HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 70 AKIBAT TERLALU BERNAFSU


__ADS_3

Mereka masuk ke dalam mobil. Rendi mulai menyalakan mobilnya. Senyuman sudah nampak di bibirnya. Wajahnya sudah nampak ceria.


Rendi berpikir mamanya benar-benar memberikan dukungan padanya untuk mendapatkan Tania.


Sari melirik Rendi sekilas. Ada rasa bahagia melihat senyuman itu. Tapi di sisi lain, Sari masih tak merelakan Rendi berjuang untuk Tania.


"Ren...Dito ngekos di mana?" Sari mengalihkan pikirannya.


"Di jalan merdeka, Ma. Dekat rumah....papa," jawab Rendi. Ada rasa kesal saat menyebutkan kata papa.


"Oh. Kamu enggak minat kuliah juga?" tanya Sari.


Sari berpikir, dengan kuliah Rendi akan memiliki lebih banyak teman. Dan pastinya akan bisa menemukan wanita lain.


"Enggak, Ma. Rendi belum minat. Kan Rendi sebentar lagi akan melamar Tania," jawab Rendi antusias.


Glek.


Itu lagi pikiran Rendi. Ah, mestinya aku tak perlu menanyakannya. Sesal Sari.


Dia terlalu bernafsu agar anaknya bisa move on dari Tania.


Sari terdiam. Tak ada lagi yang bisa ditanyakannya. Karena jawaban Rendi pasti tentang Tania.


Sari berpikir, apa dia punya teman yang memiliki anak gadis yang bisa dikenalkan pada Rendi.


Kenapa otakku jadi buntu, sih? Temanku kan banyak. Sari terus saja mengingat-ingat.


Hingga mereka sampai di pasar dan mulai melakukan aktifitas lagi.


Sementara Tania juga sedang berpikir bagaimana caranya kabur dan Tono tak bisa menemukannya lagi.


Tapi otak Tania juga buntu. Semua jalan sepertinya akan sia-sia.


Tono bukan orang yang bodoh. Dia pasti akan menemukan Tania lagi.


Meskipun aku tak akan bisa bersatu lagi dengan Rendi, tapi aku harus bisa lepas dari Tono. Aku tak mau menyia-nyiakan hidupku untuk si bandot tua ini. Batin Tania.


Seminggu setelah Tono menyita ponsel Tania, Tono tak juga menepati janjinya. Tono tetap tak mengijinkan Tania pegang ponsel lagi.


Dan hari-hari Tania, hanya dihabiskan di dalam kamar. Menonton televisi dan berjalan-jalan di dalam rumah Tono.


Tono tak lagi mengurung Tania dalam kamar. Tapi Tono mengunci pintu gerbang rumahnya. Dan menyuruh Asih dan Yahya menjaga agar Tania tak kabur.


Tono jarang pulang ke rumah. Kalaupun pulang, dia tak tidur di kamar mereka. Tono tidur di kamar lainnya.


Sebenarnya keadaan ini sangat menguntungkan Tania. Dia bisa tidur dengan lelap tanpa khawatir diganggu Tono.


Pagi itu, setelah makan pagi berdua, Tono pergi. Seperti biasanya, Tono pergi begitu saja. Tak pamit apapun pada Tania.


Tania pun tak pernah mempermasalahkan. Malah Tania selalu berharap, Tono tak kembali lagi untuk selama-lamanya.


"Bik...aku mau berenang," ucap Tania pada Asih yang sedang menyapu lantai.

__ADS_1


"Iya, Neng. Silakan."


Asih menatap istri majikannya yang masih sangat muda dan juga cantik.


Beda dengan wanita-wanita yang sering dibawa pulang Tono dahulu. Mereka rata-rata sudah lebih dewasa. Dan tak pernah ramah pada Asih maupun Yahya.


Tania berganti pakaian renang di kamar mandi bawah. Tania tadi menemukan sebuah baju renang di lemari kamarnya.


Entah milik siapa, Tania tak peduli. Yang penting baju renang itu bersih.


Meski Tania tak begitu mahir berenang, tapi bermain air mampu menghibur Tania yang kesepian.


Dengan gaya bebas alias asal bisa gerak, Tania berenang ke sana ke mari. Dia tak menghiraukan mata Yahya yang sesekali menatapnya. Tania berpikir, toh ada Asih. Jadi dia tak perlu khawatir.


Dan tanpa disadari oleh Tania, ternyata Tono yang entah kenapa kembali lagi ke rumah, juga menatapnya.


Menatap tubuh Tania yang kadang muncul ke permukaan. Tubuh berbalut baju renang yang ketat. Mencetak lekukan-lekukan yang indah. Termasuk bagian-bagian sensitif Tania.


Tono menelan ludahnya. Dadanya naik turun menahan hasratnya yang tiba-tiba memuncak.


