
Rendi menelpon Dito, sahabat koplaknya untuk minta tolong.
"Bro, lu punya kenalan tukang bengkel enggak? Mobil gue kempes ban nih."
"Dimana?" tanya Dito.
"Tar gue share lok deh. Gue ama nyokap nih," sahut Rendi.
"Oke, gue ke tempat lu sekarang, sambil bawa tukang bengkelnya."
Lalu Dito menutup panggilan dari Rendi.
Walau pun Rendi sering berantem sama Dito, tapi mereka sahabat yang selalu saling menolong disaat yang lain membutuhkan.
"Gimana, Ren?" tanya Sari, keluar dari mobilnya.
"Sebentar lagi Dito dateng bawa orang bengkel, Ma. Kalau Mama mau jalan duluan, Rendi bisa pesankan taksi online buat Mama."
"Enggak, ah. Mama gak mau datang sendirian. Gak ada yang kenal juga," tolak Sari.
"Ya udah, kalau gitu kita tunggu Dito datang."
Sari mengangguk, lalu kembali masuk ke mobil.
Sementara di rumah Tania, acara sudah hampir dimulai.
Tania dan keluarganya sudah selesai dirias. Penghulu pun sudah datang.
Tapi Tono belum nongol juga. Danu sudah berkali-kali menghubungi nomor Tono, tapi nomornya malah tidak aktif.
"Gimana sih, ini orang. Katanya mau nikah, malah belum datang-datang juga?" Eni sudah mulai gelisah.
"Biarin aja, Bi. Tania malah seneng kalau dia tidak jadi datang," sahut Tania.
"Enak aja! Duit udah keluar banyak!"
"Biarin aja. Kan duitnya dia, Bi!"
Eni cemberut mendengar jawaban Tania, walau pun memang kenyataannya begitu.
Danu mengelabuhi penghulu dengan mengajaknya mengobrol, minum kopi dan merokok.
Tak lupa Eni mengeluarkan aneka makanan terenaknya biar si penghulu yang terkenal tukang makan, terlena sejenak.
Jam delapan tiga puluh menit. Penghulu yang sudah mulai kekenyangan, menanyakan calon mempelai laki-lakinya.
"Sedang dalam perjalanan, Pak. Sebentar lagi sampai," sahut Eni.
Padahal nomor Tono tidak bisa dihubungi sama sekali.
Sepuluh menit kemudian, barulah Tono datang.
"Alhamdulillah...!" seru Eni melihat Tono dan beberapa anak buahnya datang.
Tono sudah berpenampilan rapi. Setelan jas dan sepatu pantofel serta peci yang membuat penampilannya mirip seorang anggota dewan.
__ADS_1
Tania yang duduk di sebelah Widya langsung berubah muram. Sementara Widya yang sampai saat ini belum tahu siapa calon suami keponakannya, terkejut melihat Tono datang dengan pakaian rapi.
Tono adalah teman sekolahnya dulu. Mereka sering sekali bertengkar karena sifat Tono yang terkenal playboy.
Tono sering mempermainkan teman-teman perempuannya Widya.
Setelah mereka sama-sama tua, jarang sekali bertegur sapa. Widya tetap tidak menyukai Tono. Apalagi berita yang didengarnya, Tono itu rentenir yang kejam dan tukang kawin.
"Kenapa yang datang Tono? Itu bukannya Tono? Si lintah darat dan buaya darat juga?" gumam Widya yang didengar oleh Tania.
"Dia calon suami Tania, Bude," jawab Tania sambil menahan tangisnya.
Widya melotot ke arah keponakannya.
"Kamu tidak becanda, kan?" Widya mengguncang bahu Tania.
Tania menggeleng sambil menundukan kepalanya.
"Kenapa? Kenapa mesti dia, Tania?" Widya terus mengguncang bahu keponakannya.
Tania tak kuasa menjawab. Dia menahan tangisnya dengan terus memegangi hidungnya.
Widya ingin sekali teriak memanggil Danu dan Eni, tapi kondisinya tidak memungkinkan.
Di depan sudah banyak tamu yang akan menjadi saksi pernikahan keponakannya ini.
Tapi emosi Widya tak bisa dibendung lagi. Dengan segenap tenaganya, Widya mendatangi Eni, dan langsung menarik tangan Eni agar mengikutinya ke dalam rumah.
"Ada apa, Mbak? Acara akan segera dimulai!"
Eni tercekat. Lidahnya terasa kelu. Dia baru ingat, Widya belum tahu kalau calon suami Tania adalah musuh bebuyutannya.
