
Mereka benar-benar baru makan setelah Eni selesai mengantar semua dus ke tetangga.
Meskipun hanya membuat selamatan sedikit, tapi namanya juga Eni, di setiap rumah yang dia datangi, ngobrol dulu panjang lebar.
"Kirain selesainya malam, Bu. Bisa mati kelaparan aku," ucap Danu dengan kesal.
"Enggak usah lebay deh. Kamu juga udah makan banyak camilan, kok," sahut Widya.
"Camilan kayak gitu mana kenyang, Mbak. Cuma sampai tenggorokan aja!" sahut Danu.
Eni mengambilkan dulu makanan untuk Danu. Widya sebagai kakak Danu, selalu mengajarkan begitu. Agar Eni selalu menghargai suami.
Widya mengalah pada adik dan keponakannya. Bahkan Widya yang melayani Tania.
"Biar Tania ambil sendiri, Bude," tolak Tania saat Widya mengambilkan nasi untuknya.
"Enggak apa-apa, Tania. Ini sebagai wujud kasih sayang Bude sama kamu. Lagian enggak tiap hari juga, kan?" sahut Widya.
Tania pun hanya bisa menurut. Bude, paman dan bibinya memang sangat menyayangi Tania. Mereka menganggap Tania seperti anak sendiri.
"Mau nambah enggak, Pak?" tanya Eni.
"Nambahlah. Tapi nanti, nunggu ini habis dulu," jawab Danu.
"Masih muat perut kamu, Dan?" tanya Widya.
"Muatlah," jawab Danu sambil terus mengunyah makanannya.
"Mas Danu itu kan ususnya sampai ke dengkul, Mbak," sahut Eni sambil terkekeh.
"Ngawur! Sampai jempol kaki! Puas kamu, Bu?" sahut Danu sambil ngakak. Dia tak peduli mau diomong apapun. Baginya yang penting makan dengan puas.
Apalagi dari kemarin, Danu merasa tak enak makan. Pikirannya ada pada Tania yang belum ketemu. Jadi begitu Tania pulang, makannya kayak orang balas dendam.
Widya pun merasa puas, karena masakannya laris manis. Tak bersisa sedikitpun.
Tania juga terbawa Danu. Dia makan seperti tak ada kenyangnya.
Saat mereka sedang makan, ponsel Tania berdering. Tania melihatnya sekilas.
Panggilan video call dari Rendi.
"Kok enggak diangkat, Tania? Memangnya dari siapa?" tanya Widya.
"Dari Rendi, Bude," jawab Tania.
Tania tidak enak pada Budenya. Karena Rendi menelponnya saat mereka makan bersama.
"Angkat aja. Mungkin penting," ucap Widya.
__ADS_1
Tania mengangguk. Lalu memgangkatnya.
"Hallo, Sayang. Kamu lagi ngapain?" sapa Rendi.
"Owh. So sweet," goda Eni, sambil makan.
"Suara siapa itu, Sayang?" tanya Rendi.
"Bibi. Aku kan udah di rumah. Ini lagi makan bareng. Merayakan kepulanganku," jawab Tania.
"Mm, enak banget. Kapan aku bisa ikut makan bareng kalian?" tanya Rendi.
"Kamu sembuh dulu, Rendi. Biar bisa main ke rumah kami," jawab Tania.
"Kelamaan kalau nunggu aku sembuh. Nanti aja kalau aku udah boleh pulang. Aku mau kabur ke rumah kalian, ya," ucap Rendi..
Mata Danu langsung melotot. Bakal jadi masalah baru nih, kalau pakai acara kabur-kaburan. Batin Danu.
"Iya, aku tunggu di sini, Rendi." Tania malah mengiyakan.
Widya pun berdehem. Dia berpikiran sama dengan Danu. Bakal ada masalah baru dengan Sari, mamanya Rendi. Kalau sampai Rendi kabur ke sini.
"Kamu udah makan, Ren?" tanya Tania.
"Belum. Aku malas makan. Enggak ada kamu, sih," jawab Rendi.
"Kan ada mama kamu, Rendi," sahut Tania.
Eni mendengarnya jadi baper. Matanya jadi berkaca-kaca. Dia tahu kalau Rendi sangat mencintai Tania sejak sebelum Tania menikah. Dan ternyata cintanya Rendi masih terjaga sampai sekarang.
Widya pun ikut terharu mendengarnya. Dia dulu berpikir kalau Rendi bakal melupakan Tania, setelah tahu Tania menikah. Tapi ternyata omongannya salah.
Tania buru-buru menyudahi makannya. Lagi pula dia sudah makan sangat banyak.
