
"Mama tahu dari mana?" tanya Rendi dengan suara bergetar.
"Bibinya yang kasih tahu. Kalau kamu tidak percaya, ini baca pesan whatsapp-nya." Sari yang kemarin sempat minta nomor whatsapp-nya Eni, memberikan ponselnya pada Rendi.
Rendi hanya terdiam menghela nafasnya dengan kasar.
Lalu setengah berlari dia keluar dari rumah. Sari mengejar sambil memanggil-manggil.
"Rendi! Rendi! Dengarkan Mama, Nak! Kamu tidak bisa gegabah begitu. Tania sudah bersuami, Nak!"
Teriakan Sari tak membuat langkah Rendi berhenti. Dia yang sudah sampai di halaman, langsung memacu motornya dengan kecepatan tinggi.
Sari hanya bisa menatap anaknya dengan perasaan sangat terluka. Terluka melihat anaknya yang kehilangan cinta dan terluka untuk kesekian kalinya karena ulah suaminya.
"Ya Allah, apa salahku sampai aku harus menerima cobaan seperti ini?" Sari terisak sambil menyandarkan tubuh di pintu rumahnya.
"Bu. Ibu yang kuat, ya?" Sri ART yang biasanya hanya cuek, tersentuh juga hatinya melihat majikannya terisak-isak sendirian.
Sri memapah tubuh majikannya ke dalam dan mendudukannya di sofa ruang tamu.
Sri duduk di karpet. Tangannya memijat kaki majikannya dengan lembut.
"Ibu yang kuat, Bu. Kadang hidup memang tak sesuai dengan yang kita harapkan, Bu. Ikhlaskan saja. Mas Rendi sudah dewasa. Dia pasti tahu apa yang terbaik untuknya."
Sri terus saja bicara menenangkan perasaan majikannya yang sedang tercabik-cabik.
Sari masih saja terisak. Saat ini dia merasa sendiri. Dia yang sudah tak punya orang tua untuk berbagi cerita, hanya bisa menyesali takdirnya.
"Bu. Saya buatkan teh hangat, ya?" Tanpa menunggu persetujuan majikannya, Sri beranjak dan menuju ke dapur.
"Kasihan sekali bu Sari. Juragan memang rakus sekali. Egois. Tidak mau mengalah dengan anak sendiri." Sri terus bergumam sambil membuat teh hangat.
"Kamu ngomong sama siapa, Sri?" tanya Yadi yang baru saja membersihkan halaman belakang.
"Sstt! Jangan berisik. Bu Sari lagi menangis." Sri meletakan jari telunjuk di depan bibirnya. Memberi tanda pada Yadi agar diam.
Yadi pun diam tak berani bicara lagi. Takut terdengar majikannya.
Selesai membuatkan teh, Sri membawanya ke ruang tamu. Tapi Sari sudah tidak ada.
"Lah, Ibu Sari kemana?" Sri menengok ke kanan dan ke kiri.
Lalu berjalan ke arah kamar majikannya. Pintu kamar majikannya tertutup rapat.
"Waduh, jangan-jangan ibu...." Sri yang berfikiran terlalu jauh, mengkhawatirkan majikannya akan bunuh diri.
"Bu! Bu Sari!" Sri memanggil-manggil majikannya sambil mengetuk pintu dengan kencang.
__ADS_1
Sari yang merasa terganggu, segera membuka pintu kamarnya.
Dia menatap Sri yang berdiri dengan panik.
"I...Ibu tidak apa-apa, kan?" tanya Sri gugup.
Sari mengerutkan dahinya, lalu tanpa bicara meraih gelas yang berisi teh hangat dari tangan Sri. Dan menutup lagi pintu kamarnya.
Sri melongo melihat majikannya menutup pintunya lagi.
"Sstt! Sudah, jangan ganggu bu Sari. Biarkan dia sendiri dulu." Yadi yang tau-tau sudah ada di belakang Sri, menarik bahu Sri agar menjauh.
Sri menurut saja. Dia kembali ke dapur, tapi pikirannya masih mengkhawatirkan majikannya.
Sementara Tania dan Tono sudah sampai di rumah mewah Tono. Rumah itu sama besarnya dengan rumah yang di tempati Sari dan Rendi.
Bahkan modelnya pun hampir sama. Tono memang sengaja membuatnya seperti itu, biar dia merasa tetap berada di rumah Sari, meski sebenarnya mereka berjauhan.
