
"Hay....!"
"Hay juga....!" sahut Rendi dan Dito bersamaan dengan tangan melambai.
"Hay, Rendi....Hay Dito....!"
"Monica....!" Rendi dan Dito masih menyahut berbarengan.
"Boleh aku gabung?" tanya Monica.
"Boleh. Silakan," jawab Dito. Rendi mengalah. Daripada mereka terkesan kayak orang bego yang menjawab berbarengan terus.
Baru saja Monica duduk, hape Dito berdering. Dito melihatnya. Lalu Dito pamit menjauh sebentar.
"Ren, gue balik duluan ya? Ibu negara memanggil. Katanya dia lagi kesepian. Butuh kehangatan." Dito sengaja melebih-lebihkan, biar Rendi mau lagi menjalin hubungan dengan wanita lain.
"Lebay, lu!" sahut Rendi.
Dito tertawa ngakak. Lalu dia pamit juga pada Monica.
"Mon, gue duluan ya. Nitip temen gue. Ati-ati, dia jomblo akut!"
Rendi bergumam tak jelas mengata-ngatai Dito. Dengan santainya Dito melenggang tanpa mau mendengarkan gumaman Rendi yang memang tak jelas.
Dito memilih menghabiskan malam bersama Mike, kekasihnya, daripada berebut perhatian Monica dengan Rendi.
Biarlah Dito mengalah, toh masih banyak wanita lain yang suka dia godain.
"Mau kemana Dito?" tanya Monica membuka pembicaraan.
"Paling-paling ke rumah Mike. Kamu kenal Mike kan?"
"Ooh. Cewek yang sering jemput Dito di kampus?" tanya Monica.
"Kalau itu aku enggak tau. Aku kan enggak kuliah," jawab Rendi.
Monica baru sadar kalau Rendi memang tidak melanjutkan kuliah.
"Kenapa kamu enggak kuliah, Ren?" tanya Monica. Setahunya, Rendi anak orang kaya. Pastinya bukan soal biaya yang membuatnya tidak mau kuliah.
"Belum kepingin. Tahun depan aja deh. Moga-moga udah ilang malesnya," jawab Rendi.
Monica tak pernah tahu alasan Rendi sebenarnya. Karena Rendi pun tak pernah koar-koar tentang masalah hidupnya.
Satu-satunya teman yang tahu alasannya, hanya Dito. Sahabat karibnya.
"Enak lho kuliah, Ren. Kita jadi semakin banyak temen," ucap Monica.
Kalau cuma temen, di pasar pun banyak yang mau berteman dengan Rendi. Tapi sayangnya, Rendi bukan type orang yang mudah berteman.
Di SMA dulu pun, temannya hanya beberapa gelintir. Dan yang paling akrab ya cuma Dito.
Kalau gebetan, memang tak bisa dihitung. Tapi itu cuma buat iseng aja. Namanya juga anak muda.
Setelah bosan, Rendi hampir tak pernah lagi berkomunikasi. Paling banter cuma say hello saja.
__ADS_1
"Kamu temannya banyak dong?" tanya Rendi.
"Ya begitulah. Tapi belum ada yang spesial," jawab Monica.
"Sabar. Nanti juga bakal dapet. Eh, kamu mau pesan apa, Mon?" Rendi menawari Monica. Karena sejak datang tadi, Monica belum memesan apapun.
"Orange juice aja," jawab Monica.
Rendi memanggil seorang waitres, memesan orange juice untuk Monica.
"Enggak pesan makan?" tanya Rendi lagi.
"Enggak ah. Udah malam. Minum aja." Monica takut badannya melar kalau membiasakan makan malam.
"Udah, Mba. Itu aja katanya," ucap Rendi pada waitres yang mencatat pesanan Rendi.
"Takut gendut, ya?" goda Rendi setelah si waitres pergi.
"Namanya juga cewek, Ren. Kalau gendut makin enggak laku dong. Hahaha." Monica menertawakan jawabannya sendiri. Rendi hanya tersenyum sekilas.
Sejak mengalami masalah yang sangat hebat, Rendi nyaris tak pernah tertawa lepas. Hanya sesekali saja saat hatinya benar-benar lagi nyaman.
Termasuk saat bersama Dito. Sahabatnya itu mampu membuatnya tertawa terbahak-bahak. Meskipun hatinya sedang hancur lebur.
"Aktifitasmu sehari-hari apa, Ren?" tanya Monica.
"Aku membantu mamaku di pasar," jawab Rendi dengan jujur.
"Di pasar?" tanya Monica tak percaya. Mana mungkin cowok seganteng Rendi ada di pasar.
"Serius kamu? Masa...." Monica tak melanjutkan pertanyaannya, karena pesanannya datang.
"Makasih, Mba," ucap Rendi.
