
Tepat jam tiga sore, Rendi dan Tono berpamitan pulang. Meski Rendi masih merasa betah berada di sisi Tania.
"Tania. Aku pulang dulu. Besok aku kesini lagi," pamit Rendi pada Tania.
"Iya, Ren. Hati-hati di jalan," sahut Tania.
Rendi mengangguk. Lalu mengecup kening Tania dengan lembut.
"Tante. Saya pulang dulu," pamit Rendi pada Eni.
"Iya, Rendi. Hati-hati," sahut Eni.
Sebenarnya mereka ingin ikut mengantarkan. Tapi khawatir akan ketemu dengan Sari. Bakalan Sari ngamuk dan menghina mereka lagi.
Tono sudah bilang, agar mobil dibawa Danu saja. Tapi Danu menolak. Alasannya takut mobil Tono lecet karena hanya diparkirkan di pinggir jalan.
"Nanti biar Yadi yang ngantar kamu pulang," ucap Tono tadi, saat Danu menolak.
"Gampang kalau pulang, sih. Aku bisa naik angkot," jawab Danu.
"Jangan, Om. Biar diantar aja sama pak Yadi," ucap Rendi merasa tidak enak.
"Santai aja, Ren. Om kan orang jalanan. Naik angkot juga enggak ngeluarin duit," sahut Danu.
Sebagai sopir angkot yang sudah lama jadi profesinya, Danu bisa bebas naik angkot kemanapun, tanpa harus membayar.
Teman-temannya bakal menolak uang bayaran dari sesama sopir angkot. Bahkan saat keluarga mereka naik angkot, kalau kenal.
Mereka pun berangkat ke rumah Sari. Danu duduk di depan bersebelahan dengan Mila. Tono di jok belakangnya dengan Rendi.
Danu melajukan mobil perlahan. Kasihan pada dua orang di belakangnya yang sedang sakit.
"Om. Kapan-kapan aku ajarin nyopir dong," ucap Mila di perjalanan.
Mila memang orang yang tak pernah bisa diam. Dia selalu gatel untuk ngomong soal apapun.
"Kamu mau jadi sopir angkot?" tanya Danu iseng.
"Ya enggaklah. Memangnya kalau bisa nyopir, harus jadi sopir angkot?" sahut Mila.
"Ya kali. Ntar aku cariin trayeknya. Angkotnya minta sponsor sama bos kamu. Tuh." Danu menoleh sedikit ke belakang. Menunjuk ke arah Tono.
"Memangnya pak Tono mau, membelikan aku angkot?" tanya Mila. Dia paham apa yang dimaksud oleh Danu.
"Enak aja. Kamu sewa! Tiap hari setoran ke aku!" sahut Rendi meledek Mila.
"Masa setorannya ke Mas Rendi? Kan yang beliin angkot pak Tono?" Mila terpancing juga omongan Rendi.
"Ya iyalah. Aku kan anaknya. Kalau papa yang ngurusin setoran, nanti kamu enggak tertib setorannya," sahut Rendi.
"Hhm! Dasar peritungan!" ucap Mila.
__ADS_1
"Jelas. Belinya angkot kan pake duit. Bukan pake daun!" sahut Rendi.
Tono hanya mesam mesem saja mendengarnya. Rendi juga kalau sudah cocok dengan orang, omongannya tak kalah banyak.
"Hh! Mana ada beli angkot pake daun!" Mila mendengus dengan kesal.
"Nah, itu tau!" Rendi senang bisa membuat Mila kesal.
"Kalau memang mau jadi sopir angkot, nanti aku belikan angkot buat kamu, Mila," ucap Tono.
"Ih, enggak ah. Gak keren banget. Masa perempuan jadi sopir angkot," sahut Mila.
Dia melirik ke arah Danu. Menurut Mila seorang sopir angkot itu identik dengan kotor dan dekil. Kayak yang sering dilihatnya.
Danu terlihat rapi kalau sedang tak membawa angkot. Tapi kalau lagi narik, ya sama aja.
Debu di jalanan dan panas yang menyengat, membuat kulit mereka terpanggang. Dan menghitam.
"Ngapain kamu lirik-lirik? Naksir?" tanya Danu yang tahu sedang di lirik Mila.
"Idih! Ge er aja!" jawab Mila.