"Masuklah. Di sini ada dua ART yang akan membantu kamu. Mereka suami istri yang sudah cukup tua. Tapi jangan khawatir, mereka bisa melayani apapun yang kamu inginkan," ucap Tono.
Tania hanya mengangguk.
Dua ART yang bernama Yahya dan Asih, menyambut kedatangan istri baru majikannya.
"Selamat datang Mbak Tania." Sapa mereka berbarengan.
Tania tersenyum melihat keramahan mereka. Lalu Tono membawa Tania ke kamar mereka, di lantai atas.
Bahkan kamar yang akan ditempatinya, posisinya persis seperti kamar Rendi.
Tania jadi ingat pada Rendi. Berkali-kali Tania meminta maaf kepada Rendi dalam hati.
"Ini kamar kita." Tono membukakan pintu kamar untuk istri barunya.
Tania mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Bentuk kamar yang sama persis seperti kamar Rendi. Hanya perabotannya yang berbeda.
Tono membuka pintu yang menuju balkon. Lalu dia menyalakan rokoknya. Dan berdiri menghadap ke dalam kamar.
Dia perhatikan istri barunya yang masih canggung.
"Ini kamar kita. Kita akan menghabiskan malam pertama kita nanti malam. Kamu sudah siap kan?" tanya Tono dari balkon.
Tania menelan ludahnya yang terasa kering. Dia sudah membayangkan dirinya akan dicumbui oleh lelaki yang tak lain bapak dari lelaki yang telah mengambil keperawanannya.
Tania terduduk lemas di tepi tempat tidur. Bagaimana mungkin dia bisa melakukannya, sedangkan di hati dan otaknya hanya ada Rendi.
Tono mematikan rokok yang baru dihisapnya beberapa kali. Dia berjalan mendekati Tania.
__ADS_1
Jantung Tania berdegup kencang. Badannya terasa panas dingin.
Tono duduk di sebelah Tania. Dia meraih tangan Tania dan mengecupnya dengan lembut.
Tania memejamkan matanya. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Meski Tono tak seperti yang dibayangkannya.
Tono bersikap jauh lebih lembut. Tidak seperti saat menagih hutang pada pamannya.
"Aku ada pekerjaan hari ini, mungkin akan pulang nanti sore atau malam. Kamu istirahatlah dulu. Siapkan tenagamu untuk nanti malam."
Tiba-tiba....
Cup.
Tono mengecup bibir Tania. Reflek Tania langsung membuang wajahnya ke samping dan mengelap bibir dengan telapak tangannya.
Sikap Tania tidak membuat Tono tersinggung, malah dia terkekeh. Merasa lucu dengan tingkah Tania.
Dasar anak perawan! Baru di cium bibirnya saja sudah malu-malu kucing. Menggemaskan sekali, batin Tono.
"Abang pergi dulu ya, Cantik." Sekali lagi Tono mengecup Tania. Tapi kali ini di kening.
Tania diam pasrah. Sambil memejamkan matanya.
Tono mengulurkan tangannya agar Tania menyaliminya. Tania pun meraih tangan suaminya lalu menciumnya sekilas.
Biar cepat pergi, pikir Tania.
Semoga saja dia lupa pulang, harap Tania dalam hati.
Tono melangkah keluar dari kamar mereka. Dan.... Ceklek! Tania mendengar Tono mengunci pintu kamarnya dari luar.
Tania berlari ke arah pintu. Dia mencoba menarik handle pintu, tapi tak bisa terbuka.
Sialan! Dia mengunciku di sini! Umpat Tania dalam hati.
Dasar tua bangka gila! Tania terus saja mengumpati suaminya itu.
Tania kembali ke tempat tidur. Dia mengedarkan pandangannya.
Ruangan yang mewah. Sangat mewah bagi Tania yang biasa tinggal di rumah kontrakan yang tak seberapa besar.
Tania berjalan ke arah balkon. Dia bisa melihat halaman rumah dari atas balkon ini.
Apa aku mesti loncat untuk bisa keluar dari sini?
Tania memperhatikan bagian bawah balkon. Taman dengan aneka batuan dan pot-pot besar.
__ADS_1
Bisa hancur kepalaku kalau aku loncat. Tania memegangi kepalanya sendiri. Dia belum mau mati dengan kepala hancur berkeping-keping.
Lalu bagaimana caranya aku kabur? Paman, Bibi! Tolong Tania! Tania dikurung di sini! Jerit Tania dalam hati.