HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 142 TONO PINGSAN


__ADS_3

Dito keluar dari kamar Rendi. Dia menyambut Sari sebelum masuk ke kamar Rendi.


"Oh, Tante. Kebetulan ketemu," sapa Dito.


"Dito...! Kapan kamu datang?" tanya Sari.


"Barusan, Tante. Rendinya malah minta dibeliin buah," jawab Dito. Dia berharap Sari segera mengajaknya keluar ke kios buah.


"Oh iya. Tante malah kelupaan mau beli buah," ucap Sari.


"Kalau begitu mau saya antar ke kios buah?" Dito menawarkan diri.


"Boleh. Apa Dito yang beli aja?" tanya Sari yang kelihatannya malas keluar lagi dari rumah sakit.


"Tapi saya enggak bisa nawar harganya, Tante. Saya juga kurang bisa milih. Takutnya dibohongin sama penjualnya," jawab Dito.


Sari berpikir sejenak.


"Ya udah. Kalau begitu, Tante taruh ini dulu." Sari memperlihatkan paper bag yang dibawanya.


"Biar saya yang naruh. Tante nunggu di sini aja." Dito buru-buru meraih paper bag yang dibawa Sari.


Dito pun segera masuk ke kamar Rendi.


"Ayo siap-siap. Aku mau anter mamanya Rendi ke kios buah di seberang rumah sakit. Kalian langsung masuk mobil," ucap Dito.


Tania dan Mike mengangguk.


Dito pun buru-buru keluar lagi, sebelum Sari masuk.


"Ayo, Tante." Dito menarik tangan Sari. Kelihatannya Sari sudah mau masuk ke kamar Rendi.


"Rendi gimana tadi?" tanya Sari, sambil berjalan.


"Udah enakan katanya, Tante. Tante sendirian aja?" tanya Dito.


"Iya. Mungkin nanti sore baru papanya Rendi datang. Lagi banyak urusan," jawab Sari.


Dito terus saja mengajak Sari bicara.


Sementara Mike mengintip keluar. Sari dan Dito sedang berjalan membelakanginya, semakin menjauh.


"Ayo Tania. Buruan!" Mike memberikan tanda dengan tangannya. Matanya terus saja mengamati Sari dan Dito.


"Ren. Aku pergi dulu, ya. Nanti kabari aku kalau mama kamu sudah pulang," ucap Tania pada Rendi.


"Iya. Kamu ati-ati, ya," sahut Rendi.


Tania mengecup pipi Rendi sekilas.


Cup.


"Makasih, Tania," ucap Rendi.


Tania pun segera memakai maskernya dan mengikuti Mike keluar. Mereka menuju parkiran mobil.


Sementara rombongan Danu yang tadi keluar dari perumahan tempat tinggal Mike, kembali melanjutkan pencarian.


"Kita kemana lagi?" tanya Diman.

__ADS_1


"Enggak tau. Tania kayaknya enggak punya teman akrab lagi," jawab Eni.


"Terus kita kemana?" tanya Diman bingung.


"Apa kita ke rumah Tono aja?" tanya Danu.


"Mau ngapain ke sana? Paling kita disuruh nyariin lagi. Percuma kan?" sahut Diman.


"Udah, enggak apa-apa. Aku mau minta pertanggung jawaban si Tono," ucap Widya.


"Pertanggung jawaban apa?" tanya Eni.


"Ya dia harus tanggung jawablah. Tania sampai kabur gitu, kok," jawab Widya.


"Kalau itu, nanti aku dong yang disalahkan. Kan aku yang disuruh jagain Tania," ucap Diman.


"Lagian elu, jagain Tania aja kagak becus! Elu pasti molor!" sahut Danu.


"Eh, sembarangan aja. Gue jagain pintu gerbang depan. Tanianya malah kabur lewat belakang. Jangan salahin gue, dong!" Diman membela diri.


"Lah, terus gue mesti salahin siapa?" tanya Danu.


"Salahin tuh si Asih. Dia kan yang ada di dalam rumah. Malah ditinggal berak lama banget. Ya kabur anak lu!" jawab Diman.


Tak sadar, mobil yang dikendarai Diman, mengarah juga ke rumah Tono.


"Ini bukannya jalan ke rumah Tono?" tanya Danu.


"Oh iya. Elu sih, ngajakin ngomong terus. Gue jadi kagak bisa konsentrasi!" Diman kesal, dan menyalahkan Danu.


