HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 295 FOTOGRAFER GADUNGAN


__ADS_3

Tania ikut bergabung bersama Mike dan keluarganya sendiri. Suasana akrab dan kekeluargaan sangat terasa. Hingga Sri pun yang hanya sebagai pembantu di rumah keluarga Rendi merasa betah berlama-lama duduk di antara mereka.


Hanya Mila yang tadi pamit untuk berjalan-jalan ke pantai.


Mila merasa tak ingin menyia-nyiakan kesempatan berada di pantai. Dia ingin mengabadikan momen pertamanya ini meski cuma sendiri.


Tadinya mau mengajak pasangan Dito dan Mike untuk membantunya berfoto. Juga foto bersama keduanya.


Tapi karena tadi sepertinya dia merusak momen indah pasangan itu, Mila pergi sendirian.


Mila mencari view yang menurutnya paling oke. Dan karena benar-benar sendirian, tak ada yang protes meskipun tempat yang dituju Mila lumayan jauh.


Ya, Mila kini berada hampir di ujung pantai. Tak banyak orang yang berada di sana. Padahal menurut Mila view-nya sangat menarik.


"Aku mau selfie di sini, ah," gumam Mila.


Lalu Mila pun berpose sendirian dengan wajah yang dimanis-maniskan biar hasilnya terlihat sempurna.


Beberapa kali Mila menjepret kamera ponselnya sendiri.


Lalu setelah puas, dia lihat hasil jepretannya.


"Wouw! Ternyata aku cantik juga." Mila memuji dirinya sendiri.


"Tapi sayang aku enggak dapat view-nya. Kalaupun diposting di medsos, orang enggak akan tau aku berada di mana. Padahal kan indah banget." Mila menyesali sendiri.


Akhirnya Mila mengambil foto pemandangannya tanpa dirinya.


"Biarin deh. Nanti di rumah aku mau edit fotonya. Biar bisa nyatu," gumam Mila lagi.


"Mau aku bantuin foto?"


Sebuah pertanyaan yang sangat mengejutkan Mila.


Seorang pangeran tampan, batin Mila. Matanya melotot menatapnya tanpa berkedip.


"Hallo...!" Lelaki itu melambaikan tangannya di depan wajah Mila.


"Eh, iya. Hallo...juga," sahut Mila gelagapan.


Mila langsung berusaha bersikap tenang. Meski sebenarnya dia malu karena ketahuan bengong barusan.


"Mau aku bantu foto? Biar bisa kena pemandangannya," ucap lelaki itu dengan ramah.


Mila kembali menatap wajah imut menggemaskan itu. Ingin rasanya Mila meraih wajah itu dan meremas-remasnya.


Dan tanpa sadar Mila mengangguk setuju.


Lelaki itu mengulurkan tangannya mengajak Mila bersalaman lebih dahulu.


"Kenalin. Namaku Robi. Nama kamu siapa?" tanya lelaki yang mengaku bernama Robi itu.


"Em...Aku...Mila," jawab Mila. Dia juga segera menyambut uluran tangan Robi.


Robi menggenggam tangan Mila dengan erat dan cukup lama. Karena tak ada penolakan dari Mila.


Mila merasakan betapa tangan Robi sangat halus dan lembut. Genggaman yang cukup kuat membuat adem sampai ke relung hati Mila.


Robi tersenyum manis ke arah Mila. Sangat manis malah kalau menurut Mila. Membuatnya merasa meleleh.


Mila pun membalas senyuman Robi tak kalah manisnya.


Diabetes deh gue. Gila! Senyumnya manis banget. Batin Mila dengan perasaan yang sulit digambarkan.


"Sendirian?" tanya Robi.

__ADS_1


Entah kenapa Mila menoleh ke kanan dan ke kiri. Mungkin karena grogi. Padahal kan tinggal jawab iya atau mengangguk saja.


Jelas-jelas dia berjalan jauh sendirian.


Akibat terlalu terpesona, membuat Mila jadi salah tingkah.


"Mila sendirian aja?" Robi mengulangi pertanyaannya.


"Eh. Iya. Aku...sendirian kesininya," jawab Mila.


Mila benar-benar merasa salah tingkah, terhipnotis dengan senyuman manis milik Robi.


"Kok berani sendirian?" tanya Robi.


"Beranilah. Aku kan udah gede," jawab Mila.


Hh! Jawaban apaan ini? Enggak enak banget kedengerannya. Rutuk Mila pada dirinya sendiri.


Maunya dia menjawab dengan lebih baik lagi. Tapi mulutnya susah sekali mendapatkan kalimat yang tepat. Otaknya tak bisa diajak kerja sama.


"Sini aku bantu foto." Robi mengulurkan kembali tangannya. Meminta ponsel yang dipegang oleh Mila.


Tanpa ragu Mila memberikan ponselnya. Robi memperhatikan ponsel Mila.


