
Acara makan-makan berjalan lancar setelah Diman dan Yahya kembali membawa aneka minuman pesanan mereka.
Memang lumayan lama Diman dan Yahya pergi. Karena pesanan mereka harus dibeli di tempat yang berbeda-beda.
Tapi tak sia-sia, minuman pesanan mereka ada semua. Mulai dari kopi, teh juga jus. Belum lagi minuman rasa jeruk dan minuman dingin lainnya.
Acara makan-makan yang diselingi canda tawa. Bahkan lebih banyak canda tawanya.
Objek yang dibuat olok-olok adalah Mila dan Tajab. Tajab yang sedang tak berdaya dengan kondisinya, tak bisa melawan olok-olok dari teman-temannya.
Dia hanya bisa pasrah saja. Kadang menahan senyuman malu-malu. Kadang harus menahan rasa dongkol juga.
Sedangkan Mila, wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Merah merona.
Ingin rasanya Mila sembunyi masuk ke dalam gundukan pasir seperti kepiting pantai, agar tak terlihat orang-orang.
Rendi dan Dito seperti orang yang kalap. Dua sahabat itu getol sekali membully Mila.
"Udah dong. Jangan membully aku terus. Gantian, kek," pinta Mila memelas.
"Terima nasib aja, Mil. Nanti aku kasih bonus, deh," ucap Rendi.
"Bonus apaan?" tanya Mila.
"Bonus honeymoon ama bang Tajab. Hahaha." Rendi tergelak.
"Iih...! Emangnya aku mau nikah ama...bang Tajab?" Mila menurunkan nada suaranya saat menyebut nama Tajab.
"Makanya buruan nikah. Keburu bonusnya hangus!" ucap Dito.
"Iya enggak, Ren?" Dito bermain mata dengan Rendi.
Rendi pun mengiyakan sambil mengunyah makanan yang disuapkan oleh Tania.
"Makannya diabisin dulu. Jangan bercanda terus, ah. Nanti tersedak," ucap Tania pada Rendi.
"Sukurin! Omelin aja tuh, Tan. Jadi laki bawel banget!" Mila merasa ada angin segar untuk membalas bulian Rendi.
Rendi hanya bisa mencibir ke arah Mila. Kalau Tania sudah melarangnya, Rendi bagai kerbau yang dicucuk hidungnya.
Di antara banyaknya rombongan Rendi dan Tania, Danu dan Eni belum terlihat. Entah dimana mereka berdua.
Tania sudah berusaha menghubungi nomor paman dan bibinya berkali-kali, tapi nomor mereka tak ada yang aktif.
Ternyata Danu dan Eni sedang menikmati healing ala mereka berdua di ujung pantai yang banyak batu karangnya.
Mereka berdua sengaja mematikan ponselnya, agar tak ada yang mengganggu. Mereka asik berfoto, tanpa harus menggunakan data kuota.
Eni melihat jam di pergelangan tangannya.
"Pak. Udah siang. Kayaknya udah saatnya kita cari yang lainnya. Perutku juga udah laper," ucap Eni.
"Tapi mereka ada dimana, Bu?" tanya Danu.
"Kita cari aja. Masa iya enggak ketemu. Mereka kan rombongan besar. Pasti gampang nemuinnya," sahut Eni.
Mata Eni melihat ke arah lain, dimana banyak juga rombongan lainnya yang bergerombol.
__ADS_1
Ada yang berdiri sambil berfoto. Ada yang duduk lesehan sambil makan.
"Tuh, disana banyak rombongan. Mungkin mereka ada di sana." Eni menunjuk ke arah keramaian.
Danu pun melihat ke arah yang ditunjuk Eni. Lalu mengangguk dan meraih tangan Eni.
Mereka bergandengan tangan seperti anak muda yang lagi berpacaran.
Kemesraan mereka meski usia tak lagi muda dan pernikahan yang sudah memasuki belasan tahun, membuat siapapun iri melihatnya.
"Pak. Itu bukannya si Monica?" bisik Eni pada Danu.
Eni melihat sosok Monica sedang menatap ke arah rombongan Tania.
Danu memperhatikannya. Lalu mengangguk perlahan.
"Kayaknya iya, Bu," sahut Danu.
Sebenarnya Danu belum begitu paham wajah Monica. Tapi dia masih hafal cara berpakaian Monica yang minimalis.
Dan tentu saja pandangan Danu lekat pada tubuh molek Monica yang terekspos.
"Ye...malah melotot! Mau aku congkel mata kamu, Pak?" ancam Eni.
