
"Udah di rumah aja. Jangan kemana-mana!" Sari melarang Rendi pergi. Dia curiga kalau Rendi mau menemui Monica. Sari tak suka anaknya ini dekat-dekat dengan Monica yang tidak punya attitude.
"Tapi, Ma...."
"Enggak ada tapi-tapian. Masuk ke kamarmu!"
Bagaikan anak kecil yang dimarahi ibunya, Rendi menurut saja.
Rendi melemparkan kunci motornya dengan kesal ke sembarang arah.
Dia tak bisa menentang Sari. Karena Rendi tak mau membuat mamanya itu bersedih lagi.
Rendipun mematikan ponselnya. Dia tak mau Monica menghubunginya malam ini. Soal besok, Rendi pasrah saja.
Rendi hanya bermain PS sendirian di kamarnya hingga akhirnya dia tertidur.
Sari masuk ke kamar Rendi. Dilihatnya Rendi tertidur dengan stick PS masih di tangan.
Sari mengambilnya, dan mematikan televisi. Sebenarnya Sari kasihan sekali pada anaknya ini. Tak pernah beres kalau dekat dengan wanita.
Dulu Tania yang berakhir tragis. Sekarang malah Monica yang dianggap wanita murahan oleh Sari.
Dicarikan jodoh enggak mau. Cari sendiri enggak bisa. Sari menghela nafasnya, lalu keluar dari kamar Rendi.
Besok paginya, Rendi dan Sari ke pasar seperti biasanya. Rendi sudah berjanji pada Sari, apapun yang terjadi, dia akan selalu menemani dan membantu Sari mencari nafkah.
Karena sekarang tak ada lagi Tono yang membantu keuangan Sari. Meskipun Sari tak pernah kekurangan uang.
Sejak mengatakan kalau Tania hamil dan Sari mengusirnya, Tono tak pernah lagi menampakan batang hidungnya.
Rendi pun tak mau lagi menemuinya. Rendi merasa sangat sakit hati pada lelaki yang seharusnya bisa jadi panutannya.
Di rumah Tono, mereka sedang makan pagi bersama. Seperti hari biasanya, Tono selalu menyuruh Asih memanggil Tania untuk ikut sarapan.
"Kenapa dia harus ikut sarapan bareng kita sih, Beib?" tanya Linda.
Melihat Tania yang cantik alami, ada rasa khawatir kalau Tono tergoda lagi pada Tania.
Linda tak pernah tahu kenapa Tono tak mau menggauli Tania. Yang Linda tahu, Tono selalu berusaha menyakiti hati Tania.
Tapi untuk mengusirnya, Tono tak pernah mau. Linda sampai tak habis pikir. Enggak mau, tapi masih dipertahankan.
"Biarin aja. Kasihan anak orang. Entar mati di sini malah ngerepotin," jawab Tono.
"Kalau begitu, usir saja. Beres, kan?" sahut Linda.
"Enggak semudah itu, honey. Dan kamu enggak perlu tahu alasannya."
Linda tak bisa lagi menyahut omongan Tono, karena Tania sudah sampai di ruang makan.
Bisa habis dibantai Tania, kalau dia banyak omong lagi. Linda pun hanya menatap Tania dengan tatapan tak suka.
__ADS_1
Begitu juga Tania. Dia menatap Linda dengan dingin. Lalu melirik sekilas ke arah Tono.
Tono yang merasa dilirik Tania, membalasnya dengan tersenyum. Entah mengapa, tiba-tiba dia ingin bersikap baik pada Tania.
Linda menyenggol lengan Tono. Sepertinya dia cemburu Tono memberikan senyuman pada Tania.
Tania jadi kepingin tertawa. Tua bangka aja dicemburui.
Tapi tiba-tiba Tania juga punya ide untuk menjahili Linda. Biar dia makin bete.
Tania duduk persis di depan Tono. Dan Tania menatap wajah Tono lebih lama. Meskipun sebenarnya di dalam hatinya kepingin muntah.
"Ada apa?" tanya Tono yang merasa dipandangi Tania.
"Enggak apa-apa." Tania mengambil makanan dan langsung memakannya.
Linda menatap tajam ke arah Tania. Sepertinya dia ingin mengancam Tania kalau berani menggoda Tono.
Tania paham itu. Dan dia pun memulai aksi usilnya.
