
Tono berjalan dengan gagah, diapit dua bidadarinya. Dari belakang badan Tono, Linda mencubit tangan Tania.
"Auwh!" teriak Tania. Dia sengaja berteriak dengan keras, biar Tono mendengarnya.
"Ada apa?" tanya Tono.
"Ada semut menggigit tanganku." Tania melepaskan gandengannya.
Kebetulan sekali, ada alasan Tania melepaskan tangan dari Tono.
Linda tersenyum senang. Dia merasa bisa membuat Tania melepaskan gandengannya.
"Oh. Mana?" Tono malah memegang tangan Tania. Lalu mencari semutnya.
Tania sebenarnya merasa jijik, tangannya dipegang Tono. Tapi rasa kesalnya pada Linda, membuatnya pura-pura senang.
"Semutnya udah pergi. Ini bekasnya." Tania menunjuk kulit merahnya bekas cubitan Linda.
"Oh, ya ampun. Sampai merah begini." Tono mengelus tangan Tania dengan lembut. Tania memejamkan matanya sebentar.
Ingin rasanya menarik tangannya. Karena dia tak sudi dipegang-pegang Tono.
"Kamu carikan minyak kayu putih. Minta sama Asih!" perintah Tono pada Linda.
Linda mendengus kesal.
"Dia aja suruh nyari sendiri! Manja amat! Lagian apa-apaan sih, ini? Pakai pegang-pegangan!" Linda menarik tangan Tono biar melepaskan tangan Tania.
Tania bukannya marah, dia malah senang. Karena memang itu yang diinginkannya.
"Jangan larang-larang aku! Tania juga istriku!" bentak Tono pada Linda.
Linda menatap Tono dengan tajam. Dia benar-benar tak suka Tono dekat-dekat pada Tania.
Linda langsung menarik lagi tangan Tono, biar pergi meninggalkan Tania.
"Heh! Apa-apaan kamu?" Tono protes karena Linda terus menariknya.
"Aku enggak suka kamu pegang-pegang dia!" sahut Linda sambil terus menarik tangan Tono masuk ke kamar.
"Iih! Siapa juga yang mau dipegang-pegang! Najis!" Tania mengibas-ngibaskan tangannya.
Tono yang mendengarnya, menoleh. Tania hanya melotot pada Tono. Sekarang dia lebih berani.
Suami yang semestinya dia hormati, malah semakin membuat Tania jijik.
Asih menatapnya diam-diam. Kasihan juga dia pada Tania yang selalu dinomor duakan oleh Tono.
Padahal hal itu malah membuat Tania senang.
Sampai di kamarnya, Tono bisa melepaskan pegangan tangan Linda.
"Apa-apaan sih, kamu?" bentak Tono.
"Aku enggak suka kamu pegang-pegang dia, Beib! Kamu lihat sendiri kan, dia tadi malah berdua-duaan sama Yahya di belakang?"
__ADS_1
Linda berusaha mempengaruhi Tono.
"Dia kan sudah bilang, kalau lagi perintah Yahya menebangi ranting pohon!" sahut Tono membela Tania.
"Dan kamu percaya? Dia bohong, Beib! Karena ketahuan kita. Dan coba aja enggak ketahuan, pasti mereka melakukannya!" Linda terus saja mempengaruhi Tono.
Tono terdiam. Lalu ingatannya kembali pada penghianatan Tania dahulu. Di mana Tania melakukan hal itu dengan Rendi.
Tono mulai terpengaruh hasutan Linda. Wajahnya langsung menegang.
Linda menganggukan kepalanya. Membuat Tono semakin geram pada Tania.
"Awas saja kalau sampai ketahuan! Aku bunuh keduanya!" ancam Tono.
"Enggak perlu kamu bunuh si Tania itu, Beib. Cukup kamu berikan saja pada anak buahmu. Biar dia diperkosa rame-rame. Biar kapok!"
Otak Linda benar-benar jahat dan kotor. Dan dia ingin melihat hidup Tania makin hancur.
Linda tersenyum licik.
"Hebat kan ideku, Beib? Kamu tak perlu mengotori tanganmu." Linda mulai menggerayangi Tono.
Tapi Tono menepiskan tangan Linda.
"Kenapa, Beib?" tanya Linda.
"Aku laper," jawab Tono.
Linda mendengus kesal. Dia lagi kepingin bercinta, meski Tono sering membuatnya kesakitan.