Tania melanjutkan video callnya di kamar belakang. Kamar yang memang disediakan Eni untuknya.
"Kasihan mereka. Sepertinya kisah cinta mereka masih harus mengalami episode kedua. Kemarin Tono, papanya Rendi yang menentang. Sekarang malah mamanya." Widya menghapus bulir bening yang keluar dari matanya.
"Iya, Mbak. Apes amat sih nasib itu anak. Pingin bahagia aja, jalannya berliku-liku," sahut Eni.
"Di episode kedua ada masalah apa lagi ya, kira-kira?" tanya Eni.
"Entahlah, En. Padahal kalau bu Sari mau legowo, masalahnya kan bakal selesai. Rendi menikahi Tania. Lalu mereka hidup bahagia. Kalian pun, tak akan diusik-usik lagi sama Tono." Widya menghela nafasnya.
"Iya, Mbak. Untungnya Tania anak yang kuat. Meski dari kecil udah menderita, tapi dia selalu bisa melaluinya," sahut Eni.
Eni masih ingat, bagaimana rewelnya Tania saat pertama ditinggal minggat kedua orang tuanya.
Hampir tiap malam, Tania kecil rewel menanyakan mamanya. Eni sampai harus begadang menemani Tania yang rewel.
__ADS_1
"Sekarang aku ingatkan lagi, nih. Kalian jangan bikin masalah lagi buat Tania. Kalau ada apa-apa, bilang sama aku. Nanti kita cari jalan keluarnya. Jangan asal ambil keputusan!" Widya mulai mengoceh.
"Iya, Mbak," sahut Eni.
"Jangan bisanya cuma iya, iya aja. Kasihan Tanianya. Kamu juga Danu! Jangan seenaknya aja ambil keputusan. Awas kamu, kalau bikin masalah lagi," ancam Widya.
"Iya, Mbakyuku yang cantik jelita! Aku malah yang akan membela Tania nomor satu, kalau ada yang berani mengusiknya!" sahut Danu sambil meledek Widya.
Widya yang sadar sedang diledek Danu, mendengus dengan kasar.
"Mbak. Apa kita enggak coba menjenguk Rendi di rumah sakit? Ya, anggep aja kita lagi cari muka di depan bu Sari," tanya Eni.
"Memangnya muka kamu ilang, Bu? Pakai dicari segala," tanya Danu.
Eni langsung melotot ke arah Danu.
"Kamu itu, kebiasaan! Orang lagi serius malah dibecandain!" ucap Widya pada Danu dengan kesal.
"Iya maaf, Mbak. Kan biar enggak tegang," sahut Danu membela diri.
"Memangnya kita lagi berantem? Kita itu lagi cari solusi untuk masalahnya Tania." Widya jadi makin gemes pada Danu.
"Tadi kamu ngomkng apa, En? Aku jadi lupa. Gara-gara suami kamu, noh. Becanda mulu!" Widya berusaha mengingat-ingat omongan Eni tadi.
"Suamiku juga adikmu, Mbak," ucap Eni.
"Adik yang nyebelin! Kalau bisa tukar tambah, aku tukar tambah deh. Rugi dikit enggak apa-apa," sahut Widya.
"Jangan, Mbak. Kalau tukar tambah, aku yang rugi besar. Mas Danu ini spesial edition, lho." Eni membela Danu.
Pasangan Danu dan Eni memang selalu kompak. Kalau ada yang membully salah satunya, yang lain pasti akan membela.
"Iya udah, terserah kamu. Malah jadi ngelantur omongannya. Tadi kamu ngomong apaan?" tanya Widya lagi.
"Aduh, apa ya, Mbak? Aku malah lupa," jawab Eni.
"Eni bilang tadi, gimana kalau kita besuk Rendi di rumah sakit. Buat cari muka di depan bu Sari," sahut Danu.
"Tumben kamu pinter, Dan. Biasanya enggak enggak pernah inget omongan orang," puji Widya.
"Udah buruan dijawab tuh, pertanyaan Eni. Jangan ngelantur kemana-mana. Katanya mau cari solusi buat Tania." Giliran Danu yang mengomeli Widya.
Widya berdecak kesal. Kena juga dia dengan omongannya sendiri.
"Enggak perlu, En. Kamu enggak siap kan kalau diusir sama bu Sari?" tanya Widya.
Eni menggeleng.
"Lagian itu malah bisa bikin masalah baru buat kita semua. Iya kan, Mbak?" tanya Danu pada Widya.
__ADS_1
Widya mengacungkan jempolnya pada Danu. Widya bangga adiknya mendadak cerdas. Enggak lemot kayak biasanya.