
Tania pasrah saat Rendi yang sudah terbakar emosi dan cemburu pada papanya, mulai mencumbuinya.
Dengan kasar Rendi menindih tubuh Tania yang duduk di sofa. Dan melucuti baju pengantin Tania.
"Aku benci baju ini!" Rendi membuangnya jauh dari sofa.
Tania memejamkan matanya. Pada dasarnya dia malu karena kini dia hanya mengenakan dalaman saja.
Rendi mencumbui Tania dengan brutal.
"Ren...lakukan perlahan. Aku belum pernah melakukannya. Aku takut, Ren," bisik Tania di telinga Rendi.
Rendi bangkit dan memperhatikan tubuh Tania yang terlentang di sofa. Tangan Tania menutupi bagian-bagian sensitifnya. Padahal masih tertutup dalaman.
"Iya, Sayang. Maafkan aku."
Lalu Rendi mengangkat tubuh Tania dan membawanya ke tempat tidur.
Rendi membuka pakaiannya juga. Hingga hanya menyisakan boxernya.
Lalu menindih tubuh Tania dengan bertumpu pada lutut dan sikunya.
Rendi kembali mencumbui Tania dengan lembut. Kali ini Tania mulai relaks dan menikmati cumbuan Rendi.
Bahkan Tania memberanikan diri membalasnya. Mereka terus bergumul di atas tempat tidur dengan masih mengenakan dalaman.
"Kamu mau melakukannya denganku?" tanya Rendi setelah dia melepaskan cumbuannya.
Tania mengangguk sambil memainkan jarinya di dada Rendi.
"Lakukanlah, Ren. Sebelum...maaf, papa kamu melakukannya."
Rendi mengangguk setuju. Meski dia tahu yang akan dilakukannya adalah sebuah dosa dan penghianatan pada papanya sendiri.
Perlahan Rendi melepaskan dalaman Tania juga ********** sendiri.
Mereka yang sama-sama polos, sekejap hanya saling menatap.
Meski Rendi terkenal sering berganti-ganti pacar, tapi Rendi belum pernah melakukan hal yang lebih jauh selain hanya saling bercumbu dan meraba.
Tepatnya hanya Rendi yang selalu meraba milik pasangannya dan memainkan jarinya di sana, hingga pasangannya kelojotan.
Rendi tak pernah mengijinkan siapa pun menyentuh miliknya. Bahkan sekedar melihatnya.
Dia hanya mau, kalau miliknya hanya akan dinikmati oleh wanita yang benar-benar dia cintai.
Bukan wanita-wanita yang tubuhnya juga dinikmati oleh lelaki lain.
Dan saat ini dia membiarkan saja Tania menatap miliknya berlama-lama. Bahkan dia membiarkan saat tangan Tania mulai menyentuhnya.
Rendi terkekeh.
"Kenapa? Kamu pernah melihatnya?"
Tania menggeleng.
"Kamu pernah menyentuhnya?"
Tania kembali menggeleng.
Lalu Rendi menahan tangan Tania agar terus memegang miliknya.
Rendi merasakan sensasi yang luar biasa saat tangan Tania mulai nakal.
Meremas dengan lembut milik Rendi.
Mata Rendi merem melek menahan sensasi yang baru pertama kalinya dia rasakan.
Setelah puas menikmati remasan Tania, Rendi mulai menelusuri tubuh Tania.
__ADS_1
Tidak hanya dengan tangannya, tapi juga dengan bibirnya. Dan Rendi asik menyusu seperti bayi yang kehausan.
Tangan Rendi mencari lembah milik Tania. Begitu ketemu, jari Rendi perlahan menari di pintu masuknya.
Rendi tak berani memasukan jarinya lebih dalam. Takut merusak selaput dara kekasihnya yang akan ditembusnya nanti.
Kalau dulu dengan pacar-pacarnya, Rendi bisa memasukan jarinya hingga menembus dinding bagian dalam.
Karena lembah-lembah milik mereka sudah terkoyak. Tak ada lagi sekat yang mestinya mereka jaga.
"Ren...!" Tania menekan kepala Rendi hingga gunung kembarnya yang tak terlalu besar, hampir separuhnya masuk ke mulut Rendi.
Hingga Rendi terengah-engah.
"Lembahmu sudah sangat basah, Sayang. Kamu siap untuk aku terjang?" tanya Rendi setelah melepaskan diri dari dada Tania.
Tania yang tak paham dengan bahasa Rendi, mengerutkan dahinya.
Rendi tertawa pelan.
"Kamu mau tau apa maksudnya?"
Tania mengangguk.
"Baiklah. Aku akan menerjangnya sekarang. Tahan yaa...mungkin ini akan sedikit menyakitkan. Tapi hanya sebentar. Karena nanti aku akan membawamu terbang melayang ke nirwana."
Tania semakin tak mengerti perkataan Rendi.
"Bukalah aksesnya, agar senjataku lebih mudah memasukinya."