"Elu mah, nyalahin gue mulu! Jelas-jelas elu yang bawa mobilnya. Dasar songong!" maki Danu.


Terpaksa Diman menuju ke rumah Tono yang tinggal beberapa meter lagi.


"Oh, ini rumahnya?" tanya Eni. Dia belum pernah melihatnya secara langsung. Hanya dari cerita Danu saja.


Widya pun ikut memperhatikan rumah Tono yang mewah dan megah.


"Gila tuh, si lintah darat. Rumahnya gede banget!" ucap Widya.


"Dia punya dua rumah persis seperti ini. Yang satunya ditempati bu Sari sama Rendi. Dia tinggal di sini sendirian," ucap Diman. Lalu menekan klaksonnya berkali-kali.


Yahya berlari membukakan pintu gerbang.


"Itu yang namanya Yahya. Jongos di rumah ini. Dia kerja di sini sama istrinya yang bernama Asih. Dia yang disuruh jagain Tania," ucap Diman.


Diman pelan-pelan masuk ke halaman rumah Tono.


"Itu ada motornya bu Sari. Apa dia ada di sini juga?" gumam Diman.


"Bu Sari?" tanya Widya.


Diman mengangguk. Dia sembari memarkir mobil, biar tak memghalangi motor Sari kalau mau keluar.


"Kebetulan kalau ada bu Sari. Biar kita bisa bicara baik-baik," ucap Widya.


Eni tersenyum senang. Dia tak perlu repot-repot menghadapi Sari sendirian.


Mereka semua keluar dari mobil. Danu berjalan di belakang Diman. Eni dan Widya mengikuti di belakang Danu.

__ADS_1


Di teras ada Yadi yang sedang merokok dan ngopi.


Danu yang merasa kenal dengan Yadi, menatapnya tak percaya.


"Elu Yadi, kan?" tanya Danu.


"Danu?" Yadi balik bertanya.


"Kok elu ada disini?" tanya Danu.


"Lah, elu ngapain juga kesini?" tanya Yadi juga.


Danu mendekat dan menyalami Yadi.


"Gue kan mertuanya si Tono!" ucap Danu.


"Beneran lu? Jadi elu orang tuanya Tania?" tanya Yadi.


"Iya. Ini bini gue. Ini kakak gue. Elu sendiri?" tanya Danu.


"Gue kerja ama bu Sari. Barusan gue nganterin juragan Tono. Mereka semaleman tidur di rumah sakit," jawab Yadi.


Widya dan Eni sudah duduk di kursi teras. Diman menyalakan rokok milik Yadi.


"Sekarang Tononya mana?" tanya Danu. Dia tak perlu seperti yang lain memanggil dengan embel-embel juragan. Meski usia Danu lebih muda, tapi posisinya sebagai bapak mertua Tono.


"Ada di dalem. Lagi istirahat kali. Mau ketemu?" tanya Yadi.


"Iyalah. Masa iya gue kesini mau ketemu elu doang?" sahut Danu.


"Yahya. Panggilin juragan elu, gih!" suruh Yadi.


Yahya tak menjawab, tapi langsung masuk ke dalam.


Yahya tak bicara apapun, karena dia belum kenal orang tuanya Tania. Meskipun dia dekat dengan Tania.


"Bu. Juragan Tono dimana?" tanya Yahya pada Asih yang lagi bersih-bersih.


"Barusan naik. Di kamarnya, kali," jawab Asih.


"Ada orang tuanya Tania. Kayaknya mereka mau jemput Tania. Atau gimana, aku enggak paham," ucap Yahya. Lalu segera naik ke lantai dua.


"Orang tuanya Tania?" gumam Asih. Lalu dia meletakan serbetnya dan segera keluar. Asih kepingin melihatnya.


Yahya mengetuk pintu kamar Tono.


"Juragan! Juragan! Ada yang nyariin!" ucap Yahya.


Tak ada jawaban dari dalam.


"Juragan! Juragan! Ada orang tuanya Tania!"


Yahya terus mengetuk pintu kamar Tono dan memanggil-manggil.


Karena tak juga dibukakan pintunya, Yahya mencoba membukanya sendiri. Dan ternyata pintunya tak dikunci.


Begitu pintu terbuka, Yahya mendapati Tono tergeletak di lantai.


"Juragan....!"

__ADS_1


__ADS_2