
Di teras rumah Tono, Diman masih duduk sambil main gaple berdua Yahya.
Diman yang disuruh nyariin Wardi cuma menelponnya saja. Dan karena telponnya tak aktif, Diman cuma ngirim pesan singkat saja pada Wardi.
"Hape kamu mana, Ya?" tanya Diman.
"Ancur! Dibanting sama juragan Tono!" jawab Yahya.
"Hah? Kok bisa?" Diman membelalakan matanya. Setahunya Yahya tak pernah bikin ulah. Dia selalu menurut apa kata Tono.
"Gara-gara si Linda itu!" Yahya malah menyalahkan Linda.
"Emangnya kenapa si Linda? Sampai diusir juga dari sini?" tanya Diman. Dia waktu itu berbagi tugas dengan Wardi.
Wardi yang mengantar Linda dan dia sendiri menunggui Tajab.
"Ceritanya panjang, Man. Elu tanya aja sama si Tajab. Gara-gara dia juga tuh!" jawab Yahya.
"Gimana mau ditanyain, orangnya aja udah hampir modar! Hahaha."
Yahya pun ikut tertawa. Yahya puas rivalnya KO duluan.
Menjelang sore, Diman ditelpon Tono.
"Mampus, lu!" Yahya menertawai Diman yang dari tadi malah asik ngopi sambil main gaple.
"Lu juga sih, kagak ngingeti gue. Gue kan disuruh cepet-cepet balik!" sahut Diman.
"Udah, buruan diangkat! Ngoceh aja, lu! Dapet SK, baru tau rasa!"
Diman pun segera mengangkat telpon dari Tono.
"Heh! Di mana kamu?" tanya Tono.
"Saya....lagi nyariin Wardi, Juragan. Di rumahnya," jawab Diman.
Yahya terkikik mendengarnya.
"Sstt...!" Diman memberi kode pada Yahya agar diam.
"Ngapain kamu nyariin Wardi di rumahnya? Wardinya aja udah di rumah sakit!" sahut Tono.
Diman menepuk jidatnya.
Mati aku!
Yahya yang mendengar, tak bisa menahan tawanya.
"Siapa itu yang ketawa?" tanya Tono mendengar tawa Yahya yang menggelegar.
Yahya langsung menghentikan tawanya.
"Oh, itu tetangganya Wardi, Juragan. Lagi becanda sama anaknya!" jawab Diman, ngarang.
"Ya udah, kamu sekarang kembali ke rumahku. Bilang sama Tania, Rendi mau dioperasi satu jam lagi!" ucap Tono, lalu mematikan panggilannya.
"Hhh....!" Diman kembali menyandarkan tubuhnya.
Tadi dia sudah sangat tegang, takut kena marah Tono. Ternyata malah disuruh balik ke rumahnya. Lah, sekarang aja Diman masih di rumah Tono.
"Udah...! Kita lanjut main lagi!" ajak Yahya.
"Pak...! Kamu belum nyapu halaman belakang, lho!" teriak Asih dari dalam.
__ADS_1
"Hari ini libur dulu, Bu! Yang punya rumah lagi berduka cita!" sahut Yahya.
Diman terkekeh. Orang belum mati malah dibilang lagi berduka cita.
"Hush! Jangan asal ngomong kamu, Pak!" sahut Asih yang sudah ada di dekat pintu.
"Punya mulut, enggak bisa diatur!" Asih kembali memarahi Yahya.
"Iya, maaf. Aku keceplosan," ucap Yahya.
"Omelin aja tuh! Mulut enggak pernah disekolahin!" Diman malah ngompor-ngomporin.
"Hhh! Kalian berdua sama aja!" Asih berbalik mau masuk lagi.
"Heh, Asih! Bilangin ke non Tania, satu jam lagi Rendi mau dioperasi!" ucap Diman.
Asih menghentikan langkahnya, lalu berbalik ke pintu.
"Kamu kata siapa?" tanya Asih.
"Juragan Tono, barusan dia menelponku. Aku disuruh bilang begitu," jawab Diman.
"Ya." Asih langsung naik ke lantai dua.
"Neng! Neng Tania!" Asih mengetuk pintu kamar Tania.
Berkali-kali Asih mengetuk, tak ada jawaban juga. Akhirnya Asih membuka pintunya yang ternyata tidak dikunci.
"Lho. Neng Tania kemana? Neng...! Neng Tania...!" Asih mengedarkan pandangannya. Lalu melihat pintu kamar mandi yang tertutup.
"Neng Tania! Neng!" Asih mengetuk pintu kamar mandi.
