
"Tania. Kita harus berhati-hati. Karena papaku juga dirawat di rumah sakit ini," ucap Rendi.
"Dirawat di sini?" tanya Tania.
Rendi mengangguk.
"Papa kamu sakit?" tanya Tania lagi.
"Iya, Sayang. Papa katanya tadi pingsan di rumahnya. Lalu dibawa ke sini sama anak buahnya," jawab Rendi.
"Memangnya sakit apa?" Tania mengerutkan keningnya. Dia berpikir, sepertinya Tono selama ini baik-baik saja.
"Dia..." Rendi menatap wajah Tania dengan lekat.
"Papaku kena panyakit kotor," lanjut Rendi.
"Penyakit kotor?" Tania semakin mengerutkan keningnya.
Rendi mengangguk.
"Dia kena penyakit sifilis!" sahut Rendi.
Rendi sengaja mengatakannya, karena ingin tahu reaksi Tania.
"Penyakit sifilis?" Mata Tania membelalak.
Rendi mengangguk.
"Itu kan penyakit..." Tania tak sanggup mengatakannya.
"Iya. Penyakit akibat terlalu sering berganti pasangan. Kita kan enggak tau pasangan papa itu bersih apa enggak," sahut Rendi.
Tania mengangguk.
"Dan menular. Apa itu berarti si Linda juga tertular?" gumam Tania.
Dia sering melihat Tono bercinta dengan Linda. Karena kadang justru Linda sengaja memamerkannya.
"Siapa Linda?" tanya Rendi.
"Istri barunya papamu," jawab Tania.
"Kamu belum tau kalau papamu sudah menikah lagi?" tanya Tania.
"Aku udah dengar kabarnya. Tapi aku tak tahu namanya," jawab Rendi.
"Namanya Linda. Dia katanya istri baru papamu. Dia dibawa pulang ke rumah itu. Dan mereka sering sekali melakukannya," ucap Tania.
"Kamu sering melihatnya?" tanya Rendi.
Tania mengangguk.
"Linda kadang sengaja memperlihatkannya padaku. Dia sengaja tak menutup pintu kamarnya. Mungkin dia berharap aku melihatnya dan marah," jawab Tania.
"Dan kamu marah?" tanya Rendi.
Tania menggeleng.
"Untuk apa marah? Aku malah seneng ada Linda. Jadi papa kamu enggak maksa-maksa aku lagi," jawab Tania.
__ADS_1
"Papa sering memaksamu?" Rendi mulai menyelidik.
Tania mengangguk.
"Dulu. Sebelum ada Linda. Tapi untungnya aku selalu menolaknya. Kalau tidak, pasti aku akan...tertular penyakit itu," sahut Tania.
"Apa...Papa benar-benar tak pernah melakukannya?" tanya Rendi.
"Iya. Mungkin itu juga yang membuat papamu sering marah padaku," jawab Tania apa adanya.
"Papa sering memarahimu?" Rendi terlihat mulai kesal. Bagaimanapun dia merasa tak rela, kalau orang yang disayanginya dimarahi.
"Iya, Ren. Bahkan...dia sering menamparku. Tapi hanya beberapa kali saja yang kena. Selebihnya, aku bisa menghindar." Tania tersenyum bangga. Bangga karena dia bisa melawan Tono.
"Kurang ajar! Dasar bandot tua sialan! Bajingan dia!" maki Rendi.
"Sstt! Enggak boleh bilang begitu. Bagaimanapun, dia papa kamu, Ren," ucap Tania.
"Seorang papa yang tak tahu diri. Udah tua masih aja mata keranjang!" umpat Rendi.
"Udah, ah. Jangan ngomongin papamu lagi," sahut Tania. Dia tak mau kalau Rendi jadi ngomong yang kasar tentang Tono. Meski Tania juga sangat membenci Tono.
"Oke. Kita ngomong soal Linda aja. Orang mana dia?" tanya Rendi.
"Aku enggak paham. Aku tak pernah menanyakannya. Karena dia malah memusuhiku," jawab Tania.
"Oh ya? Kalian sering ribut?" Rendi khawatir kalau Tania sampai diapa-apakan oleh Linda.
"Hampir setiap ketemu. Dia yang suka bikin masalah. Dia pikir, bisa menginjak-injakku," sahut Tania.
"Lalu apa yang dia lakukan padamu?" tanya Rendi.
"Ooh, wanita yang waktu itu ketemu kita di mall?" Rendi ingat saat dia ketemu Tania di mall dan ada seorang wanita yang mendatangi mereka.
"Iya. Ternyata dia punya hubungan dengan Tajab," jawab Tania.
