
Rendi melotot ke arah Dito.
Yang dipelototin tertawa ngakak. Lalu Dito pun pergi sambil merangkul Mike dengan mesra.
Dito mengajak Mike berjalan-jalan di pinggir pantai. Dito juga kepingin merasakan kemesraan seperti pasangan lainnya.
"Enggak apa-apa kan kalau kamu kepanasan?" tanya Dito pada Mike. Karena biasanya Mike paling anti panas. Begitu kena matahari, dia langsung sembunyi.
Dito malah sering ngeledek Mike kayak vampire. Takut sama cahaya matahari.
"Ya enggaklah. Emangnya aku bakalan meleleh kalau kena panas?" sahut Mike.
Dito cukup terkejut mendengar jawaban Mike. Karena tak seperti biasanya.
"Ya udah. Kita jalan-jalan sepanjang pantai. Kalau kamu capek, aku siap gendong kamu, sayang," ucap Dito.
"Beneran mau gendong aku?" tanya Mike.
"Iya. Kapan aku bohong? Badan kamu kan enteng," jawab Dito.
Dito melirik pada Mike. Dia merasa akhir-akhir ini badan Mike lebih berisi. Tak kerempeng seperti biasanya.
"Kamu enggak bakalan kuat, sayang. Sekarang kan makanku banyak. Pasti berat badanku udah naik banyak," ucap Mike.
Sejak nafsu makannya berubah drastis, Mike belum pernah lagi menimbang badannya.
Bukannya takut dengan angka yang akan lebih banyak. Tapi Mike malas memikirkan lagi berat badannya.
"Banyaknya seberapa? Paling juga nambah beberapa ons," sahut Dito. Meskipun Dito tak yakin dengan omongannya.
"Mungkin beberapa kilo, sayang. Temen-temenku di kampus juga bilang begitu," sahut Mike.
"Kenapa kamu enggak nimbang aja? Di rumah kan ada timbangan yang biasa kamu pakai," tanya Dito.
"Males ah. Entar aku jadi kepikiran. Terus enggak bisa menikmati makanan lagi," jawab Mike.
Dito bernafas lega. Mike sudah mulai berubah. Bukan lagi Mike yang hanya mementingkan penampilan saja. Tapi juga memikirkan kesehatan makannya.
Selama ini Mike seperti diperbudak oleh keinginannya memiliki tubuh yang langsing kurus bak model.
Sampai kadang mengabaikan jam makannya. Bahkan saat makanpun, Mike akan pilih-pilih. Tak bakalan mau kalau makan yang berlemak sedikit saja juga diet karbo.
Dito sampai kadang pusing sendiri. Karena dia yang sering diminta mencarikan makanan yang dimaui Mike.
Dan demi cintanya pada Mike, Dito rela melakukan apapun kemauan Mike.
"Kalau begitu, kasih ke orang aja. Daripada menuh-menuhin rumah saja," ucap Dito.
__ADS_1
"Jangan. Disimpan aja. Nanti kalau lagi kepingin nimbang, gimana?"
Bagaimanapun timbangan itu salah satu barang kesayangan Mike. Meski membelinya lewat media online, tapi barang model itu limitted edition.
Jarang-jarang yang punya. Karena memang diproduksi tak banyak.
"Ya udah. Nanti disimpan aja. Aku juga lebih seneng kalau kamu tak menggunakannya setiap saat, sayang," sahut Dito.
Dito lebih suka Mike yang seperti ini. Tak banyak aturan untuk dirinya sendiri. Makanpun tak lagi merepotkan Dito.
Tak terasa mereka berdua sudah berjalan cukup jauh. Mereka masuk ke area yang lebih sepi.
"Kamu mau foto disini, sayang? Viewnya bagus banget, lho," tawar Dito.
"Boleh. Tapi kita foto berdua, ya," sahut Mike.
"Lah, kalau foto berdua, siapa yang mau motoin?" tanya Dito. Karena biasanya Ditolah yang memoto Mike.
Dan Mike akan dengan percaya dirinya bergaya di depan kamera. Seperti foto model yang selalu dijadikan trend setter bagi Mike.
"Kan bisa selfie, sayang. Tanganmu lebih panjang. Kamu yang mengambil gambarnya," jawab Mike.
