HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 288 TAK PUNYA NOMOR KONTAK


__ADS_3

"Oh....Maaf, Dit." Tania buru-buru menjauhkan diri dari Dito.


Tapi karena terlalu terburu-buru, Tania kembali terpeleset. Dan sekali lagi Dito meraih tubuh mungil Tania.


Tentu saja kesempatan itu tak disia-siakan oleh sang paparazi. Hingga mendapatkan banyak gambar yang lebih hot lagi.


"Hati-hati Tania. Ini licin banget." Dito membantu Tania berdiri tegak agar tak kembali jatuh.


Lalu memapah Tania keluar dari tempat yang selain licin juga bau.


Sebenarnya Tania tak betah berlama-lama. Tapi karena kebutuhan yang sangat mendesak, Tania terpaksa menahan bau yang menyengat hidung.


"Makasih, Dit. Kalau enggak ada kamu, aku pasti udah jatuh beneran," ujar Tania.


"Itu tugasku, Tan. Kan si bayi semok itu belum bisa melaksanakan tugasnya. Hehehe." Dito terkekeh.


"Kenapa sih kamu selalu menyebut Rendi bayi semok? Dia kan enggak gendut," protes Tania.


"Enggak apa-apa. Biar seru aja. Kamu juga tau sendiri kan, gimana Rendi kalau ngatain aku. Kita baik-baik aja, kok. Santai," sahut Dito.


Dito berusaha meyakinkan Tania kalau antara dirinya dengan Rendi, tak pernah ada niat jelek dengan saling mengatai.


"Itu tanda kasih sayang kita, Tan. Mungkin orang lain menganggap aneh. Tapi bagi kita mah biasa aja," lanjut Dito.


Tania mengangguk mengerti. Sejak SMA dulu, Tania tahu kalau Rendi dan Dito sangat akrab. Meski Tania tak pernah tahu bagaimana mereka saling berkomunikasi.


Karena Rendi sedikitpun tak pernah meliriknya. Justru Dito lah yang selalu memberikan perhatiannya pada Tania.


"Iya. Aku paham kok, Dit. Cuma heran aja dengan panggilan itu. Masa orang....Eh, enggak." Tania menutup mulutnya dengan tangan.


Dia hampir saja keceplosan memuji Rendi. Bagaimanapun, Tania menghargai perasaan Dito. Walaupun kini Dito sudah bahagia bersama Mike.


"Orang ganteng kayak Rendi? Hahaha." Dito langsung bisa menebak.


Wajah Tania langsung merona.


"Justru biar dia enggak sombong. Paling enggak, aku jatuhin dikitlah biar enggak ketinggian. Hehehe," lanjut Dito sambil kembali terkekeh.


Siapapun mengakui kalau Rendi memang ganteng maksimal. Bahkan Dito sebagai sahabatnyapun mengakuinya.


Dan panggilan bayi semok itu bukan karena Dito iri, tapi Dito tak mau Rendi jadi tinggi hati.


"Ada-ada aja kamu, Dit," ucap Tania.


"Tadi kalian beneran liat Monica?" tanya Dito sambil terus berjalan di sebelah Tania.


"Iya. Tapi pas aku dan Rendi melihat ke arahnya, dia terus kabur. Berbaur sama kerumunan orang di pinggir pantai," jawab Tania.

__ADS_1


"Kok kalian bisa tau, kalau ada Monica?" Dito merasa penasaran.


"Bibi yang ngasih tau. Sebelum gabung ama kita-kita tadi, bibi melihatnya," jawab Tania.


"Sama tante Eni enggak diapa-apain tuh, si Monica?" tanya Dito.


Dito tahu karakter Eni yang super galak kalau ada yang nyenggol keluarganya. Apalagi nyenggol Tania.


Dito jadi ingat kejadian saat di kelas satu dulu. Awal dia mengenal Tania.


"Kok kamu malah senyum-senyum, sih?" tanya Tania.


Tania belum sempat menjawab pertanyaan Dito tadi. Tapi Dito malah senyum-senyum.


"Aku inget kejadian beberapa tahun yang lalu. Waktu kita masih kelas satu SMA," jawab Dito.


Tania mengerutkan keningnya.


"Yang mana?" tanya Tania tak mengerti.


"Kita beli es jus dulu yuk. Aku haus. Nanti aku sambil cerita soal itu," ajak Dito. Dia menunjuk ke sebuah kedai jus di pinggir jalan.


