HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 208 TANIA PULANG, RENDI JUGA PULANG


__ADS_3

"Mana ada perut main dipindah-pindahin? Kamu pikir bakpao? Bisa dipindahin dari dandang ke perut kamu?" tanya Widya.


"Ya kan seandainya, Mbak. Lagian kenapa juga Tuhan malah ngasihnya anak ke mbak Lintang? Bukan ke aku yang udah kepingin banget dari dulu," sahut Eni.


"Enggak boleh begitu, En. Semua udah ada takdirnya sendiri-sendiri. Kalau semua bisa diatur manusia, aku juga maunya Lintang punya anak setelah menikah. Tapi ini? Mau gimana lagi coba?"


Widya seperti bertanya pada dirinya sendiri. Mau menyesal juga gimana? Karena semua udah terjadi.


Dan bukan salah Lintang juga. Dia hanya korban pemerkosaan.


Kesalahan Lintang cuma satu, kenapa tidak antisipasi sebelum dia terlambat datang bulan.


Tapi semua karena ketidak tahuan Lintang. Dia berpikir, enggak bakalan jadi. Karena baru melakukannya sekali.


Sedangkan Haryo dan istrinya sudah menikah hampir dua tahun. Dan mereka belum dikaruniai anak.


"Udah, buruan diabisin makanannya. Kalau udah kenyang, kita balik ke kamar. Nunggu Lintang," ucap Widya.


"Iya. Aku juga udah kenyang. Kepingin merokok juga," sahut Danu.


"Kamu mau merokok di mana?" tanya Widya.


"Di lantai atas. Di...apa namanya, Bu?" Danu lupa nama tempatnya.


"Roof top," jawab Eni. Dia masih sangat ingat dengan kata-kata itu.


"Emang bagus tempatnya, Bi?" tanya Tania.


"Bagus banget. Kemarin Bibi difotoin sama mbak Lintang di sana. Aduh, tadi Bibi lupa ngechas hape!" Eni menepuk jidatnya sendiri.


"Aku juga lupa, Bu," ucap Danu.


"Kalian itu, ngapain aja dari semalam di kamar? Sampai hape aja lupa ngechas?" tanya Widya.


"Olah raga, Bi?" ledek Tania.


"Semalam itu paman kamu kelaparan. Tengah malam kami keluar nyari makan. Jalan kaki sampai jauh. Ngelewatin tulisan yang ada lampunya itu," sahut Eni.


"Masa sih, Bi? Jauh dong?" Tania tak percaya.


"Iya, beneran. Malah Bibi sempet foto di dekat tulisan itu. Tapi sayangnya terus hapenya mati. Punya paman kamu juga mati. Hhh...!" Eni mendengus dengan kesal.


"Salah kamu, enggak ngontrol hape!" ucap Danu.


"Enak aja, nyalahin aku. Hape kamu juga mati!" Eni tak mau disalahkan.


"Sstt! Berisik mulu! Kasihan yang lainnya. Udah, ayo!" ajak Widya.


Eni pun beranjak dan berdiri. Diikuti Tania juga Danu. Mereka berjalan beriringan ke lift. Untuk naik lagi ke lantai teratas. Tempat kamar mereka.


Setelah sampai di lantai teratas, mereka tidak masuk ke kamar. Mereka mampir dulu ke roof top.


Bukan untuk menemani Danu merokok, tapi untuk menikmati pemandangan kota dari ketinggian. Sekalian foto-foto tentunya.


"Tania, sini Bibi fotoin kamu!" Eni meminta ponsel Tania.


"Memangnya Bibi bisa motoin yang bagus?" tanya Tania.

__ADS_1


"Ya kalau mesti bagus banget, enggak bisa. Tapi lumayanlah kalau sekedar buat kenang-kenangan," jawab Eni.


Tania pun memberikan iphone-nya.


"Bagus banget hape kamu, Tania," ucap Eni mengagumi ponsel Tania.


"Iya, kayak punyanya Tono. Gambarnya apel abis kegigit!" sahut Danu.


"Kan memang yang membelikan Tono. Udah lama juga. Tapi baru Tania pakai akhir-akhir ini," sahut Tania.


"Hhmm. Kamu mau difotoin di mana, Tania?" tanya Eni. Dia tak mau Tania jadi sedih kalau ingat tentang Tono.


Padahal tak ada lagi kesedihan atau kebencian di hati Tania, saat memyebut nama Tono.


Karena sebentar lagi, urusan pernikahannya dengan Tono bakal selesai, dan Tono akan menjadi bapak mertuanya.


Tania pun mulai ambil posisi untuk berfoto.


Klik.


