HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 116 MENCARI PENDONOR DARAH UNTUK RENDI


__ADS_3

Tania memalingkan wajahnya. Dia semakin membenci Tono.


Tono boleh menghancurkannya, tapi jangan Rendi. Apalagi sampai membuat Rendi terluka. Dan bisa saja Rendi....tak bisa tertolong lagi.


Tania berjanji, kalau sampai Rendi tak bisa tertolong lagi, saat itu juga, dia akan menghabisi Tono.


Tania tak peduli lagi meski harus mengakhiri hidupnya di balik jeruji besi. Toh, hidup bebas pun tak akan bisa bersama Rendi lagi.


"Cepat hubungi mamanya Rendi sekarang!" perintah Tania.


"Ya." Tono mengeluarkan ponsel yang tadi dibawanya saat mengambil kunci mobil.


Dengan ragu, Tono menelpon Sari.


"Ya, hallo. Ada apa?" tanya Sari. Dia sangat malas bicara dengan Tono lagi.


"Sari, kamu ke rumah sakit sekarang. Rendi di ruang IGD," jawab Tono.


"Hah? Rendi kenapa?" tanya Sari dengan mata terbelalak.


"Ke sini saja dulu. Nanti aku jelaskan," jawab Tono, lalu mematikan telponnya.


Tono tak mau berdebat dengan Sari di telpon.


Sari mengirimkan pesan pada Tono. Dia menanyakan nama rumah sakitnya.


Tono menepuk jidatnya. Dia lupa memberitahukannya pada Sari.


Tak lama, Sari datang. Karena jarak rumah Sari dengan rumah sakit itu, tak terlalu jauh. Dia langsung mendatangi ruang IGD.


Dari kejauhan Sari melihat Tono. Dia langsung saja menghampirinya.


"Dimana Rendi?" tanya Sari dengan kasar.


"Duduklah dulu," ucap Tono.


Tania langsung menggeser duduknya. Dia memberikan tempat untuk Sari duduk.


"Enggak usah basa basi. Katakan dimana Rendi sekarang!" Sari masih saja berkata dengan ketus.


"Dia ada di dalam. Dokter sedang menanganinya," sahut Tono. Dia mencoba bersikap tenang.


"Menangani apa? Rendi kenapa?" seru Sari.


Tono melirik ke arah Tania. Tania hanya menundukan kepala.


Sari pun ikut menatap Tania. Dia belum begitu hafal wajah Tania. Karena belum pernah ketemu langsung. Hanya mengingatnya dari foto yang pernah diperlihatkan Rendi.


"Rendi jatuh," jawab Tono.


"Jatuh? Dimana?" tanya Sari masih dengan suara ketus.


"Di....pintu gerbang rumahku." Tono menundukan kepalanya. Dia tak sanggup lagi mengatakannya.


Tono teringat lagi, bagaimana kondisi Rendi saat terjatuh. Kepala Rendi yang bersimbah darah, membuat Tono sangat panik dan masih trauma.


"Di pintu gerbang rumahmu? Mau apa dia kesana?" tanya Sari lagi.


Sebab tadi Rendi hanya pamit mau keluar sebentar. Dan Sari menunggunya di rumah, sebelum nanti ke pasar bersama Rendi.


"Dia mau....menjemput Tania," jawab Tono pelan.

__ADS_1


Sari menoleh lagi ke arah Tania.


"Lalu kamu tak membukakan pintu gerbangnya. Dan Rendi nekat naik, lalu jatuh, begitu?" tebak Sari.


Tono mengangguk.


Meski kejadian yang sebenarnya jauh lebih dramatis lagi.


"Kenapa kamu tak membukakan pintu gerbang untuk anakmu sendiri, hah?" bentak Sari.


Tono hanya diam saja. Dia semakin menundukan kepalanya.


"Kamu takut istri kecilmu ini diambil oleh Rendi?" bentak Sari lagi sambil menunjuk ke arah Tania.


"Rendi tak akan pernah mengambilnya, laki-laki serakah! Rendi hanya akan menyelamatkan dia dari laki-laki tua yang rakus macam kamu!"


Sari sengaja mengatakannya agar Tania tidak GR dan merasa Rendi masih mencintainya.


Sari pun tak akan pernah lagi menyetujui hubungan Rendi dengan Tania.


Dia tak mau anak lelakinya menikahi janda dari papanya, meskipun Rendi mengaku kalau dia yang telah mengambil keperawanan Tania.


Bagi Sari itu tak penting. Toh, kenyataannya Tania tidak hamil oleh Rendi.