Tania yang merasa kehausan, mengangguk. Jusnya yang tadi dia pesan lewat Diman, dihabiskan oleh Eni.


"Kamu mau jus apaan, Tan?" tanya Dito setelah sampai di depan kedai.


"Jangan banyak-banyak esnya, kan?" potong Dito.


Dito sudah hafal kebiasaan Rendi. Mana mau dia minum terlalu banyak es. Bisa pilek katanya.


Tania mengangguk sambil tersenyum.


Dito memang sahabat sejati. Tahu semua kebiasaan Rendi. Dan sangat memakluminya. Meski tak jarang membully. Karena kadang kebiasaan Rendi diluar nalar orang dewasa.


"Aku juga pesan dua. Satunya buat ibu negara," ucap Dito. Lalu dia memesan empat jus pada penjualnya.


"Duduk dulu, Tan. Kita nunggu jusnya jadi." Dito mengambilkan kursi untuk Tania.


"Makasih, Dit," ucap Tania.


Sejak mereka sekolah bareng, Dito memang selalu baik padanya. Malah boleh dibilang selalu melindunginya.


Tapi sayangnya Tania tak pernah naksir Dito. Bahkan menolak saat Dito menembaknya. Karena hati Tania sudah diberikan untuk Rendi. Meskipun saat itu masih bertepuk sebelah tangan.


"Mana katanya mau jawab pertanyaanku," ucap Tania menagih janji Dito.


"Oh iya. Aku inget kejadian saat kelas satu. Waktu itu ada seorang anak lelaki, kalau enggak salah Rudi. Yang sering gangguin kamu di kelas, bahkan sampai kamu pulang sekolah," sahut Dito.

__ADS_1


Degh.


Tania jadi ingat sosok Rudi. Lelaki kawan lamanya yang ketemu dengannya di mall, waktu dia dan Asih jalan berdua.


Bukan cuma berdua sih, karena sebenarnya ada Tajab dan Linda istri barunya Tono, yang pergi entah kemana.


Waktu itu Rudi yang duluan menyapa. Dan Tania lupa-lupa ingat. Tapi kenapa justru Dito yang mengingatnya? Batin Tania.


"Rudi...!" gumam Tania.


"Iya, Rudi. Kamu ingat?" tanya Dito.


"Aku malah pernah ketemu dia, Dit," ucap Tania.


"Oh ya? Dimana? Masih hidup dia?" tanya Dito dengan raut wajah senang.


"Hush! Ngaco aja kamu!" sahut Tania.


"Enggak, soalnya dia itu kayak ngilang setelah lulus sekolah. Banyak teman yang kehilangan dia. Termasuk aku," ucap Dito.


"Kamu ketemu dia dimana, Tan?' tanya Dito.


"Di mal. Dia kayaknya punya usaha sendiri di sana, kok," jawab Tania.


"Punya usaha sendiri? Usaha apa?" tanya Dito tak percaya.


"Kedai selluler di mal. Aku pernah ditolonginnya. Kalau enggak salah, aku masih nyimpen nomornya, kok," ucap Tania. Lalu Tania mrmbuka kontak di ponselnya.


"Sini kirim ke aku. Dan kalau sudah, kamu hapus aja tuh nomornya Rudi. Daripada nanti bermasalah dengan Rendi," ucap Dito.


"Loh, memangnya kenapa?" tanya Tania tak tahu.


"Rendi itu benci banget ama Rudi. Malah mereka pernah berantem. Takutnya kalau kamu simpan nomornya Rudi, Rendi malah menuduhmu macam-macam," jawab Dito.


"Tapi Rudi enggak pernah menghubungiku lagi, kok. Beberapa kali dia menghubungi, aku abaikan. Mungkin dia tersinggung," sahut Tania.


"Nah, apalagi Rudi pernah menghubungi kamu. Bisa berubah jadi satria baja hitam, kalau Rendi tahu," ucap Dito.


Tania masih belum yakin dengan omongan Dito. Tapi mau ngeyel juga percuma. Karena Dito lah yang lebih tahu, daripada dirinya.


"Udah sini kirimin nomornya Rudi," ucap Dito.


"Ngirimnya gimana?" tanya Tania dengan polosnya.


"Kirim ke nomorku, Tania...!" jawab Dito dengan gemas.


"Aku kan enggak tau nomor kamu, Dit," sahut Tania.

__ADS_1


Dito menepuk jidatnya sendiri. Dia lupa sejak Tania ganti nomor, tak pernah lagi berhubungan dengannya.


__ADS_2