HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 237 BUAYA DIKADALIN


__ADS_3

Yusuf benar-benar membawa Monica keliling kota. Sengaja dia lajukan mobilnya pelan-pelan. Selain biar makin lama waktunya, juga ngirit bensin.


"Mau pindah di depan duduknya?" tanya Yusuf. Kalau langsung menyuruh, khawatir Monica pun langsung menolak.


"Enggak usah. Di sini aja," tolak Monica.


"Enggak enak dong, ngobrolnya. Jadi berasa ngobrol sama penumpang," ucap Yusuf.


"Loh, aku kan emang penumpang," sahut Monica.


"Penumpang kan tadi. Dari rumah bu Sari sampai ke pasar," ucap Yusuf tak kurang akal.


"Terus, kalau sekarang?" tanya Monica.


"Kalau sekarang kan aku yang ngajakin jalan," jawab Yusuf.


"Berarti tarifnya enggak nambah, nih?" Monica pun khawatir dia dapat tagihan tambahan.


"Enggaklah. Malah aku gratiskan kalau duduk di depan," jawab Yusuf. Yusuf sudah mulai beraku-aku, biar lebih akrab.


Bagi Yusuf, asal dia dapat imbalan yang setimpal, tidak masalah Monica tak bayar ongkosnya. Bahkan Yusuf rela merogoh kocek.


Kapan lagi punya kesempatan ngajak kencan mahasiswi dengan mudah. Biasanya mereka akan jual mahal pada lelaki macam Yusuf yang hanya driver taksi online.


"Ya udah deh. Aku pindah ke depan." Monica pun tak mau keluar uang lagi. Kalau bisa benar-benar digratiskan.


Yusuf menepikan mobilnya pelan-pelan. Dan Monica pun turun, lalu pindah ke depan.


Monica duduk dengan manis di sebelah Yusuf. Tentu saja rok mininya sedikit tersingkap.


Yusuf menelan ludahnya.


Dari tadi padahal Yusuf sudah melihat paha mulus Monica, saat duduk di jok belakang. Tapi untuk terus melihatnya, dia kesulitan. Karena harus menoleh, dan pasti akan mengganggu konsentrasinya menyetir.


Kalau begini kan enak. Kali-kali ada kesempatan menyentuhnya walau sebentar. Saat aku mindahin persneling. Otak kotor Yusuf mulai bekerja.


"Monica tinggalnya di daerah mana?" tanya Yusuf.


Aku enggak akan manggil non lagi. Dia kan bukan majikanku. Batin Yusuf.


Monica menoleh sekilas.


Udah berani manggil nama doang, dia. Udah deh, enggak apa-apa. Yang penting aku enggak bayar tagihan taksinya. Batin Monica.


"Aku tinggal di apartemen," jawab Monica berbohong.


Wah, anak orang kaya ini.


Yusuf melirik sekilas penampilan Monica. Dan jakunnya naik turun melihat pemandangan yang menggugah hasrat kelelakiannya.


"Oh ya? Apartemen mana?" tanya Yusuf.


Di kota kecil mereka hanya ada dua bangunan apartemen. Itupun tak sebesar di kota-kota besar. Hanya sebesar bangunan rumah susun.


Monica menyebutkan salah satunya. Padahal yang disebutkan itu adalah apartemen tempat teman kencannya tinggal.


"Ooh...Di unit berapa?" tanya Yusuf.

__ADS_1


Kebetulan juragan yang punya mobilnya Yusuf juga tinggal di apartemen itu. Dan Yusuf sering ke sana, kalau mau urusan tentang mobil.


Monica pun menyebutkan nomor unit milik Ardi. Teman kencan yang dikenalnya lewat medsos.


Hah...!


Yusuf pun terkejut mendengarnya. Secara, itu kan unit milik juragannya.


Wah, ini cewek enggak bener. Cuma ngaku-ngaku doang. Masa dia ngakuin unitnya bang Ardi.


Yusuf langsung negatif thinking pada Monica. Tapi otak kotornya langsung bekerja.


Yang kayak gini ini, yang bisa diajak kencan. Apa dia teman kencannya bang Ardi, ya?


Sekali-kali nyobain ah, mainannya orang kaya. Masa iya, aku enggak bisa.


Yusuf pun melihat wajahnya sendiri di spion.


Aku enggak jelek-jelek amat. Walaupun tak seganteng bang Ardi sih.


Yusuf sedikit tersenyum.


Hhmm. Lumayan ganteng. Puji Yusuf untuk dirinya sendiri.


"Di apartemen tinggal sama siapa?" tanya Yusuf. Padahal dia sudah tahu kalau Monica berbohong. Cuma untuk menyenangkan hati Monica saja.


Dan Yusuf pura-pura ingin tahu.


