
Linda belum tidur. Dia menatap Tono yang sudah lelap sambil mendengkur kencang.
Sebenarnya bisa saja Linda menghabisi Tono saat ini juga. Tapi Linda tak mau mengakhiri hidupnya di penjara.
Dan lagi, dia menginginkan uang satu milyar dari Tono. Dia membayangkan, bakal kaya raya dengan uang sebanyak itu.
Linda berniat membuka hape Tono. Tapi sayangnya Linda tak tahu passwordnya.
"Dasar hape sialan!" Linda melemparkan hape Tono ke tempat tidur.
Lalu Linda mencari tas Tono. Biasanya di tas itu banyak tersimpan uang Tono. Dan dia akan mencuri semuanya.
Tapi naas, Linda tak menemukan uang yang jumlahnya berjuta-juta seperti biasanya. Entah dimana Tono menyimpan uangnya.
Linda belum menyerah. Dia membuka lemari pakaian Tono. Hanya ada pakaian Tono yang tersusun rapi.
Linda tak membuka pintu sebelahnya. Karena itu berisi pakaiannya sendiri.
Linda berusaha mencari uang yang mungkin di simpan Tono di antara lipatan pakaiannya.
Linda membuat pakaian Tono berantakan. Tapi tetap tak menemukan apapun.
"Dimana tua bangka itu menyimpan uangnya?" gumam Linda.
Linda mencari ke semua laci, nakas bahkan sampai ke bawah springbed. Tapi tetap tak ada.
"Sialan! Uangnya tidak ada. Tapi aku yakin di rekeningnya pasti banyak." Linda terus saja bergumam.
Linda menatap Tono yang masih mendengkur. Tono masih mengenakan celana panjangnya. Berarti dompetnya masih ada di sana.
Linda berniat mengambil kartu-kartu ATM Tono yang jumlahnya banyak. Dia akan menyitanya sebagai jaminan. Karena tak mungkin juga Linda menggunakan kartu-kartu itu. Dia tak tahu nomor pin-nya.
Tapi bagaimana caranya dia mengambil dompet Tono. Tono tidur terlentang. Dan posisi dompet ada dibawah bokong Tono.
Linda menghela nafasnya. Besok sajalah. Aku akan cari kesempatan lagi. Pasti bisa. Batin Linda.
Lalu dia pun terlelap. Dia juga sudah sangat lelah.
Hingga pagi harinya, seperti biasa, Tono bangun lebih dahulu. Seluruh badannya terasa pegal karena tidur di sofa semalaman.
Tono melihat Linda yang tidur lelap.
"Dasar pelacur!" gumam Tono. Dia lalu beranjak dan pergi ke kamar mandi.
Setelah membersihkan badannya dan merasa lebih segar, Tono berjalan ke arah balkon.
Dilihatnya Yahya sedang menyapu halaman depan.
"Yahya!" panggil Tono.
Yahya menoleh ke atas.
"Iya, Juragan!" sahut Yahya.
"Carikan kunci kamarku di bawah situ! Atau kamu ambilkan kunci cadangan di dapur!" perintah Tono.
Yahya mengernyitkan dahi. Dia bingung dengan perintah Tono.
"Cepat!" seru Tono..
__ADS_1
"I...Iya, Juragan. Di mana?" tanya Yahya.
Tono pun ikut mencarinya dari balkon.
"Itu, bodoh!" Tono menunjuk kunci yang semalam dilemparkan Linda.
"Iya, Juragan!" Yahya segera mengambilnya.
"Bukakan pintunya! Cepat!" teriak Tono..
"Baik, Juragan!" Yahya segera berlari masuk ke dalam rumah.
Tono menunggu Yahya membukakan pintu.
Ceklek!
Yahya melihat ke dalam kamar Tono sepintas. Dilihatnya Linda terkapar di atas tempat tidur.
"Apa kamu lihat-lihat!" bentak Tono.
"Enggak, Juragan!" Yahya kembali turun.
Tono mengambil hapenya yang diletakan Linda di sebelah bantal. Lalu meraih tasnya yang sudah terbuka.
Rupanya dia membongkar tasku. Batin Tono.
Lalu pandangannya beralih ke lemari. Pakaiannya pun berantakan. Semua laci terbuka.
Dasar tak tau diri! Pelacur sialan! Maki Tono dalam hati.
Lalu Tono keluar dari kamar dan mengunci pintunya dari luar.
Tono turun menuju ruang tengah. Dia letakan tas juga hapenya di meja.
