
Rendi menghentikan mobilnya di sebuah rumah makan kecil. Letaknya masih tak jauh juga dari pantai.
"Kita ada di daerah mana, Ren?" tanya Tania saat mobil Rendi baru saja berhenti.
"Entahlah. Tapi masih di daerah pesisir juga. Nanti coba aku googling, semoga aja batre ponselku masih ada."
Rendi lalu mengajak Tania masuk ke dalam rumah makan. Tapi Tania menolaknya. Dia malu dengan pakaian yang dikenakannya. Gaun pengantin yang sudah sangat berantakan.
"Ayolah. Katanya laper? Cuek aja." Rendi mencoba memaksa Tania. Tapi Tania tetap menolaknya.
"Kamu pesankan saja, Ren. Aku tunggu di sini. Kita makannya di sini saja."
Akhirnya Rendi mengalah. Karena dia juga lapar.
"Baiklah. Kamu mau makan apa?" tanya Rendi.
"Apa saja. Aku kan tidak tau menu yang ada di dalam."
Benar juga, pikir Rendi.
Rendi turun dari mobil dan segera memesan makanan untuknya dan Tania.
"Dibungkus saja, dua porsi. Sekalian minumannya." Rendi duduk menunggu pesanannya selesai dibuatkan.
Ponsel Rendi berbunyi. Kebetulan Rendi menyimpan ponsel di kantong celananya, jadi dua kali insiden kaburnya, ponsel tak pernah tertinggal.
Dilihatnya sang mama yang menelpon. Ragu-ragu Rendi mengangkatnya.
"Iya, Ma... Rendi baik-baik saja kok... Iya, Rendi lagi sama Tania...Tidak, Ma! Rendi gak mau pulang kalau papa akan mengambil Tania!" Lalu Rendi menutup telponnya.
Tak dihiraukan lagi mamanya yang terus saja menelponnya.
Di ujung sana, Sari kembali berdebat dengan suaminya yang telah menikahi Tania.
"Dia tidak mau pulang. Dasar kamu orang tua serakah! Pacar anak sendiri malah kamu nikahi! Orang tua macam apa kamu, Hah?"
Sari terus saja mengata-ngatai suaminya yang sudah kelewat batas.
"Ma! Papa tidak tau kalau Tania itu pacar Rendi. Mereka tak ada yang cerita sama Papa. Mama jangan salahkan Papa dong." Tono meminta pembelaan dari istri pertamanya.
"Apa kamu bilang? Aku jangan menyalahkan kamu? Lalu aku mesti menyalahkan siapa? Rendi? Atau menyalahkan mereka yang kamu paksa menjual anak gadisnya demi membayar hutangnya pada kamu? Dasar laki-laki rakus!"
Tak sedikit pun Sari memberikan pembelaan pada suaminya.
Akhirnya Tono memilih pergi daripada terus dikata-katai Sari yang masih naik darah.
"Papa pergi dulu. Beri kabar kalau Rendi pulang," pamit Tono.
__ADS_1
"Tak akan. Aku tidak mau Rendi pergi lagi. Lebih baik kamu yang tidak usah kembali ke rumah ini!" sahut Sari ketus.
Tono tetap berjalan keluar tanpa menghiraukan kemarahan Sari lagi.
Sari membanting gelas yang ada di depannya. Rasa kesalnya sudah sangat tinggi dengan kelakuan suaminya.
Sri si pembantu seksinya tak berani muncul. Dia hanya mendengarkan pertengkaran suami istri itu dari balik pintu ruang tengah.
Sri bergidig ngeri melihat kemarahan majikan perempuannya. Dia membayangkan kalau sampai kelakuannya dengan majikan laki-lakinya ketahuan Sari. Bisa habis dia dibantai oleh Sari.
Setelah Sari masuk ke kamarnya, Sri baru berani keluar dari persembunyiannya. Lalu membersihkan pecahan gelas yang berserakan.
"Ati-ati kamu Sri. Kalau kelakuan kamu ketahuan bu Sari, bisa dibanting kamu kayak gelas itu." Yadi yang juga ikut mendengar pertengkaran majikannya mengingatkan Sri.
Sri melotot ke arah Yadi.
"Awas kalau kamu berani mengadu! Aku akan bilang ke istri kamu kalau kamu juga lebih bejat dari pak Tono!"
Sri mengancam Yadi. Yadi hanya mengangkat bahunya. Karena Yadi tahu istrinya lebih dahsyat kalau marah dibandingkan juragan perempuannya.
