HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 219 JODOHNYA MASIH LARI-LARI


__ADS_3

"Katanya kalian beli banyak oleh-oleh? Mana?" ledek Diman.


Danu menyenggol lengan Diman.


"Maaf, kami tadi terburu-buru pulang. Jadi tidak sempat beli oleh-oleh," sahut Tania yang mendengar omongan Diman.


"Enggak apa-apa, Neng. Cuma bercanda kok," ucap Diman. Dia malah jadi merasa tidak enak.


"Neng Tania kemana aja waktu itu?" tanya Asih.


"Ke rumah teman, Bi. Maaf kalau merepotkan kalian," jawab Tania.


"Enggak apa-apa, Neng. Justru kita terima kasih sama Neng Tania. Setelah Neng Tania pergi, Tono malah berubah. Sikapnya jadi lebih baik pada kita," ucap Yahya.


"Iya, Neng. Kita sekarang lebih dihargai oleh Tono," sahut Asih.


"Dimanusiakan," ucap Diman.


"Emangnya dari dulu kalian bukan manusia?" tanya Danu.


"Dulu Tono nganggap kita itu seperti binatang. Yang tak punya perasaan. Kita diperas tenaganya tanpa penghargaan sama sekali," ucap Asih.


"Betul. Lima tahun lebih lho. Kita tak dihargai sama sekali," timpal Yahya.


"Kalau gue sih tetep dibayar. Tapi kita harus berbuat kejam pada orang-orang yang ngutang," ucap Diman.


"Lu kan emang orangnya kejam!" ucap Danu.


"Mana ada gue kejam. Kalau gue kejam, lu tadi gue suruh pulang sendiri!" sahut Diman.


"Hhh! Lu mah belagu! Nganter aja maunya naik mobil! Dasar matre!" Danu menoyor kepala Diman.


Telpon Danu berdering. Danu melihat siapa yang menelponnya.


"Siapa, Pak?" tanya Eni.


"Tono." Danu masih belum mengangkat telpon dari Tono.


"Angkat aja. Katanya elu mau tanggung jawab!" ucap Diman.


Danu kebingungan. Gimana kalau Tono menanyakan mobilnya? Sementara mobil malah kembali dipakai untuk mengantarnya pulang.


"Angkat aja, Paman," ucap Tania.


"Enggak ah. Nih." Danu memberikan ponselnya pada Diman.


"Kok gue?" Diman menolaknya.


"Kan elu yang mintanya nganter naik mobil!" jawab Danu.


"Kagak ada motor, dodol!" sahut Diman dengan tegas.


"Ya udah, elu ngomong gitu!" Danu tetap memberikan ponselnya pada Diman.


"Kagak! Elu aja!" Diman terus saja menolak.


"Sini, Tania aja yang ngomong." Tania meminta ponsel Danu.

__ADS_1


Dengan terpaksa Danu memberikan ponselnya pada Tania. Bukannya sok berani, tapi Tania ingin melindungi Danu dari kemarahan Tono.


"Hallo..." Tania menyapa duluan.


"Tania?" Tono terkejut karena tak menyangka yang mengangkat adalah Tania.


"Iya, saya," sahut Tania.


Tania juga deg-degan. Karena selama ini dia hampir tak pernah bicara dengan Tono. Apalagi lewat telpon.


"Kalian di mana?" tanya Tono.


Tono menelpon Danu bermaksud untuk mengecek keberadaan mereka.


"Kami udah di rumah. Tadi sore baru sampai," jawab Tania.


"Hah...! Kenapa cepat sekali? Bukannya kalian kepingin jalan-jalan di sana?" tanya Tono lagi.


"Iya. Tapi....mm...ah, enggak apa-apa. Kami kepingin cepat pulang aja." Tania merasa tak enak hati kalau menceritakan alasan kepulangan mereka yang terlalu cepat.


"Oke. Kalian istirahat aja dulu. Soal mobil biar nanti Diman yang ambil." Lalu Tono menutup telponnya.


Tania menghela nafas lega.


"Nih." Tania mengembalikan ponsel Danu.


"Gimana?" tanya Danu dengan perasaan was-was.


"Enggak apa-apa. Dia bilang mobilnya biar diambil sama mang Diman aja," jawab Tania.


Danu pun bernafas lega.


"Itulah Tono sekarang. Jauh lebih sabar dan pengertian pada kita semua," ucap Yahya.


"Neng Tania balik lagi ke rumah sana aja," ucap Asih.


Tania tersenyum.


"Enggak, Bik. Sebentar lagi kan, Tono akan mengurus perceraian kami. Jadi urusanku sama dia udah selesai," sahut Tania.


Asih mengangguk.