Tania pun menceritakan tentang kejadian dia menangkap basah Linda dan Tajab di kamar Tono. Sampai akhirnya Tajab terjatuh dari balkon.
"Kejadian itu, sehari sebelum kamu jatuh," ucap Tania dengan sedih. Dia sedih mengingat bagaimana Rendi jatuh tepat di hadapannya.
"Dan sekarang Lindanya kemana?" tanya Rendi.
"Dia diusir papa kamu," jawab Tania.
Rendi mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kalau dari ceritamu, bisa saja papa tertular dari Linda. Tapi bisa jadi dari wanita lain. Papa sering sekali berganti pasangan," ucap Rendi.
Rendi kembali merengkuh tubuh Tania. Dia sudah yakin kalau Tania tak tertular penyakit Tono.
Sedang asik berpelukan, pintu kamar terbuka.
"Hey! Apa yang kalian lakukan?"
Suara Monica membuat Rendi melepaskan pelukannya.
Tania menatap wajah Monica. Dia masih mengingatnya. Wanita yang pernah ditemuinya di mall bersama Rendi.
Wanita yang dulu juga kakak kelasnya sewaktu SMA.
__ADS_1
"Monica! Mau apa lagi kamu kesini?" tanya Rendi tak suka.
Monica pun menatap wajah Tania. Dia juga ingat wajah Tania.
"Aku yang mestinya nanya. Mau apa dia di sini? Dan ngapain kamu peluk-peluk dia lagi?" Monica menunjuk wajah Tania.
"Ini Tania. Dia kekasihku yang sebenarnya," sahut Rendi.
Monica menelisik ke arah Tania. Dia perhatikan Tania dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
"Kekasih? Gila apa kamu, Ren? Selama ini kamu anggap aku apa?" tanya Monica.
"Hanya teman, kan," sahut Rendi.
"Teman?" tanya Monica lagi. Dia tak percaya kalau ternyata Rendi hanya menganggapnya sebagai teman.
"Iya, teman." Rendi memastikan sambil mengangguk.
Enak aja! Enggak bisa dia cuma anggap aku teman. Dan aku harus dikalahkan oleh wanita model beginian?
Enggak! Aku harus bisa merebut Rendi kembali. Bagaimanapun caranya.
Dan bukannya Tania ini adalah istri dari papanya Rendi? Tanya Monica dalam hati.
Monica menghela nafasnya.
"Kamu tega, Ren. Udah banyak yang kita lakukan berdua, Ren. Kamu udah meminta semuanya dari aku. Aku pun udah memberikan apa yang kamu minta. Kamu cuma menganggapku teman?" tanya Monica sedih.
Monica memulai aktingnya. Matanya menatap Rendi sambil berkaca-kaca.
"Melakukan? Melakukan apa?" tanya Rendi.
Tania hanya diam menyimak. Dia juga ingin tahu, seberapa jauh hubungan mereka berdua.
"Kamu melupakannya, Ren? Hampir setiap ada kesempatan kita melakukannya." Monica menghapus air matanya yang mulai mengalir.
Rendi mengerutkan dahinya. Dia merasa tak melakukan hal-hal yang diluar batas.
Kalau hanya bercumbu, memang sering sekali mereka melakukannya. Karena Monica yang selalu menggodanya.
Monica wanita yang sangat agresif. Dia tak segan-segan memulainya.
Dan namaya juga lelaki, pastinya tak akan bisa tinggal diam. Rendi pun pada akhirnya membalas keagresifan Monica.
"Bercumbu?" tanya Rendi. Dia sengaja to the point saja. Meski dia takut juga ini akan menyakiti hati Tania.
"Ren! Yang kita lakukan itu lebih dari sekedar bercumbu. Kamu....kamu telah melakukannya padaku, Ren." Monica mulai terisak.
Tania jadi salah tingkah juga mendengarnya. Karena sejujurnya Tania tak mau dianggap pengganggu hubungan orang lain.
Itu kenapa saat dulu Tono mengatakan kalau Rendi sudah menikah, Tania tak lagi mengharapkan Rendi.
Tania sudah merusaha melupakan Rendi. Hingga takdir kemudian mempertemukan mereka lagi. Dan Rendi mengatakan kalau dia masih sangat mencintai Tania.
"Melakukan apa?" tanya Rendi tak mengerti. Karena dia merasa, selalu menolak kemauan Monica untuk melakukannya.
"Ren! Tega kamu! Aku sudah menyerahkan kesucianku padamu!" Tangis Monica mulai tak terbendung.
Rendi hanya bisa diam. Lalu menatap ke arah Tania yang juga sedang menatapnya.
__ADS_1
Tatapan Tania seakan meminta penjelasan dari Rendi.