
Sari menatap wajah Rendi penuh curiga. Barusan Rendi bilang sedang video call dengan Monica. Dan Monica sendiri sedang sibuk kuliah.
Tapi ini...orangnya malah muncul.
"Rendi...kamu kenapa?" Monica langsung berlari dan mendekap Rendi.
"Auwh!" teriak Rendi.
Monica mendekap kepala Rendi yang terbalut perban.
"Oh, maaf, Ren. Maaf," ucap Monica.
"Sakit tau!" seru Rendi.
"Iya, Maaf. Aku enggak tau. Kamu kenapa bisa begini, Rendi?" tanya Monica. Dia melihat ke sekujur tubuh Rendi.
Sari menatap tak suka pada Monica. Dia sebagai mamanya Rendi dan dari tadi berdiri di dekat situ, sama sekali tak disapa.
Itu salah satu hal yang tak disukai Sari dari Monica. Anaknya tak punya sopan santun.
"Kecelakaan!" jawab Rendi singkat.
Mata Rendi menatap ke arah Sari. Sari mendengus kesal. Kesal karena Monica tak menganggapnya, juga pada Rendi yang membohonginya.
"Siang, Tante," sapa Monica.
Monica hanya mengangguk kecil saja pada Sari. Saripun hanya meliriknya sekilas. Lalu duduk di sofa.
Sari tak berniat meninggalkan Rendi sama sekali. Biar saja dia satu ruangan dengan Monica. Kalau perlu, Sari akan menyindir-nyindir Monica biar cepat pulang.
"Kamu kok enggak kasih kabar aku, sih?" tanya Monica dengan manja.
Rendi kembali melirik ke arah Sari. Sari hanya menghela nafasnya.
Tapi dalam hati, Sari bertanya-tanya. Suara siapa tadi yang video call dengan Rendi? Yang dilihat Sari tadi sekilas, Rendi terlihat sangat bahagia.
Senyuman mengembang dari bibir anaknya itu.
Tania? Sepertinya bukan. Yang Sari tau, Tania sudah kabur dari rumah Tono.
Lalu siapa? Pacarnya Rendi yang lain? Kalau punya pacar lain, kenapa harus ngejar-ngejar Tania lagi? Sampai dibela-belain jatuh dari pintu gerbang segala.
Berbagai pertanyaan muncul di kepala Sari. Dan akan ditanyakan Sari pada Rendi, nanti setelah Monica pergi.
"Aku...aku belum sempat. Hapeku aja baru aktif," jawab Rendi berbohong.
Padahal sejak tadi hapenya online terus. Untungnya Monica tak memperhatikannya.
Monica langsung cemberut. Dia merasa diabaikan oleh Rendi.
"Kamu, tau dari mana aku di sini?" tanya Rendi.
"Dari babu kamu! Ngeselin banget tau!" jawab Monica dengan kesal.
Sari terkejut mendengar kata babu dari mulut Monica.
__ADS_1
Ngakunya terpelajar, seorang mahasiswa, tapi omongannya kasar! Aku saja enggak pernah mengatakan itu pada Sri. Dasar wanita tak punya etika! Sari hanya bisa mengomel dalam hati.
"Mba Sri?" tanya Rendi.
Monica mengangguk.
"Dia bukan babu. Dia ART di rumahku. Rumahnya mama. Kamu tau kan kepanjangan dari ART?" tanya Rendi. Dia sengaja bertanya seperti itu, biar Monica tak berkata kasar tentang Sri, apalagi di depan mamanya.
"Ah, sama aja! Mau ART, mau apaan kek. Tetap aja babu! Apalagi dia ngeselin!" Monica mulai merajuk.
Sari makin keki mendengarnya. Ingin sekali dia remas mulut yang tak tau etika itu.
Apalagi Monica yang bersikap sok manja pada Rendi. Membuat Sari serasa ingin menendangnya keluar.
"Kok ngeselin? Mba Sri kan orangnya baik." Rendi malah membela Sri.
"Dari kemarin dia ngeselinnya! Masa aku nyariin kamu terus diusir? Tadi aku nyariin kamu lagi juga mau diusir!" sahut Monica.
Sari menahan senyumnya.
Rasain lu!
Sri memang ditugaskan Sari untuk menjaga rumahnya dan menolak siapa saja yang bertamu, saat di rumah tak ada orang.
Dan Sri rupanya tak pandang bulu. Monica pun diusirnya.
Bagus Sri! Puji Sari pada Sri, dalam hati.
Rendi melirik ke arah Sari yang sedang menahan senyum. Sari malah mengacungkan jempolnya ke arah Rendi.