"Iya, Neng. Kalau kata pak Tono, Neng Tania mau menikah dengan mas Rendi?" tanya Asih penuh harap.


"Doakan saja, Bik. Sampai sekarang aku belum bisa menemui Rendi lagi," jawab Tania dengan getir.


"Lho, memangnya kenapa? Bukannya pak Tono sudah merestui?" tanya Asih lagi.


"Mamanya Rendi, Bik. Dia belum kasih ijin. Bahkan ingin menjauhkan kami," jawab Tania.


"Ah! Ada-ada aja. Tinggal direstui, kan urusan kelar. Iya enggak, Pak?" Asih minta dukungan pada Yahya.


"Harusnya begitu. Tapi namanya manusia, kan beda-beda cara berpikirnya," sahut Yahya.


Asih menghela nafasnya.


"Apa bu Sari takut kalau neng Tania ketularan penyakitnya juragan Tono?" gumam Diman.

__ADS_1


"Bisa jadi," sahut Yahya.


Tania terdiam. Dia sendiri masih belum tahu apa maunya Sari, dan alasan kenapa menolak Tania.


"Kalau begitu, Neng Tania cek kesehatan aja. Nanti hasilnya dikasih tahukan ke bu Sari. Biar dia yakin," ucap Asih.


"Sepertinya alasan bu Sari bukan cuma itu, Bik. Ada alasan lainnya," sahut Tania.


"Iya. Kapan hari, bu Sari ke sini. Dia marah-marah dan mengancam kami. Kelihatannya bu Sari takut kalau Rendi menikahi Tania, terus hartanya Tono kami kuasai," ucap Eni.


"Bu!" Sergah Danu.


Danu khawatir kalau Eni bakal salah omong.


"Enggak apa-apa, Paman. Kita semua kan udah kayak keluarga, siapa tau malah ada solusi," ucap Tania pada Danu.


"Tono pernah bilang, kalau Tania menikah dengan Rendi, rumah itu bakal diberikan pada Tania. Dan bu Sari tak mau terima. Katanya itu rumah untuk Rendi. Tania tidak berhak atas rumah itu," lanjut Eni.


Eni menghela nafasnya sejenak.


"Padahal kan udah jelas omongan Tono. Kalau rumah itu dikasihkan ke Tania, asal Tania menjadi istrinya Rendi. Kalau enggak, ya enggak dikasihkan." Eni menyudahi omongannya.


"Aneh banget ya bu Sari. Apa dia tidak memahami omongan Tono? Toh, sama aja. Suatu saat, milik Rendi juga milik istrinya. Tania," komentar Asih.


"Udah. Yang sabar aja. Mungkin sekarang bu Sari masih emosi. Jadi belum kebuka tuh, pikirannya. Yang penting mas Rendinya tak berubah pikiran," sahut Yahya.


"Iya. Neng Tania yang sabar ya. Kalau jodoh tak akan lari kemana," ucap Asih.


"Nah, kalau Diman, jodohnya lari kemana tuh?" celetuk Danu.


"Sialan lu! Gue mulu yang dibawa-bawa!" Diman menonjok lengan Danu.


"Jodohnya masih lari-lari!" Yahya ikutan nyeletuk.


"Udah mati pas masih bayi!" Eni pun ikutan komentar.


"Busyet dah. Gue dibully. Ayo, siapa lagi yang mau ngebully gue!" ucap Diman.


Danu tertawa ngakak.


Tania hanya tersenyum mendengar candaan mereka. Kadangkala candaan-candaan seperti itu mampu menghibur perasaannya.


Mereka ngobrol sampai larut malam. Diman tak perlu khawatir lagi dimarahi Tono. Karena tadi Tono sudah memberi lampu merah.


Setelah puas ngobrol, mereka pun pamit pulang.


Rumah Eni kembali sepi. Karena Eni yang sudah ngantuk langsung masuk ke kamarnya. Danu pun segera menyusul.


Tania membereskan dulu meja yang kotor dan berantakan. Para lelakinya tadi merokok dan abunya menyebar kemana-mana.


Danu keluar lagi dari kamar. Dia melihat Tania masih sibuk membersihkan ruang tamu.


"Udah, Tania. Besok aja bersihinnya. Kamu sekarang istirahat saja dulu," ucap Danu.


"Enggak apa-apa, Paman. Biar besok bangun tidur enggak sumpek, lihat rumah kotor," sahut Tania.


Dalam hati Danu mengeluh.

__ADS_1


Hhh! Aku kan mau olahraga dulu sebelum tidur. Biar bisa lelap tidurku.


Danu pun terpaksa menunggu sampai Tania selesai beberes.


__ADS_2