
Tania membelalakan mata. Kedua telapak tangannya menangkup bibirnya.
"Ooh....!"
Tania tak menyangka sama sekali kalau Tono bakal jatuh secepat itu. Meski Tania memang ingin menenggelamkan Tono dari tadi.
Tono yang sebenarnya tak bisa berenang pun, gelagapan. Dia menggapai-gapaikan tangannya dengan nafas terlihat ngos-ngosan.
Tania tak tega melihatnya. Dia kebingungan, karena dia pun tak mahir berenang.
Bagaimana ini? Bagaimana kalau dia benar-benar mati? Pasti aku yang dituduh membunuhnya.
"Bik...! Bik Asih...!" teriak Tania.
"Mang....! Mang Yahya....tolong....!" Tania terus berteriak.
Jelas saja tak ada jawaban, karena mereka berdua sedang ke pasar.
Karena tak juga ada jawaban, Tania berusaha menolong sendiri.
Dengan perpegangan pada besi penyangga anak tangga, Tania mengulurkan tangannya.
Tapi karena posisi Tono terlalu jauh, Tania tak bisa meraih tangan Tono.
Aduh, gimana ini? Tania makin panik.
Apalagi melihat Tono makin megap-megap
"Aakkhh....! To....long....!" suara Tono mulai melemah.
"Tunggu sebentar!" seru Tania. Dia mencari cara untuk menarik tubuh Tono.
Ah, merepotkan sekali. Punya kolam renang tapi enggak bisa berenang. Tania bergumam sendiri.
Di pojok ruangan, Tania melihat gagang pel. Tania segera berlari mengambilnya.
"Ayo pegang ini! Aku akan menarikmu!" seru Tania.
Tono segera memegangnya erat-erat. Lalu perlahan, Tania menariknya dengan sekuat tenaga.
Hingga akhirnya Tono berhasil sampai di pinggiran kolam. Tono yang sudah kehabisan tenaga, menyandarkan tubuhnya di dinding kolam.
Nafasnya masih megap-megap. Tono memejamkan matanya.
Tania makin panik. Dia lihat lebih tajam. Jangan-jangan mati beneran.
Tania mengguncang bahu Tono.
"Heh...! Melek! Jangan mati dulu!"
Tono membuka matanya. Lalu menatap Tania yang terlihat panik.
Tania menghela nafas lega. Ah, kirain mati.
"Ayo naik!" Tania mengulurkan tangannya. Membantu Tono menaiki anak tangga.
Hingga Tono sampai di atas, Tania memapah Tono menuju bangku panjang.
Tak ada perasaan takut apalagi jijik pada Tono. Tania benar-benar kasihan melihat orang setua Tono hampir mati tenggelam.
"Aku ambilkan air minum!"
__ADS_1
Tania berlari mengambilkan air putih. Lalu segera kembali dan membantu Tono minum.
Tono meminumnya sedikit. Nafasnya masih tak beraturan. Sepertinya paru-paru Tono kemasukan air.
"Aku ambilkan handuk ya?"
Tanpa menunggu jawaban Tono, Tania kembali berlari mencari handuk.
Di meja tempat menyetrika, Tania melihat handuk di tumpukan baju. Dengan cepat Tania mengambilnya dan kembali ke tempat Tono duduk.
Tania menyelimutkannya ke tubuh Tono. Tak ada kata sedikitpun dari mulut Tono. Dia hanya menyandarkan tubuh rentanya.
"Ayo aku bantu ke kamar. Ganti pakaianmu." Tania kembali mengulurkan tangannya. Lalu memapah Tono ke kamar mereka di lantai dua.
Tono yang sudah terlihat lemah, memeluk bahu Tania. Tania pun memeluk bahu Tono sambil menahannya agar Tono tak jatuh.
Dengan tertatih-tatih, mereka sampai juga di kamar. Tania membaringkan tubuh Tono di tempat tidur.
Tania kebingungan, bagaimana caranya mengganti pakaian Tono. Tania tak berani melepaskannya.
Aduh....mang Yahya kemana, sih? Tania menoleh ke arah pintu kamarnya. Berharap orang yang dicarinya menampakan diri.
"Maaf, aku enggak bisa mengganti pakaianmu. Nunggu mang Yahya aja, ya?"
Tono hanya menatap Tania dengan sayu. Tania benar-benar kasihan pada orang yang paling dibencinya ini.
Tania menarik bedcover, dan menyelimuti tubuh Tono biar lebih hangat.
