
Kamu serius tadi, Ren?" tanya Sari pada anak semata wayangnya, saat suaminya sudah kabur.
"Kalau Mama mengijinkan. Bukankah Mama kepingin cepat-cepat punya mantu?"
"Tapi gak secepat ini juga, Ren," sahut Sari.
"Istrimu mau kamu kasih makan batu?" tambahnya.
"Kan bisa bantuin Mama ngurus toko batik. Tania anak yang baik, Ma. Mama pasti suka," sahut Rendi mempromosikan pujaan hatinya.
"Kamu mencintainya?" Sari menatap wajah anaknya yang berubah ceria.
"Sangat, Ma. Belum pernah Rendi mencintai cewek seperti ini. Boleh ya, Ma?" pinta Rendi.
"Kenalkan dulu sama Mama. Mama kan juga perlu mengenalnya dulu. Kalau memang sesuai kriteria Mama, Mama pasti setuju," sahut Sari.
"Memang kriteria Mama yang seperti apa?" tanya Rendi khawatir. Sebab Tania bukan anak orang kaya seperti dirinya.
"Jangan khawatir, Mama gak akan menilainya dari kekayaan orang tuanya," jawab Sari.
Lalu Rendi menceritakan tentang Tania seperti yang dia ketahui. Tanpa dilebih-lebihkan atau pun dikurangi.
"Ya sudah. Bawa dia ke sini secepatnya. Mama malah jadi gak sabar, kepingin tau kayak apa sih pacarmu itu."
"Oke, siap Ma. Nanti Rendi kenalkan," sahut Rendi lalu beranjak dari duduknya.
"Eh, mau kemana kamu?" tanya Sari melihat anaknya sudah siap untuk pergi lagi.
"Ke rumah Tania, Ma. Rendi akan bawa Tania sekarang juga," sahut Rendi.
"Eit, ini sudah malam. Tidak baik ke sana malam-malam. Besok saja." Sari lalu kembali ke kamarnya.
Yah, Mama. Aku kan ke sana mau melanjutkan yang tertunda. Gumam Rendi dalam hati.
Akhirnya Rendi juga masuk ke kamarnya. Sambil memegangi senjatanya yang tadi sudah siap menyerang Tania.
"Sabar ya....Yang penting Mama sudah setuju. Kamu pasti akan segera ketemu dengan sarangmu," ujar Rendi pada diri sendiri sambil mengelus miliknya.
Sementara Tania yang tadi sudah memakai kembali kaosnya, keluar lagi dari kamarnya.
Ren, aku siap memberikan milikku yang paling berharga untukmu. Biarlah aku tak bisa memilikimu, asal aku bisa memberikannya untukmu. Tania bergumam sendiri.
Jam sembilan malam Danu dan Eni baru saja pulang mengantarkan undangan ke rumah saudara-saudaranya.
Tania tertidur di bangku panjang sendirian.
"Lho, anak ini kenapa tidur di sini?" Eni lalu membangunkan Tania.
"Hoaaem...Eh Bibi sudah pulang," ucap Tania sambil menguap lebar.
"Eh, anak gadis jangan lebar-lebar nguapnya. Ditutupi ah." Eni lalu duduk di sebelah Tania yang masih meringkuk.
__ADS_1
"Pak, besok kita jalan lagi. Masih ada beberapa undangan lagi," ucap Eni pada suaminya.
"Iya. Aku mau ke depan dulu, Bu. Ngopi sama bapak-bapak," sahut Danu, lalu bergegas keluar rumah.
Danu memang sering nongkrong sambil ngopi di warung kopi yang tak jauh dari rumahnya.
Bapak-bapak di lingkungannya juga banyak yang suka nongkrong di sana, sambil dangdutan.
"Iya, Pak," sahut Eni.
"Pamanmu itu kayak di rumah tidak punya kopi saja. Bilang saja mau godain janda kembang anaknya penjual kopi," ucap Eni kesal dengan kebiasaan suaminya.
"Biarin saja lah, Bi. Kan cuma godain aja, enggak beneran," sahut Tania.
"Berani beneran, Bibi potong burungnya buat bikin pepes!" Eni memperagakan dengan tangannya. Membuat Tania tertawa.
"Kamu dapat salam dari Bude-mu tadi. Katanya kamu mulai hari ini harus dipingit. Kan acaranya tinggal beberapa hari lagi."
"Dipingit itu apa, Bi?" tanya Tania yang belum paham maksudnya.
"Dipingit itu ya kamu tidak boleh pergi kemana-mana. Tidak boleh ketemu dulu dengan calon suamimu. Juga...Rendi." Suara Eni mengecil begitu menyebutkan nama Rendi.
Mata Tania terbelalak. Bagaimana mungkin dia tidak boleh bertemu dengan Rendi? Sedang waktunya hanya tinggal beberapa hari lagi.
