
Danu, Dito dan Diman segera berlari menghampiri. Mereka bersama-sama membopong tubuh Rendi ke atas sofa yang panjang.
"Pak, ada parban baru?" tanya Mila pada Tono.
"Yahya! Belikan perban baru di apotek depan sana! Buruan!" perintah Tono pada Yahya.
"Siap, Juragan. Apa lagi?" tanya Yahya.
"Mila, apa lagi yang kamu butuhkan?" tanya Tono pada Mila.
Mila pun segera menyebutkan kebutuhannya untuk Rendi.
Lalu Yahya bergegas pergi ke apotek.
"Saya bisa minta air hangat sama washlapnya?" tanya Mila. Dia tak tahu harus bertanya pada siapa.
"Asih! Siapkan secepatnya!" Tono pun memerintah Asih.
Sari hanya bisa diam. Ini bukan rumahnya juga. Dan dia tak tahu harus bagaimana untuk menolong Rendi.
Ada penyesalan dalam dirinya. Meski dia pun belum bisa menerima Tania. Dia malu pada orang-orang, kalau bakal menantunya nanti adalah bekas istri dari suaminya. Mantan ibu tirinya Rendi.
Belum lagi ancaman penyakit yang pastinya ditularkan ke Tania. Sari tak bisa membayangkan kalau Rendi ikut tertular juga.
Padahal Tono sudah berkali-kali bilang pada Sari kalau dia tak pernah menyentuh Tania.
"Iya, Pak," sahut Asih.
Asih bergegas lari ke dapur. Tania menggenggam tangan Rendi yang tak terluka. Sambil berusaha menenangkannya. Dan berharap itu bisa mengurangi rasa sakitnya Rendi.
Hal itulah yang membuat Sari makin bete. Rendi lebih jinak pada Tania.
Widya dan Eni pun hanya bisa menatap kondisi luka Remdi yang kembali basah.
Tajab tak kuasa melihatnya. Dia membayangkan lukanya sendiri bakal seperti itu kalau sampai perbannya dibuka.
Tajab selalu ketakutan saat ganti perban di rumah sakit. Dan biasanya dia merem, tak berani membuka matanya.
Asih buru-buru menyiapkan yang diminta oleh Mila. Lalu membawanya ke depan.
Dengan telaten Mila membersihkan luka Rendi. Membersihkan darah yang merembes.
Tania memperhatikannya. Dia berharap bisa juga merawat Rendi seperti itu.
Tajab kembali melihat ke arah Rendi. Lalu menatap wajah Mila. Yang meskipun usianya jauh di atas Tania, tapi masih terlihat imut.
Aku juga mau ah, digantiin perbannya. Kalau perawatnya secantik dia, siapa yang nolak. Batin Tajab.
Tajab berharap, Yahya membeli perban lebih. Biar sisanya bisa dia pakai.
__ADS_1
Yahya datang membawa keperluan Rendi. Setelah melihat isinya, Mila menatap ke arah Yahya.
"Kenapa? Ada yang kurang?" tanya Yahya. Dia merasa sudah membeli semuanya. Sepanjang jalan tadi, Yahya berusaha terus mengingatnya.
Mila melihat lagi isinya. Lalu menggeleng.
"Enggak ada yang kurang, Pak. Semua udah kebeli. Cuma perbannya enggak segini juga!" Mila memperlihatkan perban kecil yang dibeli Yahya.
Yahya menatap perban itu. Lalu melihat pada luka Rendi.
Yahya menepuk dahinya.
"Aku balik lagi!" Yahya meraih kantong plastik yang dipegang Mila.
"Eh, jangan." Mila kembali merebut kantong plastik itu.
"Pak Yahya beli perbannya lagi aja. Yang gedean, Pak," ucap Mila.
"Iya! Sekalian buat gantiin perbanku juga!" seru Tajab dari kursi roda.
Yahya, Diman dan Wardi langsung menatap Tajab keheranan. Mereka hafal bagaimana ketakutannya Tajab saat mau diganti perbannya.
"Elu mah, maunya! Mentang-mentang yang gantiin perban cewek cantik!" ucap Wardi sambil menoyor kepala Tajab.
"Dasar lu! Sakit gitu masih bisa lihat yang bening-bening!" Diman menimpali.
Tajab pun tersenyum ke arah Mila. Senyuman paling menawan dari bibir seorang Tajab, centengnya Tono yang paling ditakuti.
