
"Ada apa, Mas Rendi?" tanya Mila setelah sampai di ruang tamu.
"Tolong bantu aku, Mil. Aku mau mandi," pinta Rendi.
Tumben amat minta bantuan. Biasanya dibantu enggak mau. Batin Mila.
"Oke, siap." Mila pun segera mendekat dan membantu Rendi berdiri. Dan perlahan memapah Rendi ke kamar tamu.
"Mau langsung ke kamar mandi atau mau lepas bajunya disini?" tanya Mila.
Mila tak ada bermaksud apapun. Hanya sekedar menawari saja. Karena tugasnya memang membantu Rendi.
"Enak aja. Entar kamu liat dong," jawab Rendi.
"Ish! Paling juga bentuknya sama aja!" sahut Mila.
"Bedalah. Punyaku kan limiited edition. Hahaha." Rendi pun tergelak.
"Malah ketawa. Sekarang mau kemana ini?" Mila masih memegangi lengan Rendi.
"Kamar mandi aja, Mil," jawab Rendi.
Mila pun memapah Rendi ke kamar mandi. Dan seperti biasanya, Mila mendudukan Rendi di kursi plastik yang memang disediakan untuk mandi.
Lalu Mila pun keluar dan menutup pintunya. Tak lupa Mila juga menyiapkan pakaian Rendi. Biar nanti Rendi tinggal pakai saja.
Rendi mulai melepaskan pakaiannya perlahan, satu persatu. Untuk mandi, Rendi membutuhkan waktu ekstra. Karena tak mudah mandi dengan kondisi tubuh masih terbalut perban.
Rendi pun harus mengusahakan agar perbannya tak basah. Karena akan membasahi lukanya juga.
Mila keluar dari kamar Rendi. Dia mau mencari Sri ataupun Yadi. Menagih cerita tentang cinta segitiga yang belum ada penjelasannya.
"Mil. Rendi dimana?" tanya Sari yang baru keluar dari kamarnya.
"Mas Rendi lagi mandi, Bu. Baru aja masuk," jawab Mila.
"Bapak?" tanya Sari lagi.
"Di atas, Bu. Tadi tidur," jawab Mila lagi.
Sari manggut-manggut.
"Ada lagi yang mau ditanyain, Bu?" Mila masih mau mencari jawaban tentang unek-uneknya.
"Kamu liat bapak aja deh. Kalau sudah bangun, suruh mandi sekalian. Kalian belum makan, kan?" tanya Sari.
Meski semarah apapun, Sari selalu peduli dengan keluarganya. Anak dan suami yang selalu mengecewakannya.
"Siap, Bu," sahut Mila. Lalu bergegas ke atas.
Hhh! Bakalan lupa lagi ama cerita itu. Padahal aku kan masih penasaran. Batin Mila.
Tapi Mila tak bisa menolak perintah Sari. Karena Sari yang menggajinya.
__ADS_1
Sampai di depan kamar Rendi di lantai dua, Mila melihat Tono sudah rapi.
"Bapak udah mandi?" tanya Mila pada Tono.
"Udah. Mana Rendi?" Tono balik bertanya.
"Lagi mandi, Pak," jawab Mila.
"Bu Sari kayaknya ngajak bapak makan," lanjut Mila.
Tono mengangguk.
"Mil, itu tehnya kamu bawa ke dapur. Buatkan yang baru lagi. Yang masih anget," pinta Tono.
"Yang itu belum diminum?" tanya Mila.
"Belum. Udah dingin," jawab Tono.
Tono tak suka minum teh yang sudah dingin. Menurut Tono, rasanya bikin eneg.
"Ya udah, nanti saya bikinkan lagi."
Mila pun masuk ke kamar Rendi dan mengambil cangkir teh yang memang isinya sudah dingin.
Jelas saja, teh itu sudah diseduh dari tadi. Mila membawa cangkir itu turun. Tono sudah turun lebih dahulu.
Mila menaruh cangkir teh di dapur. Sri tak kelihatan di sana. Mila pun membuatnya sendiri, persis seperti yang diajarkan Sri.
"Bikin teh lagi?" tanya Sri yang tiba-tiba muncul.
"Ih, Mbak Sri ngagetin aja!" ucap Mila.
"Ngagetin gimana? Aku kan cuma nanya," sahut Sri.
