HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 127 SELAMAT TINGGAL RENDI


__ADS_3

Sebelum kabur, Tania sempat turun ke lantai satu. Dia berniat menanyakan pada Diman jam berapa Rendi akan dioperasi.


Saat Tania sudah dekat dengan pintu, dia mendengar Diman sedang menerima telpon.


Diman yang biasa membuka obrolannya di loudspeaker, membuat Tania mendengar tanpa harus bertanya lagi.


Tania kembali ke kamarnya setelah mengambil air putih di dapur.


Saat di dapur, Tania tak melihat Asih. Entah dimana Asih saat itu, Tania pun tak berniat mencarinya.


Di kamarnya, Tania hanya mondar mandir saja. Dia ingin sekali datang ke rumah sakit, menunggui operasinya Rendi.


Tapi Tono pasti melarangnya. Dan dia tak bakalan bisa pergi tanpa ijin dari Tono.


Lalu Tania ingat dengan jalan keluar di belakang rumah Tono, yang diberitahukan oleh Yahya waktu itu.


Apa aku keluar lewat jalan itu aja, ya? Kalau lewat depan, jelas tidak mungkin. Mang Yahya dan Diman pasti tak membolehkannya pergi, karena tak ada ijin dari Tono.


Tania berpikir setengah mati, bagaimana caranya dia bisa keluar dari rumah Tono dan sampai di rumah sakit.


Ya, aku akan lewat jalan itu aja. Tania ingat, tadi dia tak menemukan Asih di dapur.


Tania segera membereskan beberapa pakaiannya dan semua yang akan dia bawa.


Tania melihat lagi isi tas ransel kecil yang beberapa waktu yang lalu telah disiapkannya. Dia tak membongkarnya lagi. Hanya memasukan charger hapenya.


Tania juga memeriksa isi tas selempangnya. Uang yang dari Tono beberapa hari yang lalu, masih utuh. Termasuk juga uang yang niatnya untuk belanja di supermarket dengan Linda waktu itu.


Uang itu tak jadi dipakai, karena Tania membayar belanjaannya dengan kartu debit.


Kartu debit milik Tono pun masih ada di dalam tas selempangnya. Tania membiarkannya.


Lalu setelah semuanya beres, Tania berganti baju dan segera bersiap.


Tania berjalan pelan menuruni anak tangga. Dia sudah


pasrah. Kalaupun bakal ketahuan, dia akan terus terang dan minta diantarkan.


Dan beruntungnya, Yahya dan Diman kembali asik ngobrol di teras. Sedangkan Asih tak nampak di dapur.


Tania mengendap-endap melewati dapur. Dan sampai dia keluar dari dapur pun, tak ada yang melihatnya.

__ADS_1


Tania segera berlari menuju jalan keluar yang hanya ditutupi pohon rimbun.


Dan akhirnya Tania bisa bernafas dengan lega, setelah berhasil keluar.


Tania pun buru-buru berjalan menyusuri jalan setapak di samping rumah Tono. Jalan setapak itu menuju ke jalan raya di depan rumah Tono.


Dari jalan raya itu, Tania bisa naik angkot yang memang lewat situ. Dan Tania harus dua kali ganti angkot untuk bisa sampai di rumah sakit.


Sampai di rumah sakit, Tania mencari informasi tentang Rendi lewat beberapa perawat yang ditemuinya.


Rendi akan segera dioperasi beberapa menit lagi. Dan sekarang sedang dalam tahap persiapan.


Tania tak berani mendekat. Dia hanya melihatnya dari kejauhan. Dia melihat Tono dan Sari ada di depan ruang ICU.


Dan tak lama kemudian, sebuah brankar keluar dari ruang ICU.


Tania menatapnya dari kejauhan. Dia yakin kalau brankar itu membawa Rendi. Ingin sekali Tania berlari mendekat dan membisikan kata-kata untuk menguatkan Rendi.


Tapi itu jelas tak mungkin dilakukannya, karena Tono dan Sari ada di sana. Mereka mendekat ke arah brankar dan mengiringi Rendi yang dibawa ke ruang operasi dengan tangisan.


