
Tono berlari juga mengejar Tania. Linda menatap pertikaian itu dengan senyum penuh kemenangan.
Asih yang melihatnya, melotot ke arah Linda. Ingin rasanya dia jambak rambut perempuan berbaju kurang bahan itu.
Linda hanya melengos, lalu menyusul naik ke lantai dua.
Tania yang sadar Tono mengejarnya, semakin mempercepat larinya hingga sampai ke kamar.
Ceklek!
Tania buru-buru mengunci pintunya.
Tania bernafas lega.
"Tania! Keluar kamu!" Tono menggedor-gedor pintu.
Tania tak menggubrisnya. Mau digedor sampai gempor pun, Tania tak mau membukakannya.
"Tania! Keluar atau aku dobrak pintu ini?" ancam Tono masih dengan suara keras.
Tania malah terkikik. Mana kuat badan sekecil itu mendobrak pintu. Lagi pula Tania tak peduli meski pintu itu didobrak. Toh, bukan miliknya.
"Dasar anak sialan!" Tono menendang pintu itu dengan keras.
Tania hanya tersenyum sinis. Paling nanti kakinya bengkak. Pikir Tania.
Lalu Tania duduk di atas tempat tidur. Di kamar itu tak ada sofa seperti di kamar Tono.
Hanya ada satu tempat tidur yang tak terlalu besar. Meja nakas dan lemari ukuran sedang.
Untungnya ada kamar mandinya. Jadi Tania tak perlu repot-repot keluar kamar.
"Ah....!" seru Linda melihat Tono menendang pintu Tania.
Tono kesakitan memegangi satu kakinya.
"Kenapa kamu cuma liatin aja!" bentak Tono.
"I...Iya. Kaki Abang sakit?" tanya Linda.
"Sudah tau, nanya! Cari minyak urut. Pijati kakiku!" perintah Linda.
Rupanya bukan hanya pada Tania, Tono bersikap kasar. Pada Linda yang katanya hari ini baru dinikahinya pun, Tono tetap kasar.
Tapi karena Linda membutuhkan uang Tono, dia tak mempedulikannya. Baginya yang penting dia akan dapat banyak uang seperti yang dijanjikan Tono.
Linda memapah Tono masuk ke kamar. Lalu membawa Tono ke tempat tidur.
"Minyak urutnya ada di mana?" tanya Linda.
"Cari sendiri! Pakek nanya!" bentak Tono lagi.
Linda mendengus kesal. Lalu mencari minyak urut ke semua tempat.
Sampai akhirnya, dia menemukannya di laci nakas.
Hhh! Kalau bukan karena uangmu, tak sudi aku dibentak-bentak seperti itu, buaya darat! Maki Linda dalam hati.
__ADS_1
Lalu dengan lembut dan pura-pura peduli, Linda mengurut kaki Tono. Hingga Tono tertidur. Linda pun ikut tidur.
Sementara di kamarnya, tak ada yang bisa dilakukan Tania. Dia hanya menonton televisi saja.
Mau keluar kamar, takut ketemu Tono. Karena pasti dia akan dimaki-maki lagi. Bahkan bisa saja dicelakai.
Tania merasa Tono masih ada di kamarnya sendiri, jadi Tania memilih bertahan dulu di kamar.
Karena iseng, Tania membuka lemari yang ada di kamarnya. Dia pingin tahu, ada barang apa saja yang sekiranya bisa dia pakai untuk kabur nanti.
Dan saat membuka lacinya, Tania menemukan dua buah ponsel.
Heh...ini bukannya ponselku? tanya Tania dalam hati.
Lalu dia memperhatikannya dengan baik.
"Benar. Ini ponselku," gumam Tania. Yang satu ponsel lamanya, yang satu lagi ponsel yang dibelikan Tono beberapa saat sebelum disitanya.
Tania mencoba menyalakan kedua ponsel itu. Sayang sekali daya baterainya habis.
Tania celingak celinguk mencari dimana letak charger. Dia sendiri lupa dimana chargernya yang dulu.
Pastinya masih ada di kamar Tono. Tapi bagaimana mengambilnya?
Ah, nanti saja kalau mereka pergi lagi. Semoga belum dibuang oleh Tono. Batin Tania.
Linda tak bisa tidur karena suara dengkuran Tono mengganggunya. Dia bangun lagi dan menyalakan televisi.