"Aku serius, Mon. Mamaku punya kios kecil di sana. Daripada nganggur, aku bantu-bantu. Lumayan lah, irit bayar kuli panggul," jawab Rendi merendah.
"Aku enggak percaya. Masa orang kayak kamu mau jadi kuli panggul?"
Dalam pikiran Monica, seorang kuli panggul di pasar pasti kulitnya hitam, tidak putih bersih seperti Rendi.
Dan penampilannya, tak akan semodis Rendi.
"Kenapa enggak mau? Yang penting halal, kan?" jawab Rendi.
Monica mencebikan bibirnya. Dia tetap tak percaya. Karena setahunya, Rendi anak seorang pengusaha sukses.
"Kenapa kamu harus bohong sih, Ren?" tanya Monica.
"Siapa yang bohong? Kalau enggak percaya, besok pagi kita ketemu di pasar. Aku ajak kamu masuk. Biar kamu percaya," tantang Rendi.
Monica membelalakan matanya. Mana mungkin dia masuk ke pasar yang kumuh dan jorok?
Monica tak pernah tahu kalau pasar sekarang sudah dibangun lebih modern. Lebih bersih dan nyaman.
Apalagi di bagian penjual pakaian, hampir mirip dengan mall. Hanya saja lebih bising oleh suara pedagang menjajakan dagangannya.
__ADS_1
"Gimana, mau?" tanya Rendi.
"Enggak, ah. Aku enggak pernah masuk pasar," jawab Monica.
"Nah, makanya sekali-kali masuk ke pasar. Asik lho kalau kita udah bisa beradaptasi dengan suasana pasar," sahut Rendi.
Tentu saja bagi Rendi sangat mengasyikan. Karena semakin ramai pasarnya, pundi-pundi uangnya makin penuh.
"Rumah kamu masih di komplek Permata, Mon?" tanya Rendi.
Rendi ingat, dulu pernah apel ke sana. Tapi Monica tak mau menemuinya. Hingga akhirnya Rendi pulang lagi.
"Masih. Mainlah ke rumahku, Ren."
"Enggak ah. Entar kamunya ngumpet lagi," jawab Rendi.
"Iih, apaan sih? Ya enggaklah." Monica tersipu malu mengingat kejadian itu.
"Buktinya, dulu kamu enggak mau nemuin aku. Kamu ngumpet, kan?" tanya Rendi.
"Dulu aku takut pacaran, Ren. Papaku galak. Enggak boleh ada teman lelaki main ke rumah," jawab Monica. Padahal waktu itu, Monica pergi bersama pacarnya.
"Ooh. Terus, sekarang udah boleh?" tanya Rendi lagi.
"Papaku udah meninggal, Ren. Dan sekarang aku kan udah dewasa. Bukan lagi anak SMA. Masa mau dilarang-larang terus," jawab Monica.
"Dan di rumah juga cuma ada mamaku yang lagi sakit. Kakakku kuliah di luar kota," lanjut Monica.
"Mamamu sakit apa?"
"Sejak papa meninggal, kondisi kesehatan mama memburuk. Sering ngedrop. Makanya, aku enggak boleh kuliah di luar kota," jawab Monica.
Monica membuat cerita bohong. Padahal kenyataannya papanya masih hidup. Hanya saja sudah berpisah dengan mamanya. Dan papanya tak pernah lagi pulang. Sebab mamanya sering membawa lelaki lain ke rumah.
"Aku ikut prihatin, ya? Semoga mama kamu bisa sehat lagi. Semangatin dong," ucap Rendi.
Dia teringat mamanya sendiri yang pernah sakit dan juga ngedrop. Dengan Rendi ada di dekatnya dan selalu menyemangati, mamanya bisa melawan penyakitnya. Meskipun tidak sembuh seratus persen. Tapi mamanya tak pernah merasakan sakit lagi.
"Iya, Ren. Makasih, ya. Aku juga selalu berdoa semoga mamaku pulih lagi." Monica merasa berhasil membuat Rendi bersimpatik padanya.
Monica menatap wajah Rendi yang di matanya terlihat semakin menawan.
"Mon, aku pulang dulu ya. Udah malam. Besok pagi-pagi aku mesti ke pasar," ucap Rendi.
Monica mendengus. Baru saja merasa nyaman, malah Rendi mau pulang.
"Ya udah, Ren. Aku juga mau pulang. Bete banget kalau duduk sendirian," sahut Monica.
"Lho, bukannya kamu memang datang sendirian?" tanya Rendi.
Monica tersenyum malu. Mau basa basi untuk menahan Rendi, malah ketahuan.
Tadinya Monica berharap Rendi berubah pikiran, dan mau menemaninya sampai malam.
"Mau aku antar pulang?"
__ADS_1
Monica langsung mengangguk. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan emas.