
Di rumah Danu, malamnya buat acara main gaple teman-teman Danu. Katanya buat 'Lek-lekan'. Biar acaranya besok lancar.
Eni membuatkan mereka kopi dan banyak camilan yang sedianya buat acara besok pagi, malah dibawa Danu keluar.
"Pak, itu kan makanan buat tamu."
Eni hendak merebut toples yang dibawa Danu.
"Mereka kan juga tamu, Bu."
Danu mempertahankan toples yang dibawanya.
"Ya beda, Pak. Mereka kan cuma main gaple," protes Eni.
"Kalau tidak ada mereka, malam ini rumah bakalan sepi. Kamu mau itu kursi-kursi yang kita pesan pada ilang?"
"Enggak," sahut Eni sambil menggelengkan kepala.
"Nah, makanya biarkan mereka malam ini di sini. Buat jagain," ucap Danu mencari alasan, biar Eni rela mengeluarkan makanannya.
"Iya, juga. Ya sudah, boleh dibawa keluar tapi jangan semua!"
"Ya kamu yang ambilin. Biar tidak salah ambil."
Danu pura-pura peduli, padahal dalam hatinya bersorak karena berhasil mengelabuhi istrinya.
Eni lalu mengeluarkan sebagian makanan kering yang akan buat acara besok.
"Dah, itu saja. Cukup kan?"
"Cukup, Istriku yang cantik." Danu menowel pipi Eni. Membuat jantung Eni deg-deg ser.
Meski mereka pasangan suami istri yang sudah puluhan tahun menikah, tapi soal kemesraan tidak kalah dengan pengantin baru.
Danu lalu membawa keluar semua makanan yang diberikan istrinya.
"Rokoknya mana, Bang?" tanya salah satu teman Danu.
"Iya, aku ambilkan dulu duitnya." Danu lalu masuk lagi ke rumahnya.
Danu mendekati istrinya yang sedang membersihkan mukanya dengan aneka make-up baru, yang katanya biar bikin glowing.
Padahal biasanya membersihkan muka cukup dengan sabun mandi di kamar mandi.
"Bu. Bapak bagi duit dong. Buat beli rokok," ucap Danu sambil memeluk istrinya dari belakang.
Dari cermin meja rias Eni yang cukup besar, Danu bisa melihat ****** istrinya yang tercetak jelas di baju tidur berbahan satin tipis.
Danu menelan ludahnya. Ingin rasanya menerkam istrinya, tapi teman-temannya menunggu rokok yang dijanjikannya.
"Itu di meja makan rokokmu masih separo kan, Pak?" sahut Eni sambil terus memoles wajahnya dengan serum atau apalah, Eni juga tidak begitu paham.
"Bukan buat aku, Bu. Tapi buat yang mau jaga malam."
__ADS_1
Danu mencium wangi leher istrinya yang sudah di bersihkan dengan toner. Satu tangannya memelintir ****** Eni yang menantang dari balik baju tidurnya.
"Ih, tangannya jangan nakal Pak!" Eni menepok tangan Danu yang masih saja bermain di seputar dadanya.
"Habis gemesin banget sih."
Saking gemesnya sampai Danu meremasnya dengan keras. Membuat Eni meringis tapi menikmati.
Malah saat Danu hendak melepaskan tangannya, tangan Eni menahannya.
"Kenapa, Bu? Kepingin?" Danu menggigit kecil telinga Eni.
Eni mengangguk sambil memejamkan matanya.
Tangan Danu dipaksa bermain di area dadanya dengan liar.
"Duitnya dulu yang buat beli rokok. Nanti biar temen-temenku yang beli. Aku akan kembali lagi ke sini."
Rupanya walau hasrat sudah di ubun-ubun, kalau urusan duit, Danu tak pernah lupa.
Eni sedikit bergumam kesal, karena hasratnya juga sudah melebihi ubun-ubun.
Tapi demi kelancaran, biar nanti saat on air tidak diganggu teman-teman suaminya, Eni beranjak juga ke lemari mengambilkan dua lembaran merah.
Danu langsung menyautnya dan berlari ke luar kamar.
"Nih, belikan rokok semua. Cukup kan sampai pagi nanti? Aku mau betulin lampu kamar dulu."
Danu kembali lagi ke kamar. Eni masih menunggunya dengan tetap berdiri di depan kaca.
