
Linda tersenyum nakal sambil memainkan lidahnya. Yahya berusaha sekuat mungkin menahan diri. Agar tak masuk dalam jebakan Linda.
Linda mengulurkan tangannya. Berusaha menggapai Yahya.
Tanpa sadar, Yahya juga mengulurkan tangannya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Matanya menatap tajam milik Linda yang seakan meminta untuk dimasuki.
Yahya mendekatkan diri...perlahan.
Dan saat tangan mereka mulai bersentuhan....
"Yahya....!"
Terdengar teriakan Tono dari bawah anak tangga.
Yahya langsung menarik tangannya dan berlari ke arah pintu. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Iya, Juragan....!" sahut Yahya.
"Cepat suruh keluar wanita pelacur itu!" seru Tono.
Astaghfirullah! Aku telah menyentuh barang milik pelacur. Sesal Yahya.
Yahya mengusap wajahnya dengan kasar. Kesadarannya mulai datang.
"Cepat bersiap dan kemasi pakaianmu! Jangan sampai juragan Tono ngamuk!" seru Yahya pada Linda.
Lalu dia bergegas turun. Dia tak mau sampai Linda menjebaknya. Bisa mati dia dirajam oleh Tono juga Asih.
"Dia sedang bersiap, Juragan!" ucap Yahya sambil terengah. Tadi dia berlari menuruni anak tangga.
"Baguslah. Aku tunggu di sini!"
Tono yang sudah kembali duduk, memesankan taksi online untuk Linda.
Tono mengetik alamat rumah orang tua Linda yang cukup jauh dari rumahnya. Bahkan cenderung ke batas kota.
Tono tak peduli berapapun biayanya. Yang penting, Linda bisa segera angkat kaki dari rumahnya.
Tono juga menelpon Wardi kembali. Tapi telponnya tak diangkat.
Tono hanya bisa menggeram kesal. Karena Wardi mengabaikan panggilannya.
Tak lama, Wardi datang kembali ke rumah Tono.
Tadi pagi Wardi sudah datang ke rumah Tono. Tapi terlambat, Tono pergi ke rumah sakit mengantar Rendi.
Lalu Wardi pergi lagi. Dia tidak ke markas ataupun ke kembali ke rumah sakit.
Dia malah nongkrong di warung kopi dekat rumah Tono.
Dan tadi, sepulang dari rumah sakit, Wardi ditelpon kembali oleh Tono. Tono menyuruh Wardi datang kembali ke rumahnya.
Wardi bergumam kesal, meski dilakukannya juga. Karena tak mungkin menolak perintah majikannya.
Wardi menelpon Tono saat dirinya sudah sampai di depan pintu gerbang.
"Yahya!" panggil Tono.
"Iya, Juragan!" sahut Yahya. Dia kembali ke ruang tengah.
"Bukakan pintu gerbang. Wardi datang!"
"Siap, Juragan!" Yahya langsung berlari keluar.
__ADS_1
Wardi pun segera menghadap juragannya.
"Ada apa, Juragan?" tanya Wardi.
"Kamu berjaga saja di teras rumah. Hari ini Linda mau pulang. Kamu antarkan dia. Pastikan dia sampai di rumahnya. Aku sudah pesankan taksi online!" jawab Tono.
"Baik, Juragan!" sahut Wardi dengan patuh.
Tono memberi tanda pada Wardi agar menunggu di teras.
Di kamar Tono, dengan malas Linda memakai pakaiannya. Tapi hanya pakaian ketat yang sedikit terbuka. Bahkan tanpa dalaman. Karena Linda tak berniat pergi.
Dia akan turun dan mencoba merayu Tono. Dia yakin Tono akan tergoda oleh penampilannya yang sangat seksi.
Linda turun dengan langkah anggun. Yahya yang mengintip dari ruangan lain, berkali-kali menelan ludahnya.
"Hay, Beib. Kamu mencariku?" tanya Linda tanpa merasa bersalah.
Tono mengangkat wajahnya.
Tono mengerutkan dahinya melihat penampilan Linda yang terkesan menantang dan menggairahkan.
Tapi sayangnya, Tono sedang tak berminat sama sekali.
Masalah keselamatan Rendi, sangat menyita pikirannya. Dia tak lagi bisa tergoda dengan keindahan seperti apapun.
Linda langsung duduk di pangkuan Tono. Tono segera menepisnya.
"Minggir! Apa-apaan, kamu?" hardik Tono.
"Beib....kamu tak menginginkannya?" tanya Linda dengan suara mendesah.
"Jangan coba-coba merayuku lagi! Aku jijik melihatmu!" jawab Tono dengan ketus.