"Mm...Anu...Eh...Sudahlah, Mbak. Nasi sudah menjadi bubur!" sahut Eni kebingungan.
"Apanya yang jadi bubur? Semua masih bisa dibatalkan!" Seru Widya.
Eni makin gelisah karena Widya sudah mulai mengeluarkan taringnya.
"Ja..jangan dibatalkan, Mbak. Aku...aku tidak mau suamiku masuk penjara," sahut Eni.
"Masuk penjara? Apa maksudmu? Memangnya Danu pembunuh? Atau pencuri?"
"Bu...bukan, Mbak. Ta..Tapi Tono mengancam akan memenjarakan mas Danu kalau tidak bisa membayar hutangnya. Atau..." belum sempat Eni melanjutkan kalimatnya, Widya langsung menyambar.
"Atau kalian jual Tania kepada bandot tua itu, hah!" teriak Widya sambil tangannya menunjuk ke arah Tono.
Dan...
Plak!
Widya menampar pipi adik ipar yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri itu.
Eni langsung memegangi pipinya yang memerah. Eni hanya menundukan kepalanya tak berani melawan.
Bagaimana pun dia juga bersalah. Menyudutkan Tania hingga mengambil keputusan itu.
__ADS_1
Tania diam mematung di tempatnya.
"Danu...! Ke sini kamu!" teriak Widya memanggil adik yang tinggal satu-satunya itu. Karena adiknya yang lain menghilang.
Danu yang tadi melihat adegan istrinya digampar oleh kakaknya, memang sedang bersiap mendatangi kakaknya itu.
Belum sempat Danu membela istrinya, Widya sudah kembali berteriak.
"Bagus ya, kalian! Kalian jual keponakanku, demi membayar hutang kalian! Kalau kalian tidak mampu menghidupi Tania, kenapa tidak kalian serahkan Tania padaku? Hah! Atau kalian sengaja agar bisa menjualnya? Jawab!"
Suara Widya menggema ke seantero ruangan. Hingga terdengar sampai ke panggung tempat akad nikah akan dilaksanakan.
Danu ikut menundukan wajahnya. Karena merasa sangat bersalah.
Tono mendatangi Widya. Diikuti seorang centengnya. Matanya menatap Widya tajam.
"Kenapa kamu? Tak terima dengan semua ini? Aku bisa saja membatalkan pernikahan ini, tapi kamu bayar dulu semua hutang adikmu ini, termasuk semua biaya yang sudah aku keluarkan!"
Glek.
Danu menelan ludahnya. Bayar hutang saja tidak bisa apa lagi mengganti semua biaya yang sudah dipakainya?
"Dasar lintah darat!"
Hanya itu kata-kata yang mampu keluar dari mulut Widya.
Tono tertawa keras.
"Jangan salahkan aku, Wid. Salahkan adikmu yang ngutang gak bisa bayar!" ucap Tono lalu menarik tangan Tania agar segera melakukan ijab qobul dengannya.
"Bajingan kamu, Tono!"
Widya sudah sangat geram, tapi dia juga tak bisa berbuat apa-apa.
Sambil mengatur nafasnya yang tak beraturan, Widya kembali duduk.
Penghulu memanggil Danu untuk segera melangsungkan acaranya.
Danu menghampiri kakaknya, dan bersimpuh di bawah kaki Widya.
"Ampuni aku, Mbak. Aku yang salah. Aku yang mengorbankan Tania. Tapi bukan maksudku menjual Tania, Mbak. Aku tak punya pilihan lain."
Danu menangis sesenggukan di bawah kaki Widya.
Eni juga mengikutinya.
"Maafkan aku juga, Mbak. Aku tidak tega kalau mas Danu harus dipenjarakan. Aku yang salah, Mbak. Maafkan aku," ucap Eni sambil menangis tersedu-sedu.
"Satu hal yang aku sesalkan, kenapa kalian tak membicarakannya dulu padaku. Kita bisa carikan solusinya bersama-sama. Bukan mengorbankan masa depan Tania."
Widya sudah mulai bisa mengontrol emosinya.
"Ya sudah, seperti yang Eni katakan tadi. Nasi sudah menjadi bubur. Laksanakan dengan baik. Semoga Tania bisa menjalaninya juga dengan baik, takdir yang kalian paksakan padanya."
Danu mengangkat wajahnya. Dia menghapus air matanya. Menyesal juga sudah tak ada gunanya.
__ADS_1
Lalu melangkah lunglay ke panggung tempat Tania akan melanjutkan takdirnya. Takdir yang telah dia paksakan.