
"Jam berapa operasinya?" tanya Tania.
"Enggak tau, Non. Juragan Tono enggak bilang," jawab Diman.
Selama ini semua anak buah Tono sangat menghormati Tania. Seperti mereka menghormati Sari juga Rendi.
Tono akan marah, kalau mereka tak sopan pada Tania.
"Kenapa kamu tadi enggak nanya? Dasar tolol!" Yahya menoyor kepala Diman.
Diman tak marah. Karena dia merasa lebih muda dari Yahya.
"Nanya? Yang ada gue malah diomel-omelin! Kayak enggak tau juragan Tono, aja!" sahut Diman.
"Ya udah. Terima kasih infonya," ucap Tania. Lalu dia masuk ke dalam lagi.
Asih terus mengikuti Tania.
"Bik. Bisa buatkan susu?" pinta Tania dengan sopan.
Meskipun kedudukan Tania lebih tinggi, tapi Tania tak pernah kurang ajar pada semua bawahan juga centeng-centengnya Tono.
"Bisa, Neng. Mau sama rotinya sekalian?" tanya Asih.
"Boleh deh, Bik. Aku mau naik. Nanti tolong antar ke kamarku, ya?" pinta Tania lagi.
"Baik, Neng," ucap Asih. Dia senang Tania sudah terlihat sehat lagi.
Tania naik lagi ke kamarnya. Dia mau mulai browsing.
Tania ingin tahu, resiko apa yang mungkin bakal dialami Rendi pasca operasi. Juga bagaimana cara merawatnya.
Meski Tania tak yakin, dia akan bisa mendampingi Rendi, tapi setidaknya dia tahu apa yang akan dialami Rendi selanjutnya.
"Ini, Neng."
Asih yang sudah masuk ke kamar Tania, meletakan susu dan roti di atas meja.
Tania sengaja tak mengunci pintu kamarnya. Toh, Tono tak mungkin pulang. Jadi aman bagi Tania membuka ponselnya.
"Iya, Bik. Makasih," ucap Tania sambil asik membaca.
"Baca apa, Neng?" tanya Asih.
"Aku lagi cari info seputar kecelakaan seperti yang dialami Rendi, Bik," jawab Tania.
"Memangnya kenapa, Neng? Kan udah ada dokter yang menangani," sahut Asih.
"Apa salahnya kalau kita juga tahu resiko setelah operasi nanti, Bik. Biar tak salah merawatnya," ucap Tania.
"Memangnya Neng Tania yakin, bakal merawat mas Rendi?" tanya Asih.
Tania hanya mengangkat bahunya.
Sementara, Monica sudah marah-marah di rumahnya.
Rendi yang biasanya akan datang pagi-pagi dan mengantarnya ke kampus, tak juga datang.
__ADS_1
Monica berkali-kali menelpon Rendi, tapi tak diangkat. Bahkan setelah siang, hape Rendi malah mati.
Akhirnya Monica nekat mendatangi rumah Rendi.
Dia hanya ketemu dengan Sri. ART yang masih setia bekerja di rumah Rendi.
"Eh, Mba Monica. Nyari siapa?" tanya Sri.
"Nyari Rendi lah. Masa nyariin kamu!" sahut Monica dengan ketus.
Sri yang orangnya juga sebenarnay jutek, tak mau diketusi seperti itu.
"Mas Rendinya udah pergi dari pagi tadi!" Sri tak kalah ketus.
"Kemana?" tanya Monica sambil mendekapkan tangan di dadanya yang membusung tinggi.
"Mana aku tau? Kamu kan punya telpon. Ditelpon dong!" jawab Sri.
"Eh, kalau hapenya Rendi bisa dihubungi, aku enggak akan nanya kamu! Dasar babu!" Dengan kesal, Monica nyelonong masuk dan naik ke lantai dua.
"Heh! Mau apa kamu?" Sri mengejar Monica, lalu menarik tasnya. Niat Sri mau menarik tangan Monica.
Monica langsung menarik tasnya juga. Sayangnya Monica terlalu kuat menariknya, hingga tasnya putus.
"Kurang ajar kamu! Tasku jadi putus kan?" Monica terlihat sangat marah. Karena itu adalah tas mahal yang dibelikan Rendi beberapa hari yang lalu.
"Lha! Kamu sendiri yang narik kok," sahut Sri tak mau disalahkan.
"Kamu yang narik duluan!" bentak Monica.
"Siapa suruh kamu juga menariknya?" Sri tetap tak mau disalahkan.
