HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 250 MILA PENASARAN


__ADS_3

"Enak aja rejeki orang sholeh! Mana jusnya!" seru Sri dari pintu dapur.


Yadi mengangkat gelas yang sudah kosong sambil nyengir, dengan mulut belepotan.


"Diabisin sendiri! Emang siapa yang bikin, coba?" Sri merasa sangat kesal pada Yadi.


"Kan yang dikasih sama bu Sari, aku," sahut Yadi.


"Tadi kan bu Sari udah bilang, bagi dua sama aku!" Sri tak mau kalah.


"Itu kalau kamu mau, Sri. Tadi kamu udah aku tawarin, diem aja. Diem berarti gak mau!" Yadi tetap tak mau disalahkan.


"Aku lagi nanggung, Yadi jelek! Bukannya sabar nungguin, malah diembat sendiri. Hhh!" Sri melengos dan kembali ke dapur.


Tapi kemudian balik lagi ke pintu.


"Gelasnya cuci sendiri!" Lalu Sri kembali masuk ke dapur.


"Yaelah, Sri. Timbang nyuciin satu gelas doang, apa susahnya sih." Yadi ikut masuk ke dapur.


"Bodo amat! Pokoknya cuci sendiri!" ucap Sri dengan ketus.


"Kalau pecah gimana? Aku kan enggak pernah nyuci gelas," tanya Yadi.


"Usahalah. Gimana caranya biar enggak pecah. Orang lain aja bisa, masa kamu enggak bisa." Sri tetap tak mau mencucikan gelas bekas Yadi.


"Sri...tolonglah. Cuma satu kok. Ya? Kamu cantik deh, Sri." Yadi mencoba merayu Sri.


"Gak usah ngegombal deh. Kalau ada maunya aja, muji-muji aku. Basi!" ucap Sri.


"Aku enggak ngegombal, Sri. Ini beneran. Kamu cantik banget hari ini." Yadi terus saja memuji Sri demi sebuah gelas.


"Kau cantik hari ini...dan aku suka..." Sari menyanyikan sebuah lirik yang baru saja diucapkan oleh Yadi.


Spontan Yadi dan Sri berhenti saling debat dan menoleh ke arah Sari.


"Kalian kayaknya memang cocoknya dikawinin aja, ya," ucap Sari.


"Mau, Bu. Mau, Bu!" sahut Yadi sambil tertawa ngakak.


Wajah Sri langsung berubah geram.


"Enak aja! Emangnya kamu bisa kasih makan aku? Buat istri dan anak-anakmu aja, masih sering ngutang aku, kok!" ucap Sri dengan kesal.


"Kan biar lebih gampang lagi ngutangnya. Iya kan, Bu?" Yadi semakin ingin menggoda Sri.


"Enak aja!" Sri langsung nyamber. Buat kebutuhannya dan anak serta orang tuanya di kampung aja, masih kurang.


"Kalau mau punya istri dua, ya harus kuat nafkahi keduanya dong," sahut Sari.


"Tuh! Dengerin!" Sri senang merasa dibela Sari.


"Jadi kalau Yadi bisa nafkahin keduanya, kamu mau Sri?" tanya Sari. Tentu saja bermaksud menggoda Sri.

__ADS_1


Sari tak akan pernah mentolerir poligami, apapun alasannya. Karena itu pasti akan sangat menyakitkan buat istri pertamanya.


"Enggaklah, Bu. Kayak enggak ada laki lain aja di dunia ini!" jawab Sri.


Saat ini Sri lagi fallin in love pada Yusuf. Mantan pacarnya saat SMP dulu.


"Halah...! Kalau aku punya mobil, kamu juga enggak akan nolak. Iya, kan?" ledek Yadi.


"Mobil tamiya? Apa mobil legend?" Sri tak mau kalah.


"Loh..nasib orang siapa yang tau, Sri," ucap Yadi.


"Masalahnya itu tadi. Enggak ada yang tau!" sahut Sri.


Sari terpingkal-pingkal mendengarnya. Kadang candaan-candaan ringan seperti itu, mampu membuat Sari bahagia dan melupakan masalah hidupnya.


"Kalian ini. Kalau memang cinta, udah jadiin aja," ucap Sari setelah puas ketawa.


"Bungkus...!" sahut Yadi.


"Emangnya gado-gado, dibungkus?" Sri menyahut dengan kesal.


"Iya. Punya kamu aku kasih karet dua deh. Special, pake telor! Hahaha." Yadi tergelak.


"Tuh, Sri. Mau dikasih telor ama Yadi. Berapa, Yadi?" tanya Sari pada Yadi.


"Dua, Bu. Buat Sri semua deh. Biar puas dia. Hahaha." Yadi kembali tergelak.


