HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 214 KEISENGAN DANU


__ADS_3

Eni, Danu dan Widya mencari meja kosong untuk duduk mereka. Meskipun di dalam rest area, tapi rumah makan itu cukup ramai.


Masyarakat kita memang banyak yang sangat menggemari masakan asli Indonesia itu. Masakan yang berasal dari daerah Minang.


Siapa yang tak tergoda dengan aromanya yang menggiurkan? Belum lagi tatanan makanannya di etalase yang dipajang sedemikian rupa.


Membuat siapapun tergoda untuk mendatangi dan mencobanya.


"Ayo pilih menunya. Kita ambil sendiri aja di sana." Widya berdiri lagi dan menuju ke etalase depan.


"Enggak disajikan di meja, ya? Kayak yang di dekat hotel itu," tanya Eni.


"Enggak kayaknya, Bu. Kita ambil sendiri. Yuk," ajak Danu.


Harapan Eni, dia bisa kembali menikmati sensasi makan dengan aneka lauk pauk terhidang di meja.


Terpaksa Eni ikut berjalan lagi ke depan. Karena perutnya sudah sangat lapar.


"Ambil yang banyak. Katanya buat persediaan nanti di jalan," ledek Danu pada Eni.


"Kamu mau bungkus juga, En?" tanya Widya tak paham.


"Bungkus di perutnya, Mbak. Katanya Eni mau makan yang banyak biar enggak laper lagi nanti." Danu yang menjawab.


"Eh, aku lupa belum pipis!" seru Eni.


Lalu Eni meletakan kembali piringnya. Dia bertanya pada pelayan rumah makan, dimana letak toilet.


"Hhh! Istri kamu itu kocak banget, Dan," komentar Widya.


"Iya, Mbak. Tapi dia juga sangat baik," sahut Danu.


Danu beruntung mendapatkan Eni. Meskipun wajahnya biasa-biasa saja, tapi hatinya sangat baik.


Eni seorang wanita sederhana yang setia. Seorang istri yang sangat berbakti pada suami, meskipun sangat bawel.


Tapi dia selalu menurut apa kata Danu. Walaupun kadang harus berdebat dulu. Karena Danu pun bukan lelaki cerdas. Kadang-kadang omongannya ngawur juga.


Orang tua Danu dikaruniai tiga orang anak. Widya, Danu dan Santi.


Kedua anak yang perempuan, boleh dibilang cerdas. Sayangnya Danu malah agak lemot sejak kecil.


Tapi meskipun begitu, dia anak yang jujur dan tak kalah baiknya dengan Eni.


Danu tak pernah meiliki prestasi apapun. Satu-satu kepandaiannya hanya menyetir mobil. Dan itu yang pada akhirnya bisa untuk menghidupinya dan Eni.


Penghasilan Danu dari menyopir angkot, tak seberapa. Untungnya Eni tak mau tinggal diam. Dia membantu Danu mencari nafkah. Meskipun harus menjadi pembantu rumah tangga.


Apalagi setelah Tania mereka asuh. Kebutuhan mereka semakin banyak. Tapi tak membuat mereka mengeluh.

__ADS_1


Malah kehadiran Tania membuat hidup mereka semakin berwarna dan bersemangat. Karena mereka tak dikaruniai anak.


Eni kembali dari toilet.


"Sebentar ya, Mbak." Danu yang sudah duduk dan mulai makan, menghampiri Eni di dekat etalase.


Danu mau menemani Eni memilih makanannya. Dia tak tega kalau makan duluan.


Widya menatap keduanya sambil tersenyum. Widya bersyukur dalam hati, adiknya yang kadang bolot, mendapatkan istri yang baik hati.


Tak seperti dirinya juga Santi yang tak beruntung dalam pernikahan.


Dan sepertinya nasib yang sama menimpa keturunan mereka. Tania dan Lintang.


Widya menghela nafasnya. Beristighfar menyebut nama Sang Maha Kuasa.


Sementara Tania menemani Lintang makan di cafe. Tania memesan makanan dan minuman juga.


"Memangnya kalau orang lagi hamil, suka mual begitu ya, Mbak?" tanya Tania pada Lintang.


"Aku sendiri enggak tau, Tan. Kan baru sekali ini," jawab Lintang.


"Rasanya gimana sih, Mbak?" Tania ingin tahu. Karena bukan tidak mungkin dirinya bakal merasakan hal yang sama.


