HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 63 MELIHAT RENDI


__ADS_3

Setelah Tono pergi, Tania tidak langsung naik ke kamarnya. Dia berjalan-jalan dulu melihat seisi ruangan di rumah mewah itu.


"Bik Asih, bisa temani saya melihat-lihat semua ruangan di rumah ini?" pinta Tania.


"Bisa, Neng. Mari saya temani," jawab Asih. Dia juga lagi tidak ada pekerjaan.


Tania sengaja minta ditemani supaya tidak dicurigai dan dia juga bisa bertanya.


Di mulai dari ruangan dekat ruang makan. Bik Asih memberitahukan kamar-kamar yang ada di sana.


"Yang di sana kamar Tamu. Juga di sini. Kamar mandi tamu ada di situ, di bawah tangga." Bik Asih menunjuk ke arah ruangan-ruangan itu.


Tania melihat kamar mandinya. Sama kerennya dengan kamar mandi di kamar tidur Tono.


"Memang di sini suka ada tamu, Bik?" tanya Tania.


"Selama saya tinggal di sini sih, belum pernah ada. Kecuali...." Bik Asih tak melanjutkan kalimatnya.


"Kecuali apa, Bik?" tanya Tania lagi.


"Ah, tidak apa-apa Neng."


Asih merahasiakan dari Tania, kalau Tono beberapa kali membawa perempuan yang diakuinya sebagai istri, seperti Tania.


Tapi semua istri Tono tidak boleh menerima tamu di rumah itu, apalagi sampai menginap.


Dan istri-istri Tono itu tidak akan lama tinggal di sana. Paling cuma sebulan atau dua bulan saja.


Entah diceraikan atau dibelikan rumah lain, baik Asih maupun Yahya tak pernah tahu.


Mereka juga tak berani bertanya. Karena dari awal mereka bekerja, tidak boleh memberitahukan apapun kepada orang lain tentang kehidupan Tono.


Mereka mematuhinya, karena ancamannya bakal dipecat kalau melanggar.


Dan mereka memilih untuk diam, daripada harus kehilangan pekerjaan.


Di rumah ini, tak banyak yang mereka kerjakan. Hanya menjaga, membersihkan dan memasak kalau Tono menyuruh.


Dari jendela kaca yang besar, Tania melihat ada sebuah kolam yang tak terlalu besar.


"Itu kolam apa, Bik?" tanya Tania.


"Itu kolam renang dan taman. Ada juga ruangan untuk sholat di sebelahnya. Dan paling ujung adalah kamar kami."


"Boleh saya lihat, Bik?"


"Boleh. Tapi Neng Tania jangan bilang sama juragan, kalau saya yang memberitahukan semua ruangan di sini, ya?"


Tania mengerutkan dahinya sambil menatap Asih, tapi terus mengangguk.

__ADS_1


Lalu Tania berjalan menuju kolam renang yang ukurannya tak terlalu besar itu. Tapi cukuplah buat berenang sendirian atau berdua.


"Bagus sekali. Bapak sering berenang, Bik?" tanya Tania. Dia membahasakan Tono dengan sebutan bapak agar terdengar sopan. Bagaimana pun Tono lebih pantas dijadikan bapaknya daripada suaminya.


"Jarang sih, Neng. Juragan kan sibuk. Hampir tiap hari pergi pagi pulangnya malam."


Tania menganggukan kepalanya. Tania berjongkok dan memainkan air di kolam itu dengan tangannya.


Besok Tania akan meminta ijin pada Tono untuk berenang. Tania tak akan melakukan sesuatu tanpa ijin dari Tono, demi keselamatan paman dan bibinya.


Tania kembali masuk dan duduk-duduk di sofa besar di depan sebuah layar televisi yang juga sangat besar.


Tania melihat ke sekelilingnya. Di pojok ada sebuah akuarium yang berisi ikan-ikan yang cantik.


Tania berjalan mendekatinya. Lalu mengajak bicara ikan-ikan itu, seolah mereka bisa mengerti omongannya.


"Bik!"


"Iya, Neng." Asih bergegas mendekati Tania.


"Boleh saya kasih makan ikan-ikan ini?"


"Boleh. Tapi jangan banyak-banyak. Soalnya tadi pagi sama mang Yahya sudah dikasih makan."


Asih memberikan pakan ikan yang disimpan di laci. Tania mengambilnya sedikit. Lalu menaburkannya. Dan ikan-ikan itu saling berebut.


Tania tertawa melihatnya. Dan kembali Tania mengingatkan ikan-ikan itu untuk tidak saling berebut.


"Anak itu kelihatannya masih lugu sekali ya, Pak. Juga baik," ucap Asih sambil terus memperhatikan Tania yang sedang bercanda dengan ikan-ikan.