Tapi kali ini, Eni mengikat rambutnya lebih ke atas. Agar Danu bisa lebih leluasa menelusuri lehernya.
Tanpa basa- basi, Danu langsung menyergap istrinya dari belakang.
Tangan Danu langsung masuk ke dalam baju satin Eni bagian atas. Dan bermain dengan bebas di sana.
Eni menggosok-gosokan kepalanya bagian belakang di dagu Danu. Mirip kucing yang lagi dielus-elus.
Tangan Danu pun tak puas hanya di situ. Dibawanya turun tangan itu hingga mencapai pusar Eni.
Eni menggelinjang. Dan sedetik kemudian, tangan Danu berhasil memelorotkan celana tidur Eni yang memakai karet tipis di bagian perutnya.
Danu melihat tubuh istrinya yang menggelinjang di depan cermin, saat jarinya mulai menari di gua istrinya.
Eni berteriak lirih memanggil nama suaminya. Menuntut untuk dipercepat gerakannnya.
Bukan tarian lemah gemulai bagai penari jawa.
Danu semakin terpesona dengan tubuh istrinya yang terus menggeliat.
Senjata Danu sudah sangat tegak berdiri. Siap untuk menyerang, menerjang-nerjang.
Kali ini Danu ingin merasakan sensasi dengan gaya lain. Biar tidak bosan, pikirnya.
__ADS_1
Lagi pula ini termasuk kondisi darurat. Tak mungkin mereka bermain lama di atas ranjang.
Khawatir seperti biasanya Danu akan terkapar duluan. Bisa dibully habis-habisan dia sama teman-temannya. Karena tak juga keluar dari kamar.
"Bu, kita coba sambil berdiri begini ya? Kamu sangat menggairahkan di depan cermin begini."
Eni mengangguk pasrah. Karena kenyataannya pakaiannya sudah tak beraturan lagi.
"Terserah kamu, Pak. Aku sudah tidak tahan..." Eni mengerang lirih.
Danu siap meluncurkan senjatanya. Yang sudah sekeras pentungan hansip.
"Bi! Bibi! Tania pulang!" teriak Tania sambil menggedor-gedor pintu kamar mereka.
Reflek Danu memasukan lagi senjatanya ke dalam sangkarnya.
Eni kelabakan mencari bajunya yang entah dilempar kemana oleh suaminya.
"I..Iya, Sayang. Sebentar Bibi lagi nyari gunting! Aduh kamu lempar kemana sih tadi Pak?"
Danu juga ikut bingung mencari. Danu bingung mau nyari baju apa gunting.
"Ini Bu, guntingnya." Danu memberikan gunting yang katanya lagi dicari istrinya.
"Aduh bukan itu, Bapak Danu! Celana dalamku mana!"
Tanpa sadar Eni membentak Danu yang malah memberinya gunting.
Suara Eni yang keras membuat Tania dan Widya tertawa terbahak-bahak di luar.
"En, awas entar ****** ***** kamu digunting sama Danu!" Seru Widya menggoda adiknya yang sempat-sempatnya main di kamar, saat di luar banyak teman-temannya.
"Kamu sih, Pak. Kedengeran dari luar kan? Awas minggir!"
Eni mendorong tubuh Danu yang menghalanginya. Eni mau mengambil ****** ***** yang baru, karena yang tadi ilang entah kemana.
Eni juga akan berganti pakaian lagi yang tidak menerawang.
Acara tidurnya gagal. Acara perang-perangan dengan suaminya juga gagal.
Dan sekarang harus siap dibully oleh kakak iparnya karena mulutnya tadi kelepasan. Akibat suaminya ikut-ikutan panik.
Padahal Widya dan Tania tak menuntut mereka keluar dari kamar.
Tadi Tania cuma iseng saja berteriak. Karena janjinya dia akan dijemput. Tapi sampai jam sembilan malam tak juga ada kabar.
Dari kecil Tania memang paling suka mengganggu paman dan bibinya kalau sudah mengunci pintu kamar.
Meski Tania belum pernah tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan.
Seingat Tania, bibinya selalu bilang lagi membuatkan adik untuk Tania. Tapi sampai sekarang, tidak jadi-jadi juga.
Kalau kata Widya, mungkin adonannya yang kurang pas.
__ADS_1