
Seminggu kemudian, kondisi Rendi semakin membaik. Kakinya sudah mulai bisa digerakan, meski tetap harus ditopang tongkat.
Hari ini rencananya Rendi mau menemui Tania. Mereka janji ketemu di rumah Tono.
Semua rencana Rendi ini disponsori oleh Tono. Tono bilang ke Mila kalau dia mau membawa Rendi jalan-jalan.
"Kamu di rumah saja. Atau kamu juga boleh keluar kalau mau. Tapi pastikan sebelum jam empat sore sudah kembali," ucap Tono pada Mila.
Lalu Tono memberikan uang pada Mila.
"Nih. Kalau kamu mau keluar. Kamu juga bisa ajak Sri kalau butuh teman," ucap Tono.
"Tapi bagaimana kalau ibu tau? Saya kan tidak boleh meninggalkan mas Rendi?" tanya Mila.
"Ya kamu jangan bilang tentang hal ini," jawab Tono.
"Lalu mereka?" Mila menoleh ke arah dapur. Tempat dimana biasanya Sri dan Yadi berada.
"Mereka sudah aku bilangi. Jangan khawatir. Udah, ayo bantu Rendi masuk ke mobil," ucap Tono.
Rendi sudah bisa jalan sendiri, meski dengan tertatih-tatih ditopang tongkat. Rendi berhasil sampai ke mobil Tono.
Tono berlari mengejar Rendi. Mila menyusul di belakangnya.
"Tunggu, Rendi. Papa bantu kamu masuk ke mobil," ucap Tono.
"Iya, Pa," sahut Rendi.
Rendi sudah merasa capek juga berjalan sendiri.
Tono menopang tubuh Rendi biar bisa masuk ke dalam mobil. Mila mengawasinya sambil memegang tongkat Rendi.
"Tongkatnya taruh di belakang saja." Tono membukakan pintu samping.
Rendi duduk di jok depan. Tono sudah menyiapkan jok itu agar Rendi nyaman.
"Kamu udah siap?" tanya Tono pada Rendi.
"Udah, Pa," jawab Rendi.
Tono pun melajukan mobilnya perlahan. Seakan takut kalau Rendi akan merasakan sakit.
Sementara Tania sudah bersiap-siap. Danu dan Eni akan mengantarnya ke rumah Tono naik angkot mereka.
Mereka masih trauma melepas Tania pergi sendiri ke rumah itu. Meskipun mereka tahu, di sana orangnya baik-baik.
Eni lebih baik menutup salonnya dan mengantarkan Tania. Begitupun Danu, memilih tak narik angkotnya dulu.
Eni menyempatkan diri membeli makanan untuk dibawanya ke rumah Tono. Karena tahu di rumah Tono banyak orang.
Tania juga ikutan memilih makanan untuk Rendi. Meskipun Tania belum hafal makanan kesukaan Rendi.
Tania memilih makanan yang disukainya. Dan dia berharap Rendi juga akan menyukai.
"Ayo udah." Eni mengajak Tania kembali ke mobil.
__ADS_1
"Banyak amat belinya, Bu?" tanya Danu setelah Eni dan Tania masuk ke mobil.
"Di sana kan orangnya juga banyak, Pak. Coba kamu hitung deh. Jangan sampai kayak malam itu. Aku pikir cuma mbak Asih aja yang ngikut," jawab Eni.
"Lha kalau yang ikut cuma mba Asih, terus yang bawa pulang lagi mobilnya, siapa?" tanya Danu.
"Iya, ya. Hehehe." Eni malah terkekeh sendiri.
Asih pasti seperti dirinya yang tak bisa menyetir mobil. Kemana-mana tinggal duduk manis aja.
"Tania jadi deg-degan, Bi," ucap Tania.
"Cie...yang mau ketemu pacarnya..." Eni malah meledek Tania.
"Bukan itu, Bi," sahut Tania.
"Terus deg-degan kenapa dong?" tanya Eni.
"Enggak tau, Bi. Mungkin karena Tania mau datang ke rumah itu lagi, kayaknya," jawab Tania.
"Iya. Bisa jadi. Tapi tenang aja. Ada Bibi sama Paman, kok," sahut Eni.
"Iya kan, Pak?" Eni melirik ke arah Danu yang dari tadi cuma diam menyimak.
Danu rupanya deg-degan juga. Padahal dia sudah beberapa kali datang ke rumah itu, setelah pulang narik angkot. Sekedar ngopi bareng anak buahnya Tono.