"Enggak usahlah. Kayak biasanya aja. Aku yang memoto kamu," tolak Dito.
Dito memang malas kalau disuruh foto. Dia bukan type lelaki lebay yang suka jeprat jepret dirinya sendiri.
Diam-diam Mike kepikiran saat tadi dia memoto Tania dan Rendi. Dalam hatinya ingin juga punya foto berduaan dengan Dito dengan pose yang mesra.
"Kalau mesra kan kita juga selalu mesra, sayang. Enggak perlu juga difoto-foto." Dito tetap berusaha menolaknya.
"Iih. Aku juga kepingin punya foto mesra kita berdua!" Mike mulai merajuk.
"Ya udah deh. Ayo buruan." Dito pun akhirnya mengalah. Daripada nanti Mike ngambek beneran.
Sudah cukup Mike marah padanya tadi saat melihat fotonya bersama Tania. Foto yang tak disengaja.
"Dimana fotonya?" tanya Dito.
"Kata kamu disini viewnya bagus banget," jawab Mike.
"Oh iya. Hehehe." Dito terkekeh sendiri.
"Gimana posenya?" tanya Dito lagi.
Dito tak pandai berpose di depan kamera. Padahal kalau Mike lagi minta difoto, Dito berperan sebagai pengarah gayanya.
"Kayak kamu tadi sama...Tania," jawab Mike.
__ADS_1
Mike jadi teringat foto Dito dengan Tania yang dilihatnya tadi dari ponsel Sari.
Bahkan Mike membayangkan adegan mesra mereka sesuai dengan imajinasinya sendiri.
Dito tercekat mendengarnya. Mana mungkin dia bisa berpose seperti tadi. Karena kejadian itu benar-benar tak direncanakan.
"Kenapa? Keberatan?" tanya Mike.
"Bukan begitu, sayang. Itu kan kejadian yang tak sengaja. Aku kan udah menjelaskan kalau tadi Tania terpeleset dan aku yang menolongnya," jawab Dito.
"Menolong kok sampai mesra begitu!" ucap Mike dengan ketus.
Meski masalahnya sudah selesai, tapi bayangan foto itu masih ada di kepala Mike.
Dan meskipun Tania adalah sahabatnya, Mike tetap merasa cemburu. Padahal biasanya tak pernah seperti itu.
Dulu waktu Tania sempat tinggal di rumahnya pas kabur dari Tono, Mike malah mengijinkan Tania pergi dengan Dito berboncengan motor.
Dan tentu saja ucapan Mike membuat Dito jadi serba salah. Mau marah, memang di foto itu dia dan Tania terlihat mesra.
Kalau didiamkan, Dito merasa tak sengaja melakukannya. Dan pastinya Mike akan semakin larut dalam pikiran negatifnya.
"Terus sekarang aku mesti gimana?" tanya Dito pasrah.
Ya. Dito memilih pasrah saja, daripada ribut dengan Mike. Di samping ini adalah tempat umum, Dito juga akan merasa kembali tak enak pada Rendi.
Takutnya Rendi masih punya pikiran yang sama dengan Mike.
"Enggak jadi deh! Malas aku!" Mike jadi baper. Lalu memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Loh, kok enggak jadi sih? Ngambek, ya?" Dito berusaha meledek Mike seperti biasanya.
"Enggak!" sahut Mike dengan ketus.
"Enggak kok jawabnya ketus gitu. Senyum dong," goda Dito. Dito ingin mencairkan suasana yang dirasanya bakal memanas.
"Ogah! Udah, ah. Aku mau balik," ucap Mike. Lalu dia pun membalikan badan. Berniat melangkah meninggalkan Dito.
Dengan sigap Dito menarik lengan Mike, hingga Mike jatuh tepat di pelukannya.
Mike menatap mata Dito sesaat. Dan membayangkan saat tadi Tania yang katanya terpeleset dan ditangkap oleh Dito.
Pasti tadi mereka seperti ini. Dito memegang erat tangan Tania. Dan Tania jatuh di pelukan Dito. Batin Mike dengan kesal.
Mike pun segera berusaha kembali berdiri dan melepaskan pelukan Dito.
Benar-benar tak seperti biasanya. Setelah lepas dari pelukan Dito, Mike berlari meninggalkan Dito yang masih bengong dengan sikap Mike yang lagi baper.
__ADS_1