Tono tersenyum melihat Tania yang sudah segar dan rapi. Sangat berbeda dengan Linda yang pemalas. Bangun siang dan selalu minta dilayani.
"Kamu sudah bangun?" tanya Tono.
Tania terkejut mendengar suara Tono. Tania menoleh. Lalu mengangguk pelan.
"Asih! Buatkan aku kopi!" serunya pada Asih.
"Iya, Pak," sahut Asih. Lalu dia segera membuatkan kopi dan menyiapkan makanan kecil untuk Tono.
Mereka tak ada yang tahu soal insiden semalam di kamar Tono. Meskipun kamar Tania ada di atas, tapi Tania menyalakan televisi dengan suara keras, dan dia asik bermain hape.
Tono kembali ke ruang tengah. Dia akan menghubungi Wardi ataupun Diman.
"Hallo. Diman! Bagaimana kondisi Tajab?" tanya Tono.
Asih yang sedang menuju ruang tengah sambil membawa nampan, menghentikan langkahnya. Dia bersembunyi sambil mendengarkan pembicaraan Tono lewat telpon.
"Ya sudah. Terserah apa kata dokternya. Tanda tangani saja surat persetujuan operasinya. Nanti aku yang bayar semuanya. Kamu atau Wardi kesini. Salah satu menunggu Tajab di rumah sakit."
Lalu Tono mematikan telponnya.
Asih pura-pura tak mendengar dan berjalan membawa nampannya.
"Silakan, Pak!" Asih meletakan cangkir kopi dan sepiring makanan kecil.
__ADS_1
Lalu Asih kembali ke dapur.
Tania menatap Asih. Asih tak berani bicara, takut didengar Tono. Dia hanya memberikan kode pada Tania untuk diam.
Tania pun diam dan kembali menikmati teh hangatnya.
Baru saja Tono menyeruput kopinya, Yahya datang tergopoh-gopoh.
"Juragan! Ada yang nyariin," ucap Yahya.
"Siapa?" tanya Tono sambil mengernyitkan dahi.
"Namanya Rendi, Juragan. Katanya mau ketemu sama Juragan Tono," jawab Yahya.
Tono menepuk jidatnya. Belum kelar masalahnya dengan Linda dan urusan Tajab di rumah sakit, sekarang malah anaknya datang.
Tania terkesiap mendengarnya. Asih pun yang ikut mendengar, menutup mulut dengan telapak tangannya.
Lalu mereka beringsut mendekat ke ruang tengah dan bersembunyi.
"Jangan biarkan dia masuk! Bilang aku dan Tania lagi ke luar kota!" sahut Tono.
"Iya, Juragan." Yahya berlari kembali ke pintu gerbang.
"Tania!" panggil Tono.
Tania dan Asih saling berpandangan di tempat persembunyian mereka.
Asih memberi kode pada Tania untuk menghampiri Tono. Tania pun mengangguk.
"Iya," jawab Tania pelan. Pura-pura tak tahu apa-apa.
"Naik ke atas dan masuk ke kamarmu!" perintah Tono.
"Kenapa? Aku lagi minum teh," jawab Tania.
"Aku bilang masuk kamar! Bawa tehmu dan semua yang kamu butuhkan ke kamar! Cepat!" bentak Tono.
"Pagi-pagi, enggak usah bentak-bentak. Kamu takut menghadapi Rendi?" Akhirnya Tania bicara tentang Rendi.
"Masuk!" teriak Tono.
Yahya kembali masuk ke dalam.
"Juragan! Rendi tidak percaya dan memaksa masuk," ucap Yahya.
"Bodoh kamu, Yahya! Sekarang dimana dia?" tanya Tono.
"Masih di luar gerbang. Tapi dia bilang akan mendobrak pintu gerbangnya kalau tidak dibukakan," jawab Yahya.
"Jangan pernah dibukakan. Dia pikir pintu gerbangku pakai bambu, apa?" sahut Tono.
Tono berpikir Rendi tak akan kuat mendobraknya. Karena pintu gerbangnya terbuat dari besi yang kokoh.
Tania berlari keluar.
"Heh! Mau kemana kamu? Tania!" Tono pun berlari mengejar Tania.
Tania terus berlari ke arah pintu gerbang. Meski tahu kalau pintu gerbangnya terkunci, tapi setidaknya Rendi akan tahu kalau Yahya disuruh Tono untuk berbohong.
__ADS_1
"Rendi....!"
"Tania....!"