
Tania melepaskan pelukannya. Dia mencari sumber suara itu.
Lalu matanya nyalang melihat sosok Linda berdiri sambil berkacak pinggang.
Tania beranjak dan mendekati Linda. Lalu berdiri tepat di depan Linda.
Linda melengos.
"Ternyata kamu seorang lesbi?" tanya Linda melecehkan.
"Kalau iya, kenapa? Kamu mau aku peluk juga?" tantang Tania.
"Cuih! Menjijikan sekali!" Linda meludah di depan Tania.
Tania menghela nafasnya.
"Lebih menjijikan mana dengan wanita yang menjual tubuhnya pada bandot tua, hah?"
Linda merasa tersinggung. Lalu mendorong tubuh Tania hingga mundur beberapa langkah.
Tania tak tinggal diam. Dia maju lagi dan mendorong tubuh Linda lebih keras.
Linda jatuh terlentang.
"Sialan kamu!" Linda berusaha berdiri.
Tania membiarkan Linda berdiri. Dia tak akan menyerang kalau tidak didahului.
Linda berdiri dan mendekati Tania. Tangannya terangkat hendak menampar Tania.
Dengan sigap, Tania menangkap tangan Linda, lalu memelintirnya.
Tania yang biasa bergaul dengan anak-anak kampung sejak kecil, punya keberanian luar biasa kalau hanya menghadapi seorang wanita kemayu seperti Linda.
"Auwh....!" Linda berteriak.
"Teriak yang kenceng, biar bandot tua itu denger dan membelamu!" Tania terus memelintir tangan Linda.
"Aduh, sakit! Lepaskan!" Linda masih saja berteriak.
"Lebih kenceng lagi teriaknya. Sebelum aku patahkan tanganmu!" ancam Tania.
"Iya...Iya...Ampun...Lepasin! Ini sakit banget!" Suara Linda melemah. Keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya karena menahan sakit.
"Sekali lagi kamu menghinaku, aku tak akan segan-segan mematahkan tanganmu ini!" Tania menghempaskan tangan Linda dengan keras. Hingga tubuh Linda terhuyung.
Linda berusaha berdiri tegak. Lalu bergegas lari naik ke lantai dua lagi.
"Hebat, Neng Tania. Bibik bangga. Neng Tania enggak gampang diinjak-injak," puji Asih.
Yahya pun yang menyaksikannya dari kejauhan, geleng-geleng kepala. Tak disangkanya, gadis yang dari awal terlihat lemah, ternyata punya kekuatan luar biasa.
__ADS_1
Linda sampai di kamar Tono dengan nafas terengah-engah.
"Dari mana kamu?" tanya Tono dengan pandangan curiga. Jujur Tono tak suka, saat dia di dalam kamar, pasangannya malah keluar.
"Dari bawah. Mm...cari makanan kecil. Dan...itu si Tania sialan. Dia malah menyerangku," jawab Linda terbata-bata.
"Jangan bohong! Pasti kamu yang mengganggunya dulu!" Tono tahu persis sifat Tania. Dia anak yang baik dan sopan. Tak akan menyakiti kalau enggak didului.
"Kamu enggak percaya padaku?" tanya Linda dengan ketus.
"Jangan membentakku! Atau kamu akan aku buat menjerit kesakitan lagi, hah?"
Tono yang tak suka dibentak-bentak, mendorong tubuh Linda hingga terjatuh terlentang di atas tempat tidur.
"Enggak...enggak...Jangan!" Linda segera berusaha bangkit. Tapi sayang, Tono sudah mengungkungnya.
"Kamu menolakku, hah?" Tono menahan kedua tangan Linda.
"Bukan...! Mm...maksudku, jangan sekarang. Nanti malam aja. A...aku lapar. Tenagaku habis!" Linda berusaha mencari alasan.
Rasa sakitnya yang tadi, belum hilang. Dan dia belum bisa melayani Tono sekarang.
Tono yang sebenarnya masih lemes, akhirnya berdiri.
"Ya udah! Sekarang kamu turun. Bilang sama Asih, suruh siapkan makan. Aku juga lapar!" perintah Tono.
Linda menelan ludahnya yang terasa kering. Dia masih belum berani ketemu Tania. Bisa dihabisi dia sama Tania.
Linda melangkah keluar kamar dengan malas. Dia masih takut pada Tania.