"Iih, Bu Sari mah, malah belain pak Yadi mulu!" Sri cemberut karena merasa tak dibela.


"Bukan belain Yadi, Sri. Cuma ngompor-ngomporin aja. Hehehe." Sari kembali terkekeh.


"Sama aja, Bu...! Iih...!" Sri menghentak-hentakan kakinya di lantai, kayak anak kecil.


Dan sikap Sri semakin membuat Sari dan Yadi ingin terus membully-nya.


"Sri cantik, cuciin gelasku, ya." Yadi meletakan gelasnya di wastafel tempat cuci piring.


"Iya, Sri. Sekalian nih, punyaku." Sari memberikan gelas bekas jusnya. Yadi yang menerimanya.


"Nah, kan. Ada barengannya," ucap Yadi.


"Enak aja! Cuma punya bu Sari aja. Titik!" Sri tetap menolak.


"Sri. Sekali-kali berbakti sama calon suami dong." Sari terkekeh sambil melangkah masuk kembali ke ruang tengah.


Yadi pun kembali ke halaman belakang. Meninggalkan Sri yang makin cemberut.


Di halaman belakang, Yadi banyak menanam tanaman yang bisa dikonsumsi.


Sari sering membelikan benih dan pupuk. Dan hasilnya kalau berlebih, biasanya dia bagi-bagi ke tetangga juga Yadi.


Kalau Sri jelas tak mungkin dikasih, karena rumah orang tuanya di kampung. Dan di sana kata Sri, orang tuanya sudah menanam sendiri.

__ADS_1


Sari masuk ke kamarnya dan meneruskan tidur siangnya. Dia sejenak melupakan keberadaan Rendi dan Tono.


Sri pun kembali pada kegiatannya memasak di dapur. Sari memintanya memasak yang spesial buat Rendi dan Tono.


Sementara Tono terbangun dari tidurnya. Siang ini dia puas tidur tanpa gelisah, akibat mengkonsumsi obat yang diberikan Mila.


Obat yang tadi diambil Eni di rumah sakit. Resep dari dokter.


Perlahan Tono bangkit dari tidurnya. Kepalanya sudah kembali normal. Tidak pusing lagi kayak tadi.


Perlahan juga Tono berjalan ke ruang tamu. Ruangan dimana Tania, Rendi, Eni dan Mila berkumpul.


"Papa...!" Rendi melihat Tono lebih dulu. Karena posisi duduknya menghadap ke arah kamar Tania.


Semua orang pun ikut melihat ke arah Tono yang sedang berjalan tertatih. Tono berjalan sambil berpegangan pada dinding.


Mila langsung sigap menghampiri.


"Saya bantu, Pak," ucap Mila. Dan tanpa diminta lagi, Mila menggandeng lengan Tono.


Sebenarnya Tania juga merasa kasihan pada Tono. Tapi dia masih merasa kikuk berhadapan langsung dengan Tono. Apalagi untuk menyentuh lengannya.


Perlahan Mila membimbing Tono duduk di kursi bekasnya.


"Gimana kondisi, Papa?" tanya Rendi pada Tono.


"Udah enakan, Ren. Kepala Papa agak entengan. Tapi badan rasanya lemas," jawab Tono.


"Iya. Soalnya pak Tono tadi makan cuma sedikit. Sekarang makan lagi, ya? Saya ambilkan." Mila menawari Tono.


"Enggak usah, Mil. Nanti saja di rumah. Mamanya Rendi pasti sudah nyiapin makan buat kita," sahut Tono.


"Itu kan nanti, Pak. Lagi pula jam segini, bu Sari pasti masih di toko. Pak Tono makan dulu, ya? Sedikit enggak apa-apa," ucap Mila.


Karena perut Tono juga lapar, Tono mengangguk. Mila pun pamit ke dapur. Eni mengikuti Mila. Dia akan mengambilkan makanan untuk Tono.


"Kamu telaten amat ngurusin, Tono?" tanya Eni pada Mila pelan di dapur.


"Kasihan, Tante. Kalau Tante mau tau, pak Tono itu disia-siakan sama bu Sari," bisik Mila.


Mila pun tak mau Rendi mendengarnya. Meskipun Rendi sudah tau itu.


"Biarin aja. Kapok kan dia sekarang?"


Mila menatap wajah Eni. Dia heran, kenapa Eni malah sepertinya membenarkan Sari.


"Kamu belum tau ceritanya sih. Kapan-kapan aku ceritain," ucap Eni. Membuat Mila jadi penasaran.


"Memangnya ada apaan, Tante?" tanya Mila.


" Tono lagi panen karma karena perbuatannya. Kena batunya dia," jawab Eni.


Tentu saja jawaban Eni, membuat Mila makin penasaran.

__ADS_1


__ADS_2