
Rendi menatap Tania dan Dito bergantian.
Tania dan Dito yang tak merasa berbuat apa-apa, merasa bingung dengan tatapan tajam dari Rendi.
"Apa yang kalian lakukan di sana?" tanya Rendi dengan suara ketus.
"Kami?" Dito balik bertanya.
Rendi diam. Masih dengan tatapan tajam.
Lalu Dito mendatangi Rendi. Tanpa permisi, Dito merebut ponsel Sari yang masih dipegang Rendi. Dito ingin melihat apa yang sudah dilihat oleh Rendi.
Dan Dito pun terbelalak melihatnya. Betapa tidak, di ponsel itu ada foto dirinya bersama Tania.
Sepintas foto itu sepertinya Dito sedang memeluk Tania. Bahkan mereka terlihat sangat intim.
Dito menghela nafasnya dalam-dalam. Dia berusaha menguasai emosinya.
Ya. Dito langsung merasa emosi melihat foto itu. Karena kejadiannya tak seperti kelihatannya.
Mike juga mendekat dan mengambil ponsel Sari yang masih ada di tangan Dito.
"Apa ini?" tanya Mike yang kemudian tersulut emosi.
"Boleh aku menerangkan kejadian yang sebenarnya?" tanya Dito.
Rendi masih hanya diam. Dia sangat geram. Karena saat ini yang ada di otaknya, Dito dan Tania telah menghianatinya.
"Enggak perlu! Semua udah jelas!" ucap Sari dengan lantang.
"Enggak, Tante! Kejadiannya tak seperti itu!" sahut Dito berusaha membela diri.
"Lalu seperti apa? Kalian mau ngeles?" tanya Rendi.
"Ren. Lu tau gue! Buat apa gue melakukan itu pada Tania? Gue udah punya Mike!" Dito meraih tubuh Mike dan memeluknya dari samping.
Tapi Mike yang sudah tersulut emosi, menepiskan tangan Dito dengan kasar.
"Lepaskan!" seru Mike.
Air mata Mike tak terbendung lagi. Dia jadi sentimentil. Tak sekuat biasanya. Yang rela berjuang mati-matian demi Dito.
"Sayang! Aku bisa jelaskan! Ini semua hanya salah paham!" ucap Dito pada Mike.
"Apanya yang salah paham? Foto ini sudah cukup menjelaskan apa yang kalian lakukan di sana!" sahut Mike sambil menangis.
Tania berniat maju, ingin juga ikut menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Tapi tangannya ditarik oleh Tono.
Tania berusaha melepaskan tangan Tono. Tapi Tono mencengkeramnya semakin kuat.
Tania menoleh ke arah Tono.
"Biarkan saja. Aku yakin ini cuma salah paham," ucap Tono pelan. Tapi cukup terdengar oleh Tania.
__ADS_1
"Tapi aku harus menjelaskannya!" sahut Tania.
"Tak perlu. Kamu tak akan bisa melawan orang-orang yang lagi dibawa emosi. Diamlah dulu," ucap Tono.
Tono tak memberikan kesempatan sedikitpun pada Tania untuk mendekati mereka.
Tono yakin kalau ini hanya salah paham. Meski Tono belum tahu foto apa yang sedang dipermasalahkan.
Dan Tono juga tak mau Tania jadi korban kemarahan Sari lebih jauh lagi. Tono paham bagaimana karakter Sari saat sedang emosi. Tak akan ada yang bisa mengalahkannya.
"Ren. Dengarkan aku! Tadi Tania terpeleset dan hampir saja jatuh. Aku menangkapnya karena Tania terpeleset tepat di depanku!" ucap Dito.
"Oh ya? Bisa kebetulan begitu? Hebat!" sindir Rendi.
"Ya. Bisa saja. Karena seperti yang kamu minta. Aku menunggui Tania di depan pintu toilet! Dan lantai disana sangat licin!" sahut Dito.
Rendi melengos.
"Kalau kamu tak percaya, ayo aku bawa kamu kesana. Biar kamu bisa lihat sendiri!" lanjut Dito.
"Ck!" Rendi berdecak kesal.
Ya, Rendi sangat kesal pada Dito yang memanfaatkan kesempatan untuk menyentuh Tania. Apapun alasannya.
"Mana ada maling mengaku!" ucap Sari dengan ketus.
"Tante. Saya mau tanya, darimana Tante dapatkan foto ini?" Dito merebut ponsel Sari yang dipegang Mike.