"Iya sih. Tapi permisi dulu kan bisa," ucap Mila.
"Masa mau ke dapur aja mesti permisi sama kamu," sahut Sri.
Mila cuma nyengir.
Benar juga. Dapur kan area kekuasaan Sri. Kenapa Sri harus permisi padanya? Justru mestinya Mila yang permisi pada Sri. Karena dia yang memasuki area kerjanya Sri.
"Teh yang tadi enggak keminum, Mbak. Udah keburu dingin. Tuh." Mila menunjuk cangkir tehnya Tono dengan dagu.
"Kamu minum aja, Mil," ucap Sri.
"Enggak ah. Mbak Sri aja sana yang minum," tolak Mila.
Mila tak biasa minum sisa orang lain. Meskipun itu belum diminum Tono.
"Ya udah kamu taruh di tempat cucian piring, kok." Sri hanya melihat sepintas cangkir teh yang sudah bercampur dengan beberapa gelas kotor.
"Iya. Kirain Mbak Sri enggak berminat," ucap Mila.
__ADS_1
"Emang enggak minat. Biarin deh, nanti aku cuci," sahut Sri. Dia pun segera membersihkan isi tempat cucian piring.
"Aku antar tehnya dulu, Mbak."
Sri hanya mengangguk.
Mila pun mencari Tono yang tadi minta dibuatkan teh.
Ternyata Tono ada di ruang tamu. Dia sedang berdebat dengan Sari. Seperti biasa, memperdebatkan hubungan Rendi dan Tania yang tak pernah lagi direstui Sari.
Dengan rasa tak enak, Mila terpaksa menghampiri Tono.
"Pak. Ini tehnya." Mila meletakan cangkir teh yang baru, di atas meja.
"Taruh aja, Mil," sahut Tono.
Sari masih saja menerocos. Mila yang semakin merasa tak enak, mundur menjauh pelan-pelan. Lalu kembali ke dapur.
"Mbak!" panggil Mila pada Sri.
"E...eh!" Gantian Sri yang terkejut.
"Kamu ngapain sih? Ngagetin aja!" Sri hampir saja menjatuhkan gelas yang dipegangnya.
"Maaf, Mbak. Itu lho, bu Sari sama pak Tono lagi debat," ucap Mila.
"Ya biarin aja. Itu sih udah biasa. Mereka itu tak kalah dengan anggota dewan yang hobinya berdebat," sahut Sri.
"Hhmm. Kayak tau pekerjaan anggota dewan aja!" ucap Mila.
"Tau lah. Kan ada tv, Mila. Memangnya di mess? Tv aja enggak ada!" sahut Sri meledek Mila.
"Enak aja. Di mess tuh lengkap. Apa aja ada!" Mila tak mau kehidupannya di mess direndahkan.
"Ada. Tapi makenya rame-rame!" Sri masih saja meledek Mila.
"Iyalah. Kalau mau make sendirian, ya beli sendiri. Tapi aku kan enggak punya dana buat beli barang-barang begituan, Mbak." Mila malah curhat pada Sri.
"Memangnya gaji kamu abis buat apaan?" tanya Sri. Menurut Sri, gaji seorang perawat tentunya besar. Bisa jadi lebih besar dari gajinya.
"Aku kan dulu pernah tinggal di panti, Mbak. Dan sekarang donatur panti udah sangat berkurang. Jadi aku bagi sebagian gajiku buat anak-anak di sana. Kasihan mereka," jawab Mila.
"Kok tinggal di panti? Memangnya orang tua kamu kemana, Mil?" tanya Sri.
Mila termenung sejenak. Sedih rasanya kalau mengingat kedua orang tuanya yang kini entah berada dimana.
Bahkan untuk mengingat wajah keduanya, terutama bapaknya, Mila sudah agak lupa.
Sri menatap wajah Mila yang terlihat sedih.
"Mereka masih ada, kan?" tanya Sri dengan suara pelan.
Tiba-tiba ada rasa iba yang menyeruak di hati Sri. Dia langsung ingat pada anak semata wayangnya, yang kini berada di kampung.
__ADS_1
Anak yang ditelantarkan oleh mantan suaminya. Untungnya Sri masih punya kesadaran untuk mencari nafkah. Jadi anaknya bisa tetap hidup di lingkungan keluarga.
Bukan di panti asuhan seperti Mila.