"Mau nambah?" tanya Tania pada Tono. Tania melihat makanan di piring Tono tinggal sedikit. Karena mereka sudah makan duluan.
"Enggak! Dan aku yang akan mengambilkan, kalau suamiku mau nambah!" ucap Linda dengan ketus.
Tania hanya mengangkat bahunya. Seakan ingin mengatakan kalau dia tak peduli pada Linda.
"Jangan berteriak-teriak. Ini meja buat makan. Bukan buat berantem!" ucap Tono.
"Iya, Beib. Maaf," ucap Linda. Dia pun kembali makan sambil matanya terus menatap Tania.
"Boleh nanti aku minta ijin sebentar?" tanya Tania dengan nada sopan.
"Ijin? Mau kemana?" tanya Tono.
Yes!
Tono mulai mencair. Tania bisa kabur nanti.
"Aku kan punya uang, yang kamu kasih kemarin. Aku juga pingin jalan-jalan ke mall," jawab Tania. Sengaja untuk memancing kemarahan Linda.
"Huh! Baru punya uang segitu aja, sombong! Memangnya kamu mau beli apa?" Linda begitu sangat merendahkan Tania.
"Beli gorengan!" sahut Tania asal.
"Heh! Mana ada yang jual gorengan di mall? Dasar udik!" hina Linda.
Tania berusaha menahan emosinya mendengar hinaan Linda. Sebab misinya mengusili Linda belum selesai.
"Kalau begitu, aku antar," sahut Tono.
Tania menelan ludahnya. Kenapa mesti diantar sih? tanya Tania dalam hati.
__ADS_1
"Kok kamu yang nganter, Beib? Dia kan bisa pergi sendiri!" protes Linda.
"Aku enggak mau kalau dia kabur. Jadi harus aku antar. Dan nanti akan ada tajab dan teman-temannya yang mengawasi," sahut Tono.
Glek.
Gawat kalau para bodyguardnya ikut. Aku enggak akan bisa berkutik. Tania hanya mendengus kesal.
"Aku ikut!" ucap Linda.
"Kamu enggak capek? Kan semalam udah ke mall?" tanya Tono.
"Enggak. Pokoknya aku ikut." Linda tetap ngotot.
"Ya udah. Kalian siap-siap. Kita berangkat jam sembilan. Siang nanti aku ada urusan. Jadi jangan lama-lama," ucap Tono.
Tania menurut. Dia naik lebih dulu. Meski rencananya kabur bakalan gagal, tapi minimal dia bisa cuci mata sebentar.
Bete juga selama ini dikurung terus sama Tono. Meskipun harus dikawal dan juga Linda ikut.
Jam sembilan tepat, Tania turun. Linda dan Tono sudah menunggunya di ruang tengah. Linda tak sedikitpun jauh dari Tono.
Tania mengenakan pakaian yang masih baru. Pakaian yang disediakan Tono untuknya, saat pertama kali Tania datang ke rumah ini.
Tania yang tak pernah pergi kemana-mana, membuat pakaian-pakaian itu hanya teronggok di lemari.
Baju, sepatu dan tas yang semuanya masih baru. Bahkan Tania sengaja memakai perhiasan yang dibelikan Tono sebagai mas kawinnya dulu. Sebagian Tania tinggal untuk bibinya.
Tania memakai semua itu untuk memanas-manasi Linda. Dia tahu kalau Linda tak memiliki semua itu.
Mata Tono terbelalak melihat penampilan Tania yang sangat anggun. Make up tipis, membuat wajah Tania memancarkan kecantikan alaminya.
Linda langsung memalingkan wajah Tono.
"Jelek aja diliatin. Entar dia ge er!" ucap Linda.
Glek.
Tono menelan ludahnya. Lalu berdiri.
"Kamu di kiri dan Tania di kananku." Tono menyiapkan kedua tangannya agar kedua istrinya itu menggandengnya.
"Apa? Aku enggak mau kalau dia juga menggandengmu!" seru Linda.
Cih! Aku juga enggak sudi. Dasar wanita murahan. Gumam Tania dalam hati.
"Kalian berdua istriku. Jadi aku harus bersikap adil. Ayo! Atau kamu enggak usah ikut," ucap Tono.
Tania menahan tawanya.
Baru segitu aja udah kebakaran jenggot. Awas aja, akan aku buat kamu makin kelabakan wanita serakah!
__ADS_1