
Akhirnya Yusuf berhasil juga melampiaskan hasratnya. Meskipun gerakan mereka terbatas.
Yusuf berhasil modusin Monica. Dan Monica ternyata gampang sekali terpedaya oleh bujuk rayu Yusuf. Padahal mereka baru pertama ketemu.
Entah Yusuf yang pandai membujuk, atau Monica yang gampang sekali terbujuk.
Setelah puas dengan modusnya, seperti janjinya, Yusuf tak menarik bayaran tagihan taksi dari Monica.
Yusuf sudah cukup puas dengan permainan Monica yang garang. Dan mereka pun bertukar nomor telpon.
Yusuf mengantarkan Monica ke pasar. Monica tetap akan menemui Sari.
"Kamu mau nemuin bu Sari, Bang?" tanya Monica pada Yusuf, setelah mereka sampai di depan pasar.
"Enggak deh. Kapan-kapan aja. Aku mau jemput penumpang dulu," jawab Yusuf berbohong.
Padahal belum ada satu penumpangpun, karena Yusuf mematikan aplikasinya.
Tapi Monica yang tak paham dengan cara kerja ojek online, percaya saja pada Yusuf.
"Titip salam enggak buat bu Sari?" tanya Monica sebelum turun dari mobil.
"Enggak usah. Nanti juga kita ketemu. Lagian kalau aku titip salam, bu Sari bakal curiga. Nanti dikira kita ada hubungan spesial. Yang rugi kan kamu sendiri," jawab Yusuf berkilah.
Monica terdiam sejenak. Lalu mengangguk setuju. Dia pun lagi tak mau dicurigai dulu oleh Sari.
Yusuf jelas menolak semuanya. Sari bakal kebingungan karena tak pernah mengenal Yusuf sama sekali. Dan misalnyapun diingatkan kalau Yusuf adalah driver yang dulu mengantar mereka pulang dari rumah sakit, Sari pasti sudah lupa.
Akhirnya Monica pun turun dan berjalan masuk sendirian. Dia sudah tahu dimana letak toko milik Sari. Rendi pernah mengajaknya kesini beberapa kali.
Dan tanpa harus bertanya sana sini, Monica bisa menemukan tempatnya.
"Mari silakan, Mbak. Mau cari batik yang apa? Kami punya banyak pilihan," sambut seorang pelayan di toko batiknya Sari.
Monica menatap pelayan itu dengan sinis. Seolah protes karena pelayan itu tak mengenalnya.
"Aku mau ketemu bu Sari!" jawab Monica dengan ketus.
Busyet! Galak amat! Batin Putri.
"Maaf, anda siapa dan ada perlu apa, ya?" tanya pelayan yang bernama Putri itu. Putri adalah salah satu karyawan kepercayaannya Sari.
Dan tanpa menjawab pertanyaan Putri, Monica nyelonong masuk.
Putri mengikutinya. Bagaimanapun Putri merasa bertanggung jawab kalau ada orang tak dikenal, masuk begitu saja ke dalam toko.
Merasa ada yang mengikuti, Monica menoleh. Dan kembali menatap sinis pada Putri.
__ADS_1
Kali ini Putri tak tinggal diam. Dia pun balas menatap tak kalah sinisnya.
"Aku Monica! Pacarnya Rendi! Calon menantu bu Sari! Paham?" suara Monica meninggi.
Putri malah menelisik penampilan Monica.
Masa mas Rendi punya pacar model beginian? Apa bu Sari enggak kebakaran jenggot, tuh? Batin Putri.
Monica kembali melangkah dengan angkuh. Dan Putri pun kembali mengikutinya.
Di bagian dalam toko, Sari sedang sibuk meneliti laporan keuangan tokonya. Dia tak memperhatikan Monica yang sudah ada di dekatnya.
"Selamat siang, Tante," ucap Monica.
Sari mengangkat wajahnya. Lalu mengerutkan kedua alisnya.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Sari. Suara Sari lebih pada menghardik Monica.
Putri yang mendengar, menahan tawa.
Udah ku duga. Pasti wanita ini cuma mengaku-ngaku aja. Mana mau bu Sari punya calon menantu yang kayak begini. Batin Putri.
"Saya mau bicara. Penting," jawab Monica. Seolah dia merasa jadi orang yang penting bagi Sari dan Rendi.
"Bicara apa?" Sari pun tak mengerti. Karena menurutnya, dia tak pernah punya kepentingan apapun dengan Monica.
