HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 256 KLARIFIKASI


__ADS_3

Monica yang sudah sangat kesal, akhirnya melangkah keluar. Tanpa pamit.


Dasar tamu enggak ada sopan-sopannya. Keluar masuk seenaknya. Memangnya rumahku pasar apa? Gerutu Eni dalam hati.


Kalau Tania malah senang Monica pergi. Dia sudah eneg melihat Monica dan segala omong kosongnya.


Baru saja Monica sampai di teras, Danu muncul. Wajahnya terlihat kusut.


Danu terkesima melihat Monica dengan pakaian minimalisnya. Bagaimana tidak, dada yang membusung tinggi dengan isi yang nyaris menyembul. Dan rok mini yang membuat Danu menelan ludahnya.


Baru saja Danu mengagumi keindahan ciptaan Yang Maha Kuasa, mata Eni sudah melotot.


"Ehem!" Eni berdehem kencang.


Reflek Danu mengalihkan pandangannya.


Mati aku!


"Masuk!" seru Eni. Yang tentu saja ditujukan pada Danu.


"I...Iya, Bu," Danu pun ngeloyor masuk.


Monica tersenyum puas. Dia mampu membuat Danu yang diketahui Monica sebagai pamannya Tania, terpesona padanya.


Dan lebih puas lagi, karena Eni terdengar marah melihatnya. Dan dengan gaya bak peragawati murahan, Monica melenggang pergi.


Dalam hati Eni, ingin rasanya melempar Monica dengan apa saja yang ada di depannya.


Tapi Eni tak melakukannya. Bukan karena tak berani. Eni merasa tak punya cukup alasan. Eni tak mau kejadian kayak tadi lagi.


Tania masuk kembali ke ruang tamu, Eni pun menyusul. Danu sudah duduk manis di sana. Dia sudah siap dengan ocehan Eni, gara-gara matanya tadi menangkap pemandangan indah.


Eni duduk di samping Danu. Dada Danu sudah berdegup kencang.


Bakal ngamuk ini kayaknya. Bisa jadi tanganku dicakar-cakar. Danu langsung menarik tangannya, menjauh dari Eni.


"Tania. Bibi mau nanya sama kamu," ucap Eni.


Tania mengangguk.


"Iya, Bi," sahut Tania.


Danu merasa agak lega.


Kayaknya ada masalah lain, ini. Syukurlah, aku tak jadi pelampiasan kecemburuannya. Batin Danu.


Tania sudah siap dengan jawaban. Karena dia sudah bisa menebak apa yang akan ditanyakan oleh Eni.


"Kenapa kamu tadi diem aja?" tanya Eni.


Tania mengerutkan keningnya.


"Loh, memangnya Tania mesti gimana, Bi?" Tania malah balik bertanya.


"Ya gimana kek. Marah kek. Nyakar-nyakar si wanita sialan itu kek," jawab Eni.


"Ngapain? Sayang-sayangin kuku Tania aja, Bi," sahut Tania.

__ADS_1


Eni makin tak mengerti dengan sikap Tania. Kalau dia, bakalan ngamuk-ngamuk ada wanita ngaku hamil dengan pasangannya.


"Kalian ngomongin apaan?" tanya Danu tak mengerti.


"Itu wanita tadi. Siapa namanya, Tania?" tanya Eni pada Tania.


"Monica, Bi," jawab Tania.


"Iya. Monica itu ngaku katanya dia...." Eni menatap wajah Tania yang duduk di depannya.


Tania mengangguk. Biar saja Eni menceritakan soal Monica pada Danu.


"Jadi gini, Pak. Monica itu ngaku, katanya hamil anaknya Rendi," ucap Eni.


"Apa?" Danu sangat terkejut mendengarnya. Bagaimana tidak, dia baru saja mengantar Rendi pulang. Dan yakin seyakin-yakinnya kalau cinta Rendi hanya untuk Tania.


"Denger dulu Paman, Bibi. Jangan dengerin omongan Monica. Dia cuma mengada-ada aja," ucap Tania.


"Tapi test pack itu?" tanya Eni pada Tania.


"Test pack apa?" tanya Danu.


"Tadi si Monyet itu bawa test pack. Dan hasilnya positif," jawab Eni.


Danu menatap Tania. Meminta penjelasan, meski bukan Tania pelakunya.


"Monica, Bi." Tania membetulkan panggilan dari Eni untuk Monica.


"Monica kek. Enggak monicah kek. Itu wanita paling menyebalkan," sahut Eni dengan kesal.


"Menyebalkan mana sama wanita yang tadi dilempar sandal sama Bibi?" ledek Tania.