"Jangan lihat dari luarnya saja, Bu. Kita tetap harus waspada. Jaman sekarang banyak orang yang pura-pura lugu dan baik," sahut Yahya.


Asih mengangguk setuju. Karena dari pengalaman, mereka pernah tertipu oleh seorang perempuan yang di akui Tono sebagai istrinya.


Saat mereka lengah, dia kabur menggasak banyak barang-barang di rumah itu.


Setelah lelah bercengkrama dengan ikan-ikan, Tania naik ke lantai dua. Tak banyak ruangan di sana.


Hanya ada tiga buah kamar, satu kamar mandi dan sebuah ruangan untuk menonton televisi.


Tania tak berniat menanyakan pada bik Asih tentang kamar-kamar itu.


Tania berjalan menuju balkon. Bersebelahan dengan balkon kamar yang ditempatinya.


Dari atas, Tania bisa melihat orang yang keluar masuk lewat pintu gerbang.


Bahkan Tania bisa melihat orang yang melintas di jalanan depan rumah Tono.


Tania lama berdiri di situ. Pandangan matanya menatap ke jalanan, melihat hilir mudik kendaraan yang melintas.

__ADS_1


Cukup ramai meski tidak sampai macet apalagi bising. Karena jaraknya cukup jauh.


Halaman rumah Tono cukup luas. Sama persis dengan rumah Rendi.


Dari atas balkon mata Tania terbelalak melihat seperti sosok Rendi dengan motor sportnya.


Tania tak bisa melihat lebih dekat, karena terhalang oleh pagar pembatas. Lagi pula posisinya di atas balkon.


Orang yang mirip sekali dengan Rendi itu, melintas pelan. Tania menatapnya hingga menghilang.


Ingin rasanya Tania berteriak memanggil. Tapi suaranya pasti tak akan terdengar oleh Rendi. Hanya akan membuat curiga Asih dan Yahya.


Akhirnya Tania hanya bisa berharap suatu saat Rendi akan mendatangi rumah papanya ini.


Tania tidak pernah tahu, kalau Rendi juga tidak pernah tahu di mana papanya tinggal selama ini.


Tania kembali masuk dan menuju ke kamarnya. Tepatnya kamar Tono.


Tania rebahan sambil menonton televisi. Tak ada yang bisa dikerjakannya.


Sementara Rendi sudah akan memulai kehidupan barunya. Dia yang belum berminat untuk kuliah, memilih akan membuka usaha seperti mamanya.


Rendi berharap suatu saat nanti dia bertemu dengan Tania, dan tak ada alasan orang tuanya menolak keinginannya menikahi Tania. Karena Rendi sudah punya penghasilan sendiri.


"Sebelum toko itu dibuka, kamu membantu Mama dulu di pasar. Biar kamu faham tentang seluk beluk batik," ucap mamanya semalam.


Rendi menurut saja. Karena selama ini Rendi memang tak faham sama sekali tentang batik.


"Mama senang kamu mau jadi penerus Mama. Penerus eyang kamu sebagai pengusaha batik. Asal kamu rajin dan tekun, pasti usaha kamu akan maju, Ren."


"Iya, Ma."


"Kalau sudah sukses, kamu bisa memilih perempuan untuk kamu nikahi. Bukan lagi kamu yang mencari, tapi kamu yang akan dicari."


Rendi tersentak mendengar omongan mamanya. Tapi biarlah, biar saja mama tidak tahu rencanaku, batin Rendi.


"Ma, papa kok tidak pernah pulang?"


Sejak ketahuan menikahi Tania, Tono tak berani menampakan batang hidungnya di rumah Sari.


Dia takut akan kemarahan Sari. Dan dia juga tak mau kalau Sari minta diceraikan.


Baginya walaupun istrinya berjejer atau berganti-ganti, istri yang sebenarnya ya Sari.


"Buat apa kamu menanyakan si tua bangka itu? Mati juga Mama tak akan peduli."


"Mama kok bilang begitu sih? Bagaimana pun Mama kan istri sahnya papa. Apa Mama tidak berminat mencarinya?"


Rendi berniat memancing mamanya. Rendi berharap mamanya tahu di mana tempat tinggal Tono.

__ADS_1


"Buat apa nyariin manusia itu? Mama juga tidak pernah tahu di mana dia tinggal selama ini. Tapi kalau kata tantemu sih, di jalan merdeka. Pasnya di mana ya mana Mama tahu."


Rendi hanya bisa menelan ludahnya. Pada siapa lagi dia akan mengorek keterangan tentang tempat tinggal papanya.


__ADS_2