"Sendirian. Kadang sama kakakku. Kalau dia pulang dari luar kota," jawab Monica.


Bah! Jawaban apa lagi ini?


Bukan cuma di satu kota. Di kota lainnya juga ada istri kedua dan ketiganya.


Emang enak jadi orang kaya. Bisa koleksi istri. Yang penting bisa menafkahi.


Di kota kecil ini, dia mengembangkan bisnis persewaan mobil khusus untuk taksi online.


Ardi memilih tinggal di apartemen karena lebih aman kalau ditinggal pergi ke kota lain. Mobil-mobilnya juga bisa parkir dengan aman di sana.


"Kakaknya kerja di mana?" tanya Yusuf lagi.


"Dia punya bisnis rental mobil. Dan cabangnya ada di berbagai kota," jawab Monica.


Dibohongin Ardi lu! Bukan cabangnya di mana-mana. Tapi istrinya di mana-mana.


"Oh, hebat dong ya. Sampai bisa nguliahin kamu juga," komentar Yusuf.


Monica tersenyum bangga. Kibulannya berhasil dipercaya Yusuf.


"Iya. Namanya juga kakak. Harus bisa membantu adiknya dong," ucap Monica. Masih dengan senyum kebanggaan.


"Ya...Ya...Ya. Dan sekarang adiknya yang cantik jelita ini, mau mendapatkan anak juragan batik. Wah, hebat!" puji Yusuf.


Monica semakin percaya diri saja.


"Tapi bukannya anak bu Sari itu abis kecelakaan?" tanya Yusuf.

__ADS_1


"Iya. Kecelakaan mobil. Aku yang setiap hari merawatnya," jawab Monica.


Merawatnya gundulmu!


Kan anaknya bu Sari dirawat sama perawat pribadi. Sesuai cerita dari Sri tentunya.


Tak lama, ponsel Yusuf berdenting. Satu pesan masuk dari Sri.


Dan saat di lampu merah, Yusuf menyempatkan membaca pesan chat dari Sri. Mantan pacarnya sewaktu SMP, yang sekarang lagi mulai mau dipacarinya lagi.


Sri mengetik panjang lebar. Dia menceritakan tentang dirinya yang berhasil mengusir mantan pacar anak majikannya.


Dan nama mantan pacar majikannya itu adalah Monica.


Wah, berarti cewek ini dong. Enggak bener ini.


"Lampunya udah ijo, tuh. Wa dari siapa sih? Serius amat bacanya." Monica mulai kepo.


"Dari pelanggan. Nanti sore minta dijemput," jawab Yusuf berbohong.


Monica percaya aja. Toh, memang begitu pekerjaan driver. Antar jemput penumpang.


"Kita mau kemana sih, ini?" tanya Monica.


Mobil Yusuf semakin jauh meninggalkan kota. Ke arah jalan menuju kota lain. Jalan yang di kanan kirinya banyak ditumbuhi pohon jati.


"Ngadem," jawab Yusuf.


"Di mana?" tanya Monica lagi.


"Tenang aja. Nanti juga sampai," jawab Yusuf.


Yusuf jelas tak bisa menyebutkan tempatnya. Karena dia cuma mau cari tempat parkir di antara pohon-pohon jati itu.


Lumayan lah, bisa main-main sebentaran. Cuma modal bensin doang. Enggak perlu mikir bayar sewa kamar.


Aku kan juga pingin make mainannya orang kaya. Kayak apa sih rasanya. Batin Yusuf.


Yusuf menepikan mobilnya di tempat yang menurutnya aman.


"Kok berhenti di sini?" tanya Monica.


"Sebentar. Kayaknya ada yang enggak beres dengan mobilku. Biasa, kalau mobil suka dipinjem temen. Kayak gini nih," jawab Yusuf. Seolah-olah, itu adalah mobil miliknya sendiri.


Yusuf pun keluar dan membuka kap mobil. Dia pura-pura mengutak atik. Padahal enggak ngapa-ngapain.


Yusuf malah melepas satu kabel, biar mobil susah distater.


Yusuf kembali masuk ke mobil dan menyalakan mesinnya. Jelas saja enggak bisa. Kan kabelnya udah dilepasnya.


"Aduh. Masalah nih." Yusuf pura-pura kesal. Dan memukul setirnya pelan.


"Tadi enggak kenapa-napa?" tanya Monica.


"Iya. Kayaknya mesin terlalu panas," jawab Yusuf.


"Kamu sih, jalannya jauh banget," ucap Monica.

__ADS_1


"Udah dari pagi juga. Ya udah...kita ngademnya di sini aja, oke...!"


Yusuf menyandarkan kepalanya. Otaknya berpikir lagi, gimana caranya mengajak Monica bermain di dalam mobil.


__ADS_2