Linda meliuk-liukan badannya sambil tangannya meremas dadanya.
Seperti biasanya, Linda juga memainkan lidahnya sendiri sambil mendesah.
"Dasar pelacur!" umpat Tono.
Linda tak peduli. Dia tetap menari.
Yahya yang terus melihatnya dari tempat persembunyian, membelalakan matanya. Jakunnya naik turun.
"Pelacur ini akan memuaskanmu lagi, Baby...!" ucap Linda. Dia menowel dagu Tono.
Tono memalingkan wajahnya. Sekarang Tono benar-benar merasa jijik melihat Linda.
"Ayolah, Baby....kita main di sini. Biar Yahya bisa melihat permainan kita," ucap Linda. Matanya melirik ke arah persembunyian Yahya.
Rupanya dia melihat Yahya sedang mengintipnya.
Yahya langsung menarik kepalanya, agar tak terlihat. Jantungnya seakan mencelos. Dia sangat takut kalau sampai Tono melihatnya mengintip.
"Jangan gila kamu!" sentak Tono.
"Aku memang gila, Beib. Kamu yang bikin aku gila. Ayo kita bermain gila," ajak Linda.
Linda kembali duduk di pangkuan Linda. Tono terus saja mengusirnya. Tapi Linda malah melingkarkan kedua tangannya di leher Tono.
"Lepas! Lepaskan tanganmu, Pelacur!" seru Tono.
Linda tak peduli. Dia malah berusaha mencari bibir Tono. Dia ingin menyumbat bibir Tono agar tak bisa berteriak lagi, dengan bibirnya.
__ADS_1
Tapi Tono terus berusaha menghindar. Bahkan tangan Tono mencengkeram mulut Linda dan menahannya agar tak bisa bergerak.
"Hhmmppfftt!" Linda tak bisa lagi bersuara.
Mereka sama-sama saling berjuang. Linda berjuang untuk melepaskan tangan Tono dari mulutnya. Dan Tono berjuang untuk lepas dari Linda.
Hingga akhirnya, dengan sekuat tenaga, Tono menghempaskan tubuh Linda hingga terpelanting ke lantai.
"Auwh! Sakit, Beib!" seru Linda.
Tin!
Tin!
Dari luar terdengar suara klakson mobil. Tono memastikan itu suara klakson dari taksi online yang dipesannya.
"Yahya!" panggil Tono.
Yahya ketakutan. Dia pikir, Tono mengetahuinya bersembunyi.
"I...Iya, Juragan," sahut Yahya dengan jantung terasa mau lepas.
"Wardi....!" Tono pun memanggil Wardi.
Wardi yang sedang merokok, segera mematikannya. Lalu berlari ke dalam.
"Iya, Juragan!" sahut Wardi.
"Bawa pergi wanita sialan ini. Taksi yang aku pesan sudah datang!" perintah Tono.
"Aku enggak mau pergi dari sini, Beib," ucap Linda.
Tono tak mempedulikannya.
"Beib!" Linda yang sudah kembali berdiri, berusaha mendekat ke arah Tono.
"Wardi! Seret wanita pelacur ini!"
"Siap, Juragan!" Wardi segera mendekati Linda.
"Yahya! Bantu Wardi menyeretnya!" ucap Tono pada Yahya.
"Siap, Juragan!" Yahya pun membantu Wardi menyeret Linda keluar.
"Aku enggak mau pergi! Beib! Aku enggak mau pergi!" teriak Linda sambil terus meronta.
Tapi percuma saja. Kekuatan tenaga dua lelaki itu jauh lebih kuat.
Linda hanya bisa menolehkan kepalanya, sambil terus memohon pada Tono.
Tapi Tono sudah mengabaikannya.
Asih yang mendengar kegaduhan di bawah, keluar sebentar dari kamar Tania. Dia mengintip dari anak tangga.
Asih bernafas lega, akhirnya Linda bisa keluar juga dari rumah Tono. Meskipun dengan cara tragis.
"Beib! Jangan usir aku, Beib! Jangan usir aku!" suara Linda terus saja terdengar.
Wardi dan Yahya terus menyeret Linda hingga masuk ke dalam mobil.
"Kamu ikut aku saja, Yahya. Menemaniku!" ucap Wardi setelah berhasil membawa masuk Linda.
"Kamu saja. Nanti juragan marah kalau aku ikut," sahut Yahya. Meskipun dalam hati ingin sekali.
__ADS_1
"Ya sudah. Aku pergi dulu. Lumayan, rejeki buatku. Meski barang rongsok! Hahaha."