Istri yang sudah hampir sebulan dinikahi dan belum pernah dijamahnya lagi itu, masih asik bermain air.


Seperti hidupnya tak ada beban lagi. Tania seperti anak kecil yang memainkan air dengan menepuk-nepuknya.


"Yahya!" panggil Tono.


"Iya, Pak," sahut Yahya dan segera mendekat.


"Antar istrimu belanja ke pasar. Belikan aku buah-buahan segar!" perintah Tono. Dia hanya tak ingin kedua pembantunya itu mengganggu kesenangannya menatap Tania.


Tono mengeluarkan beberapa lembar seratus ribuan.


"Belikan semua. Apa aaja. Yang penting buah segar," ucap Tono sambil memberikan uang itu pada Yahya.


Yahya mengangguk patuh, dan segera berlalu. Dia juga bosan sehari-hari hanya di dalam rumah saja.


Makanya saat melihat Tania berenang, Yahya mencuri-curi pandang. Sekedar mencari hiburan untuk mata tuanya.


"Ayo, Bu. Kita ke pasar. Juragan minta kita beli buah-buahan segar. Ini uangnya." Yahya memberikan uang itu pada Asih.


"Ayo. Aku juga bosan di rumah terus. Sekali-kali cuci mata di luar." Asih pun tak kalah senangnya.


Selain menonton televisi, tak ada hiburan lain di rumah megah Tono. Hidup mereka bertiga serasa dikurung di sangkar emas.


Apalagi Tania, tak mempunyai teman satupun. Tono jarang pulang. Saat di rumahpun tak ada yang pernah dibicarakan Tono selain larangan dan ancaman kalau Tania kabur.


"Kami ke pasar dulu, Pak," pamit Asih. Yahya sedang memanaskan motor bebek yang jarang dipakai.


Motor itu disediakan Tono untuk dipakai, kalau menyuruh Yahya membeli sesuatu.


"Jangan lupa, kunci lagi pintu gerbangnya," perintah Tono.


"Baik, Pak." Asih segera keluar menyusul suaminya.

__ADS_1


Setelah yakin kedua pembantunya itu pergi, Tono berjalan menghampiri Tania.


Tono menatap tajam tubuh bagian atas Tania yang tersembul dari permukaan air kolam.


Spontan Tania menutupi dengan menyilangkan kedua tangannya.


Mau ngapain dia? Dan kenapa dia ada di rumah lagi? Bukankah tadi udah pergi? Tanya Tania dalam hati.


"Naik kamu!" perintah Tono pada Tania.


Tania menatapnya tak suka. Karena Tono mengatakannya dengan ketus.


"Kamu dengar? Naik kataku!" seru Tono lagi.


Ingin rasanya Tania menarik tangan Tono dan menenggelamkannya ke dalam kolam.


"Ambilkan handukku!" balas Tania dengan ketus juga.


"Enak saja kamu memerintahku! Kamu pikir aku babumu!" sahut Tono dengan kasar.


Huh! Dasar bandot tua! Ngomong enggak bisa halus! Rutuk Tania dalam hati.


Tania bergeming. Dia tak mau naik hanya dengan pakaian renang yang minim.


Apalagi bagian bawahnya, pas sekali mencetak bentuk gundukan beserta lekukannya.


"Naik kataku!" bentak Tono semakin kencang.


"Aku enggak akan naik kalau enggak diambilkan handuk!" Tania tetap kekeh.


"Anak kurang ajar!"


Tono meraih handuk yang ada di meja kecil dekat kolam. Lalu melemparkannya ke arah Tania.


Tania menangkapnya. Lalu perlahan naik dan segera mengenakan handuknya.


Tono menelan ludahnya lagi. Dia bisa melihat keindahan tubuh Tania, meski sebagian tertutup handuk.


Tono mendekati Tania. Tania mundur beberapa langkah, saat Tono mulai dekat.


Mata Tono terus menatap belahan dada Tania yang nyaris terlihat.


"Mau apa, kamu?" tanya Tania ketus. Dia kembali menutup bagian atasnya dengan kedua tangan.


"Mau memakanmu!" jawab Tono. Lalu tangannya meraih tubuh Tania.


Posisi Tania sudah tak memungkinkan lagi untuk menghindar. Hingga dengan mudah tangan Tono meraihnya.


Dan Tania pun jatuh ke pelukan Tono. Dengan rakus Tono mencumbui Tania.


Tania memberontak. Sekuat tenaga berusaha melepaskan diri.


Tono yang terlalu bernafsu, terus memaksa. Hingga tak sadar posisinya sampai di pinggiran kolam.

__ADS_1


Dan dengan sekali hentakan dari tubuh Tania, Tono terpeleset.


Byuur....!


__ADS_2