"Kalau kamu naksir om Danu, siap-siap aja dilempar sandal sama tante Eni. Iya kan, Om?" tanya Rendi pada Danu.
Hahaha!
Danu terbahak-bahak. Dia ingat bagaimana Eni melempar sandal barunya ke arah wanita yang sedang nanya alamat padanya.
"Tania yang maksa tante Eni cerita, Om. Gara-gara liat tante Eni pulang enggak pake sandal," jawab Rendi.
Mila jadi kepo. Lalu dia menoleh sedikit ke belakang.
"Ngapain kamu noleh-noleh? Kepo, ya?" ledek Rendi.
"Iya. Gimana ceritanya itu?" tanya Mila. Tingkat keponya sudah tinggi.
"Tanya aja sendiri ke tante Eni," jawab Rendi.
Rendi jelas saja tak mau menceritakan pada Mila. Dia bukan emak-emak yang suka bergosip. Meski yang dia tahu, bukanlah gosip.
"Iih. Enggak lah. Entar malah aku yang dilempar sandal." Mila kembali ke posisinya semula.
"Dia cemburu sama wanita yang lagi deket-deket aku. Makanya kamu jangan berani-beranian menggodaku!" ucap Danu dengan pedenya.
"Idih! Ge er aja nih! Siapa juga yang mau menggoda om Danu!" Mila melengos dengan kesal.
"Dia maunya menggoda pak Yadi, Om!" ucap Rendi.
Rendi sering melihat Yadi berusaha menggoda Mila. Dan Mila seperti meladeninya. Entah benar apa tidak, Rendi juga tak bisa menebaknya.
"Hah...! Enak aja!" sahut Mila dengan ketus.
__ADS_1
"Nah, cocok tuh kamu sama Yadi. Kamu nanti bisa bantu momongin anak Yadi yang segudang. Hahaha." Danu kembali meledek Mila.
"Memangnya aku baby sitternya apa?" sahut Mila.
"Merangkap! Hahaha." Rendi pun tergelak.
"Merangkap apaan?" tanya Mila.
"Merangkap jadi istrinya Yadi lah," sahut Danu.
"Enggak mau! Pokoknya enggak mau!" ucap Mila dengan ketus.
"Enggak mau ya udah. Gak usah ngegas gitu, dong. Kayak angkot lagi kejar setoran aja!" ucap Danu.
"Lagian, kalian maksa-maksa!" ucap Mila.
"Siapa yang maksa? Itu kan kalau kamu mau. Kalau enggak, ya udah. Santai aja, kali!" sahut Danu.
Mila melengos dengan kesal. Semua orangpun terbahak melihat ulah Mila.
"Udah, Om. Jangan diledekin lagi. Entar nangis," ucap Rendi setelah berhenti tertawa.
"Gampang kok dieminnya," sahut Danu.
Dasarnya Mila tak bisa diam, dia malah bertanya, "Pake apaan?"
"Panggilin Yadi aja. Pasti diem. Hahaha." Danu pun kembali terbahak.
Dan Mila kembali manyun. Tono hanya bisa senyum-senyum melihatnya. Tono tak terbiasa bercanda lepas seperti Rendi dan Danu.
Selama ini hidupnya terlalu saklek. Dengan aturan-aturan yang dibuatnya sendiri, dan harus dipatuhi anak buahnya.
Tak lama, mereka pun sampai di depan rumah Sari. Dan yang membuat mereka semua tegang, Sari berdiri di teras sambil melipat kedua tangan di dada.
Tadi Sari sedang duduk-duduk saja di kursi teras. Sengaja menunggu mereka. Dan saat melihat mobil Tono memasuki halaman, Sari langsung berdiri.
"Mama...!" desis Rendi.
Tono pun menelan ludahnya melihat tampang Sari yang tak bersahabat.
Waduh! Mati aku! Bakal kena damprat juga nih. Batin Danu.
Nyali Danu langsung ciut melihat tampang sangar Sari. Dia lebih baik menghadapi preman daripada menghadapi wanita yang lagi emosi.
Satu-satunya orang yang santai tanpa beban, hanya Mila. Dia tak terpengaruh oleh wajah sinis Sari.
Bahkan dengan tanpa rasa berdosa, Mila menatap satu persatu, orang-orang yang ada di dalam mobil. Sambil nyengir.
Danu menepok jidat Mila.
"Ngapain kamu cengar-cengir?"
__ADS_1