
Tania dan keluarganya pulang ke kotanya. Sebuah kota kecil tempat tinggal mereka. Tania yang diminta oleh Widya mengambil keputusan.
Sebenarnya Tania merasa kasihan pada Eni yang masih ingin berlibur di kota itu.
Tapi Tania sendiri sangat ingin pulang. Karena hari ini Rendi pun sudah pulang dari rumah sakit.
Meskipun mereka belum bisa bertemu, tapi Tania merasa ingin sekali berada di kota yang sama dengan Rendi.
Lintang ikut pulang juga bersama mereka, seperti permintaan Widya. Lintang tak bisa menolak kemauan ibunya. Toh, di kota bssar tempatnya bekerja pun, Lintang bakalan dapat banyak masalah.
Apalagi kalau nanti istri Haryo tahu kalau dia hamil. Bisa dipastikan dia akan kembali mendapatkan masalah.
Belum lagi cibiran dari teman-teman kerjanya, kalau tahu Lintang hamil tanpa suami.
Soal Haryo, Widya tak mau berurusan lagi. Laki-laki tak bertanggung jawab yang telah menghamili anaknya.
Lintang duduk di jok tengah bersama Tania. Widya memilih duduk di jok paling belakang.
Tak banyak yang mereka perbincangkan sepanjang perjalanan. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Tania sibuk dengan ponselnya. Apalagi kalau bukan chat dengan Rendi.
"Pak. Aku lapar," ucap Eni memecah keheningan.
"Ya entar kalau ada rest area, kita makan di sana. Sabar ya dedek." Danu meledek Eni dengan mengelus perutnya.
"Ih! Apaan sih? Memangnya aku hamil?" sahut Eni sambil cemberut.
Danu terkekeh.
Lintang tadinya berpikir Eni sedang hamil juga seperti dirinya. Tapi setelah Eni menyahut, barulah dia tahu kalau Danu hanya menggoda Eni saja.
Lintang juga sebenarnya sangat lapar. Dari pagi dia tidak makan. Selera makannya hilang karena masalah yang dihadapinya.
Lintang juga dari pagi sibuk mengurus surat pengunduran dirinya dari hotel tempatnya bekerja.
Tania melirik ke samping. Lintang sedang memejamkan matanya. Tania tak tahu kalau Lintang sedang menahan lapar, tapi tak berani ngomong.
Bukannya takut, tapi Lintang merasa tak enak hati. Sebab Lintang sudah tahu kalau perjalanan itu disponsori oleh Tania.
"Paman. Jangan kebablasan ya nanti. Kalau ada rest area, kita mampir," ucap Tania.
"Kamu juga lapar?" tanya Danu.
"Iya, Paman," jawab Tania. Padahal Tania tak begitu merasa lapar. Dia cuma kasihan melihat ibu hamil di sebelahnya.
Tania mau bertanya pada Lintang, merasa tidak enak juga. Takut mengganggu Lintang yang sedang istirahat.
Sampai di rest area, Danu membelokan mobilnya.
"Mbak Lintang. Bangun. Kita istirahat dulu, yuk." Tania mengguncang bahu Lintang pelan.
__ADS_1
Lintang membuka matanya. Ada senyum sedikit dari bibirnya. Lalu Lintang mengangguk.
Mereka pun turun dan mencari tempat makan.
"Pak. Antar aku cari toilet dulu, ya. Aku kebelet pipis," ucap Eni.
"Tadi katanya laper?" tanya Danu.
"Kan pipis dulu, Pak. Keluarin dulu isinya, biar bisa muat banyak," jawab Eni seenaknya.
"Jangan keluarin semua, Bu. Entar kamu makannya banyak lagi," sahut Danu.
"Ish. Orang sengaja, kok. Buat persediaan. Biar enggak laper lagi!" Eni kembali cemberut.
"Nanti di rumah makan juga ada toiletnya, Bi. Sabar dulu. Kita cari rumah makan yang nyaman buat istirahat," ucap Tania.
"Tuh, di sana aja!" Widya menunjuk sebuah rumah makan padang.
"Bude mau makan masakan padang?" tanya Tania pada Widya.
Widya mengangguk.
"Bibi juga mau," ucap Eni.
"Kamu mah, apa aja mau," sahut Widya.