Tapi mau tidak mau, dia harus turun juga.
Sampai di ruang makan yang dekat dapur, Linda melihat Tania sedang asik minum jus.
Cleguk!
Tenggorokannya yang terasa kering, membuatnya ingin sekali mengambilnya. Tapi mata Tania yang menatapnya tajam, membuat nyalinya ciut.
Linda berjalan mendekati Asih dan melewati Tania begitu saja. Tania pun tak peduli. Dia terus saja menghabiskan jusnya.
"Bik, bapak minta disiapkan makan. Sebentar lagi bapak turun," ucap Linda. Kali ini dia tak berani membentak siapapun.
Tania menoleh.
"Heh! Kalau mau makan, siapkan sendiri! Status kita sama. Sama-sama jadi tawanan si tua bangka itu!" ucap Tania dengan ketus.
Tania menyebut kata tawanan karena mereka tak punya kebebasan keluar rumah. Sama seperti tawanan yang hidup di bui.
"Aku tidak menyuruhmu. Aku menyuruh bik Asih," sahut Linda.
Tania berdiri.
__ADS_1
"Kamu pikir bik Asih babumu, hah? Dia juga sama! Sama-sama tawanan si Tono. Cuma bedanya kamu dinaikin dia, kami tidak. Paham?" ucap Tania dengan tegas.
Linda tercengang mendengar ucapan Tania. Apa benar mereka semua tawanan Tono?
"Udah, jangan bengong! Bantu bik Asih menyiapkannya. Kamu disini bukan majikan atau tuan putri. Kamu cuma pemuas nafsu si bandot tua itu!" lanjut Tania.
Karena takut, Linda mengangguk. Lalu membantu Asih menyiapkan makanan.
"Awas kalau kamu ngadu sama Tono. Aku lempar kamu ke kolam renang! Biar mampus tenggelam!" ancam Tania.
Linda hanya diam saja. Dalam hatinya memaki sikap Tania yang malah lebih galak dari pada dia.
Tania kembali duduk, menikmati jus dan camilan. Linda berkali-kali melirik dengan kesal.
Setelah selesai mandi, Tono turun untuk makan. Sampai di ruang makan, dia melihat Tania lagi asik ngemil. Sementara Linda sedang sibuk membantu Asih menyiapkan makan.
"Kamu ngapain disitu?" tanya Tono.
Tania yang sudah melihat kedatangan Tono hanya menjawab dengan santai.
"Minum jus sama ngemil. Mau?" Tania mengulurkan stoples berisi cemilan.
"Enak sekali kamu! Enak-enakan ngemil. Lihat istriku, dia rajin, mau membantu Asih masak," ucap Tono.
Tania hanya melirik ke arah Linda yang pura-pura rajin, biar dipuji Tono.
"Ya rajinlah. Kan menyiapkan makanan buat suami tercinta!" sahut Tania.
"Terus, apa gunanya kamu di rumah ini?" tanya Tono.
"Tidak ada!" sahut Tania ketus. Dia sengaja ingin membuat Tono kesal, lalu memulangkannya tanpa dia harus kabur.
"Dasar anak enggak tau diri! Sana minggir! Aku mau makan!" usir Tono.
Tania bangkit membawa gelas jus dan stoplesnya.
"Aku juga enggak sudi duduk dekat kamu!" Tania pergi ke taman dekat kolam renang.
Linda yang merasa dibela oleh Tono, mendekat. Lalu dia mencium punggung Tono. Berusaha mencari hatinya Tono.
"Memang pemalas itu anak. Usir saja dia dari sini, Beib. Enggak ada gunanya juga," ucap Linda.
"Enak aja! Dia harus tetap disini. Sampai dia bisa membayar semua hutang pamannya yang dungu padaku!" sahut Tono.
Rupanya Tania yang belum sampai ke taman, mendengar. Lalu kembali lagi ke ruang makan.
"Bagaimana aku punya uang buat membayar hutang pamanku, kalau kamu mengurungku di sini?" tanya Tania.
"Terserah bagaimana caramu! Dan selama itu, kamu akan terus aku kurung di sini!" jawab Tono.
"Dasar lintah darat!" Tania kembali berjalan ke taman.
__ADS_1
Hatinya semakin yakin, kalau dia harus bisa kabur dari sini. Karena apapun yang dia lakukan, tak akan membuat Tono mengembalikannya pada paman dan bibinya.