HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 93 KELAINAN


__ADS_3

Tania dan Asih langsung berlari masuk saat tahu kalau Tono tak jadi pergi. Tono kembali berjalan masuk ke rumah.


Asih kembali ke dapur, sedangkan Tania lari masuk ke kamar. Lalu segera menguncinya dari dalam. Dia takut Tono akan masuk ke kamarnya, karena Linda tak ada.


Tania tak mau dia dijadikan pelampiasan Tono. Apalagi kalau harus melayani Tono di tempat tidur.


Hiihh! Tania bergidig ngeri. Tania semakin tak mau melayani Tono, karena senjata Tono dicelup kemana-mana. Begitu pikir Tania.


Ternyata Tono tak masuk ke kamar. Dia menunggu Linda di ruang tamu.


"Permisi, Pak," ucap Yahya dengan sopan saat melewati Tono yang sedang duduk.


"Kamu tunggu di dekat pintu gerbang. Sebentar lagi Linda pulang," perintah Tono.


"Iya, Pak." Yahya berbalik badan.


"Yahya! Dengar ya, kali ini kamu aku maafkan, atas perginya Linda. Tapi lain kali kalau sampai terjadi lagi, aku tak segan-segan menyuruh anak buahku buat menyiksamu!" ancam Tono.


Yahya membelalakan matanya, lalu menunduk.


"Iya, Pak," jawab Yahya ketakutan.


"Apalagi kalau Tania sampai kabur. Aku tak akan mengampunimu. Anak buahku akan menyiksamu sampai kamu mati!"


Yahya semakin ketakutan. Dan dia hanya bisa semakin menundukan kepalanya.


Yahya jadi khawatir telah merencanakan Tania kabur.


Ah, bagaimana kalau Tania benar-benar kabur, saat aku dan istriku di dalam rumah ini? Bisa mati kami berdua.


"Udah sana! Malah bengong!" bentak Tono.


Yahya segera berjalan cepat menuju pintu gerbang. Otaknya sedang membayangkan nasibnya, kalau Tania benar-benar kabur.


Sepertinya Yahya mesti membicarakannya lagi dengan Asih tentang rencana kaburnya Tania. Karena ancaman dari Tono tak pernah main-main.


Tak lama setelah Yahya menunggu di pintu gerbang, Linda pulang. Yahya segera membukakan pintu gerbang.


Dan tanpa permisi atau bicara apapun, Linda kembali nyelonong.


"Dasar enggak tau sopan santun," gumam Yahya.


Linda menoleh dan menatap Yahya dengan tajam. Sepertinya dia mendengar gumaman Yahya.


Ditatap begitu oleh Linda, tak membuat Yahya takut. Karena Yahya percaya kalau Tania akan membela dan membantunya.


Linda melengos dengan kesal. Lalu meneruskan langkahnya masuk ke rumah Tono.


"Dari mana kamu?" tanya Tono dengan ketus.


"Kan tadi aku udah bilang. Aku lagi beli pulsa, Beib," jawab Linda.


"Jangan bohong! Mana buktinya?" Tono tak mau dibohongi begitu saja oleh Linda.

__ADS_1


Mati aku!


Linda langsung gelagapan. Otaknya setengah mati mencari alasan yang tepat.


"Mm...kan...udah aku paketin sekalian, Beib," jawab Linda.


"Lalu suara siapa tadi?" tanya Tono.


"Itu....Itu suara penjual pulsanya. Iya, dia tadi lagi pegang hapeku. Lalu dia mengangkat telponmu. Dia katanya lupa, dikiranya itu hapenya sendiri," jawab Linda.


"Banyak alasan kamu! Ingat, ya. Mulai nanti sore, aku akan menempatkan anak buahku di rumah ini. Nonstop 24 jam. Biar kamu maupun Tania, enggak bisa kabur!" ucap Tono.


Linda hanya bisa diam. Tak berani lagi komentar apapun.


Tono naik ke lantai dua. Linda segera mengikuti. Dia khawatir kalau Tono masuk ke kamar yang dipakai Tania.


Linda tak mau kalau Tono minta jatah dari Tania. Apalagi tadi dia tahu sendiri kalau sikap Tono sangat baik pada Tania.


Tono yang merasa diikuti, menoleh.


"Mau apa kamu?" tanya Tono.


Sejujurnya Tono memang mau ke kamar Tania.


"Mau ke kamar," jawab Linda.