Kali ini Danu khawatir, kalau terjadi sesuatu lagi dengan Tania. Apalagi Tania mau ketemu dengan Rendi. Khawatirnya Sari tahu, dan kembali mendamprat Tania.
"Pak...!" panggil Eni.
"Eh, iya...Bu," sahut Danu.
"Enggak kok, Bu. Aku....enggak melamun," sahut Danu.
"Paman ngantuk?" tanya Tania.
"Enggak, Tania. Paman baik-baik aja," jawab Danu.
"Kalau Paman ngantuk, istirahat dulu aja. Ngopi dulu juga enggak apa-apa," ucap Tania.
"Masa cuma dari rumah ke sana aja pakai istirahat, sih," sahut Danu.
"Iya, kayak di jalan tol aja. Ngopi di rest area." Eni jadi ingat lagi perjalanan mereka ke luar kota waktu itu.
"Enggak apa-apa. Daripada kenapa-napa di jalan," sahut Tania.
"Udah, Paman enggak apa-apa kok." Danu berusaha meyakinkan Tania dan Eni.
Lalu mereka saling diam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Kecuali Eni, yang malah sibuk dengan ponselnya.
"Kamu ngapain sih, Bu?" tanya Danu dengan kesal. Danu melirik ke ponsel Eni. Dia sedang membuka aplikasi chat dan sibuk membalas chat orang.
"Ini, balesin chat pelangganku. Dia nanya kenapa salonnya tutup," jawab Eni dengan santai. Eni tak melihat wajah Danu yang bete.
__ADS_1
Bahkan suara Danu yang ketus saja, Eni tak menghiraukan.
"Ooh. Kirain," sahut Danu.
"Kirain apa? Aku selingkuh gitu?" tanya Eni.
"Hush! Kalau ngomong enggak disaring dulu," ucap Danu.
Padahal memang Danu merasa curiga pada Eni. Apalagi sekarang penampilan Eni berubah. Jadi makin cantik di mata Danu. Penghasilan Eni juga semakin banyak. Bahkan lebih banyak dari dia yang hanya jadi sopir angkot.
"Ya, lagian. Punya laki satu aja enggak abis-abis!" gumam Eni.
"Emangnya aku es krim apa? Yang kalau dijilati terus abis?"
"Nah, kan! Kamu yang ngomongnya enggak disaring. Ada Tania juga, malah ngomong jorok!" sergah Eni.
"Jorok apanya? Orang cuma ngomong es krim, kok jorok!" Danu tak mau disalahkan.
"Jangan dengerin omongan paman kamu, Tania!" ucap Eni. Dalam hati, ingin sekali Eni menutupi telinga Tania dengan tangannya.
"Udah denger, Bi. Orang paman cuma ngomong es krim, kok," sahut Tania.
Hadeh...! Eni menepuk jidatnya sendiri.
"Tuh, Tania aja enggak apa-apa, kok. Kamu heboh sendiri!" ucap Danu.
"Auk ah, Pak. Tuh, kan. Aku jadi lupa tadi chatnya sampai mana."
Eni membuka lagi aplikasi chatnya, dengan kesal. Danu hanya meringis saja.
Tak terasa mereka pun sudah sampai di pintu gerbang rumah Tono.
Sekilas Tania memperhatikan pintu gerbang itu. Saksi betapa besarnya cinta Rendi kepadanya. Sampai dia rela manjat dan akhirnya....
Tania menutup wajah dengan kedua tangannya. Dia seakan tak mau melihat pintu gerbang itu lagi.
"Ada apa, Tania?" tanya Danu. Dia melihat Tania dari spion mobilnya.
"Ah, enggak apa-apa, Paman." Tania pun melepaskan kedua tangannya.
Danu menghela nafasnya dalam-dalam. Dia paham, Tania pasti sangat tegang dan masih trauma.
"Sebentar, Paman telpon Diman dulu. Biar bukain pintu." Danupun menelpon Diman.
Dan tak lama Diman datang membukakan pintu gerbang. Danu membawa angkotnya masuk dan parkir di sebelah mobil Tono.
Dada Tania semakin deg-degan. Kakinya terasa sulit digerakan.
"Ayo turun," ajak Danu.
Dengan perlahan, Tania turun dari angkot.
Di teras rumah Tono, Rendi berdiri menatapnya dengan ditopang tongkat.
Mata Tania langsung berkaca-kaca melihatnya. Kakinyapun terasa semakin sulit digerakan.
__ADS_1
"Ren....di....!"
"Tania....!"