Tania masih terdiam. Akses apa? Senjata apa?
Karena Tania hanya diam saja, Rendi membuka sendiri akses itu.
Rendi memandangnya tanpa berkedip. Lembah yang sudah sangat basah akibat permainan jemarinya tadi.
Tania memejamkan matanya. Dia merasa miliknya semakin berkedut, dan seperti ada cairan yang meleleh dari dalamnya.
Perlahan-lahan Rendi membawa senjatanya memasuki lembah itu.
Tanpa harus dituntun, senjatanya perlahan memasuki lembah yang masih perawan itu.
Jantung Rendi dan Tania berdetak sangat cepat. Mungkin kalau disambungkan ke speaker aktif, mengalahkan suara drum dari grup rock metal.
Rendi memberi sedikit hentakan. Dan senjata Rendi melesak sempurna. Tapi si pemilik lembah meringis menahan perih.
Lalu Rendi mencumbu lagi Tania agar bisa mengurangi rasa perihnya.
Badan Rendi naik turun seperti adegan-adegan panas yang sering ditontonnya di hape.
Tania semakin terbuai meski masih sedikit menahan perih.
"Perih, Ren...," bisik Tania lirih sambil menggigit bibirnya.
"Jangan gigit bibirmu, Sayang. Nanti terluka. Gigit saja bibirku."
Lalu Rendi memberikan bibirnya. Bukannya menggigit, Tania malah memainkannya untuk mengalihkan rasa perih.
Rendi merasakan senjatanya semakin menegang. Seperti ada peluru yang akan keluar.
Rendi mempercepat tempo gerakannya. Membuat Tania semakin kelojotan. Kedua kaki Tania bergerak kesana dan kemari tak tentu arah.
Kedua tangannya mencengkeram punggung Rendi.
"Ren...!" Tania tak bisa lagi menahan suaranya.
"Tania...! Aakkh....!"
Rendi berhasil memuntahkan laharnya ke dalam lembah Tania.
__ADS_1
Dan tubuhnya terkulai lemah di atas tubuh Tania yang sedang menegang.
"Aku sudah membuktikannya, Sayang. Kamu belum tersentuh oleh siapa pun," ucap Rendi saat meraba bagian bawah lembah dan mendapati cairan berwarna merah segar.
Rendi masih terkulai di atas tubuh Tania. Dan enggan melepaskan senjatanya.
"Berat, Ren," bisik Tania yang mulai merasa sesak nafas.
"Miringkan tubuhmu, aku tak ingin melepaskannya," ucap Rendi.
Tania pun menurutinya.
Tatapan mereka kembali bertemu. Rendi melihat ada bulir bening di sudut mata Tania.
"Kenapa menangis?" tanya Rendi.
"Aku bahagia bisa memberikannya untukmu, Ren."
Rendi mengecup kening Tania.
"Terima kasih, Sayang," ucap Rendi.
Rendi meraih selimut lalu dengan satu tangannya dibantu satu tangan Tania, menyelimuti tubuh polos mereka yang masih saling melekat.
Rendi memeluk erat tubuh Tania di balik selimut tebal.
"Aku tak ingin keluar dari sini," ucap Rendi.
"Aku juga, Ren." Lalu Tania mencari kehangatan di dada Rendi.
Mata mereka sama-sama terpejam. Sampai tiba-tiba pintu kamar hotel digedor dari luar.
Rendi dan Tania terperanjat. Tania semakin merekatkan tubuhnya.
"Siapa, Ren?" Suara Tania bergetar.
"Entahlah. Pakai bajumu."
Mereka bersamaan turun dari tempat tidur dan mencari pakaian mereka yang berhamburan.
"Cepat pakai!" perintah Rendi pelan.
Rendi buru-buru memakainya tanpa sempat membersihkan diri.
Tania yang merasa miliknya lengket, berlari ke kamar mandi dengan membawa dalaman dan baju pengantinnya.
Rendi memberanikan diri membuka pintu kamar. Dan mata Rendi melotot melihat papanya yang berdiri persis di depannya.
Rendi membuang nafasnya kasar. Emosinya kembali memuncak.
Plak!
Tono menampar pipi Rendi dengan keras. Hingga membuat tubuh Rendi terhuyung ke belakang.
Rendi menegakan kembali tubuhnya dan memegangi pipinya yang memerah.
Sekali lagi Tono melayangkan tamparannya.
Plak!
"Mana istriku?" Tono mencengkeram kerah baju batik Rendi.
Tania mendengar keributan itu, lalu segera keluar dari kamar mandi dengan penampilan masih acak-acakan.
Tania mendekat berniat menolong Rendi yang sedang dicengkeram oleh Tono.
Tono menghempaskan tubuh anak lelakinya. Lalu meraih tangan Tania yang sekarang telah sah menjadi istrinya.
"Jangan coba-coba menyentuhnya. Dia istriku!" ancam Tono pada Rendi.
__ADS_1