HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 122 TAK TERIMA TANIA DIHINA


__ADS_3

Yahya yang melihat Tania, ikut bersedih. Dia terus menatap Tania sambil berpegangan pada pintu gerbang.


Ingin rasanya memberikan kesempatan pada Tania untuk kabur, tapi rasanya ini bukan waktu yang tepat.


Asih berlari mendekati Tania.


"Ya ampun, Neng Tania. Udah, Neng. Mas Rendi pasti sembuh. Pasti nanti sehat lagi," ucap Asih sambil ikut bersimpuh sambil memeluk Tania.


Tania tak peduli. Dia terus saja menangis.


"Udah, Neng. Masuk, yuk." Asih berusaha membangunkan Tania. Yahya mendekat untuk membantu.


Setelah Tania berdiri, pelan-pelan Asih memapah Tania masuk kembali ke dalam rumah.


Asih mendudukan Tania di kursi makan. Lalu memberikannya air putih.


"Minum dulu, Neng." Asih membantu Tania meminumnya.


"Makanannya udah siap. Neng Tania makan, ya? Tadi katanya laper."


Asih pun menyuapi Tania lagi. Pelan-pelan Asih juga membersihkan wajah Tania yang kotor, dengan tissue.


Sambil menyuapi, Asih berusaha terus mengajak Tania bicara.


"Neng Tania harus yakin, kalau mas Rendi pasti akan sembuh. Neng Tania kan sudah menyumbangkan darah. Berdoa saja, semoga itu bisa menolong mas Rendi."


Tania hanya diam saja. Sorot matanya seperti orang yang kehilangan semangat hidup.


Entah mengapa, tadi tiba-tiba bayangan Rendi melintas. Dan Tania merasa Rendi datang lagi.


Saat Tania keluar, Rendi seperti ada di depan pintu gerbang. Tania menatapnya, dan tiba-tiba Rendi menghilang persis di tempatnya terjatuh.


Asih terus berusaha menghibur Tania. Yahya juga ikut menemani. Dia ikut prihatin dengan kejadian yang menimpa Rendi.


Setelah Tania selesai makan, Asih memapahnya naik ke atas. Asih akan menemani Tania istirahat.


"Neng Tania tidur dulu, ya? Bibik temani," ucap Asih.


Tania masih diam. Lalu perlahan dia memejamkan matanya.


Setelah yakin Tania tidur, Asih kembali ke dapur.


Yahya masih duduk di kursi makan, sambil merokok.


"Bu. Kenapa ya, kejadiannya bisa beruntun begini? Kemarin Tajab jatuh. Tadi pagi mas Rendi juga jatuh," tanya Yahya.


Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab.

__ADS_1


"Entahlah, Pak. Semoga saja tak ada kejadian apa-apa lagi. Aku juga jadi sedih, Pak," sahut Asih.


Sebenarnya Asih berpikir, apa ini hukuman buat Tono? Tapi kenapa harus menimpa anaknya juga?


Kasihan orang-orang yang tak bersalah, malah jadi korbannya. Korban dari keegoisan Tono.


Sementara, Tono sudah sampai di rumah sakit. Dia langsung menuju ruang ICU.


Di sana, Sari masih menangis sendirian. Tono menghampirinya.


"Maafkan aku, Ma," ucap Tono perlahan. Dia duduk di sebelah Sari.


"Kamu minta maaf, setelah anakmu sendiri jadi korban," sahut Sari sambil terisak.


"Papa enggak menyangka kalau kejadiannya akan begini, Ma." Tono terlihat sangat menyesali semuanya.


"Iya pasti. Karena kamu egois! Tak pernah memikirkan akibat dari perbuatanmu!" sahut Sari dengan ketus.


"Papa sangat menyesal, Ma." Tono menundukan kepalanya. Air matanya kembali mengalir perlahan.


Dokter masuk ke ruangan Rendi. Sari dan Tono memperhatikannya. Bahkan mata mereka tak lepas dari pintu ruangan yang kemudian di tutup lagi.


Mereka berharap, dokter akan segera keluar membawa kabar baik.


Hingga beberapa saat kemudian, dokter itu keluar.


Sari dan Tono langsung mendekat.


"Sudah semakin membaik, Bu. Semoga setelah ini, Hb-nya bisa normal kembali. Dan kami bisa segera melakukan tindakan," jawab dokter.


"Kira-kira anak saya bisa sehat dan normal lagi kan, Dok?" tanya Tono.


Tono takut kalau sampai Rendi jadi cacat seperti Tajab. Meskipun Tono belum sempat melihat kondisi Tajab.


