HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 37 SECARIK KERTAS UNTUK TANIA


__ADS_3

Eni bergegas ke kamar, mengemasi pakaiannya dan pakaian suaminya.


"Ayo, Pak. Keburu Rendi datang!" teriak Eni pada Danu yang sedang asik merokok.


"Merokoknya sambil jalan saja. Tania ayo cepetan!" seru Eni dengan panik.


Mereka bergegas ke parkiran angkot tanpa mempedulikan mata para tetangga yang menatap dengan heran.


"Bi, mereka pada ngeliatin kita," ucap Tania pelan yang digandeng Eni.


"Sudah jangan pedulikan mereka," sahut Eni yang terus menarik tangan Tania.


"Ayo naik...naik!" perintah Eni pada Tania. Mereka naik di belakang.


"Ngebut, Pak!" seru Eni.


"Iya, sabar Bu. Sudah aman," sahut Danu yang langsung tancap gas.


Ditengah perjalanan Tania melihat Rendi lewat mengendarai motornya.


Dia pasti akan ke rumah. Maafkan aku, Ren. Tania menundukan wajahnya.


"Ada apa?" tanya Eni.


"Tidak apa-apa, Bi." Tania mencoba tersenyum, agar bibinya tidak tegang.


Rendi memacu motornya dengan cepat. Bukan untuk menjemput Tania, karena acaranya masih nanti malam. Tapi karena Tania dari semalam tidak bisa dihubungi.


Rendi mengetuk pintu rumah paman Tania. Berkali-kali diketuk, tak ada jawaban.


"Mungkin orangnya lagi belanja. Hari minggu kan mau ada hajatan," sahut seorang bapak tua yang rumahnya di sebelah rumah pamannya Tania.


"Oh. Sudah lama, Pak?" tanya Rendi.


"Barusan saja. Kelihatannya mereka buru-buru perginya," sahut tetangga lainnya yang tadi melihat mereka pergi.


"Oh, begitu ya. Saya bisa titip pesan, Pak?" tanya Rendi.


"Bisa," sahutnya.


"Tolong bilang sama Tania, kalau Rendi barusan mencarinya." Lalu Rendi mengeluarkan uang lima puluh ribuan, dan diberikan pada pak tua itu.


"Terima kasih banyak, Nak. Nanti saya sampaikan pesannya," ucap pak Tua itu sambil memasukan uang itu di kantong celananya.


Rendi kembali memacu motornya. Rendi akan mencoba mencari Tania di pasar. Walau pun tidak mungkin ketemu, karena Tania tidak pergi ke pasar.


Sampai di pasar, Rendi memarkirkan motornya. Lalu memasuki pasar dan mulai mencari sosok Tania.


"Rendi! Kamu nyari siapa?" sebuah suara yang sangat dikenal Rendi, bertanya padanya.

__ADS_1


Rendi menoleh. Dan mendapati mamanya berdiri tak jauh darinya.


"Mama. Rendi lagi mencari Tania," jawab Rendi.


"Kenapa mencari Tania di sini? Ayo ke toko mama saja dulu," ajak Sari.


"Tadi tetangga Tania bilang, mereka mungkin pergi ke pasar. Karena hari minggu mereka mau mengadakan hajatan," ucap Rendi sambil mengikuti Sari ke toko batiknya.


"Kamu kan bisa menelponnya," ucap Sari sambil berjalan.


"Justru itu, Ma. Dari semalam nomor Tania tidak bisa di hubungi. Rendi mau mengingatkan kalau nanti malam Rendi mau menjemputnya jam tujuh." Rendi berusaha menghubungi nomor Tania lagi, tapi tetap belum aktif.


"Ya sudah. Kan acaranya nanti malam. Mama juga masih di sini. Kamu sudah makan, Ren?" tanya Sari.


"Belum, Ma. Rendi malas makan," jawab Rendi.


"Eh, kangen juga butuh energi Ren." Sari lalu memesankan bakso kesukaan anaknya.


"Nan, pesankan bakso kayak yang biasa Ibu bungkus. Tapi di mangkok saja. Anaknya ada di sini!" perintah Sari pada salah satu karyawannya.


"Baik, Bu." Nani bergegas pergi ke kios bakso langganan Sari.


"Ren, hari minggu Mama diundang teman. Kondangan. Katanya mau mantu anaknya." Sari duduk di sebelah Rendi. Di sebuah bangku plastik.


"Kamu temani Mama, ya? Papamu pasti tidak mau menemani. Eh, katanya anaknya itu baru saja lulus SMA. Sama kayak kamu. Katanya sih dapat laki-laki kaya. Pengusaha." Sari terus saja memohon pada Rendi.