"Kalau mencium aroma masakan yang menyengat, rasanya mual dan kepingin muntah. Jadi ya, begini ini. Enggak bisa makan kayak kalian. Makannya roti sama buah aja," jawab Lintang.


"Apa enggak bahaya, ya?" Tania merasa khawatir. Karena menurut yang dia tahu, orang hamil harus banyak makan makanan yang bergizi. Biar anak dalam kandungannya sehat.


Tania menatapnya dengan terharu. Lintang harus menjalani cobaan yang lebih dahsyat darinya.


Bagaimanapun beratnya cobaan yang terjadi pada Tania, dia masih bisa bebas kemana-mana. Dia tak berbadan dua seperti Lintang.


"Iya, Mbak. Tenang aja. Ada kami yang siap menjaga Mbak Lintang dan dedek bayinya," ucap Tania.


"Makasih ya, Tania. Kamu sendiri kapan mau menikah dengan Rendi?" tanya Lintang.


Tania terdiam. Lintang belum tahu masalah Tania yang sebenarnya. Lintang hanya tahu kalau Tania pacaran dengan Rendi. Anak juragan batik yang kaya raya.


Untungnya ponsel Tania berdering. Rendi menelponnya. Tania pun buru-buru mengangkatnya.


"Hallo, Sayang," sapa Rendi di dalam kamarnya.


"Hallo juga, Ren. Kamu lagi dimana?" tanya Tania.


"Di hatimu," jawab Rendi cengengesan seperti biasanya.


"Iih, Rendi. Aku serius nih." Tania merajuk.


"Aku juga serius, Tania. Aku lagi ada di hati kamu. Aku enggak akan kemana-mana lagi." Rendi masih saja menggombali Tania.

__ADS_1


"Gombal kamu, ah. Aku tutup nih, telponnya." Tania pura-pura ngambek. Padahal dia senang digombali begitu oleh Rendi.


Lintang memperhatikannya dengan rasa iri. Tapi bukan berarti Lintang tak menyukai apa yang terjadi pada Tania.


Lintang merasa iri, karena dia tak pernah merasakan punya pacar seperti Tania.


Sejak sekolah, Lintang hanya fokus belajar. Dia tak mau mengecewakan ibunya yang berjuang sendiri menyekolahkannya.


Setelah kerja, Lintang juga fokus pada pekerjaannya. Dia tak mau kena tegur atasan, takut kalau sampai dipecat. Karena Lintang merasa punya kewajiban memberikan sebagian penghasilannya buat Widya. Meskipun Widya tak pernah memintanya.


Tania masih saja asik dengan telponnya. Bahkan Rendi merubah panggilan ke mode video call.


Rendi sangat merindukan Tania. Begitu juga sebaliknya. Tania ingin sekali bisa menemui Rendi.


Lintang yang sudah selesai makan, keluar dari cafe. Dia tak mau mengganggu Tania.


Tania pun akhirnya mengakhiri video call-nya, setelah melihat keluarganya berada di depan cafe.


"Udah dulu ya, Ren. Kita mau jalan lagi ini," ucap Tania.


"Iya, Sayang. Hati-hati ya."


Tania pun menutupnya dan melangkah keluar dari cafe.


"Udah?" tanya Danu pada Tania.


Tania mengangguk sambil tersenyum. Ada kebahagiaan di senyuman Tania. Rasa rindunya pada Rendi, sedikit terobati.


"Ya udah, kita jalan lagi," ucap Danu.


Lalu mereka menuju ke mobil. Mereka duduk dengan formasi yang sama. Dan melanjutkan perjalanan pulang.


Karena sudah pada kekenyangan, mereka semua tertidur.


"Busyet dah, molor semua," gumam Danu. Dia harus konsentrasi lagi di jalanan.


Eni tidur dengan mulut menganga. Danu hanya geleng-geleng kepala.


Pada anteng kalau sudah kenyang. Hhh! Danu mendengus sendirian.


Danu tetap konsentrasi sampai mereka tiba di rumah. Danu membawa mobil ke rumahnya. Biar mereka semua istirahat di rumah kecilnya dulu.


Danu membangunkan mereka dengan membunyikan klaksonnya keras-keras.


Tiin....!


Semua yang sedang asik bermimpi, terbangun dengan terkejut.


"Ada apa, Pak?" tanya Eni terbangun dan gelagapan.

__ADS_1


"Udah sampai. Hahaha." Danu tertawa puas. Bisa mengganggu keluarganya.


__ADS_2