
Siang harinya seorang anak buah Tono datang, memberikan ponsel baru buat Tania.
"Ini ada titipan dari juragan Tono," ucapnya sambil mengulurkan sebuah paper bag bertuliskan sebuah brand toko selluler ternama.
Tania menerimanya. Tak ada rasa gembira sedikitpun. Untuk apa ponsel baru tapi dia tak memiliki nomor siapapun. Batin Tania.
Tania membuka ponsel baru yang sudah disetting itu.
Di aplikasi chat hanya ada satu nomor yang sudah mengirimkan chat padanya. Nomor itu diberi nama 'Suamiku' dengan emoji love di belakangnya.
Dalam hati Tania menggerutu. Ingin sekali dia hapus namanya. Tapi Tono pasti akan marah kalau tahu.
Tania membuka photo profile-nya. Hanya foto gambar tokoh kartun yang tak jelas.
Akhirnya Tania hanya mengutak-atik saja ponsel itu. Dia download beberapa aplikasi game dan sebuah aplikasi novel online.
Lumayanlah buat hiburan, batin Tania sambil membuka aplikasi novel online-nya.
Dan seharian ini dia hanya membaca banyak novel online.
Setelah bosan membaca, Tania mencoba membuka akun media sosialnya. Beruntung Tania masih mengingat email dan password-nya.
Dia berharap bisa menemukan jejak Rendi. Tapi sayangnya akun medsos Rendi tak pernah aktif.
Saat tangannya asik menscrole akun medsosnya, dia melihat nama Mike sahabatnya, sedang online.
Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Tania. Dichatnya Mike lewat pesan messenger.
Dan Tania beruntung lagi, Mike langsung membalasnya. Mereka ngobrol lewat chat. Ujung-ujungnya Tania minta pada Mike nomor whatsapp Rendi.
Tadinya Mike bertanya kenapa Tania malah menanyakan nomor Rendi, karena setahunya Tania dan Rendi berpacaran.
Tania beralasan kalau ponselnya ke-reset. Dan semua data beserta nomor telpon kehapus semua.
Sip! Mike dengan ikhlas memberikan nomor Rendi, juga nomornya sendiri.
Dengan semangat empat lima, Tania menyimpan nomor Rendi dan juga Mike. Tapi untuk nomor Rendi dia menyimpannya dengan nama perempuan.
Dia tak mau saat Tono membuka-buka ponselnya mengetahui kalau dia memiliki nomor Rendi.
Dengan jantung berdebar kencang, Tania mengirimkan pesan pada Rendi.
Dan Rendi langsung membalas chatnya. Bahkan Rendi menelponnya.
Dengan penuh kerinduan yang mendalam, Tania menerima telpon Rendi.
"Hallo Tania...!" sapa Rendi dari seberang sana.
"Rendi...!" Tania begitu bahagia bisa mendengar suara Rendi lagi.
Tapi tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Dan munculah sosok Tono dengan wajah datar.
__ADS_1
Reflek Tania mematikan panggilannya. Bahkan menonaktifkan data sellulernya.
Tania berusaha bersikap biasa saja. Dia pura-pura melihat fitur-fitur ponsel barunya.
"Kamu suka dengan ponselnya?" tanya Tono.
"Iya. Terima kasih," ucap Tania.
"Mana, katanya mau kasih nomor paman dan bibiku?" tagih Tania.
"Nanti aku kirimkan. Aku sedang buru-buru." Tono membongkar lemari pakaiannya. Dia terlihat sibuk mencari sesuatu.
Tania hanya memperhatikannya saja. Tak ada niatan sedikitpun untuk membantu. Toh, Tono tak memintanya.
"Kamu tetap di rumah. Jangan berani keluar tanpa persetujuanku!" ucap Tono, lalu dia pergi begitu saja.
Tania membiarkan tanpa bertanya apapun. Dia hanya mengangguk menurut.
Setelah dirasa aman, Tania mengunci pintu kamarnya dan kembali mengaktifkan data sellulernya. Banyak sekali panggilan tak terjawab dari Rendi.
Sepertinya setelah Tania tadi memutuskan panggilan, Rendi menelpon balik.
Tania kembali menghubungi nomor Rendi. Tapi sayangnya tidak diangkat oleh Rendi.
Tania tak tahu, kalau Rendi sudah mulai bekerja membantu mamanya di pasar.
Setelah Tania mematikan telponnya tadi, Rendi kembali disibukan oleh pelanggan toko yang berdatangan.
