.
"Iya, Paman. Nanti Paman kena denda kalau ketahuan merokok," sahut Lintang.
"Kena denda?" tanya Danu.
__ADS_1
Lintang mengangguk.
Danu menepuk jidatnya.