HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 99 RENCANA TANIA


__ADS_3

Asih turun tangga sambil terus berlari. Sampai di ruang makan yang merangkap dapur, nafasnya terengah-engah.


"Kenapa, Bik?" tanya Tania.


Asih berhenti sambil berpegangan pada sandaran kursi. Lalu berusaha mengatur nafasnya.


Tania memberikan gelasnya yang berisi air putih.


"Minum dulu, Bik."


Asih meraihnya. Lalu segera menenggak habis.


"Aakkhh...!"


"Duduk dulu, Bik. Ada apa?" tanya Tania.


"Gimana ya ngomongnya?" Asih kebingungan cara menceritakannya pada Tania.


"Cerita aja, Bik. Aku dengarkan," sahut Tania.


Lalu Asih mulai menceritakan dengan detail. Sampai akhirnya dia lari terbirit-birit.


Tania tertawa ngakak mendengarnya.


"Kok Neng Tania malah ketawa?" tanya Asih bingung.


"Abisnya lucu. Bukan Bik Asih yang lucu, tapi si Linda itu. Coba tadi direkam, Bik. Terus diviralkan," sahut Tania setelah selesai tertawa.


"Siapa yang mau diviralkan?" tanya Tono yang tahu-tahu sudah ada di dekat mereka.


Asih langsung bersembunyi di belakang Tania. Apalagi melihat Linda yang berdiri di samping Tono.


"Istri tercintamu itu! Yang hobinya telanjang bulat di depan orang lain. Menjijikan sekali," jawab Tania dengan santai. Matanya menatap jijik pada Linda.


"Bohong! Asih yang mengintipku lagi ganti baju!" sahut Linda. Dia ingin agar Asih kena semprot Tono.


Tono menatap tajam ke arah Asih.


"Enggak, Pak. Saya tadi lagi nganterin teh ke kamar Bapak," sahut Asih dengan ketakutan.


"Kalian kenapa seneng banget menggangguku sih? Apa kalian mau aku kasih hukuman?" tanya Tono. Dia sangat kesal karena waktu tidurnya terganggu.


"Iya. Hukum aja tuh mereka." Linda menunjuk pada Asih dan Tania.


Tania melotot ke arah Linda. Linda tersenyum licik.


"Baik! Kalian aku kurung seharian di kamar tamu. Masuk kalian berdua!" Tono menunjuk ke arah kamar tamu.


Tania tak lagi gentar menghadapi Tono. Pikiran jahilnya kembali keluar. Dia berdiri, lalu mendekati Tono.


"Yakin kamu akan mengurungku?" tanya Tania.


Dia menyentuh dada Tono dengan jarinya. Matanya menatap nakal pada Tono. Meski sebenarnya sangat jijik.


Linda langsung menepiskan tangan Tania dengan kasar.


"Jangan sentuh suamiku!" ucap Linda dengan keras.

__ADS_1


"Suami kamu? Aku yang lebih dulu dinikahinya. Dan pernikahan kami besar-besaran. Dengan gaun indah yang berharga sangat mahal!" sahut Tania memanas-manasi Linda.


Linda sangat geram mendengarnya. Langsung saja dia tarik tangan Tono untuk masuk kembali ke kamar mereka.


Tono bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya. Menurut saja saat Linda menariknya.


Tania menahan tawanya. Lalu menoleh dan melihat Asih yang juga hampir ketawa.


"Hebat si Eneng!" Asih mengacungkan dua jempolnya.


Tania tersenyum bangga. Ternyata semudah itu mengerjai Tono dan Linda.


Tania berjalan ke wastafel lalu mencuci tangannya.


"Kenapa cuci tangan, Neng?" tanya Asih.


"Najis kena badannya Tono, Bik." Lalu Tania tertawa ngakak.


"Ada-ada aja, Neng Tania ini. Masa megang suaminya sendiri najis?" Asih keceplosan, meski kenyataannya memang begitu.


Asih langsung menangkupkan kedua tangan di mulutnya.


"Enggak apa-apa, Bik. Dia memang suamiku. Tapi suami yang selalu dijamah wanita lain. Makanya aku enggak mau lagi bersentuhan dengannya," ucap Tania.


Asih menundukan kepalanya. Dia ikut sedih dengan nasib pernikahan Tania yang baru seumur jagung.


"Jangan sedih, Bik. Ayo ketawa lagi dong. Biar aku juga enggak ikutan sedih," ucap Tania sambil menepuk bahu Asih.


"Iya, Neng. Neng Tania yang kuat ya? Bibik akan berusaha selalu menemani Neng Tania di sini."