Tak ada jawaban. Asih pun membuka pintunya.
Waduh! Kemana dia?
"Neng Tania! Neng....!" Asih terus saja berteriak.
Lalu Asih menyusuri semua ruangan di lantai dua. Tapi tak ada tanda-tanda Tania di sana.
Apa jangan-jangan, dia kabur?
Asih kembali ke kamar Tania. Dia akan membuka lemari pakaian Tania.
Asih pernah melihat tas berisi pakaian di dalam lemari itu. Kata Tania, buat siap-siap kalau sewaktu-waktu dia kabur.
Asih membuka lemari pakaian Tania. Kosong. Tas Tania tak ada lagi.
"Aaahhkk.....!" teriak Asih frustasi.
Dia bakal kena marah Tono. Bahkan bisa jadi dicincang-cincang oleh Tono.
"Suara apaan itu?" tanya Diman yang masih asik main gaple bersama Yahya.
"Enggak tau," jawab Yahya cuek.
"Pak....! Tania kabur....!" teriak Asih, sambil berlari menuruni anak tangga.
"Hah....! Tania kabur?" ucap Yahya dan Diman berbarengan.
Spontan mereka membuang kartu gaplenya. Dan berebut masuk ke dalam.
"Ada apa, Bu?" tanya Yahya yang ketemu Asih di anak tangga terakhir.
__ADS_1
Asih menghentikan larinya. Dia sedikit membungkukan badan. Tangannya yang satu berpegangan pada sisi tangga, tangan yang satunya memegangi perut yang serasa mau kram.
Asih berusaha menetralkan nafasnya yang terengah.
"Neng Ta...nia....kabur!" ucap Asih masih dengan nafas ngos-ngosan.
"Yang bener kamu, Bu? Kalau punya mulut diatur!" Yahya membalas dengan omongan Asih tadi.
"Beneran, Pak! Tasnya di lemari juga enggak ada!" sahut Asih.
"Waduh! Bisa mampus kita semua!" ucap Yahya.
"Lewat mana kaburnya? Kan kita dari tadi di teras?" tanya Diman.
Diman tahunya pintu keluar dan masuk rumah Tono, cuma satu itu.
Yahya diam sejenak.
"Pasti lewat belakang rumah!" Asih ingat kalau Yahya pernah menunjukan jalan itu pada Tania.
Sedianya buat Tania kabur sesuai rencana mereka. Malah sekarang Tanianya udah kabur duluan.
Asih, Yahya dan Diman berlari menuju belakang rumah Tono.
Yahya menunjuk pembatas halaman yang hanya menggunakan pepohonan saja.
"Wah, gampang banget kalau itu," ucap Diman.
Mereka saling berpandangan. Lalu Diman berlari menuju pepohonan itu dan mencoba keluar juga lewat situ.
Diman ingin memastikan kalau Tania benar kabur lewat jalan itu. Dan Diman pun berusaha menyusuri jalanan kecil di sebelah rumah Tono.
Yahya mengikutinya dari belakang. Mereka mencari jejak Tania dengan berjalan perlahan, sambil mata mereka melihat ke bawah.
Mereka bagaikan detektif yang sedang mencari jejak orang. Tapi tak ada tanda-tanda sedikitpun yang mereka temukan.
Hingga mereka sampai di tepi jalan besar depan rumah Tono.
Yahya dan Diman saling berpandangan.
"Bisa digantung kita semua sama juragan Tono!" ucap Diman.
"Bukan cuma digantung, tapi juga dirajam-rajam!" sahut Yahya.
"Elu sih, main gaple mulu!" bentak Diman.
"Lah, elu yang ngajakin bego!" Yahya menoyor kepala Diman.
"Sialan, lu!" Diman menjauhkan kepalanya.
"Terus gimana ini?" tanya Yahya.
Diman hanya mengangkat bahunya. Lalu kembali masuk ke rumah Tono lewat jalan tadi. Yahya juga ikut masuk.
"Gimana, Pak?" tanya Asih yang masih menunggu mereka di pintu belakang.
"Enggak ada jejaknya, Bu!" jawab Yahya.
"Terus gimana dong, ini?" Asih mulai pucat dan berkeringat dingin.
"Kamu dari tadi dimana? Kok sampai enggak tau kalau neng Tania kabur?" tanya Yahya pada Asih.
"Tadi perutku mules, Pak. Mungkin pas aku di kamar mandi," jawab Asih.
__ADS_1
"Ya udah. Siap-siap aja, sebentar lagi kita bakalan jadi daging cincang!"