"Eh, enggak, Bu. Nanti aku gak punya mata lagi, gimana?" tolak Danu.
"Biarin. Biar kapok!" sahut Eni.
"Kamu mau punya suami yang gak punya mata?" tanya Danu.
"Ogah. Tinggal cari suami lagi yang enggak mata keranjang!" jawab Eni seenaknya.
"Mau bukti?" tantang Eni.
"Enggak...enggak. Enak aja!" sahut Danu.
Danu sadar, kini istrinya sudah semakin glowing dan cantik. Bukan hal yang sulit bagi Eni mendapatkan lelaki lain yang lebih dari dirinya.
"Takut, kan? Makanya jangan macem-macem ama aku!" Eni merasa besar kepala.
"Iya deh," sahut Danu mengalah.
"Eh, tapi ngapain si Monica itu ngeliatin ke arah rombongan kita?" tanya Eni.
Eni memperhatikan kemana arah mata Monica memandang. Di sana rombongan Tania sedang asik makan bersama.
"Mana aku tau, Bu," jawab Danu.
Mereka masih berhenti sambil memperhatikan Monica yang tak sadar kalau sedang dilihatin.
"Jangan-jangan dia lagi merencanakan sesuatu, Pak," ucap Eni penuh curiga.
"Jangan asal menuduh, Bu. Bisa aja anak itu tak sengaja berada di sini juga," sahut Danu.
"Enggak mungkin. Pasti dia mengikuti rombongan kita dari tadi." Eni semakin mencurigai Monica.
"Ya udah. Kita liat aja nanti. Sekarang kita gabung aja ke rombongan. Katanya kamu udah laper," ajak Danu.
__ADS_1
Panas yang semakin menyengat, membuat Danu tak betah berlama-lama di pinggir pantai.
Eni pun mengangguk. Lalu kembali berjalan bergandengan tangan dengan Danu.
Eni sengaja melewati Monica yang sedang berdiri sendirian. Bahkan Eni sengaja menyenggol lengan Monica dengan lengannya.
"Ih!" seru Monica terkejut.
Eni melirik dengan sinis.
"Ngapain kamu disini?" tanya Eni dengan ketus.
"Emang ada yang melarangku disini?" tanya balik Monica.
Eni menatap Monica dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Sendirian ya? Kasian deh, lu!" ledek Eni dengan memberikan tanda menggunakan jarinya. Lalu tertawa meledek.
"Ayo, Pak. Biar aja dia kering di sini!" Eni menarik tangan Danu mengajak berjalan kembali.
Danu pun menurut saja. Daripada Eni mengancamnya lagi.
"Bibi! Paman! Kalian dari mana?" tanya Tania yang melihatnya lebih dulu.
"Hehehe...!"
Bukannya menjawab, Eni malah terkekeh tanpa rasa bersalah.
"Kami sudah berkali-kali menghubungi nomor tante dan om. Tapi enggak ada yang aktif," timpal Rendi.
Eni dan Danu cuma nyengir.
"Kirain kalian nyasar!" ucap Widya.
"Enggaklah, Mbak. Kita tadi abis foto-foto di batu-batu karang disana!" Eni menunjuk ke tempat dimana tadi dia dan Danu berfoto.
"Oh. Ya udah. Kalian enggak laper?" tanya Widya.
"Laperlah. Makanya kita ke sini. Hehehe." Eni kembali terkekeh tanpa rasa berdosa.
Danu mencari tempat untuk duduk. Bergabung dengan para lelaki anak buah Tono.
Sedangkan Eni menyiapkan makan untuk Danu dan dirinya.
"Eh, ada es jus. Masih ada enggak?" tanya Eni melihat es jus di depan Tania.
"Enggak ada, Bi. Tadi kami pesan ke bang Diman dan mang Yahya. Kalau Bibi mau, ambil aja punya Tania." Tania memberikan es jusnya.
Eni tak menyia-nyiakan tawaran Tania. Dia langsung meraihnya.
"Eh. Di sana ada Monica lagi memperhatikan kita," ucap Eni pelan sambil menunjuk ke arah Monica.
Spontan Tania dan Rendi menoleh ke arah yang ditunjuk Eni.
Dan saat Tania juga Rendi bersitatap dengan Monica, Monica langsung berlari menjauh.
Tania dan Rendi pun saling berpandangan.
__ADS_1
"Jangan khawatir, sayang. Ada aku disini!" ucap Rendi meyakinkan Tania, kalau semua akan baik-baik saja.