"Iya, Ma. Di mana?" tanya Rendi. Dia memang sering menemani mamanya kondangan. Dan biasanya Sari akan memperkenalkannya pada teman-temannya.


"Jalan Mawar gang satu? Berarti dekat rumah Tania dong, Ma?" sahut Rendi.


"Oh ya? Kalau begitu nanti sekalian saja mampir. Biar mama kenal dengan orang tua Tania," sahut Sari.


"Paman dan bibinya, Ma." Rendi berusaha mengingatkan.


"Iya, sama saja. Mereka kan juga berarti orang tua Tania," sahut Sari.


"Eh, Ren. Kamu tau enggak kenapa Tania sampai diasuh oleh paman dan bibinya?" Sari mencoba mencari tahu tentang calon mantunya.


"Kata Tania sih, kedua orang tuanya menghilang entah kemana. Sampai sekarang tak pernah mencari Tania," sahut Rendi.


Bakso pesanan Rendi datang.


"Nih dimakan." Sari memberikan mangkok bakso pada anaknya.


"Mama enggak makan?" tanya Rendi.


"Mama baru saja makan. Pas ketemu kamu, Mama baru makan di kios atas," jawab Sari.


Rendi yang memang sedang lapar, langsung menyantap bakso kesukaannya.

__ADS_1


"Kok bisa ya, orang tua meninggalkan anaknya begitu saja. Untung ada paman dan bibinya. Kalau tidak, apa tidak jadi gelandangan tuh anak?" Sari masih saja membahas soal Tania.


Tapi Rendi malah lebih asik menikmati makanannya.


"Entahlah, Ma. Tapi Tania kelihatannya tak pernah memikirkan orang tuanya. Dia lebih sayang sama paman dan bibinya," ucap Rendi sambil terus menikmati baksonya.


"Ya iyalah. Kan mereka yang mengasuh dari kecil."


Sari lalu melayani pembeli yang datang semakin banyak saja.


Rendi yang sudah selesai makan, berpamitan pada mamanya.


"Ma, Rendi pulang dulu ya. Mama jangan lupa nanti pulang cepet, biar bisa siap-siap." Rendi mencium tangan mamanya.


"Iya. Nanti sore antar Mama ambil catering buat acara kamu!" seru Sari pada Rendi yang sudah melangkah pergi.


"Anaknya, Bu?" tanya seorang pelanggan yang sedang dilayani Sari.


"Iya. Dia anak saya. Baru saja lulus SMA," sahut Sari.


Dan Sari mulai memuji anaknya di depan pelanggannya, seperti biasanya. Bahkan menceritakan kalau sebentar lagi dia akan mantu.


"Wah, kecil-kecil sudah minta nikah. Tapi jadi mantunya bu Sari sih tak perlu khawatir, ya. Gak akan kurang makan," sahut si pelanggan.


Tadi Sari juga keceplosan ngomong tentang acaranya nanti malam.


"Ah, bisa saja ibu ini." Sari jadi salah tingkah.


"Kalau keponakan saya, baru lulus SMA. Tapi sudah mau di nikahkan. Kata adik saya yang mengasuhnya, ada seorang pengusaha kaya yang ingin menikahinya. Ya mumpung ada yang mau. Dari pada nyari sendiri, belum tentu dapat yang mapan." Pelanggan yang tak lain adalah budenya Tania, alias kakaknya Danu mulai bercerita.


"Iya, penting itu, Bu. Jangan sampai melepaskan anak asal-asalan. Harus dilihat juga bobot, bibit dan bebetnya."


Sari keceplosan lagi. Dia saja belum tahu bobot bibit dan bebetnya Tania. Untung si pelanggannya tidak menanyakan soal calon mantunya.


"Ya sudah, saya pamit dulu Bu Sari. Jangan lupa undangannya kalau mantu."


"Iya, pasti semua pelanggan akan saya undang," sahut Sari.


"Kalau saja yang punya gawe saya, pasti Bu Sari saya undang. Sayangnya yang mantu adik saya. Permisi Bu Sari."


Pelanggan itu berlalu dari toko batik milik Sari.


Sementara Rendi balik lagi ke rumah Tania. Berharap Tania sudah pulang. Karena sampai sekarang ponsel Tania belum bisa dihubungi.


Akhirnya Rendi minta tolong lagi pada pak tua tetangga Tania, minta secarik kertas yang akan Rendi selipkan di bawah pintu.


Jam tujuh nanti aku menjemputmu.


Salam kangen: Rendi

__ADS_1


Tulis Rendi di secarik kertas itu.


__ADS_2