Tania mengangguk. Lalu tiba-tiba muncul ide di kepalanya.


"Neng Tania mau kabur?" Asih terlihat keberatan kalau Tania kabur secepat ini.


Tania menggeleng.


"Enggak, Bik. Aku mau minta tolong sama kalian," jawab Tania.


"Minta tolong apa, Neng? Beli makanan di pasar? Bibik bisa berangkat sekarang," cerocos Asih.


Sejujurnya Asih sangat senang kalau bisa keluar dari rumah Tono, meski cuma ke pasar.


Tania menggeleng lagi.


"Lalu apa?" Asih penasaran.


"Bibik benar-benar mau bantu aku?" Tania memastikan.


Asih mengangguk. Dia memang sudah janji mau bantu Tania sebisanya.


"Bibik sama mang Yahya....menemui paman dan bibiku," ucap Tania ragu.


"Terus, apa yang harus kami lakukan?" tanya Asih.


"Bibik ceritakan saja keadaanku di sini. Aku enggak tau kenapa mereka tak pernah ke sini, Bik. Aku curiga Tono memberikan informasi palsu pada mereka," jawab Tania.


"Tapi aman kan, buat kami?" Asih khawatir ketahuan Tono.

__ADS_1


"Aman, Bik. Nanti aku kasih alamat, juga surat untuk mereka. Biar mereka tak membocorkan masalah ini," ucap Tania.


Asih mengangguk. Meski dalam hatinya ada ketakutan. Sebab dia tahu kalau anak buah Tono banyak berkeliaran di mana-mana.


"Kalau Bibik tak sempat cerita atau takut, berikan saja suratku pada mereka," ucap Tania lagi.


"Ya udah, nanti kalau kami ke pasar, akan Bibik usahakan. Neng Tania ngomong juga ke mang Yahya, ya? Bibik lagi malas ngomong sama dia," sahut Asih.


Tania tersenyum, lalu mengangguk. Dia berharap, rencana dadakannya ini bisa berjalan lancar. Biar dia bisa segera lepas dari Tono.


"Mang Yahya di mana, Bik?" Tania ingin segera bicara pada Yahya.


"Mungkin di halaman belakang, Neng. Temui aja. Tapi ngomongnya pelan-pelan. Dia suka lemot kalau mikir," jawab Asih.


"Hush! Enggak boleh begitu, Bik. Bagaimana pun mang Yahya kan suami Bik Asih."


Tania tak sadar kalau dia pun bersikap lebih parah dari Asih, pada suaminya sendiri.


Tania segera mencari Yahya di halaman belakang. Asih kembali sibuk dengan urusan dapur.


Benar saja, Yahya lagi menyapu halaman belakang yang banyak ditumbuhi pohon.


"Mang Yahya!" panggil Tania.


"Iya, Neng!" sahut Yahya. Dia menghentikan menyapunya.


"Sini!" Tania melambaikan tangannya.


Yahya bergegas mendekat.


"Ada apa, Neng?" tanya Yahya. Tak biasanya Tania mencarinya sampai halaman belakang.


Tania menoleh ke kanan dan ke kiri. Memastikan kalau tak ada orang lain yang mendengar.


Tania mengajak Yahya ke tempat yang agak tersembunyi. Dia tetap khawatir kalau ada penguping. Bisa kacau rencananya.


Bukan cuma kacau, tapi dia bisa kena marah Tono. Bahkan bisa benar-benar dihukum.


Lalu setelah dirasa aman, Tania menceritakan tentang rencananya tadi. Persis sama seperti yang dikatakannya pada Asih.


Yahya manggut-manggut mengerti.


"Enggak susah kan, Mang?" tanya Tania.


"Enggak, Neng. Tapi jangan buru-buru, ya? Soalnya Mang Yahya mesti cari waktu yang pas. Biar enggak ketahuan," jawab Yahya.


"Hey! Apa yang kalian lakukan di situ?" teriak Tono.


Tono dan Linda yang sudah mirip herdernya, sudah berdiri di pintu belakang.


Tania menoleh, lalu menghela nafasnya dengan kasar. Yahya mundur beberapa langkah. Dia terlihat ketakutan.


Tania menghampiri Tono yang lagi dirangkul Linda.


"Aku lagi menyuruh mang Yahya menebang beberapa ranting yang mengganggu pemandangan," sahut Tania berbohong.


Lalu Tania menggandeng Tono untuk masuk kembali ke dalam. Tono menyambutnya dengan senang.

__ADS_1


Tapi wajah Linda langsung merah bak udang rebus.


__ADS_2