"Tapi aku enggak mau makan di sana. Malas ketemu si Tania!" sahut Linda.
"Ya udah. Kalau kamu enggak mau, aku makan sendiri." Tono berjalan turun ke ruang makan.
Linda kembali mendengus. Lalu mengikuti Tono turun. Dia juga tak mau Tono makan ditemani Tania.
Meskipun tadi Tono berhasil dihasutnya, tapi bisa jadi Tania kembali mendekat.
"Asih! Siapkan makan. Suamiku laper!" seru Linda pada Asih dengan tidak sopan.
Tania yang mendengarnya, sangat kesal. Tapi Tania sudah capek berdebat. Apalagi kalau nanti Tono malah mendekatinya lagi.
Tania melirik sekilas, lalu naik ke kamarnya. Dia yang sudah kenyang, memilih tiduran di kamar sambil menonton televisi.
"Iya," sahut Asih. Lalu menyiapkan makanan buat mereka.
Tono dan Linda duduk di kursi makan. Mereka menunggu Asih melayani. Gaya Linda sudah kayak majikan saja. Angkuh dan congkak.
Asih sebenarnya masih kesal pada Linda, tapi karena ada Tono, dia tak bisa berbuat apa-apa.
Asih melayani mereka makan.
"Kenapa hanya ini lauknya?" tanya Tono.
Bahkan lauk yang disajikan Asih adalah masakan semalam yang belum juga habis.
__ADS_1
"Persediaan lauk udah habis, Pak," jawab Asih.
"Kenapa enggak bilang? Nanti siang kamu belanja ke pasar," sahut Tono.
Asih tersenyum senang. Akhirnya dia bisa juga ke pasar. Walaupun sebenarnya, persediaan bahan makanan masih banyak. Asih berbohong karena dia malas memasak lagi.
"Beib, gimana kalau kita aja yang belanja? Di supermarket? Aku kan juga punya kebutuhan belanja di sana?" pinta Linda.
"Aku malas. Ngantuk," jawab Tono. Semalaman dia melek demi urusannya bisa kelar.
"Kalau begitu, aku sendirian aja yang belanja," sahut Linda. Dia ingin sesekali menguras kartu ATM Tono.
"Kamu ajak aja Tania sama Asih. Mereka kan lebih sering di dapur. Jadi tau apa aja yang mesti dibeli. Nanti aku telpon Tajab, biar nganter kalian."
Linda terbelalak. Dia harus pergi bersama Tania dan Asih? Menyebalkan sekali. Gerutu Linda dalam hati.
Selesai makan, Tono benar-benar menelpon Tajab. Dia mau Tajab mengantarkan mereka sekalian mengawal.
"Asih. Kamu siap-siap menemani Linda belanja di supermarket," perintah Tono pada Asih.
"Iya, Pak." Asih mengangguk. Lalu masuk ke kamarnya, berganti pakaian.
"Kamu juga siap-siap," ucap Tono pada Linda. Dia juga beranjak berdiri.
Mereka berjalan naik ke kamar.
"Kamu ganti baju. Aku ke kamar Tania, biar dia juga siap-siap," ucap Tono.
Linda terkesiap.
Tono masuk ke kamar Tania. Lalu melihat Tania ganti baju?
Oh, No.
Linda langsung menghalangi langkah Tono.
"Biar aku yang menyuruhnya siap-siap!" Lalu Linda mengetuk pintu kamar Tania dengan kasar.
Tono hanya menghela nafasnya, lalu masuk ke kamar.
Tania membukakan pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanya Tania dengan ketus.
"Suamiku menyuruhmu nemenin aku belanja. Sekarang!" jawab Linda tak kalah ketus.
"Hhh! Memangnya aku bodyguardmu?" sahut Tania.
Malas banget pergi dengan Linda. Mending tidur di rumah. Batin Tania.
Tono keluar lagi dari kamarnya. Lalu dia mendekat ke kamar Tania.
"Nih! Pakai uang ini buat belanja. Kamu juga kalau mau beli sesuatu, beli aja. Kalau kurang, pakai kartu debitku. Masih ingat nomor pin-nya, kan? Tanggal lahir Rendi." Tono menyerahkan segepok uang pada Tania.
Tono jelas lebih percaya pada Tania daripada Linda yang boros.
__ADS_1
Tania hanya melongo. Bukan karena dia dikasih uang oleh Tono. Tapi karena Tono kembali menyebut nama Rendi.