Hhmm. Ponsel yang cukup bagus. Harganya juga lumayan mahal. Batin Robi.


"Oke. Siap ya. Mau foto dimana?" Robi sudah menyiapkan ponsel Mila pada mode kamera.


"Di sini aja," sahut Mila. Dia merasa view di tempatnya berdiri sangat bagus. Apalagi kalau bisa mengambil gambarnya.


"Oke. Kamu berdiri di sana. Aku ambil dari sini. Biar kena seluruh pemandangannya," ucap Robi. Dia menunjuk tempat beberapa meter di belakang Mila.


Mila pun menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Robi. Lalu memperhatikan sekitarnya.


"Oke," sahut Mila sambil mengangguk. Lalu melangkah ke tempat yang dimaui Robi.


"Iya!" jawab Robi.


Robi mulai mengarahkan kameranya.


"Geser sedikit ke kiri." Robi mengarahkan Mila dengan tangannya.


Mila pun menurut. Dia geser sedikit ke kiri.


"Ya cukup. Sekarang ambil pose yang paling bagus menurutmu," ucap Robi.


Mila pun tanpa merasa malu, berpose sesukanya.


Klik.


Klik.


Klik.


Robi mengambil gambar Mila berkali-kali. Dan berkali-kali juga tangannya mengarahkan Mila bak seorang fotografer profesional.


"Oke. Cukup. Kita pindah tempat, ya," ucap Robi.


Mila pun mengangguk. Lalu berlari menghampiri Robi.


"Coba aku lihat hasilnya." Mila meminta ponselnya kembali.


Robi pun memberikannya.


"Nih!"

__ADS_1


Mila membuka galerinya. Matanya langsung berbinar.


"Wah...! Bagus banget hasilnya!" seru Mila kegirangan. Dia melihat dirinya berdiri di antara batu-batu karang yang berdiri tegak.


Padahal posisinya jauh di depan batu karang itu.


"Bagus dong. Siapa dulu yang memotretnya," sahut Robi memuji dirinya sendiri.


"Hhmm...! Ge er!" sahut Mila.


Robi kembali menebarkan senyum manisnya.


Aduh, udah dong. Jangan senyum terus. Aku enggak kuat nih. Bisa meleleh hati adik. Batin Mila dengan lebay.


"Mau foto lagi?" Robi kembali menawarkan diri.


Tentu saja Mila mengangguk.


"Eh, tapi gimana kalau kita selfie dulu berdua. Boleh dong aku punya foto kamu," ucap Mila tanpa malu-malu. Seolah dia sudah mengenal Robi dengan baik.


"Boleh. Sini." Robi meminta Mila lebih mendekat dan dia meminta kembali ponsel Mila.


Mila pun memberikannya. Biar Robi yang mengambil gambarnya. Karena tangan Robi lebih panjang. Jadi hasilnya bisa lebih baik.


Robi melingkarkan tangannya ke pinggang Mila. Memeluk Mila tanpa permisi.


Degh!


Jantung Mila serasa berhenti berdetak.


Tapi sesaat kemudian jantungnya berdetak dengan cepat, saat tangan Robi memeluk erat dan menempelkan bahunya ke bahu Mila.


Klik. Klik. Klik.


Setelah berkali-kali berpose, Robi pun melepaskan lagi pelukannya.


"Bagus kan? Kita kayak orang lagi pacaran. Hehehe," ucap Robi sambil terkekeh.


Mila jadi tersipu malu.


"Sekarang mau dimana lagi?" tanya Robi.


Mila melihat ke sekelilingnya lagi. Lalu menunjuk ke arah yang dimauinya.


"Di sana!"


Robi pun menuruti apa yang dimaui Mila.


Dia berjalan mengikuti Mila ke pinggir pantai.


"Oke. Kamu berjalan santai dari sana ke sana. Nanti aku ambil gambarmu dari sana. Kamu tak perlu menoleh ke arah kamera. Jadi kesannya foto diambil tak sengaja," ucap Robi memberi pengarahan pada Mila.


Mila berjalan di pinggiran pantai. Sedang Robi berdiri jauh dari Mila.


Robi memberi waktu lima menit pada Mila untuk menikmati suasana. Dan rencananya Robi akan mengambil gambar Mila dari kejauhan.


Mila pun berakting bak pemain film yang sedang diambil fotonya. Mila berpikir Robi akan mengabadikan momen-momen itu.


Dan lima menit kemudian, Mila menyudahi aktingnya. Dia menoleh ke tempat yang semestinya Robi berdiri di sana.


Tapi saat Mila menatap ke tempat itu, tak ada seorangpun di sana.


"Robi!" teriak Mila.


"Kemana dia?" tanya Mila.

__ADS_1


"Waduh. Orangnya kabur. Hapeku?" Mila berlari kesana kemari mancari Robi.


"Mati aku! Hapeku!"


__ADS_2