Klik.


"Coba liat hasilnya, Bi." Tania meminta ponselnya.


Eni memperlihatkannya.


"Gimana, bagus enggak?" tanya Eni.


"Lumayan. Tapi kurang pas, Bi. Gini nih, biar pas." Tania mengajari Eni biar hasilnya lebih bagus.


"Ya. Bibi coba lagi." Eni mengangguk mengerti.


Klik.


Klik.


"Nih, liat hasilnya, Bi." Tania memperlihatkan hasilnya.


"Wah, keren. Enggak kalah sama hasil jepretan mbak Lintang," puji Eni.


"Lintang menuruni bakat bapaknya. Mantan bapaknya Lintang dulu juga jago memotret. Meski dia bukan photografer," ucap Widya.


"Enggak ada mantan bapak, Mbak. Yang ada mantan suami!" ucap Danu.


"Khusus buat Lintang, ada!" sahut Widya dengan ketus.


Widya sangat membenci mantan suaminya. Dan dia selalu menyebutnya mantan bapaknya Lintang. Karena mantannya itu, tak pernah lagi menafkahi Lintang setelah mereka berpisah.


Seperti halnya Santi dan Hadi. Mantan suami Widya pun tak pernah lagi ada kabar beritanya.


Danu hanya bisa diam. Dia paham bagaimana sakit hatinya Widya pada mantan suaminya.


Dan seperti pada Haryo tadi pagi, Danu pun sempat menghajar mantan suami Widya sampai babak belur, sebelum akhirnya dia menghilang.


"Bude mau foto juga?" tanya Tania pada Widya.


"Enggak, ah. Malu!" jawab Widya.

__ADS_1


"Malu kenapa, Bude? Kan cuma ada kita aja."


Widya menoleh ke ujung sana.


"Tuh, ada orang lain!" Widya menunjuk pada dua orang lelaki yang juga sedang merokok seperti Danu.


"Mereka kan enggal kenal kita, Bude. Ngapain mesti malu?" tanya Tania.


"Ayolah, Mbak. Buat kenang-kenangan. Besok-besok kan enggak akan kesini lagi. Mbak Lintang kan udah enggak kerja di sini lagi." Eni ikut memaksa Widya.


Widya yang tak begitu suka difoto, tetap menolaknya. Mentalnya di depan kamera, tak seperti Eni.


Danu pun sama. Dia juga tak begitu suka difoto. Tapi Eni selalu memaksanya.


"Ya udah, deh. Sekarang paman sama bibi aja. Ayo bergaya berdua, yang mesra," ucap Tania.


"Enggak! Enggak! Bibi kamu aja!" tolak Danu.


"Sebentaran aja, Paman. Ayolah. Bi, berdiri dekat paman!" seru Tania.


Tanpa menunggu disuruh dua kali, Eni pun mendekati Danu.


"Senyum dikit, kenapa sih, Pak!" Eni memaksa Danu tersenyum.


Dengan terpaksa, Danu tersenyum.


"Nah, gitu bagus!" Tania mulai mengambil gambar mereka berdua.


Setelah beberapa kali memotret mereka, Tania menarik tangan Widya.


"Sekarang kita selfie." Tania mengambil foto mereka berempat.


Dan saat ada seorang karyawan hotel melintas, Tania pu meminta tolong untuk memotret mereka.


Kalau bareng-bareng, Widya merasa lebih percaya diri. Dia bisa bersembunyi di belakang tubuh Tania.


"Mbak, ada telpon." Karyawan itu memberikan ponsel Tania.


"Siapa?" tanya Eni.


"Rendi, Bi," jawab Tania. Lalu dia pun menjauh dan menerima telpon dari Rendi.


Tania mengatakan kalau siang nanti mereka sudah akan pulang.


"Lho, kok cepet banget?" tanya Rendi.


"Iya, Ren. Ada masalah dengan mbak Lintang," jawab Tania pelan.


Rendi sudah tahu siapa Lintang. Tania sudah mengatakannya sebelum pergi.


"Ada apa dengan mbak Lintang?" tanya Rendi ikut khawatir.


"Nanti saja aku ceritain. Enggak enak kalau sekarang. Ada bude," jawab Tania sambil melirik ke arah Widya.


"Oke. Aku mau kasih kabar ke kamu, Tania. Hari ini aku juga mau pulang. Mama sama papa lagi mengurus administrasinya," ucap Rendi.


"Oh ya? Aku seneng banget, Rendi. Terus nanti siapa yang akan merawat kamu di rumah?" tanya Tania.

__ADS_1


Belum sempat Rendi menjawab, panggilan terputus.


__ADS_2