HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 246 BELUM MAMPU


__ADS_3

"Eh, Mila..." ucap Tania dengan wajah malu.


Kalau Rendi sih cuek saja. Dia tak peduli siapapun yang melihat. Asal jangan Sari saja. Karena pasti bakalan berubah petaka.


"Maaf...maaf. Aku mengganggu ya." Mila siap mundur.


"Enggak, kok. Masuk, Mil," ucap Tania.


Dalam hati Mila sendiri juga merasa tidak enak. Mengganggu orang yang sedang bercinta.


"Iya. Ini aku belikan sup buah untuk kalian juga." Mila meletakan kantung plastiknya di atas meja.


"Kok repot-repot sih, Mil," ucap Tania.


"Enggak repot, kok. Kan sekalian aku beli juga," sahut Mila.


Tak mungkin juga Mila beli untuknya sendiri. Kecuali kalau dia meminumnya di tempat.


"Aku ambil wadah dulu." Tania berdiri.


"Biar aku aja yang ambil," ucap Mila. Lalu dia pun berdiri dan berjalan ke dapur.


Sampai di depan kamar Tania, Mila menoleh. Tono sedang tiduran dengan mata terbuka.


"Pak Tono udah bangun?" tanya Mila.


"Tolong ambilkan aku minum, Mila. Aku haus," pinta Tono.


"Iya, Pak." Mila pun bergegas mengambilkan air putih hangat untuk Tono.


Menurut pengetahuan yang Mila tahu, untuk orang seusia Tono, harus mengurangi minum air putih dingin. Apalagi es.


"Ini, Pak." Mila memberikan gelas pada Tono.


Tono berusaha beranjak. Tapi kepalanya terasa sangat pusing.


"Bisa bantu aku, Mila," pinta Tono.


"Iya, Pak. Sebentar." Mila meletakan gelasnya di atas meja.


Tania yang melihat Mila masuk ke kamarnya, berdiri.


"Aku lihat papa kamu dulu ya, Ren," ucap Tania.


"Iya," sahut Rendi.


Lalu Tania pun berjalan menuju ke kamarnya. Dilihatnya Mila sedang membantu Tono bangun.


"Kenapa, Mila?" tanya Tania.


"Bapak mau minum. Tapi kesulitan bangun," jawab Mila.


Tania pun mendekat dan membantu Mila. Mengambilkan gelas berisi air putih.


Mila yang membantu meminumkannya pada Tono. Tania hanya melihatnya saja.


Hati Tania merasa sangat kasihan melihat kondisi Tono. Dulu, beberapa bulan yang lalu, Tono adalah sosok yang sangat angkuh dan kejam.


Kini semua sirna. Yang ada hanya ketidakberdayaan. Ditambah dengan penyakit menular yang diidapnya.


Penyakit hasil perbuatan Tono yang sering berganti pasangan.


"Obatku belum datang?" tanya Tono pada Mila.


"Belum, Pak. Om Danu dan tante Eni belum pulang," jawab Mila.

__ADS_1


"Biar aku telponin bibi," ucap Tania.


"Enggak usah, Tania. Biar aja. Mungkin memang masih antri," sahut Tono.


"Bukannya tinggal ambil?" tanya Tania.


"Biarin aja. Nanti juga pulang. Aku enggak apa-apa, kok." Tono tetap tak mau Tania menghubungi paman atau bibinya.


"Ya udah. Aku keluar dulu. Mila, kamu jagain bapak, ya," ucap Tania.


Ada perasaan bergetar saat Tania menyebut kata bapak, di hati Tono.


Tono merindukan itu. Rindu Tania menganggapnya sebagai bapak sendiri. Bukan musuh yang selalu dijauhi.


"Iya, Tania," sahut Mila.


"Kamu diluar, enggak apa-apa, Mila. Nanti kalau aku butuh sesuatu, aku panggil," ucap Tono.


Tono merasa kurang nyaman kalau ditunggui Mila, atau siapapun. Karena kamar Tania tak terlalu besar. Bahkan boleh dibilang kecil.


"Iya, Pak. Panggil saya kalau bapak butuh sesuatu," ucap Mila menirukan ucapan Tono.


Tono mengangguk. Dan Mila pun keluar.


Di dapur, Tania sedang menyiapkan sup buah yang tadi dibeli Mila.


"Biar aku siapkan, Tan. Kamu tunggu aja di depan." Mila mengambil kantong plastik yang dipegang Tania.


Tania pun mengangguk. Menolakpun, Mila tak akan mau melepaskan.


Tania berjalan kembali ke depan.


"Sebentar ya, Ren. Lagi disiapin Mila," ucap Tania. Lalu dia duduk kembali di sebelah Rendi.


"Enggak apa-apa. Cuma mau minum aja. Kayaknya kepalanya agak pusing. Jadi tadi minumnya dibantu Mila," jawab Tania.