"Tania tidak mau!" sahut Tania ketus.
Eni hanya menelan ludahnya. Kasihan juga keponakannya kalau tidak boleh ketemu Rendi lagi.
"Itu perintah Bude kamu," ucap Eni pelan.
"Iya sudah. Kamu boleh ketemu sama Rendi. Tapi ngumpet-ngumpet ya? Jangan sampai Bude-mu tau. Nanti Bibi yang kena marah, dikira menentangnya."
Tania mengangguk senang. Tapi bagaimana dengan pamannya? Apa dia juga bisa diajak kongkalikong?
"Soal pamanmu, biar Bibi yang urus." Eni mengelus rambut keponakannya yang agak berantakan.
"Terima kasih, Bi. Terima kasih buat pengertian Bibi. Tania tidak punya banyak waktu untuk Rendi. Tania sedih sekali, Bi," ucap Tania lalu menyandarkan kepalanya ke bahu bibinya.
"Iya, Bibi tau. Maafkan kami atas semua ini. Tapi kamu harus janji tidak akan membatalkan kesepakatanmu ya? Bibi kan malu, udah nyebarin undangan ke saudara-saudara."
"Iya, Bi. Asal Bibi janji akan memberi waktu buat Tania dan Rendi."
Eni menganggukan kepalanya pasrah. Daripada Tania membatalkan pernikahannya, bisa kacau semua impiannya.
Eni memimpikan punya usaha loundry. Dia sudah banyak browsing di internet. Dan dia juga sudah mengajukan budget pada Tono untuk modal buka usaha loundry.
"Sudah malam. Tidur di kamar sana. Bibi juga sudah ngantuk. Besok Bibi mau muter lagi ke tempat saudara pamanmu yang lain."
Eni mengangkat kepala Tania yang bersandar di bahunya. Lalu beranjak ke kamarnya.
Tania melangkah lesu. Waktunya bersama Rendi hanya tinggal menghitung hari. Dan setelah itu, Rendi pasti akan pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Rendi pasti akan menjauhinya. Mungkin untuk selamaya.
Tania duduk di tepi ranjangnya. Mestinya tadi ranjang ini akan menjadi saksi penyerahan kesucian Tania kepada Rendi.
Tania mengelus ranjangnya sendiri. Lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Rendi.
Tuuut.
Tuuut.
Nomor ponsel Rendi tidak aktif. Tania mencoba menghubunginya lagi.
Hingga beberapa kali, masih saja tidak aktif. Kemana Rendi? Tidak biasanya dia mematikan ponselnya.
Hingga larut malam Tania menunggu kabar dari Rendi. Sementara Rendi sendiri sudah tertidur di ranjang empuknya sambil memegangi senjatanya yang gagal menembak.
Rendi lupa mengechas ponselnya yang kehabisan daya.
Keesokan paginya, Rendi mengechas dulu ponselnya sebelum dia mandi.
Hari ini rencananya dia akan mengajak Tania ke rumahnya. Dia akan mengenalkan Tania pada mamanya.
"Ma, hari ini Rendi akan membawa Tania ke sini. Biar kenalan sama Mama," ucap Rendi saat sarapan bersama mamanya.
"Boleh. Jam berapa? Soalnya Mama kan mesti buka toko dulu," sahut Sari sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Terserah Mama bisanya jam berapa. Rendi sama Tania menurut saja."
Papanya Rendi ternyata pagi ini kembali ke rumahnya. Dia masih belum patah semangat untuk meminta restu dari istri dan anaknya.
Walaupun sebenarnya, tanpa restu dari mereka pun, dia tetap akan melaksanakan pernikahan seperti yang sudah-sudah.
Dia sempat mendengar pembicaraan istri dan anaknya tentang...Tania.
"Siapa Tania?" tanya papa Rendi tiba-tiba.
Sari dan Rendi sama-sama menghentikan makannya.
"Mau apa lagi kamu ke sini?" hardik Sari dengan suara keras.
"Kamu tidak perlu meminta ijinku untuk menikah lagi. Bukankah dari dulu juga begitu? Atau kamu mau pamer pada kami kalau kamu bisa dapat gadis muda?" Sari masih saja menerocos.
"Papa tidak bermaksud seperti itu, Ma," sahut papanya Rendi.
"Lalu apa maksudmu? Biar aku cepat mati melihat kamu bermesraan dengan gadis itu?"
"Ma! Papa sayang sama Mama! Papa tidak mau kehilangan Mama!"
Papa Rendi mendekat ke arah istrinya. Tapi matanya menatap anak lelakinya. Dia masih penasaran dengan yang didengarnya tadi.
"Ren, siapa...Tania?" tanya papanya.
__ADS_1
"Dia pacar Rendi! Calon istri Rendi!" jawab Rendi ketus.
Pacar? Calon istri? Kenapa namanya Tania? Apa dia gadis yang sama?