Apalagi kabar terakhir yang didengar Sari dari Tono, Tania sedang hamil anak darinya.


Tania terkesiap mendengarnya. Benarkah Rendi tak bermaksud menjemputnya?


Benarkah Rendi hanya....Akh! Mata Tania langsung berair.


"Sekarang, bagaimana kondisi Rendi?" tanya Sari.


"Dengar ya, laki-laki rakus! Kalau sampai terjadi sesuatu pada Rendi, aku akan meremukan kepalamu!" ancam Sari.


Sari pun berpikir sama seperti Tania. Tak akan ada gunanya lagi hidupnya kalau tanpa Rendi.


Tak lama, dokter keluar dari dalam ruang IGD.


Tono dan Sari segera menghampiri.Tania pun mengikuti di belakangnya.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Tono tak sabar.


"Kalian orang tuanya?"


"Iya. Saya bapaknya," jawab Tono. Sari pun mengangguk.


"Baik. Jadi begini, Pak. Kondisi anak Bapak sedang kritis."


Tania langsung merasa lemas. Seluruh persendiannya seakan tak bisa tegak.


Tania langsung mendekat ke tembok dan menyandarkan tubuhnya.


Sari terbelalak. Tono pun kembali meneteskan air mata.


"Dia kehilangan banyak darah. Dan harus segera ditransfusi sebelum kami melakukan operasi pada kepalanya," ucap dokter itu lagi.


"Ada apa dengan kepala anak saya, Dok?" tanya Sari dengan panik.


"Ibu siapa?" tanya Dokter. Sebab dia tak mau memberikan penjelasan pada sembarang orang.


"Saya ibunya, Dok," jawab Sari.

__ADS_1


Dokter itu mengangguk.


"Kepala anak ibu terluka parah. Sepertinya terbentur sangat keras," sahut dokter.


Sari langsung membayangkan Rendi jatuh dari pintu gerbang yang sangat tinggi. Meski Sari belum pernah lihat pintu gerbang di rumah Tono.


"Lalu kami harus bagaimana, Dokter?" tanya Sari semakin panik.


"Anak Ibu butuh donor darah secepatnya. Biar dia bisa melewati masa kritisnya. Baru kami bisa melakukan tindakan selanjutnya," jawab Dokter.


"Ya sudah. Carikan darah buat anak saya, Dok. Berapapun biayanya," sahut Tono.


"Maaf, Pak. Sayangnya di rumah sakit kami stock darah yang cocok dengan golongan darah anak Bapak habis."


Tania semakin lemas mendengarnya.


"Terus bagaimana, Dokter? Dimana kami bisa mendapatkannya?" tanya Sari. Dia berusaha menahan tangisnya.


"Kami sudah berusaha menghubungi PMI. Tapi mereka juga tak punya," jawab dokter lagi.


"Lalu?" Tangis Sari mulai pecah.


"Apa kalian ada yang punya golongan darah sama?" tanya dokter.


Sari dan Tono saling berpandangan. Mereka tak pernah tahu golongan darah mereka.


"Tolong cek darah saya, Dok. Biar saya yang mendonorkannya. Ambil semua darah saya kalau perlu!" Tono mengulurkan tangannya.


Sari pun ikut mengulurkan tangannya.


"Baik. Kami akan cek darah kalian. Semoga ada yang cocok. Dan pastikan kondisi darah kalian sehat. Ikut saya."


Dokter menuju ruang laboratorium. Tono dan Sari mengikutinya.


Tania pun diam-diam mengikuti dari belakang.


Satu persatu mereka diperiksa.


"Bagaimana, Dokter?" tanya Sari. Tono menyimaknya dengan serius.


"Sebenarnya, golongan darah kalian berdua cocok. Tapi dari hasil uji lab, darah kalian tidak bisa di transfusikan pada pasien," jawab dokter.


Sari langsung lemas seketika. Dia hampir saja pingsan.


Tono langsung meraih tubuh Sari dan menahannya biar tidak jatuh.


Sari yang biasanya tak mau disentuh oleh Tono, hanya bisa pasrah.


Kepalanya berdenyut. Matanya berkunang-kunang.


"Kenapa tidak bisa, Dok?" tanya Tono.


"Itu nanti saya jelaskan. Kalian bisa datang ke ruangan saya nanti," jawab Dokter.


"Terus anak saya...bagaimana, Dokter?" tanya Sari dengan suara lemah.


"Harus cari pendonor lain," jawab Dokter.


Tania mendekat. Lalu mengulurkan kedua tangannya.


"Ambil semua darah saya, Dokter!"

__ADS_1


__ADS_2