HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 235 TES KEPERAWANAN


__ADS_3

Sri berhasil mengusir Monica. Dan setelah misinya berhasil, Sri pun masuk ke dalam dengan gagah berani.


Di ruang makan dia ketemu dengan Rendi dan Mila.


"Monica udah pulang?" tanya Rendi.


"Udah dong!" jawab Sri dengan bangga.


Kalau untuk mengusir orang, Sri jagonya. Makanya Sari sangat percaya pada Sri, untuk menjaga rumahnya.


Rendi tersenyum senang.


"Diapain Monicanya, Mbak?" tanya Mila penasaran.


Tadi Mila sudah berusaha mengusir tapi Monica tetap saja ngeyel. Malah selalu melawan apa saja yang dilakukan Mila.


"Hiyat! Hiyat!" Sri menirukan gaya pendekar jaman dulu kalau berkelahi.


Rendi dan Mila pun tergelak.


"Dia enggak melawan, Mbak?" tanya Mila setelah puas tertawa.


"Mana berani melawan! Kalau dia naikin kakinya sedikit saja, bakal kelihatan tuh **********. Hahaha." Sri tergelak.


Selain atasan yang super ketat, rok Monica juga sangat pendek.


Sebagai laki-laki yang sedang iseng, dulu Rendi sempat terpana. Tapi setelah ketemu lagi dengan Tania, keisengan Rendi hilang.


Apalagi Dito yang satu kampus dengan Monica, sering sekali menceritakan sepak terjang Monica di kampus.


"Ya udah. Moga-moga aja, dia kapok datang kesini lagi," harap Rendi.


"Tenang aja, Mas Rendi. Kalau dia datang lagi, panggil Mbak Sri. Bakal aku cincang-cincang dia!" ucap Sri dengan sombong. Kali ini dia menirukan gaya tukang daging yang sedang mencincang.


"Kamu pikir dia itu tetelan?" Yadi yang mendengarnya, menyahut.


Sri menoleh ke arah Yadi.


"Lho, dia itu memang pantas dicincang-cincang. Terus lemparkan hasilnya ke laut. Biar dimakan hiu!" sahut Sri.


"Jangan, Sri! Buat aku aja!" ucap Yadi.


Rendi, Mila dan Sri pun terkejut mendengarnya.


"Memangnya kamu mau sama si Mon-Mon itu?" tanya Sri. Dia sudah siap membully Yadi kalau sampai mau dengan Monica.


"Buat ngasih makan kucing tetangga yang suka nyolong ikan kamu!" jawab Yadi dengan enteng.


Hahaha!


Tawapun kembali pecah di ruang makan.


"Kirain Pak Yadi mau sama yang model begituan," ucap Mila.


"Wah, kalau aku enggak akan kuat jajaninnya, Mil. Itu mah kelasnya mas Rendi!" sahut Yadi.


"Aku udah eneg, Pak. Udah enggak orisinil lagi," sahut Rendi.


Mila langsung menatap Rendi.

__ADS_1


"Memangnya Mas Rendi udah nyobain?" Mila mulai kepo.


"Untungnya belum. Tapi ketahuan kok mana yang masih ori, mana yang enggak," jawab Rendi.


"Keliatan dari mananya?" Mila semakin kepo.


"Tanya aja sama Mbak Sri." Rendi melemparkannya pada Sri. Karena sebenarnya dia tidak bisa membedakannya. Rendi hanya tahu dari cerita Dito.


Sri yang sudah pengalaman dan percaya pada mitos yang berkembang di masyarakatpun menjawab, "Ketok aja dengkulnya. Kalau bunyi klotok-klotok, artinya dia sudah enggak perawan lagi."


"Heh! Kamu pikir mau milih kelapa muda, pake diketok-ketok segala?" Yadi tak habis pikir dengan cara berpikirnya Sri.


Tiba-tiba Mila menaikan dengkulnya. Lalu mengetoknya sendiri.


"Kamu masih perawan kan, Mil?" tanya Sri.


Mila langsung menurunkan lagi dengkulnya.


"Coba sini aku ketok! Kalau udah bunyi, berarti kamu udah bolong!" Sri mendekati Mila.


"Jangan!" tolak Mila. Dia malah salah tingkah. Karena sebenarnya Mila sudah tidak virgin.


"Kenapa? Takut, ya?" ledek Sri.


"Eng...Enggak...!" Mila tergagap.


"Bilang enggak tapi wajah kamu merah gitu. Siapa yang melakukannya? Yadi?" tanya Sri asal omong saja.


"Enak aja! Baru juga kenal beberapa hari sama Mila!" sahut Yadi tak terima.