Dia berharap Rendi membacanya dan segera menyusulnya ke sini. Meski Tania sadar resikonya, kalau sampai Rendi kembali membawanya kabur.
Satu jam kemudian, Rendi membuka ponselnya dan dia membaca pesan yang dikirimkan oleh Tania.
"Chat dari siapa, Ren?" tanya Sari melihat anaknya senyum-senyum sendiri.
"Dari teman, Ma," jawab Rendi. Dia terpaksa berbohong, karena tahu kalau mamanya tidak setuju dia mendekati Tania lagi.
"Teman cewek?" tanya Sari kepo. Dia berharap Rendi segera bisa move on dari Tania dan memiliki teman cewek baru.
"Iya, Ma." Kali ini Rendi tidak bohong.
Sari tersenyum. Dia mengira anaknya itu sudah mulai pedekate dengan cewek yang lain.
"Rendi ke depan dulu, Ma. Mau merokok," pamit Rendi.
Sejak hatinya kacau, Rendi melampiaskannya dengan batang nikotin. Dia merasa lebih enjoy kalau sudah menghisapnya.
Sari juga tak bisa melarangnya. Toh hanya merokok saja. Sari tak mau kalau Rendi melampiaskan kekecewaan hatinya pada hal-hal lain yang negatif.
"Iya. Jangan jauh-jauh. Ini sudah sore. Sebentar lagi kita akan pulang."
"Iya, Ma. Cuma di depan kok." Rendi bergegas menjauh dari toko mamanya.
__ADS_1
Dia menelpon Tania lagi setelah menyalakan cigarette-nya.
"Tania, kenapa tadi tiba-tiba kamu matikan telponnya?" tanya Rendi setelah Tania menerima panggilannya.
"Papamu tiba-tiba masuk ke kamar, Ren," sahut Tania.
"Apa? Kalian ada di kamar?" tanya Rendi dengan geram.
"Tidak, Ren. Dia sudah pergi lagi," jawab Tania.
"Tapi kalian tinggal satu rumah? Tidur satu kamar? Dan satu tempat tidur?" tanya Rendi bertubi-tubi.
"Ren! Dia suamiku sekarang," sahut Tania.
"Oh! Jadi kamu sudah mau menerimanya?"
"Ren! Bukan begitu. Kalau aku tak menerimanya...." Belum sempat Tania menjelaskan, Rendi langsung menyahut.
"Kalau kamu tak menerimanya, kamu tidak akan mendapatkan uang? Kamu menginginkan uang kan, Tania?" tanya Rendi dengan emosi yang sudah di ujung kepalanya.
"Jaga omongan kamu, Rendi!" seru Tania.
"Lalu apa? Kamu tidak ingin paman dan bibimu jatuh miskin lagi, kan?" Rendi yang sudah dikuasai emosi dan cemburu buta, mulutnya sampai tak bisa dikontrol.
Tania terjengit mendengarnya. Dia tak menyangka Rendi akan berkata seperti itu padanya.
Air mata Tania mengalir tanpa bisa ditahan.
"Kamu tega, Ren!" ucap Tania sambil terisak.
Lalu dia mematikan ponselnya. Dilemparkannya ponsel ke atas tempat tidur.
Tania berlari ke kamar mandi dan menangis sekencang-kencangnya. Dia nyalakan air dari shower agar tangisannya tak ada yang mendengar.
Padahal di rumah itu tak banyak orang. Hanya sepasang suami istri, Yahya dan Asih yang berada di lantai satu. Mereka tak mungkin mendengar karena Tania mengunci rapat pintu kamarnya.
Sementara Rendi yang masih kesal, juga mengantongi ponselnya.
Hatinya dibakar rasa cemburu. Dia membayangkan malam-malam Tania bersama papanya dan mereka melakukan hal yang pernah dilakukannya pada Tania.
Rendi kembali ke toko mamanya.
"Kenapa wajah kamu, Ren? Kok bete begitu?" tanya Sari. Dia heran pada anaknya, tadi pas pamit, wajahnya ceria. Bahkan senyum-senyum.
"Enggak apa-apa, Ma. Cuma capek saja," jawab Rendi.
Alasan yang masuk akal. Karena sejak pagi Rendi sudah berada di toko menemani mamanya.
"Ya sudah. Kita siap-siap pulang. Biar nanti karyawan mama yang menutup toko," ucap Sari.
Sari masuk lagi ke dalam toko, lalu menyuruh beberapa anak buahnya untuk menutup toko. Karena dia akan pulang duluan dengan Rendi.
__ADS_1