"Kamu enggak tau, aku lagi sibuk? Kalau kamu mau bicara, nanti aja. Kalau toko udah tutup!" Sari tak mau pekerjaannya diganggu oleh Monica.
"Tapi ini penting, Tante," ucap Monica.
"Enggak ada yang lebih penting selain urusan keluarga dan pekerjaanku, paham?" bentak Sari.
Sari kesal karena itungannya jadi kacau. Mestinya sudah mau selesai, tapi malah harus memulai lagi dari awal. Maklum saja, Sari menghitung laporannya secara manual. Hanya dengan kalkulator, bukan laptop seperti yang selalu disarankan Rendi.
Menurut Sari, kalau pakai laptop malah ribet. Kalau pingin melihat hasil laporan, dia harus menyalakan dulu laptopnya. Nunggu loading.
Belum lagi, harus pencet tombol ini dan itu. Ribet banget.
Beda kalau pakai buku. Tinggal cari halamannya, selesai. Maklum saja, Sari bukanlah pengusaha yang berpendidikan tinggi. Dia hanya sekolah sampai SMA saja. Sama seperti Rendi juga.
Bedanya, Rendi adalah produk jaman now. Sedangkan Sari, produk jaman jadul. Jadi semua masih konvensional.
"Ini menyangkut keluarga Tante juga. Masa depan Rendi. Anak Tante," sahut Monica.
Menyangkut Rendi? Mau bikin ulah apalagi ini anak? Batin Sari.
"Ada apa dengan Rendi?" tanya Sari dengan ketus.
__ADS_1
"Makanya saya mau kita bicara. Biar jelas," sahut Monica.
"Ya udah. Kamu nunggu di luar dulu sana! Aku selesaikan pekerjaanku!" hardik Sari. Tangannya memberi tanda agar Monica segera menghilang dari hadapannya.
Monica menggeram dengan kesal. Apalagi saat dia mendengar Putri malah cekikikan.
Monica menoleh pada Putri dengan mata melotot dan bibir manyun.
Putri bukannya takut, dia malah mencibir meremehkan Monica.
Dengan kesal, Monica pun berjalan keluar.
"Besok lagi kalau ada orang yang mau ketemu aku, suruh tunggu di luar! Jangan dibiarkan nyelongong kayak begitu. Ganggu orang aja!" ucap Sari ketus pada Putri.
"Saya sudah melarangnya tadi, Bu. Tapi dia ngeyel dan nyelonong aja. Jadi ya, saya cuma bisa ngikutin," sahut Putri.
"Ya udah. Aku mau selesaikan ini dulu. Pastikan dia jangan masuk lagi kesini. Tunggu sampai aku keluar!" Saripun menyuruh Putri menyingkir dari hadapannya.
Putri yang sudah hafal dengan sikap Sari, segera keluar lagi.
Sari orang yang tidak suka diganggu kalau sedang bekerja. Kecuali keluarganya.
Demi keluarga, Sari rela melakukan apapun meski harus meninggalkan pekerjaannya. Ujung-ujungnya yang harus kerepotan ya anak buahnya.
Sari kembali pada angka-angka yang tadi sudah dia ketikan di kalkulatornya.
"Ah, sampe mana tadi? Jadi lupa deh!" Sari menggerutu.
Di luar toko, Monica kebingungan mencari tempat buat nunggu. Karena beberapa bangku yang ada sudah diduduki orang.
Terpaksa Monica berdiri saja dengan kesal.
Kalau bukan demi mendapatkan Rendi, dia tak akan mau menunggu seperti itu.
Putri menatapnya dengan senyuman mengejek. Dia saja yang sudah lama caper pada Rendi, tak pernah dianggap.
Eh, malah wanita dengan pakaian minimalis bisa-bisanya ngaku pacar Rendi.
Kamu pikir bisa segampang itu mendapatkan Rendi? Aku akan jadi orang yang akan menghalangimu. Liat aja nanti. Gumam Putri dalam hati.
Karyawan Sari di toko yang rata-rata masih gadis dan lumayan cantik-cantik, selalu tebar pesona pada Rendi.
Jadi kalau Monica datang ke toko dan mengaku pacar Rendi, saingannya banyak.
Karyawan lainnya pun saling berbisik melihat penampilan Monica yang mereka anggap norak.
Tak sadar, Putri pun menatap dirinya di cermin besar yang mengelilingi dinding toko.
__ADS_1
Hhmm...aku gak kalah cantik dibanding dia. Batin Putri.