Pasalnya, Yadi malah sering dibuat bete oleh Mila. Saat dia mulai menggoda-goda, Mila malah mengajaknya bercanda.


Sri malah memojokan Yadi. Dia berkaca pada pengalaman hidupnya sendiri.


Dulu Sri yang masih perawan, begitu kepincut sama lelaki, langsung menyerahkan diri. Dan hasilnya, Sri langsung mlendung.


Sri sempat kesulitan mencari keberadaan lelaki itu. Karena memang belum terlalu mengenalnya.


Sampai beberapa bulan kemudian, takdir mempertemukan mereka.


Sri pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia tarik lelaki yang telah mengambil keperawanannya ke rumah. Dan lelaki itu langsung ditodong untuk menikahi Sri.


Dengan terpaksa lelaki itu menikahi Sri. Tapi karena mereka belum saling mengenal jauh, pernikahan itupun tak bertahan lama.


Mereka berpisah setelah anak dalam kandungan Sri lahir. Dan Sri harus mencari nafkah sendiri, demi menghidupi anak yang kemudian diasuh oleh orang tuanya.


"Enggak, Sri. Kalau enggak percaya, kamu tanya aja sama Milanya," sahut Yadi.


Mila menggeleng.


"Terus, siapa yang udah memerawani kamu, Mil?" pancing Sri.


"Aku masih perawan, Mbak Sri!" sahut Mila berbohong. Malu juga kalau mengaku dirinya sudah sering melakukan.


"Kalau masih perawan, kenapa kamu takut aku ketok dengkulnya?" pancing Sri lagi.


"Enggak mau. Nanti sakit, lagi!" Mila berusaha menyembunyikan dengkulnya dari Sri.


Sri malah menggoda Mila. Dia mendekat-dekati Mila terus.

__ADS_1


"Iih, ngapain sih!" Mila menepiskan tangan Sri yang berusaha menggapai dengkul Mila.


Rendi hanya senyum-senyum saja melihatnya.


"Udah, Sri! Anak orang, entar nangis!" ucap Yadi.


"Kalau Mila nangis, itu tugas kamu bikin dia diem!" sahut Sri.


"Enak aja! Emang aku emaknya!" tolak Yadi.


Sri tak peduli. Dia masih ingin bercanda. Dia dekati Mila lagi.


Mila pun lari menghindar. Entah mengapa dia sebagai tenaga medis, malah percaya pada mitosnya Sri.


"Ayolah sini. Cuma aku pegang sebentaran doang," pinta Sri.


"Iih, apaan sih, Mbak Sri!" Mila terus saja menghindar.


"Kasih pegang sedikit, Mil. Masa megang dengkul aja, enggak boleh," ucap Rendi.


"Pegang dengkulku aja nih, Sri!" Yadi memberikan kakinya pada Sri.


"Halah! Dengkulmu mah udah bukan bunyi klotok-klotok lagi. Tapi krompyang-krompyang," sahut Sri.


"Sembarangan kamu, Sri!" Yadi malah memegangi dengkulnya sendiri.


Enggak bunyi. Masih kenceng gini, kok. Yadi juga ikut percaya dengan mitos dari Sri.


"Kenapa? Bunyi enggak?" Ternyata Sri melihat tingkah Yadi.


"Kagak! Kamu mengada-ada ah, Sri. Mana ada dengkul bunyi?" tanya Yadi.


"Lagian Pak Yadi percaya aja, sama omongannya mbak Sri. Kalian dikerjain. Iya kan, Mbak Sri?" tanya Rendi.


Tapi sebenarnya, tangan Rendi penasaran juga kepingin memegang dengkulnya.


"Enggak, Mas Rendi. Itu kepercayaan dari nenek buyutku buat ngetes keperawanan," jawab Sri.


"Ada-ada aja, kepercayaan nenek buyut kamu, Sri. Coba sini, aku tes kamu," ucap Yadi.


"Kalau aku sih jelas udah enggak perawan lagi. Aku kan udah punya anak," sahut Sri.


Sri males juga kalau Yadi memegang dengkulnya.


"Bukan pake cara megang dengkul," ucap Yadi.


"Terus?" tanya Sri penasaran. Dia pikir ada cara lain yang lebih up to date.


Yadi melirik ke arah kamar, sambil menggerakan bola matanya.


"Apaan itu?" Sri makin penasaran.


"Ah...! Masa kamu enggak tau sih, Sri," ucap Yadi.


Dengan polosnya Sri menggeleng.


"Ngetesnya di tempat tidur, Sri. Lebih akurat!" ucap Yadi lagi sambil nyengir.


Sri langsung melepas sandal rumahnya, dan melemparkan ke arah Yadi.

__ADS_1


"Huuu.... Itu sih, maunya kamu!"


__ADS_2