"Kita doakan saja, Pak. Dukungan dari keluarga juga orang-orang terdekatnya sangat berpengaruh. Saya permisi dulu. Satu jam lagi saya akan kontrol kembali."


Lalu dokter itu pergi masuk ke ruangannya.


"Ma. Boleh enggak Papa ngomong sesuatu?" tanya Tono.


Sari menatap wajah Tono dengan penuh kebencian.


"Apa?" tanya Sari dengan ketus.


"Papa akan urus perceraian dengan Tania. Dan nanti kalau Rendi sudah sembuh, Papa ingin Rendi menikahi Tania. Papa ingin mereka hidup bahagia, Ma," ucap Tono perlahan.


"Apa? Enak aja! Enggak! Aku tak mengijinkan!" sahut Sari.

__ADS_1


"Ma. Rendi sangat mencintai Tania. Begitu juga Tania. Lihatlah apa yang telah mereka perjuangkan. Rendi berjuang untuk mengambil Tania kembali. Dan sekarang, Tania rela berkorban memberikan darahnya untuk Rendi!" ucap Tono.


"Enggak! Aku bilang enggak, ya enggak!" Sari tetep ngotot.


"Alasannya apa?" tanya Tono.


"Sekarang aku mau tanya sama kamu. Apa alasannya dulu kamu tega memisahkan mereka?" Sari balik bertanya.


"Ma! Aku tak tahu kalau Tania adalah pacarnya Rendi!" Tono tak mau disalahkan.


"Oke. Tapi setelah kamu menikahinya, kenapa kamu masih saja tak mau mengalah?" Sari menyerang Tono.


"Ma. Maafkan aku!" ucap Tono.


"Maaf. Enak banget kamu ngomong maaf, setelah semua ini terjadi. Dan seenaknya aja kamu mau menceraikannya lalu memberikan pada anakmu! Kamu pikir anakmu tempat sampah! Yang bisa segampang itu menerima barang sisamu?"


"Ma. Papa belum pernah menyentuhnya! Dan semua yang aku katakan kalau Tania sedang hamil anakku, itu bohong. Maafkan keegoisanku, Ma." Tono terus saja memohon pada Sari.


"Kalau kamu memang mau menceraikannya, silakan. Itu hak kamu. Tapi jangan pernah coba-coba menikahkan dia dengan Rendi. Aku tak akan pernah setuju!" Sari semakin sewot.


"Ma. Kasihan Rendi nantinya kalau kamu juga ikutan egois. Rendi akan bahagia kalau keinginannya terpenuhi," ucap Tono.


"Iya. Dan Rendi akan menikahi Monica. Pacarnya Rendi!" sahut Sari.


Sari yang tadinya tak suka sama sekali dengan Monica, jadi berpikir lain. Dia lebih baik menyetujui hubungan Rendi dengan Monica, daripada menikahkan Rendi dengan Tania.


Monica jelas, seorang gadis yang berpendidikan. Dan pastinya punya keluarga yang jelas juga.


Tak seperti Tania yang orang tuanya kabur entah kemana. Dan akhirnya diasuh oleh sopir angkot dan pembantu yang mata duitan.


Sari jadi berpikir negatif pada Danu dan Eni, setelah melihat mereka menempati rumah yang katanya dibelikan oleh Tono.


Apa namanya kalau bukan mata duitan? Menjual anak gadis yang diasuhnya, demi mendapatkan banyak harta.


Dan Sari enggak sudi Rendi jadi korban mereka selanjutnya.


"Monica? Siapa dia?" tanya Tono.


"Kamu enggak perlu tau, Tono! Nanti kamu embat lagi!" ledek Sari.


Tono menghela nafasnya. Begitu buruknya penilaian Sari padanya.


"Mereka sudah berpacaran, dan saling cocok. Monica gadis berpendidikan. Dia anak kuliahan! Enggak kaya istrimu itu! Anak yang enggak jelas!" Sari malah jadi menghina Tania.


Tono tersentak mendengarnya. Begitu rendahnya Tania di mata Sari.


Tono jadi ingat dengan permintaan Tania sebelum mereka menikah. Tania memintanya untuk membiayai kuliah.

__ADS_1


Tono janji pada dirinya dalam hati, setelah semua ini selesai, dia akan wujudkan permintaan Tania. Dan Tono juga akan menceraikan Tania.


Tono yang merasa bersalah pada Tania, ingin menebus semuanya. Dia akan membuat Tania jadi wanita yang hebat. Agar tak ada lagi yang menghinanya.


__ADS_2