Tono kembali melanjutkan langkahnya. Dan benar saja, Tono tidak masuk ke kamarnya. Dia malah duduk di sofa depan kamar Tania.


"Katanya mau masuk ke kamar. Sana masuk!" suruh Tono.


"Nanti aja, bareng kamu," sahut Linda.


"Hh! Aku mau ke kamar Tania," ucap Tono dengan kesal.


"Mau ngapain?" Linda mulai cemas.


"Dia kan juga istriku. Sudah lama aku tak menyentuhnya," jawab Tono.


"Enggak! Kamu tidak boleh menyentuhnya. Kamu hanya boleh menyentuhku!" sahut Linda. Dia tak mau Tono terbuai dengan Tania lalu mengabaikannya.


"Kamu? Aku malas menyentuh wanita cengeng macam kamu. Kamu pikir aku suka dengan tangisanmu?"


Linda menelan ludahnya. Bagaimana dia tak menangis kalau Tono selalu memperlakukannya dengan kasar dan menyakitkan.


Bukan cuma sakit hatinya, tapi juga sekujur tubuhnya. Tapi Linda berusaha menahannya, meskipun tangisannya tak pernah bisa dibendung.


"Oke. Aku tak akan menangis lagi. Tapi kamu harus janji tak akan menyentuh dia. Aku yang akan melayanimu. Bukan dia!" sahut Linda.


Tania yang ternyata diam-diam menguping dari pintu kamarnya, ingin tertawa.


Linda pikir Tania mau melayani Tono di tempat tidur. Tania malah bersyukur ada Linda. Jadi dia tak perlu ketakutan setiap malam, kalau-kalau Tono menyentuhnya.


Meski pada kenyataannya, Tono hampir tak pernah melakukannya. Karena Tania selalu menolak dan pasti akan berakhir dengan pertengkaran.

__ADS_1


Setelah bertengkar, Tono akan tidur atau pindah kamar. Atau kadang Tono pergi entah kemana.


Tono beranjak dari tempatnya duduk. Linda pun ikut berdiri. Dia benar-benar tak mau kalau Tono sanpai masuk ke kamar Tania.


Tono mendengus kesal.


"Ya udah. Sekarang, layani aku. Aku sudah tak bisa menahannya lagi."


Tono menarik tangan Linda masuk ke kamarnya. Linda pun menurut saja.


Demi ambisinya bisa memiliki Tono dan hartanya sendirian, Linda akan melakukan apapun keinginan Tono. Meskipun itu akan menyakitinya.


Tania bernafas lega. Lalu kembali ke tempat tidurnya. Dia tak perlu lagi berantem dengan Tono ataupun berebut dengan Linda.


Memperebutkan lelaki tua dan kejam seperti Tono? Tania hanya tersenyum pahit.


Sebenarnya Tania merasa bosan di kamar terus. Tapi Tono masih ada di kamarnya sendiri, pasti bakalan ngoceh kalau lihat Tania ada di luar kamar.


Satu jam kemudian, kamar Tania diketuk oleh Asih.


"Neng...! Neng Tania! Disuruh juragan makan siang!"


Tania yang sudah mulai ngantuk, terpaksa membukakan pintu.


"Ada apa, Bik?" tanya Tania.


"Sudah ditunggu juragan sama si Linda di meja makan," jawab Asih.


Tania mendengus.


"Bawa kesini aja makanannya, Bik," pinta Tania.


"Nanti juragan marah, Neng. Tau sendiri kan bagaimana dia? Neng Tania turun aja. Sebentar kok." Asih yang tak mau kena marah Tono, tetap memaksa Tania turun.


"Ya udah. Aku turun sebentar lagi." Tania masuk lagi, menyisir rambut panjangnya dan merapikan penampilannya.


Tania turun ke ruang makan.


"Lama amat sih?" komentar Tono.


Tania tak mempedulikannya. Dia langsung menarik kursi di depan Tono dan mulai menyiapkan makanan untuknya sendiri.


"Ambilkan aku makan!" ucap Tono sambil mengulurkan piringnya ke arah Tania.


Aku? Bukannya ada si Linda? Tania menatap ke arah Linda, sambil tangannya meraih piring Tono.


Tania terperangah melihat wajah Linda yang memar. Piring di tangannya sampai hampir jatuh.


Bukankah tadi mereka mau bercinta? Kenapa muka Linda malah bonyok?


Apa yang mereka lakukan di kamar? Bercinta atau tinju?


Hiih...! Tania bergidig ngeri.

__ADS_1


__ADS_2