Yahya sudah kembali pergi. Mila pun kembali membersihkan luka Rendi dengan alkohol.
Rendi meringis-meringis menahan perih. Untung ada Tania di sisinya. Jadi Rendi tidak teriak-teriak seperti biasanya.
Rendi pun aslinya sebelas dua belas dengan Tajab. Dia takut kalau diganti perban. Takut akan menyakiti lukanya lagi.
Dan biasanya Rendi akan teriak-teriak sambil ngomelin Mila, kalau terasa perih sedikit saja.
Sari menarik tangan Tono untuk keluar. Dia ingin menyampaikan sesuatu.
"Ada apa, Ma?" tanya Tono setelah sampai di teras.
"Sstt...!" Sari memberi tanda pada Tono agar tidak keras-keras bicaranya.
Tono pun mengangguk.
"Kamu bilang sama Rendi, nanti kalau sudah selesai itu si Mila mengganti perbannya, pulang. Ya?" pinta Sari.
"Ma....!"
"Ayolah. Kamu juga sekalian pulang. Aku pingin kita makan bersama sore nanti." Sari berusaha merayu Tono.
__ADS_1
Tono memghela nafasnya.
"Gini aja. Mama pulang dulu. Nyiapin yang buat makan bersama. Nanti sore kita pulang. Rendi pasti setuju kalau itu," sahut Tono.
"Yang buat makan, nanti aku pesan aja. Enggak usah masak. Kelamaan." Sari tetap berharap mereka pulang sekarang.
"Kan acaranya juga nanti sore. Masih lama." Tono melihat ke arah jam tangannya.
Sari berdecak sebal. Jurusnya mengiming-imingi Tono, gagal.
"Mama pulang saja sama Yadi. Di sini juga dia malah molor, tuh!" Tono melihat Yadi yang tadi melipir keluar dan tidur di mobil.
"Mila biar pulang sama kami nanti. Biar dia bisa jagain Rendi," lanjut Tono.
Hhh! Sari mendengus dengan kesal. Lalu kembali masuk ke rumah Tono.
"Ren. Mama pulang dulu, ya. Jangan lupa nanti sore kamu pulang. Kita makan malam bertiga!" ucap Sari dengan ketus dan keras. Sengaja biar Tania mendengarnya.
Mata Sari pun melirik sinis ke arah Tania. Tania hanya menundukan wajahnya. Dia tahu kalau Sari tak mungkin mengundangnya.
Rendi pun cuma diam saja. Dia tak bisa membantah omongan Sari. Karena tadi dia sendiri yang udah janji mau pulang sore nanti.
Rendi hanya bisa menggenggam tangan Tania dengan erat. Seakan ingin meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja.
"Saya gimana, Bu?" tanya Mila pada Sari.
"Kamu pulang sama Rendi aja. Jagain Rendi dan pastikan pulang hanya dengan bapak saja!" Sari makin menegaskan maksudnya yang tak mau Tania ikut juga.
Tania semakin menundukan wajahnya. Ucapan Sari sangat menusuk perasaannya.
Sari pun keluar tanpa berpamitan pada yang lainnya. Padahal di ruangan itu ada banyak orang.
"Kamu enggak apa-apa kan, Tania?" tanya Rendi, setelah Sari pergi.
Tania menggeleng pelan. Dia tak ingin Rendi melihat kesedihannya. Kasihan Rendi masih sakit.
"Kita masih punya banyak waktu untuk ketemu, Sayang. Jangan khawatir," ucap Rendi. Lalu meraih tangan Tania dan mengecupnya.
Mila yang masih berada di dekat mereka, jadi baper.
"So sweat...!" komentar Mila dengan gaya kekinian.
"Kalian memang pasangan yang serasi. Ayo, Tania. Pantang mundur!" Mila menyemangati Tania.
Mila yang awalnya naksir Rendi, kehilangan feel saat tahu kalau Rendi sangat mencintai Tania. Terlihat dari obrolannya di telepon saat Sari pergi.
Jangankan dia, Monica yang bohay aja, Rendi menolaknya. Sampai kadang dia yang jadi sasaran kemarahan Monica, karena Rendi selalu mengacuhkan.
"Kalau perlu, kawin lari!" ucap Mila pelan, lalu terkikik sendiri.
__ADS_1