
"Kamu mau makan apa? Biar nanti Yahya yang membelikan," tanya Tono pada Sari.
"Enggak. Aku enggak mau makan! Males!" jawab Sari dengan ketus.
"Ya udah kalau enggak mau! Aku mau balik ke kamarku," ucap Tono dengan kesal.
Baru kali ini Tono merasa sangat kesal pada Sari. Bagaimana tidak, dia mau memaksa Rendi menikahi Monica. Wanita yang berhalusinasi tinggi tentang Rendi.
Tono yakin kalau Rendi tak pernah melakukannya dengan Monica. Tak mungkin Rendi mengingkari kalau dia benar-benar telah melakukannya.
Sampai di depan kamarnya, Tono melihat Yahya tertidur di bangku panjang. Tadinya berniat membangunkan, Tono jadi tak tega.
Tono membuka pintu kamarnya. Tapi terus kembali lagi mendekati Yahya. Dia lebih tak tega lagi kalau Yahya kelaparan.
"Yahya, bangun!" Tono mengguncang lengan Yahya.
"Eh, Juragan. Iya, ada apa?" tanya Yahya.
"Nih, belikan makanan buat bu Sari. Sekalian antarkan ke kamarnya Rendi. Kamu juga sekalian beli. Kalau kamu mau ngopi dulu juga enggak apa-apa. Aku mau istirahat." Tono memberikan satu lembar seratus ribuan pada Yahya.
Yahya sudah membawakan tas Tono tadi. Juga ponsel Tono yang tertinggal di rumah.
"Maaf, Pak. Sebaiknya Bapak jangan jalan-jalan dulu. Bapak harus banyak istirahat," ucap seorang perawat yang melihat Tono berkeliaran.
"Iya. Aku tau. Aku cuma ke kamar anakku!" jawab Tono. Lalu dengan santainya dia masuk lagi ke kamarnya.
"Ini juga selang infus, siapa yang menyuruh lepas?" tanya perawat.
"Enggak ada yang nyuruh. Aku lepas sendiri. Aku udah enggak membutuhkannya!" jawab Tono. Lalu dia merebahkan tubuhnya yang sudah terasa sangat lelah.
"Bapak merasa tidak membutuhkan, tapi badan Bapak membutuhkan. Bapak masih lemah," sahut perawat.
"Kata siapa aku masih lemah? Aku udah kuat. Bisa jalan ke sana kemari!" Tono terus saja menyahut omongan perawat.
"Iya, Bapak sudah kuat. Nah biar lebih kuat, saya pasang infusnya lagi ya, Pak." Perawat menyiapkan lagi selang infus.
"Enggak usah. Aku enggak mau dipasangi begituan. Bikin enggak bisa bergerak aja!" tolak Tono.
"Ini buat kesehatan Bapak," sahut perawat.
"Kan udah aku bilang, aku udah kuat. Udah sehat. Enggak perlu diinfus-infus lagi. Udah sana, aku mau tidur!" usir Tono.
"Jangan ngeyel, Pak. Kalau ada apa-apa dengan Bapak gimana?" tanya perawat masih berusaha bersabar.
"Aku yang tanggung jawab sendiri! Kan aku juga yang bayar biayanya. Bukan kamu!" sahut Tono.
Kata-kata Tono membuat si perawat serasa keluar tanduknya.
Dasar aki-aki! Ngeyel! Enggak bisa dibaikin! Maki perawat dalam hati.
Tapi dia hanya bisa menghela nafas. Lalu ngeloyor begitu saja. Dia tak mau jadi emosi menghadapi sikap keras kepala Tono.
Tono tak mempedulikannya. Dia merebahkan diri dan langsung tertidur.
__ADS_1
Perawat itu kembali masuk ke kamar Tono. Ada barangnya yang tertinggal.
Malah molor! Ngorok lagi! Batin perawat melihat Tono mendengkur keras.
Lalu dia keluar lagi dari kamar Tono.
Di depan kamar Tono, dia ketemu dengan dokter yang menangani Tono.
"Gimana kondisi pasien, Suster?" tanya dokter.
"Infus dilepas sendiri, Dok. Tadi katanya dari kamar rawat anaknya. Sekarang malah tidur," jawab perawat.
"Jadi infusnya tidak dipasang?" tanya dokter lagi.
"Dia menolak, Dok," jawab perawat.
Malah ngajak ribut, batin perawat.
"Ya sudah. Biar istirahat dulu saja. Nanti usahakan dipasangkan lagi infusnya." Dokter melongok sebentar ke dalam kamar Tono, lalu pergi lagi.