"Kasihan banget papa," ucap Rendi.


"Iya. Tapi kamu jangan cemas, Ren. Kan masih ada kamu, mama kamu. Kalian kan bisa merawatnya," ucap Tania.


"Masalahnya mama seperti masih menolak papa, Tania. Kamu tau sendiri kan, bagaimana sifat kerasnya mama?" Rendi terlihat sangat sedih mengatakan kondisi keluarganya.


"Pelan- pelan, Ren. Mungkin mama kamu masih belum bisa melupakan....." Tania tak tega mengatakannya.


"Iya, Tania. Aku paham yang kamu maksud. Mama masih sakit hati pada papa tentunya," sahut Rendi.


Tania menggenggam tangan Rendi. Berusaha memberikan kekuatan.


Mila keluar membawa baki berisi tiga mangkuk sup buah. Dan sekali lagi, Mila merasa tak enak. Karena bertepatan dengan Rendi yang sedang mengecup tangan Tania.


Tania segera menarik tangannya. Sedangkan Rendi tetap saja cuek. Malah dalam hati menggerutui Mila yang selalu mengganggunya.


"Maaf....maaf." Mila menundukan wajahnya.


"Di bawah enggak ada uang, Mil. Entar malah tumpah itu esnya," ucap Rendi.


Tania menahan senyumnya.


Mila meletakan nampan di atas meja. Sambil bergumam dalam hati, mesra-mesraan mulu. Enggak tau apa kalau ada jomblo ngenes di sini.


Tania mengambil satu mangkok. Lalu berniat menyuapi Rendi.


"Aku makan sendiri aja, Tania. Taruh di sini." Rendi menolak dan menunjuk pangkuannya.


"Nanti malah tumpah," ucap Tania.

__ADS_1


"Enggak. Aku jaga pakai tangan yang ini." Rendi menunjuk tangan kirinya yang masih diperban.


Rendi masih saja menolak untuk dibantu. Bukannya dia tak mau disuapi Tania. Tapi kalau menyuapi hanya karena rasa kasihan, Rendi tak mau itu.


Meskipun Rendi tahu kalau Tania melakukan itu karena sayang. Tapi Rendi ingin membuktikan pada Tania kalau dia mampu melakukan apapun sendiri.


Tania pun mengalah. Perlahan dia meletakan mangkok di atas pangkuan Rendi.


Dan Rendi pun perlahan memakan buah dari sup buah itu. Begitu juga Mila. Dia asik menikmati sup buahnya.


"Enak, ya," ucap Mila.


"Enak banget. Soalnya gratis," sahut Rendi.


"Hhmm...bisa aja, anak bos," ucap Mila sambil mencibir.


"Siapa yang anak bos?" tanya Rendi.


"Ya siapa lagi? Masa aku? Ya enggak, Tania?" Mila menatap Tania.


Tania hanya nyengir.


Tania sudah banyak berubah. Dia bukan lagi seorang gadis riang yang banyak ngomong.


Sejak hidupnya didera cobaan, sifat-sifat itu seakan hilang dari hidup Tania.


Kehadiran Rendi dan lepasnya dia dari jeratan Tono, belum mampu mengembalikan keceriaannya. Karena di depan sana masih ada masalah yang menanti. Yaitu sikap Sari yang belum bisa menerimanya. Bahkan menolak.


"Tania, kamu sakit gigi, ya?" tanya Mila.


Mila memang gadis yang periang dan bawel seperti Tania dahulu.


"Enggak," jawab Tania.


"Ooh, kirain sakit gigi. Dari tadi diam aja. Enggak pingin ngomong?" ledek Mila.


"Memangnya kamu! Ngomong mulu kayak burung beo!" ucap Rendi.


"Hehehe." Mila terkekeh.


"Aku gatel mulutnya kalau enggak ngomong," sahut Mila.


Rendi sedang tak fokus pada mangkok di pangkuannya, hingga saat Danu dan Eni pulang, Rendi menjatuhkan mangkoknya.


Prang!


"Eh, kenapa?" Eni terkejut melihatnya.


"Enggak...enggak apa-apa, Tante," jawab Rendi.


"Tuh kan, jatuh." Tania meletakan mangkoknya di meja.


"Kamu gimana sih, Tania. Bukannya Rendi dibantu makannya," ucap Eni menyalahkan Tania.


"Bukan salah Tania, Tante. Saya yang kurang hati-hati," sahut Rendi membela Tania.


Tania dan Mila memunguti dan membersihkan lantainya.


"Maaf ya, Tania. Aku enggak sengaja," ucap Rendi.


"Iya, enggak apa-apa, Ren."


Dalam hati Tania bergumam, kalau belum mampu jangan memaksakan diri.


Rendipun bergumam dalam hati, aku bisa sendiri. Cuma tadi kaget saja.

__ADS_1


__ADS_2