"Ish!" Eni melengos. Selalu saja kakak iparnya itu meledeknya.
Mereka pun berjalan ke arah rumah makan yang ditunjuk Widya. Tapi begitu sampai di depan rumah makan itu, Lintang langsung berlari menjauh.
Tania pun mengejar Lintang.
"Kalian aja deh yang makan. Aku mual," ucap Lintang setelah Tania berada di dekatnya.
Aroma dari masakan khas minang yang menyengat, membuat perut Lintang terasa sangat mual.
Padahal bagi banyak orang, aroma itu sangat menggugah selera makan.
"Terus, Mbak Lintang mau makan apa?" tanya Tania.
Lintang menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Aku di cafe itu aja. Nanti makan roti saja," jawab Lintang.
Widya pun ikut mendatangi Tania dan Lintang.
"Kamu mual?" tanya Widya pada Lintang.
Widya paham apa yang dirasakan oleh Lintang. Dulu waktu dia hamil Lintang juga begitu. Tak bisa membaui masakan dengan aroma yang menyengat.
Sampai berbulan-bulan Widya merasakan itu. Makannya hanya roti dan buah.
__ADS_1
Dan sekarang sepertinya menurun pada Lintang.
Lintang mengangguk. Tangannya masih membekap mulutnya yang berasa mau muntah.
Tania hanya memandangi. Dia tak paham apa yang terjadi pada Lintang. Dikiranya Tania, Lintang mau mual karena mabuk perjalanan.
"Ya udah. Kamu mau makan apa?" tanya Widya.
"Roti aja, Bu. Di situ." Lintang menunjuk sebuah cafe kecil.
Widya menghela nafasnya. Bagaimana mungkin perutnya yang juga lapar cuma diisi roti. Bisa protes cacing-cacing di perutnya.
Tania mengerti apa yang dipikirkan Widya. Karena Tania tahu porsi makan Widya yang sangat banyak.
"Biar Tania yang nemenin mbak Lintang aja, Bude. Bude sama paman dan bibi, makan di rumah makan padang," ucap Tania mengalah.
Tania juga belum begitu lapar. Tadi pagi dia makan lumayan banyak di hotel.
"Terus kamu makan apa?" Widya merasa tak enak.
"Kan di cafe itu juga banyak makanan, Bude. Tenang aja," sahut Tania.
"Kamu makan nasi di sana aja, Tan. Aku bisa sendiri, kok." Lintang pun merasa tak enak pada Tania.
"Enggak apa-apa, ayo." Tania tak mau berdebat dan langsung menarik tangan Lintang.
Widya menatapnya dengan terharu. Betapa baiknya hati Tania. Dia selalu bisa mengalah dengan siapapun.
Sayang sekali anak sebaik Tania, nasibnya selalu menyedihkan. Semoga kamu bisa meraih kebahagiaanmu, Tania. Batin Widya.
Widya pun kembali pada Eni dan Danu.
"Gimana, Mbak?" tanya Eni khawatir.
"Lintang mual bau masakan di sini," jawab Widya.
"Lho, kok mual? Baunya kan enak banget." Eni mengambil nafas membaui harum aroma masakan.
"Ya kamu yang normal. Lintang kan lagi hamil. Biasa begitu," ucap Widya.
Danu mengangguk-angguk. Dia kembali ingat saat Widya hamil dulu. Hampir tiap hari Danu disuruh membelikan roti coklat oleh Widya.
Widya hanya mau makan roti rasa coklat atau buah.
Waktu itu Danu belum mengenal Eni. Danu masih hidup bersama Widya di rumah orang tua mereka.
"Ooh. Kasihan ya kalau orang hamil. Enggak bisa makan yang enak-enak," ucap Eni sambil mengikuti Danu, berjalan masuk ke rumah makan.
"Enggak semua begitu juga. Ada juga yang hamil kebo!" sahut Widya.
"Hah? Hamil kebo? Memangnya dia digituin kebo gitu?" tanya Eni dengan mata terbelalak. Langkahnya langsung terhenti.
__ADS_1
Widya tertawa terbahak-bahak melihat respon Eni. Matanya melotot. Mulutnya menganga.
Danu pun ikutan tertawa. Istrinya itu memang sering lemot kalau diajak bicara. Apalagi kalau bicaranya pakai bahasa kiasan.