Perawat hanya menghela nafasnya.
Hhh! Bakalan ngajak ribut lagi nih orang. Batin perawat, lalu kembali ke ruangannya.
Yahya kembali ke area rumah sakit setelah ngopi dan merokok di kios kecil. Dia ke ruangan Rendi dulu, mengantarkan makan malam untuk Sari.
"Selamat malam, Bu Sari," ucap Yahya setelah mengetuk pintunya.
"Malam. Ada apa?" tanya Sari.
"Apa itu?" tanya Sari.
"Makan malam untuk Bu Sari," jawab Yahya.
"Ya udah. Taruh aja di situ." Sari menunjuk meja di sebelah tempat tidur Rendi.
Yahya mengangguk. Lalu meletakan makanan untuk Sari di sana.
"Saya permisi, Bu. Kalau Ibu butuh sesuatu, bisa panggil saya. Saya di depan ruangan juragan Tono," ucap Yahya. Lalu dia keluar dari kamar Rendi.
Sari hanya mengangguk saja.
Rendi pun hanya memandangi Yahya. Dia ingat orang itu yang berjaga di rumah Tono.
Orang yang dilarang Tono membukakan pintu gerbang untuknya.
Yahya sendiri merasa tak tega melihat kondisi Rendi. Makanya dia ingin sekali bisa membantu Sari. Meskipun Sari bersikap ketus padanya.
Di tempat tidurnya, Rendi hanya bisa berkirim pesan pada Tania. Untuk telpon, apalagi video call jelas tidak mungkin.
Untungnya, Tania pun bisa mengerti. Karena Tania tak mau keberadaannya diketahui oleh Tono ataupun Sari.
Sebenarnya Tania ingin bisa menghubungi paman dan bibinya. Atau budenya. Tapi Rendi tak menyimpan nomor mereka.
__ADS_1
Dulu, Rendi pernah menyimpannya. Tapi setelah dia ganti hape, hampir semua nomor kontaknya hilang.
Dan sayangnya, Rendi tak berniat memintanya lagi pada keluarga Tania.
Sari mengambil makanan yang dibawa Yahya.
"Kamu mau makan, Ren?" tanya Sari.
"Enggak, Ma. Mama aja. Mama kan dari tadi belum makan," tolak Rendi.
Rendi tahu kalau Sari lapar. Tapi dia gengsi.
"Ya udah, Mama makan, ya." Sari mengambil dan memakannya.
Rendi hanya menghela nafasnya melihat Sari. Dia terlihat capek. Tapi demi egonya yang tak membolehkan Tania datang, dia paksakan dirinya.
Sabar ya, Sayang. Nanti ada saatnya kita ketemu. Jangan pernah berpikir nekat, karena bakal membahayakan kita. Ketik Rendi.
Iya, Ren. Aku sabar kok. Aku baik-baik aja di sini. Balas Tania.
Sementara Danu cs, tak juga bisa menemukan Tania. Bahkan jejaknya pun tak mereka temukan.
"Aduh, gimana dong ini, Pak. Tania enggak ketemu-ketemu?" Eni sudah mulai panik.
"Ya gimana lagi. Masa iya kita mau sampai pagi di jalanan begini?" sahut Danu.
"Anterin aku pulang deh. Besok kita ke kantor polisi. Kita laporin aja. Percuma diubek-ubek juga. Tania enggak kelihatan," ucap Widya.
"Belum terlihat hilalnya!" sahut Diman.
"Hilal pala lu peyang!" Danu menoyor kepala Diman.
"Udah deh, kita pulang! Aku juga capek!" ucap Eni.
"Ya udah, sekarang gimana nih? Siapa yang aku anterin duluan?" tanya Diman.
"Ya akulah. Rumahku kan udah deket!" jawab Widya.
"Oke, siap. Nyonya Besar...!" Diman menekan kata besar untuk Widya.
Langsung saja tangan Widya yang segede tales bogor, menoyor bahu Diman.
"Mampus, lu! Hahaha." Danu tergelak melihatnya.
Mereka pun tertawa bersama, meski dalam keadaan sama-sama lelah.
Danu bersenandung tak jelas sambil bersiul-siul. Diman yang membuka jendela, merokok seenaknya sambil nyetir.
Sampai kemudian mata Danu menangkap sosok Tania, sedang menyeberang jalan. Dia membonceng motor seorang lelaki yang Danu ingat wajahnya.
"Stop....stop...stop! Itu Tania!" seru Danu.
Dimanpun reflek menginjak remnya.
__ADS_1
Cuutt...!
Jeduk!