Rendi hanya menghela nafasnya.
"Iya. Mba Sri memang ditugasi mama jagain rumah. Dan jangan kasih tau pada siapapun tentang aku," sahut Rendi.
"Tapi aku kan pacar kamu. Masa aku juga enggak dikasih tau!" Monica kembali merajuk. Tangannya *******-***** jemari Rendi.
Sari yang mendengarnya langsung berakting muntah-muntah, tapi tanpa suara.
Rendi kembali menghela nafasnya, melihat kelakuan mamanya.
Kalau dulu Rendi bisa marah, mamanya bersikap seperti itu. Tapi sekarang, masa bodo.
Kalau perlu, Rendi akan memanfaatkan mamanya untuk mendepak Monica dari kehidupannya.
"Ya udah. Nyatanya kamu dikasih tau juga, kan?" sahut Rendi.
"Iya. Setelah aku paksa-paksa! Ngeselin kan?" sahut Monica.
"Ren, kamu kok bisa kecelakaan sampai parah begini, sih?" tanya Monica.
"Ya, namanya juga kecelakaan. Apapun bisa aja terjadi," jawab Rendi.
"Makanya ati-ati naik motornya, Sayang," ucap Monica.
Ooh, jadi Monica taunya aku kecelakaan naik motor? Ya sudahlah. Daripada Monica tau yang sebenarnya, malah semakin banyak bertanya. Batin Rendi.
__ADS_1
"Iya. Keadaanku sangat parah. Kaki dan tanganku patah. Kamu lihat sendiri, kan?" Rendi ingin mulai memancing perasaan Monica.
Monica mengangguk. Tak terlihat kesedihan sama sekali di wajahnya. Itu yang dirasakan Rendi.
"Kalau nantinya aku cacat seumur hidup, apa kamu masih mau jadi pacarku?" tanya Rendi.
Sari mengerutkan dahinya. Tapi kemudian tersenyum. Dia sepertinya paham apa maksud pertanyaan Rendi. Dan juga kemana arahnya.
"Kok kamu nanyanya kayak gitu sih?" Monica balik bertanya.
"Iya. Biar kamu bisa ambil keputusan yang terbaik. Aku enggak apa-apa, kok," jawab Rendi.
Monica terdiam.
"Wajahku juga pastinya akan berubah. Karena luka di kepalaku ini cukup besar." Rendi menunjukan kepalanya yang diperban.
Padahal Rendi ngeri sendiri dengan omongannya barusan. Bagaimana kalau benar-benar terjadi?
Pasti bukan hanya Monica yang akan kabur, tapi juga Tania.
Rendi memejamkan matanya saking ngerinya. Sari juga tak kalah ngerinya membayangkan itu. Sari menggeleng-gelengkan kepalanya ke arah Rendi.
Enggak! Jangan sampai itu terjadi! Rendi langsung membuka matanya.
"Ren. Aku punya ide. Bagaimana kalau kamu dibawa ke luar negeri. Di sana kan banyak rumah sakit yang bagus. Biar kamu bisa kembali normal," ucap Monica.
Mata Sari langsung melotot.
Hh! Dia pikir biayanya gratis, apa! Gerutu Sari dalam hati.
Menjual semua harta Sari pun belum tentu cukup. Meskipun Sari akan melakukan apapun demi kesembuhan Rendi.
"Memangnya gratis?" tanya Rendi. Dia merasakan apa yang ada di pikiran Sari.
"Ya enggak sih. Tapi...Papa kamu kan orang kaya," sahut Monica.
"Kata siapa?" tanya Rendi. Selama ini Rendi tak pernah menceritakan soal papanya.
"Ya...kata aku. Hehehe." Monica malah nyengir.
"Kalau kamu dibawa ke luar negeri, aku mau kok nemenin kamu," ucap Monica.
Sari kembali melotot. Hatinya makin kesal. Enak aja, nyuruh-nyuruh berobat ke luar negeri! Ujung-ujungnya biar dia bisa ke luar negeri.
"Memangnya kamu mau kalau harta orang tuaku habis cuma buat berobat aku? Kamu mau kalau aku jadi anak orang miskin?" tanya Rendi.
Monica gelagapan.
Punya pacar anak orang miskin?
Oh, no!
Punya pacar anak orang kaya, tapi cacat dan jelek?
"Ren. Aku pulang dulu, ya. Aku ada kuliah sore ini," pamit Monica.
__ADS_1
Monica langsung ngeloyor pergi tanpa berpamitan pada Sari.