Di kamarnya, Sari kembali menelpon anak lelakinya. Sari terus memohon Rendi agar mau pulang.
"Pulanglah, Ren. Papamu tak akan berani pulang ke rumah lagi. Mama sangat menghawatirkan kamu."
Rendi yang sedang makan di mobil bersama Tania belum bisa memutuskan.
"Siapa yang menelponmu, Ren?" tanya Tania.
Tania terkejut mendengarnya. Reflek dia menghentikan makannya dan menjatuhkan sendok plastik yang dipegangnya.
Tania takut Rendi akan mengikuti kemauan mamanya dan pulang ke rumahnya.
Rendi memandang Tania.
"Makanlah dulu. Jangan hiraukan mamaku. Aku juga masih belum ingin pulang. Karena aku yakin, papaku akan kembali dan mengambilmu. Aku tak akan membiarkannya."
Tania kembali mengambil sendoknya. Makannya yang tadi sangat lahap menjadi tak lagi berselera.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang, Ren?" tanya Tania pelan.
"Entahlah. Aku hanya tidak mau kamu diambil oleh papaku. Laki-laki brengsek itu pasti akan terus berusaha mengambilmu."
Rendi meletakan makanannya di atas dashboard. Selera makannya pun sudah hilang.
Tania melakukan hal yang sama, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Rendi.
"Kita tak bisa seperti ini terus, Ren. Paman dan bibiku pasti bakal diancam lagi oleh papa kamu."
__ADS_1
Mata Tania berkaca-kaca. Dia membayangkan pamannya akan dijebloskan ke penjara oleh Tono, kalau dia tak kembali.
Hhmm.
Rendi menghela nafasnya. Dia bingung mesti bagaimana.
"Atau kamu pulang ke rumahku saja?" tanya Rendi.
Tania menggelengkan kepalanya. Dia tak akan berani bertemu dengan mamanya Rendi. Karena bagaimana pun, mama Rendi adalah istri pertama dari Tono.
Mana ada istri pertama mau menerima madunya dengan baik. Yang ada dia malah akan dihabisi oleh mamanya Rendi.
"Jangan khawatir, mamaku baik kok orangnya." Rendi berusaha meyakinkan Tania.
Tania menggeleng. Dia tetap tak berani melakukannya.
"Aku telpon mamaku dulu, ya?"
Tania hanya diam tak menjawab.
"Hallo, Ma. Rendi mau pulang, tapi Rendi akan membawa Tania pulang juga ke rumah kita."
"Apa? Tidak! Jangan gila kayak papamu, Ren! Mama tidak mau!" Sari menolaknya dengan tegas.
Rendi menutup panggilannya. Tania yang ikut mendengarkan hanya menelan ludahnya.
Tania kembali menyandarkan kepalanya di bahu Rendi. Dia sangat sedih. Ke mana dia akan pulang?
Bayangan kemarahan Tono kepada paman dan bibinya bermain terus di otaknya.
"Ren. Antar aku pulang saja ke rumah pamanku," pinta Tania pada akhirnya.
"Tapi kamu akan diambil oleh papaku!" Rendi masih belum rela kekasihnya dibawa oleh papanya.
"Ren. Apapun yang akan terjadi, kita hadapi bersama. Kalau pun aku diambil oleh papamu, percayalah aku tak akan melakukan apa yang tadi kita lakukan. Aku pun tidak mau tubuhku dijamahnya, Ren. Meski aku adalah...istri papamu."
Tania menitikan air matanya. Dia juga sebenarnya belum siap menerima kenyataan itu.
Rendi berkali-kali menghela nafasnya. Hati kecilnya masih tak rela kalau Tania diambil oleh papanya.
Tapi di sisi lain, dia juga memikirkan nasib paman dan bibi Tania yang bakal menerima ancaman dari papanya.
Belum lagi mamanya yang pasti akan semakin sedih karena memikirkannya.
"Baiklah. Kita pulang. Aku antar kamu ke rumah pamanmu. Tapi kamu mesti janji dulu." Rendi menggenggam tangan Tania.
"Janji apa?" Tania menatap mata Rendi.
__ADS_1
"Janji kamu tak akan melakukannya dengan papaku," pinta Rendi.
Tania mengangguk. Meski pun dia tak tahu apa yang bakal terjadi nanti. Karena bagaimana pun dia adalah istri dari papanya Rendi.