Wajah Eni langsung merona. Danu pun terkekeh mengingat kejadian itu.


Eni langsung mencubit lengan Danu dengan kencang.


"Auwh! Sakit, Bu!" teriak Danu sambil menjauhkan lengannya.


"Yang sakit itu aku, Pak. Sakitnya tuh di sini!" Eni menepuk dadanya sendiri.


"Kayak lagu dangdut aja, Bi," ucap Tania.


Meski Tania tak paham lagu dangdut, tapi telinganya cukup akrab dengan lirik itu. Karena kalau ada orang hajatan, lagu itu sering terdengar.


Eni langsung cemberut mendengarnya. Dia lagi serius malah Tania ngajak bercanda.


"Udah, sekarang kembali ke soal Monica itu. Ada apa sebenarnya dengan dia?" Danu masih menginginkan klarifikasi tentang Monica.


Eni pun kembali fokus pada Tania.


"Monica cuma ngarang cerita itu, Bi. Dan soal test pack itu, memangnya ada tandanya kalau itu benar-benar milik Monica? Atau ada tanda kalau itu benar-benar anaknya Rendi?" tanya Tania pada keduanya.


"Ya jelas enggak ada dong, Tania. Kamu ini gimana sih! Sekarang kamu minta klasifikasi dari Rendi!" ucap Eni dengan gaya sok cerdas.


"Klarifikasi, Bi," ucap Tania membetulkan.


"Ya, pokoknya itulah. Sana!" Eni tak mau kalau ternyata Tania tertipu.

__ADS_1


"Rendi udah pernah bilang sendiri ke Tania, Bi. Kalau dia belum pernah melakukannya dengan Monica," sahut Tania.


"Biar kami yakin, lebih baik sekarang kamu minta penjelasan pada Rendi. Biar kami dengar sendiri omongan Rendi," ucap Danu.


Bukannya Danu tak percaya pada omongan Tania. Tapi dia ingin dengar sendiri dari Rendi.


Tania menghela nafasnya. Mau enggak mau, dia harus menuruti kemauan paman dan bibinya. Biar mereka tak terus mencurigai Rendi.


"Hallo, Rendi," sapa Tania di telepon.


"Iya, Sayang," sahut Rendi dengan sangat senang. Di saat hatinya sedang kacau karena ucapan mamanya, orang yang sangat dicintainya telepon.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Tania basa-basi dulu. Tidak enak juga kalau langsung ke pokok permasalahan.


"Lagi duduk di ruang tamu sama papa." Rendi melirik ke arah Tono yang sedang memperhatikan Rendi telpon.


"Om Danu udah sampai?" tanya Rendi.


"Udah, Ren. Baru aja. Terus ketemu sama Monica," jawab Tania. Kesempatan Tania untuk membicarakan tentang Monica.


"Ketemu Monica? Dimana?" tanya Rendi terkejut.


Tono pun ikut terkejut mendengar nama Monica. Dan Tono memberi kode pada Rendi untuk mengaktifkan speakernya.


Rendi pun menurut. Dia aktifkan speakernya.


"Barusan Monica datang ke rumah. Dia...." Tania menjeda kalimatnya. Matanya menatap Eni dan Danu.


Tania pun mengaktifkan speakernya, biar Eni dan Danu dengar pembicaraannya dengan Rendi.


Paman dan bibinya itu memberi tanda agar Tania meneruskan omongannya.


"Dia ngapain Tania?" tanya Rendi dengan khawatir.


Rendi yakin kalau Monica pasti bikin masalah di rumah Tania.


"Dia bilang....lagi hamil," jawab Tania.


"Hamil?" tanya Rendi.


"Iya. Dia bawa test pack yang udah dipakainya. Hasilnya positif," jawab Tania.


"Lah. Kamu yakin itu test pack miliknya?" tanya Rendi lagi.


Tania kebingungan menjawabnya. Eni dan Danu pun saling berpandangan.


"Aku enggak tau, Rendi," jawab Tania apa adanya.


"Dan kamu percaya omongan Monica?" tanya Rendi.


Tono yang mendengarnya, menahan nafas. Dia khawatir akan ada salah paham antara Rendi dan Tania.


"Enggak sih. Cuma...." Tania kembali menatap paman dan bibinya.


"Cuma apa, Tania?" Rendi kembali bertanya.


"Paman dan bibi ingin dengar langsung dari kamu," jawab Tania.

__ADS_1


Hhh! Rendi menghela nafasnya.


Tono merasa lega. Kalau soal Danu dan Eni, bukanlah masalah besar. Dia akan menyelesaikan secepatnya.


__ADS_2