Tania pun hanya bisa menitikan air matanya. Doa tak henti-henti dia panjatkan. Semoga operasi Rendi berjalan lancar.


Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Sebenarnya tadi Tono sempat berpikir untuk meminta Tania datang, biar ikut menunggu Rendi operasi.


Tapi Tono kasihan pada Tania, karena badannya pasti masih lemas.


Lagi pula, Tono kuatir kalau sampai Sari ngomong yang enggak-enggak. Yang bakal menyakiti hati Tania.


Jadi Tono lebih memilih, Diman untuk menyampaikan pesannya saja. Kabar tentang kondisi Rendi dan rencana operasinya.


Tono juga menyuruh Diman untuk di rumahnya saja. Biar bisa membantu menjaga Tania, sekalian Diman istirahat. Karena Diman sudah menjaga Tajab sejak kemarin.


Sejak kejadian buruk menimpa Rendi, Tono berubah sikap. Yang tadinya egois dan kejam, kini berusaha bijaksana pada semua orang. Termasuk Tania juga anak buahnya.


Tania masih duduk di sebuah bangku panjang yang agak jauh dari kamar operasi. Tapi dari tempatnya duduk, dia bisa melihat ke arah Tono dan Sari yang menunggu di depan kamar operasi.


Tania sengaja memakai masker, biar Tono juga Sari tak mengenalinya. Dia hanya duduk sambil sesekali menyeka air mata yang tak henti-hentinya mengalir.


Hilir mudik orang lewat dan perawat dengan semua kesibukannya, membuat keberadaan Tania tak dipedulikan oleh Tono dan Sari.

__ADS_1


Tania membuka ponselnya. Dia mencari rumah kos, untuk ditinggalinya sementara.


Ya, dengan modal uang yang diberikan oleh Tono, Tania tak akan kembali ke rumah Tono lagi. Dia akan menenangkan diri dulu di tempat kos.


Tania belum berniat kembali ke rumah pamannya. Dia tak mau kalau Tono menemukannya, lalu membawanya lagi.


Ngumpet di rumah budenya pun tak akan menyelesaikan masalahnya. Karena Tania yakin, Tono bakal mencarinya ke sana juga.


Tania tak punya family lain yang dekat dengannya. Saudara-saudara bibinya, tak begitu dekat dengan Tania.


Sementara di rumah Tono, semua orang sibuk mencari keberadaan Tania. Mereka bertekad mencari Tania dan mengembalikannya ke rumah Tono seperti semula.


Mereka tak mau disalahkan dalam hal ini. Meski ini semua karena kelengahan mereka.


Mereka tak berpikir Tania akan kabur. Sebab kondisi Tania tadi juga terlihat kurang sehat.


Hingga menjelang maghrib, kamar operasi itu baru terbuka. Tania yang selalu memantaunya dari kejauhan, segera berdiri.


Sari dan Tono pun berdiri. Lalu keluarlah seorang dokter. Dan menghampiri mereka.


"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Sari.


"Operasinya berjalan dengan lancar," jawab dokter.


"Alhamdulillah...!" ucap Sari dan Tono berbarengan.


"Lalu sekarang bagaimana, kondisi anak saya, Dok?" tanya Tono terlihat tak sabaran.


"Untuk sementara anak Bapak akan dikembalikan dulu ke ruang ICU, sampai kondisinya stabil. Setelah itu baru bisa kami pindahkan ke ruang rawat inap. Permisi..." Dokter berlalu dari hadapan Sari dan Tono.


Tak lama brankar yang memuat Rendi keluar. Sari dan Tono langsung menghampiri.


Tania pun serasa ingin mendekat. Tapi ditahannya keinginan itu sekuat hati.


Karena kalau sampai ketahuan dia ada di sini, akan lebih sulit lagi baginya melarikan diri.


Tania hanya bisa menatap dari kejauhan. Melihat ekspresi wajah Sari dan Tono yang terlihat bahagia. Itu menandakan bahwa semuanya berjalan baik-baik saja.


Tania menatap brankar yang membawa Rendi masuk kembali ke ruang ICU. Dan setelah pintu itu tertutup, Tania pun melangkah pergi.


"Selamat tinggal, Rendi...!"

__ADS_1


__ADS_2