"Tak penting dari siapa foto itu! Yang penting foto itu sudah membuktikan betapa bejadnya kalian!" jawab Sari.
"Heh! Jangan bentak mamaku!" seru Rendi.
"Aku tak akan membentak kalau aku tak dikatai bejad, Ren!" sahut Dito.
"Lalu apa? Dewa penolong, hah?" tanya Rendi dengan penuh kemarahan.
"Aku cuma mau tau, darimana mama kamu dapat foto ini!" Dan tanpa permisi lagi, Dito membuka aplikasi chat di ponsel Sari.
"Heh! Jangan lancang kamu!" seru Sari. Lalu mendekati Dito dan berusaha mengambil ponselnya.
"Maaf, Tante. Masalah ini harus segera diselesaikan!" Dito menjauhkan ponsel Sari, hingga tak bisa diraih.
Rendi membiarkan saja. Dia pun kepikiran juga. Otaknya yang tadi langsung tersulut emosi, membuatnya tak bisa berpikir jernih.
"Masalahnya akan selesai kalau wanita itu menjauhi Rendi! Kembalikan hapeku!" Sari berusaha meraih ponselnya.
Tapi Dito tak mau mengalah. Dia harus tahu darimana foto itu berasal.
Dan karena Sari terus merangsek, Dito terpaksa lari menjauh sambil membawa ponsel Sari.
"Heh! Jangan kurang ajar, kamu!" teriak Sari.
Dito tak peduli. Dia terus berlari menjauh. Mike hanya bisa menangis sesenggukan.
__ADS_1
Ada rasa kesal pada Tania. Tapi dia berusaha menahannya. Sampai nanti Dito bisa memberikan alasan yang tepat. Atau mereka memang benar-benar telah melakukannya.
Diam-diam Mila menyimak kejadian itu. Dan tiba-tiba matanya menangkap sosok wanita berpakaian super ketat, yang berdiri sambil bersembunyi di balik sebuah pohon.
Mila jadi curiga. Jangan-jangan wanita itu ada di balik semua ini. Tapi Mila belum bisa ambil tindakan. Dia hanya terus mengawasi wanita itu. Agar tak pergi terlalu jauh.
Mila juga tadi sudah mendengar penuturan Eni, kalau melihat wanita itu tak jauh dari rombongan mereka. Bahkan seperti sedang mengawasi.
Setelah merasa aman, Dito kembali membuka aplikasi chat milik Sari.
Dito menemukan nama Monica di chat itu. Lalu membuka isi chatnya.
"Sialan! Dasar wanita tak tau diri!" gumam Dito.
Lalu Dito kembali ke rombongannya.
"Maaf, Tante. Ini hapenya. Monica kan, pelakunya?" tanya Dito sambil memberikan ponsel Sari.
Sari hanya diam saja.
Rendi memandangi Sari. Lalu merebut ponsel Sari. Rendi juga ingin tahu kebenarannya.
"Monica sialan!" gumam Rendi.
Mike mendengar gumaman Rendi.
"Monica?" tanya Mike pada Rendi.
Rendi mengangguk dengan geram.
"Itu orangnya!" Mila menunjuk ke arah Monica yang dari tadi dia awasi.
Semua mata melihat ke arah yang ditunjuk oleh Mila. Dan tanpa buang-buang waktu, Dito berlari ke arah Monica bersembunyi.
Merasa Dito akan menangkapnya, Monica langsung berlari menjauh.
Tapi sayang langkahnya tak secepat langkah Dito. Dito berhasil meraih lengan Monica. Lalu menariknya dengan kasar.
"Lepaskan!" seru Monica berusaha melepaskan cengkeraman tangan Dito di lengannya.
Dito tak mau mempedulikannya. Dia tarik lengan Monica dengan kasar. Lalu menyeretnya ke arah Rendi.
Monica tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti seretan Dito.
Mila juga tadi ikut lari ke arah Monica. Dan kini posisinya menjagai kalau-kalau Monica kabur.
Padahal tanpa berbuat seperti itu pun, centeng-centeng Tono sudah siap mengamankan Monica.
Sampai di depan Rendi dan Sari, Dito menghempaskan tubuh Monica dengan kasar. Hingga Monica jatuh tersungkur di hadapan Rendi dan Sari.
Centeng-centeng Tono sudah berdiri mengelilingi. Hingga tak mungkin Monica lolos.
"Auwh!" teriak Monica.
__ADS_1
Tapi sayangnya tak ada satupun yang mempedulikannya.