"Halah, tas gratisan aja, minta ganti. Kalau mau, tuh di gudang banyak tas bekas punya bu Sari. Ambil aja satu," sahut Sri.
"Sembarangan kamu! Masa aku suruh pakai barang bekas!" Monica semakin marah.
"Kalau enggak mau, ya udah. Sekarang kamu turun dan keluar dari rumah ini!" usir Sri.
"Makin kurang ajar kamu! Kamu pikir kamu siapa, hah? Berani-beraninya ngusir aku!" bentak Monica.
"Aku disuruh bu Sari menjaga rumah ini. Dan tidak boleh membiarkan siapapun masuk ke rumah tanpa ijinnya!" sahut Sri.
"Babu aja belagu!" ejek Monica.
"Memangnya kenapa kalau aku babu?" tanya Sri dengan ketus.
Monica tak mau menjawab. Dia kembali naik ke lantai atas.
"Heh! Aku bilang turun ya turun! Jangan sampai aku menyeretmu, ya!" ancam Sri.
Monica menoleh, lalu menatap Sri dengan jengah.
Sri langsung menggulung lengan bajunya. Dia siap tempur kalau Monica ngeyel.
Monica masih meremehkan Sri. Dia tetap melangkah naik dan mau masuk ke kamar Rendi.
Sri mendahului dan menghadang Monica di depan pintu kamar Rendi.
__ADS_1
"Mau apa kamu?" Sri merentangkan kedua tangannya.
"Minggir! Aku mau nunggu Rendi di kamarnya!" Monica berusaha menyingkirkan Sri. Tapi Sri tak goyah sedikitpun.
"Aku bilang minggir!" teriak Monica.
"Enggak!" Sri ikut teriak.
Yadi yang mendengar suara gaduh, mencari sumber suara itu. Begitu tahu kalau kegaduhan itu berasal dari lantai dua, Yadi langsung naik.
"Heh! Ada apa ini?" tanya Yadi.
"Ini, nih. Ada orang mau masuk kamar mas Rendi!" jawab Sri.
Yadi menatap wajah Monica. Dia sudah hafal dengan wajah Monica, meski lupa namanya.
Busyet, seksi amat pacaranya mas Rendi. Galonnya gede! Pantes saja mas Rendi betah nyender di situ, batin Yadi yang pernah melihat Rendi lagi menyandar di dada Monica.
"Ada perlu apa masuk kamarnya mas Rendi?" tanya Yadi.
"Aku mau nunggu Rendi di kamarnya!" jawab Monica.
"Kalau mau nunggu, sebaiknya di ruang tamu aja. Enggak baik, wanita masuk kamar laki-laki!" sahut Yadi.
"Tapi aku pacarnya Rendi!" Monica tetap ngeyel.
"Iya saya tau. Tapi kata bu Sari, tak boleh ada siapapun masuk rumah tanpa ijinnya. Apalagi masuk kamar," ucap Yadi.
"Udah seret aja dia, Pak Yadi!" seru Sri.
Monica mendengus kasar.
"Hhh! Dasar babu enggak punya etika!"
Lalu Monica terpaksa turun. Karena mau maksa pun enggak bakal bisa. Sri terus saja menjaga pintu kamar Rendi.
Sri tersenyum penuh kemenangan.
Hh! Sri kok dilawan! Gumam Sri dalam hati. Lalu dia pun ikut turun.
Dia mengikuti Monica sampai ke ruang tamu.
"Mau ngapain kamu ngikutin aku?" tanya Monica dengan kesal.
"Aku ditugaskan memantau siapapun tamu di rumah ini. Karena di rumah ini banyak barang berharga!" jawab Sri.
"Kamu pikir aku maling?" tanya Monica dengan emosi kembali naik.
"Ya siapa tau!" Sri mengangkat bahunya.
"Awas ya kamu, nanti aku bilangin ke Rendi. Kalau kamu sangat enggak sopan!" ancam Monica.
"Lapor aja! Aku juga mau laporin kamu! Dasar tamu enggak punya etika!" balas Sri.
Monica benar-benar dibikin emosi oleh Sri. Akhirnya dia berdiri dan melangkah pergi, tanpa pamit.
"Dasar perempuan enggak punya etika! Kok mau-maunya mas Rendi sama orang kayak gitu!" gerutu Sri setelah Monica pergi.
__ADS_1
Dari dalam Yadi menyahut.
"Galonnya gede!"