"Aku ganti baju dulu," ucap Tania.
Tania mengambil pakaiannya di lemari dan bergegas ke kamar mandi. Membilas tubuhnya dan berpakaian.
Setelah rapi, Tania kembali mendekati Tono. Kedua mata Tono terbuka, nafasnya naik turun.
"Aku buatkan teh hangat."
Tania bergegas keluar dari kamarnya. Sampai di dapur, dia tetap tak melihat Asih ataupun Yahya.
Kemana mereka? Bukannya tadi sebelum aku berenang, mereka ada di sini? Tania menoleh ke segala arah.
Tak ada tanda-tanda keduanya di dapur ataupun di halaman belakang.
Tania membawa cangkir teh ke kamarnya. Dan dengan perlahan, membantu Tono meminumnya.
"Panggil dokter, ya?"
Tono mengangguk.
"Tapi aku tak bisa keluar. Aku juga tak punya hape," ucap Tania.
Tangan Tono terangkat, menunjuk ke arah luar kamar.
"Apaan?" tanya Tania.
"Tas....ku," jawab Tono perlahan.
"Di bawah?" tanya Tania lagi.
Tono mengangguk lemah.
Tania bergegas turun lagi. Mencari tas Tono.
__ADS_1
"Ini." Tania menyerahkan tas yang selalu dibawa Tono kemana-mana.
"Am...bil....hape...ku..."
Tania membuka tas itu dan mencari hapenya Tono.
"Ini." Tania menyerahkan hape Tono.
"Telpon....Yahya....suruh pulang....sekarang," perintah Tono.
Perintah yang biasanya membentak-bentak.
Tania segera membuka hape Tono. Beruntung hapenya tak dipassword.
Tania melihat wallpaper hape Tono. Sebuah foto pernikahan. Sepertinya foto pernikahan Tono dan Sari puluhan tahun yang lalu.
Tania menatapnya sebentar, lalu mencari nomor kontak Yahya.
Tania langsung menelponnya. Kebetulan Yahya sedang membuka hape sambil menunggu Asih memilih buah di sebuah kios buah.
"Iya, Pak," sahut Yahya begitu mengangkat telpon dari majikannya.
"Ini saya, Pak. Tania," sahut Tania.
"Oh, Neng Tania. Ada apa, Neng?" tanya Yahya keheranan. Karena Tania menelponnya, apalagi pakai hape majikannya.
"Mang Yahya di mana? Bisa pulang sekarang enggak? Bapak jatuh," ucap Tania. Dia tak mengatakan kalau Tono jatuh kejebur kolam renang.
"Oh....iya, Neng. Kami segera pulang."
Tania menutup telponnya. Lalu mengembalikannya ke dalam tas Tono.
Tania berjalan mondar mandir menunggu Yahya dan Asih datang. Dia sangat khawatir dengan kondisi Tono.
Beberapa puluh menit kemudian, Yahya dan Asih pulang. Tania melihatnya dari balkon kamar. Asih sedang membuka gembok gerbang.
Aku kayak tawanan aja. Semua serba digembok. Kalau enggak karena jatuh tadi, aku tidak akan menolongmu. Tania melirik ke arah Tono yang sudah mulai memejamkan matanya.
Yahya dan Asih masuk ke kamar Tania.
"Bapak jatuh di mana?" tanya Yahya dan Asih berbarengan.
"Kepleset di kolam renang," jawab Tania tanpa mau menceritakan kronologinya.
"Mang, tolong gantikan pakaian Bapak," lanjut Tania. Lalu dia keluar dari kamar.
Yahya menatap bingung ke arah Tania.
Kenapa mesti aku? Dia kan istrinya? Batin Yahya.
"Iya, Neng," jawab Yahya pelan.
"Bu, kamu keluar dulu," pinta Yahya pada Asih.
Asih pun keluar mengikuti Tania. Tapi Tania kembali ke taman dekat kolam renang, Asih ke dapur merapikan buah yang baru saja dibelinya.
Hhh! Mestinya aku biarkan saja dia mati tenggelam. Biar dia tahu rasa. Batin Tania.
Tapi sayangnya Tania tak tega melihat orang nyaris mati dengan nafas yang sudah tersengal-sengal.
Tania gadis yang lugu dan baik hati. Sekesal-kesalnya dia, tak mampu menyakiti orang lain.
__ADS_1
Biarlah Allah yang akan membalas perbuatannya. Bukan aku. Tania hanya melamun saja di taman kecil tepi kolam renang.