"Matikan tv itu! Kamu enggak liat aku lagi tidur?"
Ternyata Tono terbangun mendengar suara televisi dinyalakan.
Dia berjalan ke arah balkon. Cuaca sangat panas. Linda berdiri sebentar, lalu kembali masuk.
Tiba-tiba muncul ide jahatnya. Dia ingin membuat masalah dengan Tania. Dan dia yakin, Tono pasti akan membelanya.
Linda perlahan keluar dari kamar Tono. Lalu mengetuk pintu kamar yang dipakai Tania.
Tania yang sedang memegang ponselnya terkesiap. Lalu buru-buru disembunyikannya agar tak ketahuan Tono lagi.
"Siapa?" tanya Tania dari dalam. Dia yakin itu bukan Tono. Kalau Tono pasti akan mengetuknya dengan keras dan berteriak-teriak.
"Aku. Linda," jawab Linda.
Linda? Mau apa dia? Tania segera bersiap kalau terjadi sesuatu yang tak menyenangkan lagi.
"Mau apa?" tanya Tania lagi.
"Buka dulu pintunya!" jawab Linda dengan ketus.
Feeling Tania sudah kurang enak. Tapi Tania tetap membukanya juga. Dia sudah siap apapun yang akan terjadi.
"Ada apa?" tanya Tania sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Ambilkan aku air putih!" perintah Linda.
Tania menatap tak suka pada Linda. Seenaknya saja main perintah.
__ADS_1
"Matamu buta? Di kamar ada dispenser!" sahut Tania.
Linda mendengus.
"Aku mau yang dingin!" ucap Linda cari alasan.
"Tinggal pencet aja! Tolol!" bentak Tania. Dia tak takut sama sekali pada Linda. Apalagi kalau melihat dari wajahnya, kelihatannya umur mereka tak beda jauh.
"Aku maunya yang dari kulkas!" sahut Linda tak mau kalah.
Tania menatap wajah Linda lagi.
"Ambil sendiri di dapur! Kamu punya kaki, kan? Atau mau aku patahkan kakimu dulu, hah?" Tania menuding ke wajah Linda, lalu beralih ke kakinya.
"Ooh! Berani kamu menolak perintahku? Aku bilang pada suamiku!" ancam Linda.
"Bilang saja sana! Bangunkan suami kamu yang tua bangka itu! Biar kamu dimakannya!"
Lalu Tania menutup pintu kamarnya lagi dan menguncinya.
Linda memukul pintu kamar Tania dengan kesal. Ternyata Tania tak takut sama sekali padanya.
"Awas kamu, ya. Aku pasti akan membuatmu nyembah padaku!" gumam Linda. Lalu kembali masuk ke kamar Tono.
Tono masih ngorok. Bahkan suaranya makin keras memekakan telinga.
Linda yang tak tahan mendengarkannya, keluar dari kamar. Lalu turun ke lantai satu.
Di ruang tengah, dia ketemu dengan Asih yang sedang menyapu lantai.
Linda tak menyapa sama sekali. Malah seolah memandang rendah.
Asih mendengus kesal. Sikap Linda sangat berbeda dengan Tania yang sopan dan ramah.
Linda berjalan ke arah kolam renang.
"Ah, kayaknya siang-siang begini, enaknya berenang," gumam Linda.
Linda langsung membuka seluruh pakaiannya. Hanya menyisakan bra dan ****** ***** saja.
Asih sampai melongo melihatnya. Begitu juga Yahya yang kebetulan lewat.
Dan tanpa berpikir panjang, Linda menceburkan diri ke kolam.
"Pak, Ih!" Asih menarik tangan suaminya untuk menyingkir. Biar tak keterusan melihat pemandangan gratisan.
"Rejeki, Bu," ucap Yahya.
"Enak aja! Mau aku congkel mata kamu?" ancam Asih.
Yahya hanya ngengir, lalu pergi ke halaman belakang.
"Aah....! Tolong....! Tolong....! Kakiku kram!" teriak Linda dari dalam kolam.
Asih yang mendengarnya, hanya menoleh sebentar, lalu pergi ke halaman belakang menyusul Yahya.
Asih akan pura-pura tak mendengar. Lalu mengajak bicara Yahya agar tak mendengar teriakan Linda.
__ADS_1
Biar mampus dia di kolam renang! Batin Asih.